Tuesday, November 18, 2014

Skenario Allah memang Indah

Skenario Allah Memang Indah..

“Barang siapa yang tidak ridha terhadap ketentuan-Ku, dan tidak sabar atas musibah dari-Ku, maka carilah Tuhan selain Aku.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Berbahagialah menjadi seorang Muslim. Di saat cobaan datang bertubi-tubi, seorang Muslim diajarkan bagaimana mengelola hati sehingga hatinya tetap sabar dan yakin akan hadirnya sentuhan hangat tangan Sang Khalik. Di saat nikmat turun dari langit, seorang Muslim diajarkan bagaimana menata hati sehingga hatinya senantiasa bersyukur dan menepis jauh dari kemungkinan munculnya dengki.

Terkadang kita selalu berpikir, mengapa seringkali terjadi hal-hal yang tak sesuai dengan harapan kita. Plot cerita yang telah dirancang sebelumnya seringkali tidak berjalan mulus dikarenakan hadirnya hal-hal di luar kendali kita. Tak jarang diri ini tak kuasa menahan emosi yang muncul. Tapi di situlah letak nikmat ujian dari Nya.
Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu, Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui ,” (Qs. Al-Baqarah : 216)

Jika kita yakin bahwa semua skenario ini telah dirancang dengan rapi oleh Sang Pencipta Alam Semesta, maka tak perlu takut, tersenyumlah.
Jika kita tahu bahwa Sang Khalik tak akan pernah menzhalimi hamba-hamba-Nya, maka tak usah gelisah, tersenyumlah. 
Jika kita faham bahwa hanya Sang Allah yang mengetahui apa yang baik untuk kita, maka tak perlu risau, tersenyumlah.
Jika kita mengerti bahwa skenario Allah itu adalah skenario yang paling indah, maka tak usah gundah, tersenyumlah..

Adalah Ali bin Abi Thalib ra, sepupu muda Rasulullah yang disebut-sebut Rasul sebagai gerbang ilmu pengetahuan yang menaruh hati pada putri Rasulullah SAW, Fathimah. Tapi Ali sadar bahwa dirinya tak memiliki apa-apa. Terlebih lagi tersebar berita bahwa Abu Bakr telah meminang Fathimah. Saat itu asa pupus. Ali pun menyadari bahwa dirinya hanya seonggok batu kerikil bila dibandingkan dengan sosok Abu Bakr ra. Tak lama kemudian, terdengar kabar bahwa lamaran Abu Bakr ditolak Rasul. Secercah harapan muncul dalam diri Ali. Tapi kembali terhapus saat Ali mendengar kedatangan Umar mengunjungi kediaman Rasul dengan niat yang sama seperti Abu Bakr. Perang batin berkecamuk di dalam diri Ali. Satu sisi mengatakan bahwa Ali ingin sekali menikahi Fathimah, namun sisi yang lain mengatakan bahwa dirinya tak pantas disandingkan dengan putri seorang utusan mulia.
Namun skenario Allah tak dapat disangka-sangka. Beberapa lama kemudian datang Abu Bakr dengan senyum manisnya sembari membawakan undangan kepada Ali. Undangan dari Rasul. Berbekal rasa penasaran, Ali segera mendatangi Rasul. Tak ada hari yang paling indah bagi Ali selain hari dimana Rasul menjodohkan Ali dengan putri kesayangannya itu. Betapa bahagia hati Ali mendapatkan tawaran khusus dari Rasul. Plot cerita yang Ali bayangkan ternyata tak dapat mengalahkan kronologi kisah yang telah Allah buat. Taufiq – atau klopnya keinginan atau harapan dengan taqdir dan kehendak Allah, kadang harus melewati jalan berliku. Waktunya juga bisa saja tercapai ketika ajal hampir tiba. Ending-nya pun tidak selamanya percis 100%.
Ya, ketika Allah sedang menyulam kehidupan kita, tak perlu Allah mengungkapkan rencana-Nya, karena Allah ingin semua terasa indah pada waktunya.. Allah ingin melihat hamba-Nya gigih dalam menjalani prosesnya. Allah ingin melihat hamba-Nya bercucuran air mata, bersimpuh di malam hari menghadap-Nya. Allah ingin melihat tegarnya dada hamba-Nya, bersabar dalam menerima cobaanya. Allah ingin melihat senyum dan ucapan syukur keluar dari mulut hamba-Nya tatkala Allah merealisasikan doa hamba-Nya dan rencana terbaik-Nya.

