Wednesday, July 22, 2015

Keutamaan Makkah

     


(Disarikan dari makalah Najlah Sholih yang berjudul Fadlu Mekkah al-Mukarromah dan makalah lainnya, oleh Abu Hasan Arif.)
hajj
hajj
Di antara tempat/negeri yang memiliki keutamaan dan keagungan adalah Ummul Quro, “Mekkah al-Mukarromah”, di tempat ini terdapat Ka’bah, rumah yang dibangun untuk ibadah kepada Alloh Subhanahu Wa Ta’ala. Ka’bah adalah kiblat kaum muslimin baik yang masih hidup maupun yang telah tiada. Sesungguhnya negeri Mekkah adalah tempat turunnya wahyu Alloh, dan risalah (agama Islam), tidak ada seorangpun dari kalangan muslimin yang mengingkari keutamaan negeri Mekkah. Mekkah adalah tempat yang paling dicintai Alloh.
Dari Abdulloh bin Adi bin Hamro rodhiyallohu ‘anhu, ia berkata:
رَأَيْتُ رَسُوْلَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَاقِفًا عَلَى الْحَزْوَرَةِ، فَقَالَ: وَاللَّهِ إِنَّكِ لَخَيْرُ أَرْضِ اللَّهِ، وَأَحَبُّ أَرْضِ اللَّهِ إِلَى اللَّهِ، وَلَوْلاَ أَنِّي أُخْرِجْتُ مِنْكِ مَا خَرَجْتُ.
“Saya melihat Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam berdiri di Hazwaroh (salah satu daerah di Mekkah), lalu beliau bersabda, “Demi Alloh, sesungguhnya engkau sebaik-baik bumi Alloh, dan negeri Alloh yang paling dicintai Alloh, kalau bukan lantaran aku dikeluarkan darimu [1], niscaya aku tidak keluar.” (HR. Tirmidzi dan ia menshohihkannya, Nasa’i dalam Sunan al-Kubro, Ibnu Majah, al-Hakim dalam al-Mustadrok dan ia menshohihkannya.)
 
DI ANTARA KEUTAMAAN KOTA MEKKAH
Alloh Ta’ala memuliakan penduduk kota Mekkah dengan adanya Baitulloh al-Harom rumah peribadatan pertama kali di muka bumi.
Alloh Ta’ala berfirman:
٩٦. إِنَّ أَوَّلَ بَيْتٍ وُضِعَ لِلنَّاسِ لَلَّذِي بِبَكَّةَ مُبَارَكاً وَهُدًى لِّلْعَالَمِينَ
“Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadat) manusia, ialah Baitulloh yang di Bakkah (Mekkah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia.” (QS. Ali Imron: 96)
Baitulloh al-Harom adalah tempat seorang muslim diperbolehkan bepergian mengunjungi masjid dengan tujuan beribadah.
Dari Abu Huroiroh rodhiyallohu ‘anhu, dari Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam:
لاَ تُشَدُّ الرِّحَالُ إِلاَّ إِلَى ثَلاَثَةِ مَسَاجِدَ؛ مَسْجِدِي هَذَا وَالْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَالْمَسْجِدِ اْلأَقْصَى.
“Tidak ada keutamaan [2] bepergian (ke suatu masjid) kecuali bepergian mengunjungi tiga masjid, (yaitu) masjidku ini (Masjid Nabawwi di Madinah), Masjidil Harom (Mekkah), dan Masjidil Aqsho (Palestina).” (HR. Bukhori dan Muslim)
 
Alloh Ta’ala menjaga Mekkah dari penguasa yang lalim dan mencegah mereka dari melanggar kehormatannya.
Alloh Ta’ala berfirman:
١. أَلَمْ تَرَ كَيْفَ فَعَلَ رَبُّكَ بِأَصْحَابِ الْفِيلِ
٢. أَلَمْ يَجْعَلْ كَيْدَهُمْ فِي تَضْلِيلٍ
٣. وَأَرْسَلَ عَلَيْهِمْ طَيْراً أَبَابِيلَ
٤. تَرْمِيهِم بِحِجَارَةٍ مِّن سِجِّيلٍ
٥. فَجَعَلَهُمْ كَعَصْفٍ مَّأْكُولٍ
“Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu telah bertindak terhadap tentara bergajah. Bukankah Dia telah menjadikan tipu daya mereka (untuk menghancurkan Ka’bah) itu sia-sia? Dan Dia mengirimkan kapada mereka burung yang berbondong-bondong, yang melempari mereka dengan batu (berasal) dari tanah yang terbakar, lalu Dia menjadikan mereka seperti daun-daun yang dimakan (ulat).” (QS. al-Fiil: 1-5)
Dari ‘Aisyah rodhiyallohu ‘anha, ia berkata bahwa Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda:
يَغْزُو جَيْشُ الْكَعْبَةَ فَإِذَا كاَنُوْا بِبَيْدَاءَ مِنَ الأَرْضِ يُخْسَفُ بِأَوَّلِهِمْ وَآخِرِهِمْ. قاَلَتْ : قُلْتُ : ياَ رَسُوْلَ اللهِ، كَيْفَ يُخْسَفُ بِأَوَّلِهِمْ وَآخِرِهِمْ وَفِيْهِمْ أَسْوَاقُهُمْ ، وَمَنْ لَيْسَ مِنْهُمْ ؟ قاَلَ : يُخْسَفُ بِأَوَّلِهِمْ وَآخِرِهِمْ ، ثُمَّ يُبْعَثُوْنَ عَلىَ نِيَّاتِهِمْ.
“Akan ada pasukan yang menyerbu Ka’bah, saat mereka berada di sebuah tempat, seluruh pasukan itu dari yang awal hingga akhir dimusnahkan.” ‘Aisyah berkata, “Akupun bertanya, ‘Wahai Rosululloh, bagaimana dimusnahkan dari awal hingga akhir sedangkan di antara mereka ada orang selain mereka?” Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam menjawab, “Dimusnahkan dari yang awal hingga akhir, lalu mereka dibangkitkan berdasarkan niat mereka.” (HR. al-Bukhori)
Alloh Ta’ala memuliakan penduduknya dan mengaruniai mereka dengan tujuh hal.
Dari az-Zubair bin al-Awwam rodhiyallohu ‘anhu, ia berkata bahwa Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda:
فَضَّلَ اللهُ قُرَيْشًا بِسَبْعِ خِصَالٍ، فَضَّلَهُمْ بِأَنَّهُمْ عَبَدُوا اللهَ عَشَرَ سِنِيْنَ ، لاَ يَعْبُدُ اللهَ إِلاَّ قُرَيْشٍ، وَفَضَّلَهُمْ بِأَنَّهُمْ نَصَرَهُمْ يَوْمَ اْلفِيْلِ وَهُمْ مُشْرِكُوْنَ، وَفَضَّلَهُمْ بِأَنَّهُ نَزَلَتْ فِيْهِمْ سُوْرَةٌ مِنَ اْلقُرْآنِ الْكَرِيْمِ تَحْمِلُ اسْمَهُمْ، لَمْ يَدْخُلْ فِيْهَا أَحَدٌ مِنَ اْلعَالَمِيْنَ وَهِيَ: “ِلإِيْلاَفِ قُرَيْشٍ” وَفَضَّلَهُمْ بِأَنَّ فِيْهِمْ النُبُوَّةَ، وَالْخِلاَفَةَ، وَالْحِجَابَةَ، وَالسِّقَايَةَ.
“Alloh Ta’ala mengutamakan suku Quroisy dengan tujuh hal: (Pertama) Alloh mengutamakan mereka di mana mereka beribadah kepada Alloh selama sepuluh tahun, tidak ada yang menyembah Alloh kecuali Quroisy. (Kedua) Alloh Ta’ala mengutamakan mereka dengan menolong mereka pada hari pasukan bergajah menyerbu Ka’bah dan saat itu mereka dalam keadaan musyrik. (Ketiga) Alloh Ta’ala memberikan keutamaan pada mereka di mana turun surat dalam al-Qur’an yang menyebut nama Quroisy, tidak ada di dunia ini yang seperti mereka, yaitu surat (لِإِيلَافِ قُرَيْشٍ) “Karena kebiasaan orang-orang Quroisy” (QS. al-Quraisy: 1). (Keempat) Alloh Ta’ala mengutamakan dari mereka terdapat seorang Nabi. (Kelima) Kholifah. (Keenam) Hak pengelolaan pemegang kunci Ka’bah. (Ketujuh) Hak pelayanan memberikan air minum bagi haji.” (Shohih al-Jami’ 4208)
 
