Wednesday, February 24, 2010

Mewujudkan Rumah Islami yang Penuh Berkah

Pengajian Imuslimah – Sabtu, 20 Februari 2010

Tempat : Kediaman Ibu Uthie Fadillah
Pembicara : Ibu Nila Permana Sari
Moderator Ibu Dewi Mara
Pembaca Tilawah Al Qur'an : Ibu Rachma
Notulensi: Ibu Mira Arief

Topik Mewujudkan Rumah Islami yang Penuh Berkah


Arti berkah menurut syariah Islam adalah : kebaikan berlimpah yang diberikan Allah kepada siapa saja yang dikehendakiNya. Keberkahan ini dilihat dari manfaat yang dirasakan, walaupun sesuatu yang bernilai kecil, apabila dimanfaatkan bagi orang banyak, maka dapat dikatakan membawa keberkahan. Sehingga secara makna, berkah berarti sesuatu yang nilai manfaat atau nilai penggunaannya lebih besar daripada nilai nominalnya.

Sebagai contoh berkah dari sisi makanan. Sebagaimana yang disampaikan oleh Rasulullah saw bahwa: “makanan untuk satu orang, cukup untuk dua orang, makanan untuk dua orang, cukup untuk dua atau tiga orang, dan makanan untuk 3 orang, cukup untuk 4 atau 5 orang.”

Rasulullah juga pernah berpesan bahwa: “Berjamaahlah kalian dalam menyantap makanan dan sebutlah nama Allah didalamnya, maka Allah akan melimpahkan keberkahan.”

Tujuan Mewujudkan Rumah Islami yang Penuh Berkah :

1. Melaksanakan perintah Allah.

Untuk mewujudkan rumah islami sesuai perintah Allah, maka hal yang sangat penting dilakukan adalah membentuk penghuni rumahnya berkepribadian Islami sesuai sunah Rasulullah SAW, termasuk suami, istri dan anak-anak. Hal ini dapat dilakukan dengan menghidupkan suasana Islam didalam rumah, menanamkan nilai-nilai Islam dan menumbuhkan kecintaan kepada Al-Qur’an.

Rumah adalah madrasah keluarga, merupakan pondasi utama bagi pembentukan iman keluarga, terutama anak-anak. Kebiasaan-kebiasaan baik harus selalu ditanamkan agar anak-anak dapat memiliki kepribadian dan iman yang kokoh dalam menghadapi lingkungan diluar rumah.

Perintah Allah SWT :

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan- Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” Surat At-Tahrim (66) :6

2.Memenuhi amanah Allah.

Keluarga dan anak-anak adalah amanah dari Allah SWT. Seorang suami tidak hanya wajib menafkahi keluarganya secara material, tetapi juga wajib memberikan nafkah batiniah kepada istri dan anak-anaknya. Nafkah batiniah ini sangat penting, karena akan menjadi bekal keluarganya diakhirat nanti.

“Sesungguhnya Allah SWT akan bertanya kepada semua pemimpin mengenai yang dipimpinnya, apakah ia memeliharanya atau menyianyiakannya? Sehingga seseorang akan ditanya mengenai keluarganya.” (HR. Al-Nasai).

Seorang istri berperan penting dalam menghidupkan nilai-nilai Islami didalam rumah, dengan menghidupkan sunah-sunah Rasulullah SAW. Hal ini dapat dilakukan dengan mengajarkan anak untuk menghormati yang tua, dan yang tua menyayangi yang muda. Mengajarkan kepada anak2 untuk saling mendoakan, seperti contohnya ketika bersin. Mengucapkan “Alhamdulillah”, kemudian yang mendengarnya mengucapkan “yarhamukallah” kemudian dijawab lagi oleh yang bersin, “yahdimukallah”, sehingga menumbuhkan sikap saling memperhatikan dan mendoakan diantara anggota keluarga. Juga melatih anak utk terbiasa mengucapkan “assalamu’alaikum” ketika memasuki rumah, dan lainnya.

Bila sunah-sunah Rasulullah SAW ini telah dihidupkan didalam rumah, insya Allah suasana rumah akan menjadi sangat menyenangkan dan nyaman, anggota keluarga akan merasa rindu untuk pulang dan berkumpul dengan keluarga.

3.Untuk menjaga keselamatan diri dan keluarga dari segala bentuk kejahatan.