Alloh menjaga Mekkah sebagai tempat yang suci dengan Islam, di kota-kota seluruh dunia ada agama yang bermacam-macam yang dianut penduduknya, kecuali Mekkah dan Madinah.
Alloh Ta’ala berfirman:
٢٨. يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ إِنَّمَا الْمُشْرِكُونَ نَجَسٌ فَلاَ يَقْرَبُواْ الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ بَعْدَ عَامِهِمْ هَـذَا وَإِنْ خِفْتُمْ عَيْلَةً فَسَوْفَ يُغْنِيكُمُ اللّهُ مِن فَضْلِهِ إِن شَاء إِنَّ اللّهَ عَلِيمٌ حَكِيمٌ
“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya orang-orang yang musyrik itu najis, maka janganlah mereka mendekati Masjidil Harom sesudah tahun ini. Dan jika kamu khawatir menjadi miskin, maka Alloh nanti akan memberimu kekayaan kepadamu dari karuniaNya, jika Dia menghendaki. Sesungguhnya Alloh Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. at-Taubah: 28)
 
Kota Mekkah tidak akan dimasuki Dajjal.
Dalam sebuah hadits yang panjang dari Abu Umamah rodhiyallohu ‘anhu, ia berkata bahwa Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda:
ياَ أَيُّهَا الناَّسُ ! إِنَّهَا لَمْ تَكُنْ فِتْنَةٌ عَلىَ وَجْهِ اْلأَرْضِ ، مُنْذُ ذَرَأَ اللهُ ذُرِّيَّةَ آدَمٍ أَعْظَمَ مِنْ فِتْنَةِ الدَّجَّالِ، وَإِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ لَمْ يَبْعَثْ نَبِيًّا إِلاَّ حَذَّرَ أُمَّتَهُ الدَّجَّالَ… إِلَى أَنْ قَالَ: وَإِنَّهُ لاَ يَبْقَى شَيْئٌ مِنَ اْلأَرْضِ إِلاَّ وَطِئَهُ، إِلاَّ مَكَّةَ وَالْمَدِيْنَةَ، لاَيَأْتِيْهَا مِنْ نَقْبٍ مِنْ أَنْقَابِهَا إِلاَّ لَقِيَتْهُ الْمَلاَئِكَةُ بِالسُّيُوْفِ صَلْتَةً.
“Wahai manusia, sesungguhnya tidak ada fitnah di muka bumi ini semenjak Alloh menciptakan keturunan Adam yang lebih besar daripada fitnah ad-Dajjal. Dan sungguh tidaklah Alloh mengutus seorang Nabi melainkan dia memberi peringatan kepada umatnya tentang ad-Dajjal …. (hingga sabda beliau): Dan tidak ada suatu tempat yang tersisa di muka bumi ini melainkan akan dikunjungi ad-Dajjal kecuali Mekkah dan Madinah, segala penjuru kotanya dijaga para malaikat yang menghunus pedang.” (Shohih al-Jami’ 7875)
 
Para Nabi semenjak dahulu menunaikan haji di Mekkah.
Alloh Ta’ala berfirman:
٢٦. وَإِذْ بَوَّأْنَا لِإِبْرَاهِيمَ مَكَانَ الْبَيْتِ أَن لَّا تُشْرِكْ بِي شَيْئاً وَطَهِّرْ بَيْتِيَ لِلطَّائِفِينَ وَالْقَائِمِينَ وَالرُّكَّعِ السُّجُودِ
“Dan (ingatlah), ketika Kami memberikan tempat kepada Ibrohim di tempat Baitulloh (dengan mengatakan): “Janganlah kamu mempersekutukan sesuatupun dengan Aku dan sucikanlah rumahKu ini bagi orang-orang yang thowaf, bagi orang-orang yang beribadah, orang-orang yang ruku’, dan sujud.” (QS. al-Hajj: 26)
Diriwayatkan dari sahabat Ibnu Abbas rodhiyallohu ‘anhuma:
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَرَّ بِوَادِي الأَزْرَقِ ، فَقَالَ: (أَيُّ وَادٍ هَذَا؟). فَقَالُوا: وَادِي الأَزْرَقِ. قَالَ: (كَأَنِّي أَنْظُرُ إِلَى مُوسَى عَلَيْهِ السَّلاَمُ هاَبِطًا مِنَ الثَّنِيَّةِ وَ لَهُ جُؤَارٌ إِلَى اللَّهِ بِالتَّلْبِيَةِ). ثُمَّ أَتَى عَلَى ثَنِيَّةِ هَرْشَى، فَقَالَ: (أَيُّ ثَنِيَّةٍ هَذِهِ ؟) قَالُوا : ثَنِيَّةُ هَرْشَى.
“Bahwasanya Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam melalui lembah al-Arzaq, lalu beliau bertanya, “Lembah apa ini?” Para sahabat menjawab, “Lembah al-Arzaq.” Beliau bersabda, “Seolah-olah aku melihat Musa ‘alaihis salam turun dari tempat yang tinggi, ia mempunyai suara keras mengucapkan talbiyah kepada Alloh.” Lalu beliau melalui tsaniyyatul harsya.[3] Kemudian beliau shollallohu ‘alaihi wasallam bertanya, “Lembah apa ini?” “Tsaniyyatul Harsya,” jawab para sahabat. Kemudian beliau bersabda, “Seolah-olah aku melihat Yunus bin Matta ‘alaihis salam duduk di atas unta kekar, mengenakan jubah yang terbuat dari wol, tali kendali untanya terbuat dari serabut, dan ia sedang mengucapkan kalimat talbiyah.” (HR. Muslim 166)
Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda:
وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، لَيُهِلَّنَّ ابْنُ مَرْيَمَ بِفَجِّ الرَّوْحَاءِ حَاجاًّ أَوْ مُعْتَمِراً، أَوْ لَيَثْنِيَنَّهُمَا.
“Demi Dzat yang jiwaku berada di tanganNya, Ibnu Maryam akan bertalbiyah di Fajj ar-Rouhah (tempat antara Mekkah dan Madinah), dia menunaikan haji atau umroh, atau mengiringi antara haji dan umroh.” (HR. Muslim 3020)
Mekkah adalah kiblat muslimin yang mendirikan sholat di seluruh penjuru dunia.
Alloh Ta’ala berfirman:
١٤٤. قَدْ نَرَى تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِي السَّمَاء فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبْلَةً تَرْضَاهَا فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَحَيْثُ مَا كُنتُمْ فَوَلُّواْ وُجُوِهَكُمْ شَطْرَهُ وَإِنَّ الَّذِينَ أُوْتُواْ الْكِتَابَ لَيَعْلَمُونَ أَنَّهُ الْحَقُّ مِن رَّبِّهِمْ وَمَا اللّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا يَعْمَلُونَ
“Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Harom. Dan di mana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya.” (QS. al-Baqoroh: 144)
 
Wajib memperhatikan waktu dan jaman saat memasuki kota Mekkah dalam rangka menunaikan haji dan umroh, yang demikian itu untuk ihrom dan talbiyah.
Alloh Ta’ala berfirman:
١٨٩. يَسْأَلُونَكَ عَنِ الأهِلَّةِ قُلْ هِيَ مَوَاقِيتُ لِلنَّاسِ وَالْحَجِّ وَلَيْسَ الْبِرُّ بِأَنْ تَأْتُوْاْ الْبُيُوتَ مِن ظُهُورِهَا وَلَـكِنَّ الْبِرَّ مَنِ اتَّقَى وَأْتُواْ الْبُيُوتَ مِنْ أَبْوَابِهَا وَاتَّقُواْ اللّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
“Mereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit. Katakanlah: “Bulan sabit itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadah) haji.” (QS. al-Baqoroh: 189)
Adapun miqot haji dan umroh adalah sebagaimana diriwayatkan dari Abdulloh bin Abbas rodhiyallohu ‘anhuma, ia berkata:
إِنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَّتَ ِلأَهْلِ الْمَدِينَةِ ذَا الْحُلَيْفَةِ، وَ ِلأَهْلِ الشَّأْمِ الْجُحْفَةَ، وَ ِلأَهْلِ نَجْدٍ قَرْنَ الْمَنَازِلِ، وَ ِلأَهْلِ الْيَمَنِ يَلَمْلَمَ، وَقَالَ: هُنَّ لَهُنَّ وَلِمَنْ أَتَى عَلَيْهِنَّ مِنْ غَيْرِهِنَّ مِمَّنْ أَرَادَ الْحَجَّ وَالْعُمْرَةَ وَمَنْ كَانَ دُوْنَ ذَلِكَ فَمِنْ حَيْثُ أَنْشَأَ حَتَّى أَهْلُ مَكَّةَ مِنْ مَكَّةَ.
“Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam menetapkan miqot untuk penduduk Madinah adalah Dzulhulaifah, bagi penduduk Syam adalah al-Juhfah, bagi penduduk Najd adalah Qornulmanazil, bagi penduduk Yaman adalah Yalamlam. Dan beliau shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda, “Itulah ketentuan masing-masing bagi setiap penduduk negeri-negeri tersebut dan juga bagi mereka yang bukan penduduk negeri-negeri tersebut jika hendak melakukan ibadah haji dan umroh. Sedangkan mereka selain itu, maka dia memulai dari kediamannya, dan bagi penduduk Mekkah, mereka memulainya dari di Mekkah.” (Muttafaqun ‘alaihi)
Di Mekkah terdapat air Zamzam.
Dari Anas rodhiyallohu ‘anhu, ia berkata bahwa Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda:
يَرْحَمُ اللهُ أُمَّ إِسْمَاعِيْلَ ! لَوْلاَ أَنَّهَا عَجِلَتْ لَكاَنَ زَمْزَمَ عَيْنًا مَعِيْناً
“Semoga Alloh merahmati Ummu Ismail, andai saja dia tidak terburu-buru [4], tentulah Zamzam akan menjadi mata air yang mengalir di atas bumi.” (HR. al-Bukhori 3362)
Dari Ibnu Abbas rodhiyallohu ‘anhuma, ia berkata bahwa Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda:
خَيْرُ مَاءٍ عَلىَ وَجْهِ اْلأَرْضِ مَاءُ زَمْزَمَ، فِيْهِ طَعَامٌ مِنَ الطُّعْمِ، وَشِفَاءٌ مِنَ السُّقْمِ.
“Sebaik-baik air di muka bumi adalah air Zamzam, air itu mengenyangkan peminumnya sebagaimana makanan mengenyangkan orang yang makan [5], dan terdapat obat dari penyakit.” (HR. Thobroni dalam al-Kabiir dan dishohihkan oleh al-Albani dalam Silsilah Hadits no. 3585.)
Di kota Mekkah terdapat buah-buahan beraneka macam, padahal kota itu kota yang tandus, hal ini adalah dari doa Nabi Ibrohim ‘alaihis salam yang dikabulkan Alloh Ta’ala.
Alloh Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
٣٧. رَّبَّنَا إِنِّي أَسْكَنتُ مِن ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ عِندَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُواْ الصَّلاَةَ فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِّنَ النَّاسِ تَهْوِي إِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُم مِّنَ الثَّمَرَاتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُونَ
“Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitulloh) yang dihormati. Ya Tuhan kami, (yang demikian itu) agar mereka mendirikan sholat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rejekilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.” (QS. Ibrohim: 37)
Alloh Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
٥٧. وَقَالُوا إِن نَّتَّبِعِ الْهُدَى مَعَكَ نُتَخَطَّفْ مِنْ أَرْضِنَا أَوَلَمْ نُمَكِّن لَّهُمْ حَرَماً آمِناً يُجْبَى إِلَيْهِ ثَمَرَاتُ كُلِّ شَيْءٍ رِزْقاً مِن لَّدُنَّا وَلَكِنَّ أَكْثَرَهُمْ لَا يَعْلَمُونَ
“Dan mereka berkata, “Jika kami mengikuti petunjuk bersama kamu, niscaya kami akan diusir dari negeri kami.” Dan apakah Kami tidak meneguhkan kedudukan mereka dalam daerah Harom (tanah suci) yang aman, yang didatangkan ke tempat itu buah-buahan dari segala macam (tumbuh-tumbuhan) untuk menjadi rejeki (bagimu) dari sisi Kami? Tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.” (QS. al-Qoshosh: 57)
Alloh Subhanahu Wa Ta’ala juga berfirman:
“Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu telah bertindak terhadap tentara bergajah. Bukankah Dia telah menjadikan tipu daya mereka (untuk menghancurkan Ka’bah) itu sia-sia? Dan Dia mengirimkan kapada mereka burung yang berbondong-bondong, yang melempari mereka dengan batu (berasal) dari tanah yang terbakar, lalu Dia menjadikan mereka seperti daun-daun yang dimakan (ulat).” (QS. al-Fiil: 1-5)
 