“Lima hal, bila seseorang mengerjakan salah satunya, ia menjadi jaminan Allah; orang yang membesuk orang sakit, keluar untuk perang, menghadap kepada pemimpinnya untuk menghormati serta memuliakan, atau duduk dirumahnya sehingga orang-orang selamat darinya dan ia (pun) selamat dari orang-orang.” (HR. Ahmad)

Yang berkaitan dengan pembahasan ini adalah 2 point terakhir yaitu berdiam dirumah sehingga orang-orang selamat darinya dan ia pun selamat dari orang-orang yang berada diluar rumah.

Diluar rumah, terdapat berbagai macam bentuk kejahatan dan kemaksiatan. Apalagi bila kita tinggal dilingkungan rumah yang kurang aman. Maka rumah adalah tempat yang paling baik untuk berlindung dari berbagai bentuk kejahatan tsb. Sehingga menciptakan rumah yang kondusif, adalah sebuah kebutuhan.

4.Rumahku surgaku.

Untuk membentuk rumah yang nyaman, tidak berarti harus mahal interiornya. Yang terpenting bukan asesoris rumah yang serba gemerlap, tetapi bagaimana rumah dapat tertata secara rapi sehingga menimbulkan kenyamanan.

“Allah itu indah dan menyukai keindahan” (HR. Muslim).

5. Keluarga adalah masyarakat terkecil.

Keluarga adalah masyarakat terkecil. Keluarga adalah pondasinya masyarakat. Bila pondasinya kuat, Insya’Allah akan terbentuk sebuah bangunan masyarakat yang kuat pula. Untuk itu, dalam keluarga perlu ditanamkan nilai2 agama yang kuat, sehingga

akan terbentuk masyarakat yang kuat pula. Masyarakat yang bermoral berasal dari keluarga-keluarga yang bermoral.

Bagaimana caranya?

1.Sesering mungkin berinteraksi dengan Al-Qur’an.

Firman Allah SWT :

“Dan ini [Al Qur’an] adalah kitab yang telah Kami turunkan yang diberkahi; membenarkan kitab-kitab yang [diturunkan] sebelumnya dan agar kamu memberi peringatan kepada [penduduk] Ummul Qura [Mekah] dan orang-orang yang di luar lingkungannya. Orang-orang yang beriman kepada adanya kehidupan akhirat tentu beriman kepadanya [Al Qur’an], dan mereka selalu memelihara sembahyangnya.” Surat Al-Anaam (6) : 92

Keberkahan Al-Qur’an :

i.Memberikan syafaat di akhirat

Rasulullah SAW bersabda :

“Bacalah Al-Qur’an, karena ia akan memberikan syafaat (pembelaan) pada hari
kiamat”

ii. Memberikan ketenangan hati. Al-Qur’an adalah obat hati dan jiwa, bila sedang marah atau kesal, bacalah Al-Quran. Insya Allah akan mengobati penyakit hati.

iii. Setiap huruf yang dibaca mendapatkan balasan 10 kebaikan.

iv.Bagi yang membaca Al-Qur’an secara tersendat mendapatkan pahala berlipat. Dan bagi yang membaca Al Qur’an dengan lancar sesuai dengan hukum tajwidnya, maka balasannya adalah ia akan bersama malaikat yang mulia.

Dari Ibnu Abbas r.a., beliau mengatakan ada seseorang yang bertanya kepada Rasulullah saw. “Wahai Rasulullah, amalan apakah yang paling dicintai Allah?” Beliau menjawab, “Al hal wal murtahal.” Orang ini bertanya lagi, “ Apa itu al hal wal murtahal, wahai rasulullah?” Beliau menjawab, “ yaitu yang membaca Al Qur’an dari awal hingga akhir. Setiap kali selesai ia mengulanginya lagi dari awal.” (HR. Tirmidzi)

Bagi orang tua yang dapat membimbing anaknya untuk menghafal Al-Qur’an, akan dipakaikan mahkota di surga nanti. Sabda Rasulullah saw: “Barang siapa membaca Al Quran dan mempelajarinya dan mengerjakan isinya, kedua orang tuanya akan diberikan crown dari cahaya sinarnya seperti sinar matahari, dan dipakaikan kedua orang tuanya perhiasan ygn tidak didapatinya didunia, lalu keduanya bertanya : dengan amal apa hingga kita diberikan pakaian ini ? dikatakan : karena anakmu hapal Quran” (HR. Al Hakim)

2.Menumbuhkan iman dan taqwa.