Mekkah adalah negeri Harom (suci) dan aman, semenjak jaman Jahiliyah, ataupun masa Islam, tidak tertumpahkan darah di kota ini.
Alloh Ta’ala berfirman:
٦٧. أَوَلَمْ يَرَوْا أَنَّا جَعَلْنَا حَرَماً آمِناً وَيُتَخَطَّفُ النَّاسُ مِنْ حَوْلِهِمْ أَفَبِالْبَاطِلِ يُؤْمِنُونَ وَبِنِعْمَةِ اللَّهِ يَكْفُرُونَ
“Dan apakah mereka tidak memperhatikan, bahwa sesungguhnya Kami telah menjadikan (negeri mereka) tanah suci yang aman, sedang manusia sekitarnya rampok-merampok. Maka mengapa (sesudah nyata kebenaran) mereka masih percaya kepada yang bathil dan ingkar kepada nikmat Alloh?” (QS. al-Ankabut: 67)
Alloh Ta’ala berfirman:
٩١. إِنَّمَا أُمِرْتُ أَنْ أَعْبُدَ رَبَّ هَذِهِ الْبَلْدَةِ الَّذِي حَرَّمَهَا وَلَهُ كُلُّ شَيْءٍ وَأُمِرْتُ أَنْ أَكُونَ مِنَ الْمُسْلِمِينَ
“Aku hanya diperintahkan untuk menyembah Tuhan negeri ini (Mekkah). Yang telah menjadikannya suci (harom) dan kepunyaanNyalah segala sesuatu, dan aku diperintahkan supaya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.” (QS. an-Naml: 91)
 
Alloh Ta’ala menjadikan Mekkah sebagai Bilad al-Harom (negeri yang suci) semenjak hari penciptaan langit dan bumi.
Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda saat penaklukan kota Mekkah:
“Tidak ada hijrah (lagi) [6], akan tetapi yang ada adalah jihad [7] dan niat [8], dan jika kalian diminta (oleh penguasa) maka berangkatlah [9]. Sesungguhnya negeri Mekkah ini adalah negeri yang Alloh menyucikannya semenjak Dia menciptakan langit dan bumi, negeri Mekkah ini suci dengan penyucian dari Alloh hingga hari kiamat, dan tidak diperbolehkan bagi seseorang sebelumku berperang di negeri ini, dan juga tidak diperbolehkan bagiku berperang di negeri ini kecuali sesaat saja di siang hari. Negeri ini adalah negeri suci dengan penyucian dari Alloh hingga hari kiamat, tidak boleh dipotong duri (pohonnya), binatang buruannya tidak boleh diusir, barang temuannya tidak boleh dipungut kecuali yang mengetahuinya, dan tumbuh-tumbuhannya tidak boleh dipotong kecuali rumput al-Idzkhir, sesungguhnya tanaman itu untuk nyala api mereka dan untuk rumah-rumah mereka.” (HR. al-Bukhori 1834)
 
Demikianlah keutamaan kota Mekkah yang disebutkan dalam hadits-hadits Nabi. Setelah mengetahui tentang keutamaan kota Mekkah maka sepatutnya bagi seorang muslim yang menunaikan umroh dan haji untuk mawas diri dan berakhlak Islam serta menetapi adab-adabnya saat berkunjung di tempat yang paling dicintai Alloh, dengan cara memperhatikan kemuliaan dan mengagungkan syiar-syiar Alloh di Baitulloh, lalu berendah hati pada kebenaran dengan mengikutinya. Dan sepatutnya dia menjaga anggota tubuhnya, janganlah melakukan sesuatu yang menodai kesucian kota Mekkah. Hendaknya dia merasa diawasi Alloh Ta’ala saat sepi maupun ramai.
Semoga Alloh Ta’ala menyempurnakan nikmatNya kepada kita semua, dhohir maupun batin, menolong kita dalam bersyukur padaNya, menjaga negeri Mekkah dan seluruh negeri-negeri Islam dari makar manusia yang ingin merusaknya. Dan semoga Alloh menerima ibadah haji dan umroh dari kita yang menunaikannya, sesungguhnya Dia adalah Maha Kuasa atas semua ini.
 
Catatan kaki:
[1] Maknanya: Dengan perintah Alloh. (Kitab Tuhfatul Ahwadzi bi Syarh Jami’ Tirmidzi, cetakan Daarul Fikr, th. 1995 M-1415 H, hal. 326, juz 10, pent)
[2] Dalam hadits ini terdapat keutamaan tiga masjid ini, dan keutamaan bepergian ke tiga masjid itu (untuk beribadah), karena makna hadits ini menurut jumhur/mayoritas ulama adalah tidak ada keutamaan bepergian mengunjungi selain bepergian ketiga masjid ini. (Penjelasan hadits ini terdapat dalam Shohih Muslim dengan syarh/penjelasan Imam Nawawi, cetakan Darul Fikr, hal. 167-168, juz ke-9, pen.)
[3] Gunung yang terletak di jalan antara Syam dan Madinah, dekat dengan Juhfah. (Keterangan ini terdapat dalam Shohih Muslim dengan syarh/penjelasan Imam Nawawi, cetakan Darul Fikr, hal 228-230, juz ke-2, jilid ke-1, pen.)
[4] Saat Ismail kehausan, malaikat Jibril datang menggali tanah yang terletak di mata kaki Ismail hingga memancar air, lalu Ummu Ismail menciduknya dan memasukkan dalam kantong airnya. (Irsyad as-Saari Syarh Shohih al-Bukhori, pent.)
[5] Lihat Syarh Shohih Muslim, cetakan Daarul Fikr, hal. 30, juz 16 dalam hadits tentang keutamaan Abu Dzar, pen.
[6] Dari Mekkah ke Madinah setelah penaklukan kota Mekkah, karena negeri itu telah menjadi negeri Islam, adapun hijrah dari negeri kufur hingga negeri Islam tetap ada hingga hari kiamat. (Irsyad as-Saari Syarah Shohih al-Bukhori, hadits no. 1834, pent).
[7] Melawan orang kafir. (Irsyad as-Saari, pent)
[8] Niat yang baik dalam beramal kebaikan. (Irsyad as-Saari, pent)
[9] Keluar ke medan pertempuran.

SEKILAS TENTANG SEJARAH MEKKAH DAN MADINAH

 


  • Kota Mekkah al-Mukarramah ; ( yang ramai dengan tangis dan thowaf keliling Ka’bah )
Kata Mekkah/Makkah/Bakkah yang berarti tempat yang padat dan ramai, karena banyaknya orang yang thowaf dan menangis sekeliling Ka’bah. Kota Mekkah adalah kota pertama yang ada di dunia, setelah itu kota Madinah, lalu Baitul Maqdis.
Sejak awal kota Mekkah menjadi kota pertemuan setiap manusia, baik dalam berdagang ataupun beribadah, sehingga kota Mekkah menjadi kota Metropolitan yang ramai dengan bisnis dan ibadah. Hal ini telah tergambar oleh kebiasaan penduduknya (Bani Quraisy) yang dikisahkan dalam surat Quraisy, tentang hoby berdagang orang Quraisy yang tidak mengenal musim dan tempat.
Di Mekkah terdapat bangunan pertama di dunia (Ka’bah) sebagai kiblat ibadah dan Gunung pertama di di dunia (Jabal Abi Qubais) yang berhadapan dengan Bab, Salaam. Selain itu terdapat Sumur Zamzam (hasil tawakkal yang benar dari keluarga Ibrahim AS), dan di sebelahnya terdapat Maqom Ibrahim (tempat berpijak Ibrahim) saat meninggikan bangunan Ka’bah bersama Isma’il putranya. (tafsir surat al-Imran ayat 56)
Mekkah adalah kota kelahiran Nabi Muhammad SAW, yang telah berhasil menyelamatkan manusia dari segala kemusyrikan kepada Tauhid (Peng-Esaan Allah), kota yang sangat dicintai karena terdapat Rumah Allah dan Masjidil Haram, dimana nilai kebaikan beribadah disitu 100.000 kali daripada kebaikan ibadah di tempat lain di dunia ini. Dan Mekkah menjadi kota yang paling dicintai oleh Rasulullah SAW, beliau tidak akan keluar dari Mekkah kalau tidak diusir oleh kaumnya, sehingga begitu bahagianya Rasul ketika mampu menduduki kota Mekkah pada tahun ke 9 hijriah. Dan selogan yang beliau dengungkan adalah “al-yauma yaumul marhamah la yaumul malhamah” (hari ini adalah hari kasih sayang bukan hari pembalasan).
والله إنك لخير ارض الله, واحب ارض الله الى الله, ولولا أني أخرجت منك لمَا خرجتُ
Artinya : Demi Allah sesungguhnya engkau (makkah) adalah bumi Allah yang paling baik dan tanah yang paling dicintai Allah, andaikan aku tidak diusir darimu, niscaya aku tidak akan mening-galkanmu.(H.R. Ahmad).
Kemuliaan kota Mekkah juga berkat do’a Ibrahim ketika beliau masuk kota Mekkah untuk menitipkan putra kesayangannya Isma’il (bayi) bersama istrinya Siti Hajar di lembah yang tandus, sebaimana dijelaskan dalam surat Ibrahim ayat 35-37 ;
“Dan ingatlah saat Ibrahim berkata (kepada Tuhannya) ya Tuhan jadikanlah negeri ini (Mekkah) negeri yang aman, dan jauhkan aku serta keturunanku dari menyembah berhala  Ya Tuhan sesungguhnya menyembah berhala itu telah menyesatkan banyak manusia, maka siapa saja yang mengikutiku maka dia adalah umatku dan siapa saja yang mengingkariku sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang  Ya Tuhan kami kini aku titipkan keturunanku di sebuah Lembah yang kering kerontang di depan RumahMu (Ka’bah), agar mereka menegakkan shalat dan jadikan hati-hati manusia tertuju kepada mereka serta anugerahkan mereka rizqi berupa buah-buahan agar mereka bersyukur “