Iman dan taqwa akan menjamin turunnya keberkahan dari Allah SWT. Bila anak-anak telah memahami makna iman dan Islam sejak dini, maka akan lebih mudah untuk diajak beribadah kepada Allah SWT.

Firman Allah SWT :

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan [ayat-ayat Kami] itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.”

Surat Al:Araf (7) :96

3.Mensyukuri nikmat Allah

Sangat penting untuk mengajari anak-anak kita untuk pandai bersyukur.

Allah SWT berfirman :

“Dan [ingatlah juga], tatkala Tuhanmu mema’lumkan: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah [ni’mat] kepadamu, dan jika kamu mengingkari [ni’mat-Ku], maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih” “ Surat Ibrahim (14): 7

4. Berinfak

Allah SWT akan melipatgandakan rejeki bagi hamba-hambanya yang senang berinfak. Perumpamaan orang yang menanam satu biji akan menumbuhkan tujuh batang, dan tiap batangnya akan tumbuh 100 biji. Jadi balasan yang diperoleh seseorang yang berinfak adalah 700 kali lipat.

Firman Allah SWT :

“Perumpamaan [nafkah yang dikeluarkan oleh] orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah [2] adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir: seratus biji. Allah melipat gandakan [ganjaran] bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas [karunia-Nya] lagi Maha Mengetahui.” Surat Al-Baqarah (2) : 261

5.Bangun di pagi hari

“Ya Allah berkahilah umatku disaat pagi hari” (HR. Ahmad, Abu Dawud, Tirmidzi, Nasa’I Shahih)

6. Mencari rezeki yang halal

Allah SWT berfirman:

“Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar hanya kepada-Nya kamu menyembah.” Surat Al-Baqarah (2) : 172

“Dan janganlah sebahagian kamu memakan harta sebahagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang bathil dan [janganlah] kamu membawa [urusan] harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebahagian daripada harta benda orang lain itu dengan [jalan berbuat] dosa, padahal kamu mengetahui.” Surat Al-Baqarah (2) : 188

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang bathil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu; [2] sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu. (29) Dan barangsiapa berbuat demikian dengan melanggar hak dan aniaya, maka Kami kelak akan memasukkannya ke dalam neraka. Yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” Surat An-Nisa (4) : 29-30

Rasulullah saw, pernah bersabda: “Perumpamaan orang beriman itu bagaikan lebah. Ia makan yang bersih, mengeluarkan sesuatu yang bersih, hinggap ditempat yang bersih, dan tidak merusak atau mematahkan yang dihinggapinya.” (HR. Ahmad, al Hakim, dan al Bazzar)

Kita dapat mengambil pelajaran dari seekor lebah. Lebah tidak akan mau makan sembarangan seperti lalat atau serangga lainnya, yang selalu hinggab ditempat-tempat yang kotor dan busuk. Lebah mencari makanannya ditempat yang paling baik, yaitu di putik bunga. Ditempat yang paling tersembunyi dan bersih dari sekuntum bunga. Dari dirinya pun, keluar sesuatu yang sangat bermanfaat bagi kesehatan manusia yaitu madu. Ia pun dalam mencari tempat tinggal, selalu mencari tempat yang paling aman, yaitu di atas pohon. Sehingga tidak terganggu dari makhluk lainnya.

Seperti itulah seharusnya seorang mukmin. Tidak memiliki prinsip halal haram hantam. Tetapi berhati-hati dalam menyantap makanan dan mencari rizki. Dari diri seorang mukmin keluar kata2 maupun sikap yang baik. Dan mencari lingkungan tempat tinggal yang baik/aman sehingga keluarga pun merasa nyaman dan terlindungi.