Sehingga sampai saat ini kota Mekkah dengan penduduknya akan tetap aman dan sejahtera, bahkan kata Nabi saw, bahwa dua kota di dunia yang tidak akan terkena bencana alam adalah Mekkah dan Madinah..Wallahu a’lam..
  • Kota Madinah al-Munawwarah ( yang bersinar dengan kemuliaan akhlak penghuninya )
Asal nama kota Madinah adalah Yatsrib yang berarti tajam dan tandus, sehingga lepas dari pantauan orang-orang Kafir Quraisy dalam menghalang-halangi hijrahnya para manusia telah terbukti bahwa Yatsrib sejak 500 tahun sebelum umat Islam hijrah telah terlebih dahulu orang-orang Yahudi yang terusir dari negeri Syam. Sehingga penduduk Yatsrib (Madinah) menjadi heterogen yaitu 3 qabilah Arab (Kaum Aus – Kaum Khozroj – Bani Najjar) dan 3 suku Yahudi ( Bani Qoinuqo’ – Bani Musthaliq – Bani Quraizhah ).
Setelah Nabi Muhammad SAW hijrah bersama para pengikutnya, maka Yatsrib menjadi kota Madinah al-Munawwarah (kota yang terang benderang). Hal ini sesuai dengan do’a Rasulullah SAW saat masuk kota Madinah yang menjadi salah satu Haramain, yaitu :
«اللهمّ إنَّ إبْرَاهِيمَ حَرَّمَ مَكَّةَ وَإِنِّي حَرَّمْتُ الْمَدِينَةَ مَا بَيْنَ لَابَتَيْهَا لَا يُقْطَعُ عِضَاهُهَا وَلَا يُصَادُ صَيْدُهَا » .رَوَاهُ مُسْلِم
“Ya Allah sebagaimana Ibrahim telah memuliakan kota Mekkah, maka aku memuliakan kota Madinah antara kedua kampong (ujung)nya, dimana tidak boleh memotong pepohonannya dan tidak pula memburu binatang buruannya.”
Di Madinah ada mesjid Nabawi yang keutamaan shalat didalamnya 1000 kali daripada di mesjid lain di dunia, tatanan kehidupan yang Islami telah dibangun disini karena Madinah menjadi Ibu Kota Negara Islam pertama di dunia dimana hokum yang diterapkan adalah hokum Islam murni, karena dibawah kepemimpinan Rasulullah SAW yang amat sangat mulia dan bersahaja didepan kawan dan lawannya.
Madinah dikenal sebagai kota Anshor (penolong) dan hal itu telah diabadikan oleh Allah dalam surat al-Hasyr ayat 9 ; sehingga sampai saat ini masih terasa perbedaan suasana hidup di Mekkah denga hidup di Madinah. Lebih dari itu kalo kita kembali ke zaman Rasulullah SAW ternyata da’wah Rasul lebih kondusif dan berhasil ketika beliau hijrah ke Madinah, dan beliau telah berhasil mempersaudarakan antara kaum Muhajirin dan Kaum Anshor sehingga menjadi kekuatan yang utuh dalam menjadikan Madinah sebagai Negara Islam.
Madinah kota perjuangan yang tidak sedikit menuntut pengorbanan harta dan diri demi tegaknya agama Allah, sehingga julukan Syuhada Badar, Uhud, Khondak, Tabuk dan lainnya adalah bukti sejarah perjuangan mereka yang menjadi kebanggaan dan saksi di kaherat nanti. Disini pula terdapat Makam Rasulullah SAW dan para Shahabat pilihan, sehingga terkesan kemulian Madinah karena prilaku dan akhlaq Rasulullah SAW yang sangat mulia, seperti pujian Allah tentang akhlak beliau dalam surat al-Qolam ayat 4.
Di Madinah pula syari’at Islam disempurnakan, baik tentang tuntunan Ibadah Mahdhah maupun Ibadah Mu’amalah, baik masalah perniagaan maupun perpolitikan, baik masalah pembinaan pribadi ataupun social kemasyarakatan. Kemuliaan tersebut dilengkapi dengan penjagaan Malaikat terhadap kota Madinah dari tangan-tangan jail manusia, bahkan betapa santunnya Imam Abu Hanifah ketika akan masuk kota Madinah namun belum dapat izin dari Imam Malik sebagai Imam Darul Hijrah sehingga membuat Imam Abu Hanifah menunggu berhari-hari di mesjid Bier Ali.
Dari Madinah ini Islam tersebar sampai ke seluruh penjuru dunia, dengan semangat perjuangan dan pengorbanan (jihad) para shahabat dan generasi penerusnya. Inilah Madinah Rasul yang sarat dengan ilmu Islam dan sumber-sumber syari’at Islam.
Assalamu’alaika ya Rasulallah, assalamu’alaika ya Habiballah, asyhadu annaka Abdullah wa Rasuluh, faqad addaita alamanah, wanashahta al ummah, wakasyafta al ghummah, wa jahadta fillah haqqa jihadih…. Insya Allah dalam waktu dekat bias Shalat di mesjid Al-Aqsha dengan 500 kemuliaan…. Wallahu a’lam bis-showaab…