Doa Rumah berkah :

Robbi anzilnii munzalam mubaarakawwa anta khoirul munzilin

Dan berdo’alah: "Ya Tuhanku, tempatkanlah aku pada tempat yang diberkati, dan Engkau adalah sebaik-baik Yang memberi tempat." QS. 23 : 29

Saturday, February 06, 2010

Valentine dan Nilai Islam

Kasih sayang sebuah nilai yang universal, semua orang di dunia menyetujui bahwa kasih sayang adalah nilai yang agung, semua orang di dunia suka akan hal itu. Sebagai sebuah agama dunia, Islam sangat menaruh perhatian terhadap kasih sayang itu. Islam memang agama kasih sayang. “Barangsiapa yang tidak menyayang, tidak akan disayang.” Barangsiapa tidak menyayangi yang di bumi, maka tidak akan disayangi oleh yang di langit.”

Mengingat tingginya nilai kasih sayang dalam pandangan Islam, maka kasih sayang diberikan, dirayakan sepanjang waktu. Tidak ada waktu khusus untuk saling menyayangi, misalnya tahun kasih sayang, bulan kasih sayang, atau hari kasih sayang. Kasih sayang dalam Islam terjadi sepanjang hari, sepanjang kehidupan. Kalau terjadi peristiwa seperti itu, pasti bukan dari Islam.

Selain itu kasih sayang Islam untuk seluruh makhluk Allah. Bahkan Rasullah saw melebel orang yang tidak menyayangi yang kecil dan yang besar (dengan menghormatinya) bukan termasuk umatnya. Sehingga Islam tidak mengenal kasih sayang hanya untuk orang tertentu saja, apalagi hanya kepada lawan jenis.

Sementara, hadirin, di tengah-tengah masyarakat kita-khususnya diperkotaan-telah muncul perayaan hari kasih sayang yang disebut dengan valentine’s day. Merayakannya dengan menghabiskan hari dengan orang terkasih, yaitu kekasihnya. Makan malam bersama di tempat yang romantis, sambil menikmati iringan lagu My Valentine. Saling memberikan kado, coklat, yang disertai kartu ucapan. Hari itu dianggap hari yang special. Interior di mall, supermarket atau pusat perbelanjaan di rancang demikian romantis dipenuhi pernak-pernik berbentuk hati, ada rangkaian bunga indah, coklat, pita disana-sini, yang kesemuanya didominasi warna pink. Kartu ucapan sayangpun marak dijual di emperan toko-toko.




Perayaan seperti jelas bukan dari Islam karena seperti yang disebutkan diatas, Islam hanya mengenal bahwa kasih sayang itu dilakukan setiap hari. Lalu darimana perayaan seperti ini? Banyak orang bercerita tentang asal muasal valentine’s day itu, namun beberapa para ahli mengatakan bahwa asal mula Valentine itu berkaitan dengan St. Valentine. Ia adalah seorang pria Roma yang menolak melepaskan agama Kristen yang diyakininya.

Ia meninggal pada 14 Februari 269 Masehi, bertepatan dengan hari yang dipilih sebagai pelaksaan ‘undian cinta’. Legenda juga mengatakan bahwa St. Valentine sempat meninggalkan ucapan selamat tinggal kepada putri seorang narapidana yang bersahabat dengannya. Di akhir pesan itu, ia menuliskan : “Dari Valentinemu”.

Sementara itu sebuah cerita lain mengatakan bahwa Saint Valentine adalah seorang pria yang membaktikan hidupnya untuk melayani Tuhan di sebuah kuil pada masa pemerintahan Kaisar Claudius. Ia dipenjarakan atas kelancangannya membantah titah sang kaisar. Baru pada tahun 496 Masehi, pendeta Gelasius menetapkan 14 Februari sebagai hari penghormatan bagi Valentine.

Akhirnya secara bertahap 14 Februari menjadi hari khusus untuk bertukar surat cinta dan St. Valentine menjadi idola para pecinta. Datangnya tanggal itu ditandai dengan pengiriman puisi cinta dan hadiah sederhana, semisal bunga. Sering juga untuk merayakan hari kasih sayang ini dilakukan acara pertemuan besar atau bahkan permainan bola. Acara Valentine mulai dirayakan besar-besaran semenjak tahun 1800 dan pada perkembangannya, kini acara ini menjadi sebuah ajang bisnis yang menguntungkan.

Nah, ternyata benar, valentine’s day itu bukan dari Islam, bahkan merayakannya akan menyeret pelakunya kepada kemusyrikan, sebuah perbuatan yang akan mencederai ketauhidan kepada Allah. Ini masalah besar dalam Islam.