Sejarah Lengkap Masjid Nabawi

Sejarah Lengkap Masjid Nabawi 

            

Masjid Nabawi Hari Ini
Masjid Nabawi Hari Ini
Salah satu peninggalan sejarah kehidupan makhluk paling mulia Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yang masih dan akan terus disaksikan oleh dunia adalah Masjid yang beliau bangun di kota madinah yang kita kenal dengan nama Masjid Nabawi. Masjid Nabawi yang saat ini kita lihat berdiri begitu megah dahulunya hanyalah sebuah bangunan sederhana. Bagaimana kisah selengkapnya dari perjalanan panjang sejarah masjid ini, mari kita simak bersama. (~admin~)
Pembangunan Masjid
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membangun Masjid Nabawi pada bulan Raibul Awal di awal-awal hijarahnya ke Madinah. Pada saat itu panjang masjid adalah 70 hasta dan lebarnya 60 hasta atau panjangnya 35 m dan lebar 30 m. Kala itu Masjid Nabawi sangat sederhana, kita akan sulit membayangkan keadaannya apabila melihat bangunannya yang megah saat ini. Lantai masjid adalah tanah yang berbatu, atapnya pelepah kurma, dan terdapat tiga pintu, sementara sekarang sangat besar dan megah.
Masjid Nabawi, Kiblat Baitul Maqdis
Masjid Nabawi di awal pembangunan, Kiblat menghadap Masjid al-Aqsha. Sebelah Utara masjid adalah kamar Aisyah
Area yang hendak dibangun Masjid Nabawi saat itu terdapat bangunan yang dimiliki oleh Bani Najjar. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada Bani Najjar, “Wahai Bani Najjar, berilah harga bangunan kalian ini?” Orang-orang Bani Najjar menjawab, “Tidak, demi Allah. Kami tidak akan meminta harga untuk bangunan ini kecuali hanya kepada Allah.” Bani Najjar dengan suka rela mewakafkan bangunan dan tanah mereka untuk pembangunan Masjid Nabawi dan mereka berharap pahala dari sisi Allah atas amalan mereka tersebut.
Anas bin Malik yang meriwayatkan hadis ini menuturkan, “Saat itu di area pembangunan terdapat kuburan orang-orang musyrik, puing-puing bangunan, dan pohon kurma. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk memindahkan mayat di makam tersebut, meratakan puing-puing, dan menebang pohon kurma.”
Pada tahun 7 H, jumlah umat Islam semakin banyak, dan masjid menjadi penuh, Nabi pun mengambil kebijakan memperluas Masjid Nabawi. Beliau tambahkan masing-masing 20 hasta untuk panjang dan lebar masjid. Utsman bin Affan adalah orang yang menanggung biaya pembebasan tanah untuk perluasan masjid saat itu. Peristiwa ini terjadi sepulangnya beliau dari Perang Khaibar.
Masjid Nabawi adalah masjid yang dibangun dengan landasan ketakwaan. Di antara keutamaan masjid ini adalah dilipatgandakannya pahala shalat di dalamnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
صَلَاةٌ فِي مَسْجِدِي هَذَا أَفْضَلُ مِنْ أَلْفِ صَلَاةٍ فِيمَا سِوَاهُ، إِلَّا الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ
“Shalat di masjidku ini lebih utama dari 1000 kali shalat di masjid selainnya, kecuali Masjid al-Haram.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Mimbar Nabi
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَا بَيْنَ بَيْتِي وَمِنْبَرِي رَوْضَةٌ مِنْ رِيَاضِ الْجَنَّةِ وَمِنْبَرِي عَلَى حَوْضِي
“Antara rumahku dan mimbarku ada taman dari taman-taman surga, dan mimbarku di atas telagaku.” (HR. al-Bukhari dan Muslim).
Awalnya Nabi berkhutbah di atas potongan pohon kurma kemudian para sahabat membuatkan beliau mimbar, sejak saat itu beliau selalu berkhutbah di atas mimbar. Dari Jabir radhiallahu ‘anhu bahwa dulu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam saat khutbah Jumat berdiri di atas potongan pohon kurma, lalu ada seorang perempuan atau laki-laki Anshar mengatakan, ‘Wahai Rasulullah, bolehkah kami membuatkanmu mimbar?’  Nabi menjawab, ‘Jika kalian mau (silahkan)’. Maka para sahabat membuatkan beliau mimbar. Pada Jumat berikutnya, beliau pun naik ke atas mimbarnya, terdengarlah suara tangisan (merengek) pohon kurma seperti tangisan anak kecil, kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mendekapnya. Pohon it uterus ‘merengek’ layaknya anak kecil. Rasulullah mengatakan, ‘Ia menagis karena kehilangan dzikir-dzikir yang dulunya disebut di atasnya’.” (HR. Bukhari)
Di antara keagungan dan keutamaan mimbar ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang seseorang bersumpah di dekatnya, barangsiapa bersumpah di dekat mimbar tersebut dia telah berdusta dan berdosa.
لَا يَحْلِفُ عِنْدَ هَذَا الْمِنْبَرِ عَبْدٌ وَلَا أَمَةٌ، عَلَى يَمِينٍ آثِمَةٍ، وَلَوْ عَلَى سِوَاكٍ رَطْبٍ، إِلَّا وَجَبَتْ لَهُ النَّارُ
“Janganlah seorang budak laki-laki atau perempuan bersumpah di dekat mimbar tersebut. Bagi orang yang bersumpah, maka dia berdosa…” (HR. Ibnu Majah, Ahmad, dan Hakim)
Raudhah
Raudhah adalah suatu tempat di Masjid Nabawi yang terletak antara mimbar beliau dengan kamar (rumah) beliau. Rasulullah menerangkan tentang keutamaan raudhah,
عن أبي هريرة رضي الله عنه أن النبي قال: “مَا بَيْنَ بَيْتِي وَمِنْبَرِي رَوْضَةٌ مِنْ رِيَاضِ الجَنَّةِ، وَمِنْبَرِي عَلَى حَوْضِي
Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Antara rumahku dan mimbarku terdapat taman di antara taman-taman surga. Dan mimbarku di atas telagaku.” (HR. Bukhari).
Jarak antara mimbar dan rumah Nabi adalah 53 hasta atau sekitar 26,5 m.
Shufah Masjid Nabawi
Setelah kiblat berpindah (dari Masjid al-Aqsha mengarah ke Ka’baj di Masjid al-Haram). Rasulullah mengajak para
Masjid Nabawi, Kiblat Mekah
Masjid Nabawi, Kiblat Mekah
sahabatnya membangun atap masjid sebagai pelindung bagi para sahabat yang tinggal di Masjid Nabawi. Mereka adalah orang-orang yang hijrah dari berbagai penjuru negeri menuju Madinah untuk memeluk Islam akan tetapi mereka tidak memiliki kerabat di Madinah untuk tinggal disana dan belum memiliki kemampuan finasial untuk membangun rumah sendiri. Mereka ini dikenal dengan ash-habu shufah.
Rumah Nabi
Mungkin kata rumah terlalu berlebihan untuk menggambarkan kediaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, karenanya lebih tepat kalau kita sebut dengan istilah kamar. Kamar Nabi yang berdekatan dengan Masjid Nabawi adalah kamar beliau bersama ibunda Aisyah radhiallahu ‘anha. Nabi Muhammad dimakamkan di sini, karena beliau wafat di kamar Aisyah, kemudian Abu Bakar radhiallahu ‘anhu dimakamkan pula di tempat yang sama pada tahun 13 H, lalu Umar bin Khattab pada tahun 24 H.
Keadaan Makam Nabi
Makam Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menghadap kiblat kemudian di belakang beliau (dikatakan di belakang karena menghadap kiblat) terdapat makam Abu Bakar ash-Shiddiq dan posisi kepala Abu Bakar sejajar dengan bahu Nabi. Di belakang makam Abu Bakar terdapat makam Umar bin Khattab dan posisi kepala Umar sejajar dengan bahu Abu Bakar. Di zaman Nabi kamar beliau berdindingkan pelepah kurma yang dilapisi dengan bulu. Kemudian di zaman pemerintahan Umar bin Khattab dinding kamar ini diperbaiki dengan bangunan permanen.