Masalah besar lainnya adalah berkurangnya nilai kasih sayang, yang oleh Islam dijunjung tinggi. Terkesan bahwa kasih sayang itu hanya terbatas hubungan laki-laki dan perempuan, padahal sejatinya kasih sayang itu lebih luas dari yang dipraktekkan. Bahkan kasih sayang-yang mulia itu-dipraktekkan dengan perzinahan. Dipraktekkan dengan pergaulan bebas, terjadi de-sakralisasi seks. Sungguh praktek kasih sayang yang jauh dari ketinggian Islam.

Selanjutnya valentine’s day akan memunculkan memunculkan dan membentuk akhlak baru yang mengkhawatirkan, diantaranya:

Pertama, munculnya akhlak tasyabuh yaitu akhlak meniru orang lain dengan tanpa mengetahui dan mempertimbangkan sebab dilakukannya valentine’s day. Dengan meniru praktek berkasih saying yang buruk akan membuat ketinggian kasih saying Islam akan pudar dan secara perlahan akan sirna. Untuk itu Rasulullah saw memagari umatnya dengan sebuah hadits:

مَن تَشَبَهَ بِقَومٍ فَهُوَ مِنهُم رواه الترمذي

“Barang siapa meniru suatu kaum, maka ia termasuk dari kaum tersebut, ” [HR. Tirmidzi.]

Kedua, dengan meniru orang lain menunjukkan ketidakberdayaan umat Islam yang pada gilirannya akan meninggalkan ciri ketinggian nilai-nilai Islam, menanggalkan identitas keislaman. Nantinya umat Islam berperilaku mengikuti trend yang sedang berkembang di tengah-tengah masyarakat-yang sekarang ini-dipengaruhi oleh budaya global melalui berbagai media. Karena dengan mengikuti Valentine bukan saja sekedar pesta untuk menyatakan kasih sayang, tetapi juga pesta yang mau-tidak-mau harus mengikutkan budaya yang lainnya, pergaulan bebas, fashion, pakaian minim, dansa-dansa, dan mengumbar nafsu lainnya.

Ketiga, valentine’s day secara tidak langsung memberi keuntungan kepada pihak kapitalis dan menjadikan umat Islam sebagai konsumen saja. Mereka yang membuat, memproduksi barang kepentingan perayaan, sementara pembelinya adalah umat Islam.

Dikala seperti ini, kita pegang saja kuat-kuat Sabda Nabi Muhammad saw: “katakanlah: aku beriman kepada Allah kemudian istiqamahlah!” Dengan iman yang menancap di lubuk hati, sampai pada cinta kepada keimanan dan iman itu menghiasinya, maka akan benci kepada bentuk kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan sebagai firman Allah di Surat al-Hujurat: 7

وَاعْلَمُوا أَنَّ فِيكُمْ رَسُولَ اللَّهِ لَوْ يُطِيعُكُمْ فِي كَثِيرٍ مِنَ الْأَمْرِ لَعَنِتُّمْ وَلَكِنَّ اللَّهَ حَبَّبَ إِلَيْكُمُ الْإِيمَانَ وَزَيَّنَهُ فِي قُلُوبِكُمْ وَكَرَّهَ إِلَيْكُمُ الْكُفْرَ وَالْفُسُوقَ وَالْعِصْيَانَ أُولَئِكَ هُمُ الرَّاشِدُونَ

“Dan ketahuilah olehmu bahwa di kalanganmu ada Rasulullah. kalau ia menuruti kemauanmu dalam beberapa urusan benar-benarlah kamu mendapat kesusahan, tetapi Allah menjadikan kamu ‘cinta’ kepada keimanan dan menjadikan keimanan itu indah di dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan. mereka Itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus,”

Inilah benteng yang kuat untuk menangkis serangan globalisasi yang kuat sekali menerpa nilai-nilai Islam yang kita miliki.

Setelah kita menggenggam keimanan dengan erat, bertahanlah, istiqamahlah, berjalan terus diatas jalan yang lurus. Jangan lupa pelajari ilmu dan jangan pula pernah jemu. Orang berilmu akan mengetahui terang di dalam kegelapan, akan mengetahui jalan keluar dalam kesesatan, akan mengetahui kebenaran diantara kebatilan.

Sumber : Dakwatuna.com

Wassalamu'alaikum wrwb
Eka Puspawati