Ketika Umar bin Abdul Aziz menjadi gubernur Madinah ia kembali merenovasi kamar tersebut, lebih baik dari sebelumnya. Setelah dinding tersebut roboh dan menyebabkan kaki Umar bin Khattab terlihat (kemungkinan roboh karena faktor alam sehingga tanah makam tergerus dan kaki Umar menjadi terlihat), Umar bin Abdul Aziz kembali membenahinya dengan bangunan batu hitam. Setelah itu diperbaiki lagi pada tahun 881 H.
Subhanallahu, kejadian ini menunjukkan kebenaran sabda Nabi bahwa jasad seorang yang mati syahid itu tidak hancur. Umar bin Khattab syahid terbunuh ketika menunaikan shalat subuh.
Usaha Pencurian Jasad Nabi
Pertama, pencurian jasad Nabi di makamnya pertama kali dilakukan oleh seorang pimpinan Dinasti Ubaidiyah, al-hakim bi Amrillah (wafat 411 H). Ia memerintahkan seorang yang bernama Abu al-Futuh Hasan bin Ja’far. Al-Hakim memerintahkan Hasan bin Ja’far agar memindahkan jasad Nabi ke Mesir. Namun dalam perjalanan menuju Madinah angin yang kencang membinasakan kelompok Abu al-Futuh Hasan bin Ja’far.
Kedua, gagal pada upaya pertamanya, al-Hakim bi Amrillah belum bertaubat dari makar yang ia lakukan. Ia memerintahkan sejumlah orang untuk melakukan percobaan kedua. Al-Hakim bi Amrillah mengirim sekelompok orang penggali kubur menuju Madinah. Orang-orang ini diperintahkan untuk menetap beberapa saat di daerah dekat Masjid Nabawi. Beberapa saat mengamati keadaan, mereka mulai melaksanakan aksinya dengan cara membuat terowongan bawah tanah. Setelah dekat dengan makam, orang-orang menyadari adanya cahaya dari bawah tanah, mereka pun berteriak “Ada yang menggali makam Nabi kita!!” Lalu orang-orang memerangi sekelompok penggali kubur ini dan gagallah upaya kedua dari al-Hakim bi Amrillah. Kedua kisah ini selengkapnya bisa dirujuk ke buku Wafa al-Wafa, 2: 653 oleh as-Samhudi.
Ketiga, upaya pencurian jasad Nabi kali ini dilakukan atas perintah raja-raja Nasrani Maroko pada tahun 557 H. saat itu Nuruddin az-Zanki adalah penguasa kaum muslimin di bawah Khalifah Abbasiyah. Dalam mimpinya Nuruddin az-Zanki bertemu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan beliau mengatakan “Selamatkan aku dari dua orang ini -Nabi menunjuk dua orang yang terlihat jelas wajah keduanya dalam mimpi tersebut-.” Nuruddin az-Zanki langsung berangkat menuju Madinah bersama dua puluh orang rombongannya dan membawa harta yang banyak. Setibanya di Madinah, orang-orang pun mendatanginya, setiap orang yang meminta kepadanya pasti akan dipenuhi kebuthannya.
Setelah 16 hari, hampir-hampir seluruh penduduk Madinah datang menemuinya, namun ia belum juga melihat dua orang yang ditunjuk oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam mimpinya. Ia pun bertanya, “Adakah yang tersisa dari penduduk Madinah?” Masyarakat menjawab, “Ada, dua orang kaya yang sering berderma, mereka berasal dari Maroko.” Masyarakat menyebutkan tentang keshalehan keduanya, tentang shalatnya, dan apabila keduanya dipinta pasti memberi. Ternyata dua orang inilah yang dilihat az-Zanki dalam mimpinya dan keduanya sengaja tinggal sangat dekat dengan kamar Nabi. Az-Zanki menanyakan perihal kedatangan mereka ke Madinah. Keduanya menjawab mereka hendak menunaikan haji.
Az-Zanki menyelidiki dan mendatangi tempat tinggal mereka, ternyata rumah tersebut kosong. Saat ia mengelilingi tempat tinggal dua orang Maroko ini, ternyata ada sebuah tempat –semisal ruangan kecil- yang ada lubangnya dan berujung di kamar Nabi. Keduanya tertangkap ‘basah’ hendak mencuri jasad Nabi, keduanya pun dibunuh di ruang bawah kamar Nabi tersebut. Selengkapnya lihat Wafa al-Wafa 2: 648.
Keempat, upaya pencurian jasad Nabi oleh orang-orang Nasrani Syam. Orang-orang ini masuk ke wilayah Hijaz, lalu membunuh para peziarah kemudian membakar tempat-tempat ziarah. Setelah itu mereka mengatakan bahwa mereka ingin mengambil jasad Nabi di makamnya. Ketika jarak mereka denga kota Madinah tinggal menyisakan perjalanan satu hari, mereka bertemu dengan kaum muslimin yang mengejar mereka. Mereka pun dibunuh dan sebagiannya ditangkap oleh kaum muslimin (Rihlatu Ibnu Zubair, Hal: 31-32)
Amalan Bid’ah Terkait dengan Ziarah ke Masjid Nabawi
makam nabi muhammad
makam Rasulullah
Sering dijumpai peziarah Masjid Nabawi mengusap-usap kamar Nabi ini, bahkan ada yang menciuminya dalam rangka mengharap berkah. Ibnu Taimiyah mengatakan, “Ulama telah sepakat, barangsiapa yang berziarah ke makam Nabi Muhammad atau ke makam nabi selain beliau atau makam orang-orang shaleh, makam sahabat, makam ahlul bait, atau selain mereka, tidak boleh mengusap-usap atau menciumnya, bahkan tidak ada satu pun benda mati di dunia ini yang disyariatkan untuk dicium kecuali hajar aswad.” (Majmu’ Fatawa, 27:29)
Tidak boleh juga untuk thawaf mengelilingi kamar Nabi, thawaf adalah salah satu bentuk ibadah, dan tidak diperkenankan beribadah kecuali hanya kepada Allah. Ada juga dijumpai sebagian peziarah Masjid Nabawi yang bersujud mengarah ke makam Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, ini semua adalah ritual-ritual yang haram dilakukan ketika berziarah ke Masjid Nabawi.
Perluasan Masjid Nabawi
–          Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melebarkan Masjid Nabawi pada tahun ke-7 H, sepulangnya beliau dari Khaibar.
–          Pada zaman Umar bin Khattab, tahun 17 H, Masjid Nabawi kembali diperluas. Umar juga menambahkan sebuah tempat yang agak meninggi di luar masjid yang dinamakan batiha. Tempat ini digunakan oleh orang-orang yang hendak mengumumumkan suatu berita, membacakan syair, atau hal-hal lainnya yang tidak terkait syiar agama. Sengaja Umar membuatkan tempat ini untuk menjaga kemuliaan masjid.
–          Perluasan masjid di masa Utsman bin Affan tahun 29 H.
–          Perluasan masjid oleh Khalifah Umayyah, Walid bin Abdul Malik pada tahun 88-91 H.
–          Perluasan masjid oleh Khalifah Abbasiyah, al-Mahdi pada tahun 161-165 H.
–          Perluasan oleh al-Asyraf Qayitbay pada tahun 888 H.
–          Perluasan oleh Sultan Utsmani, Abdul Majid tahun 1265-1277 H.
–          Perluasan oleh Raja Arab Saudi, Abdul Aziz alu Su’ud tahun 1372-1375 H.
–          Perluasan oleh Khadimu al-Haramain asy-Syarifain, Fahd bin Abdul Aziz alu Su’ud tahun 1406-1414 H.
–          Perluasan masjid yang saat ini sedang berlangsung oleh Khadimu al-Haramain asy-Syarifain, Abdullah bin Abdul Aziz.
Masjid Nabawi
Masjid Nabawi
Mudah-mudahan sejarah singkat Masjid Nabawi ini semakin membangkitkan kecintaan kita kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, para sahabatnya, dan Masjid Nabawi itu sendiri. Semoga Allah senantiasa menjaga masjid ini dari orang-orang yang hendak melakukan keburukan, amin.
 
Sumber: Islamstory.com
Ditulis oleh Nurfitri Hadi
Artikel KisahMuslim.com