Ruang lingkup penglihatan Allah sangat sangat jauh bila dibandingkan dengan ruang lingkup penglihatan hamba-Nya. Ibarat seseorang yang melihat dari dalam lubang, dan seorang yang lain melihat dari atas menara. Maka, seseorang yang melihat dari atas menara jangkauan pandangannya akan lebih luas dari jangkauan pandangan seseorang yang melihat dari lubang. Oleh karena itu, wajar jika banyak keputusan Allah yang berbeda dari keinginan kita. Karena Allah melihat dari sudut pandang yang luas. Mempertimbangkan berbagai macam pertimbangan, merencanakan sesuatu dari data yang lebih lengkap. Tak pantas bila kita menyalahkan skenario yang Allah buat.
Allah telah merancang skenario yang sempurna. Terkadang Allah menyembunyikan mutiara yang indah di balik sebuah kotak yang terlihat kusam. Kita tak bisa dengan mudahnya menyalahkan setiap kejadian buruk di hadapan, karena siapa tau kejadian yang indah sedang menunggu selangkah dua langkah di depan kejadian buruk yang menimpa kita itu. Percayalah, bila kita beriman padaNya, semua akan indah pada waktunya

Seringkali selama bertahun-tahun, aku melihat ke atas dan bertanya kepada Allah, “Allah, apa yang engkau lakukan?” Ia menjawab, “menyulam kehidupanmu”. Dan aku menjawab, “tetapi nampaknya hidup ini ruwet, benang-benangnya banyak yang hitam, mengapa tidak semua memakai warna yang cerah?” Kemudian Allah menjawab, “Hambaku, kamu teruskan pekerjaanmu, dan Aku juga akan menyelesaikan pekerjaan-Ku. Suatu saat nanti Aku akan memanggilmu ke syurga dan mendudukkanmu di pangkuan-Ku, dan kamu akan melihat rencana-Ku yang indah dari sisi-Ku”

Mahasuci Engkau ya Allah, Skenario Mu memang sungguh indah..

 

Thursday, November 13, 2014

Sholat Jumat sebelum masuk waktu Dzuhur

Jum'atan hari ini sedikit berbeda dengan jumatan sebelumnya. Atau lebih tepatnya sangat berbeda dengan sekali dengan jumatan sebelumnya atau jumatan di tempat-tempat lain.

Saya dan kawan-kawan memang selalu sholat jumat bersama orang-orang teluk alias orang Arab saudi. Ya terang saja, toh lembaga ini punya kerajaan Saudi.

Jumatannya sama seperti yang lain hanya saja azannya satu kali. Namun azan satu kalipun ini sudah menjadi barang yang biasa, bukan asing lagi bagi para kaum muslim Indonesia, Jakarta khususnya.

Namun jumatan kali ini benar-benar berbeda. Kenapa? Karena selesainya, jam masih menunjukkan pukul 12.13. bukan karena khutbah yang singkat atau sholat yang cepet. Lalu kenapa?

Pasalnya sholat jumat kali ini dimulai pukul 11.43 wib (sholat jumat dimulai dengan naiknya khotib ke mimbar kamudian sang muazdin mengumandangkan azan)

Berarti sholat jumatnya dilakukan sebelum masuk waktu sholat zuhur dong? Padahal kan sholat jumat mulainya pas masuk sholat zuhur. Jadi sah atau tidak?

Mungkin itu pertanyaan yang muncul setelah anda membaca ini. Soal itu juga yang ditanyakan kepada saya dari teman saya yang heran kok khotib naik mimbar sebelum masuk waktu. "Dia lupa bawa jam kali?" katanya bertanya kepada saya.

Kemudian saya jawab dengan nada ringan: "yaa ngga apa-apa. Sholat jumatnya sah kok"

"Loh kok bisa? Kan belum masuk waktu sholat zuhur?"

"Ya sangat bisa sekali. Dan sholat jumatnya sah, sangat sah sekali"

Karena memang orang-orang Arab ini dalam maslah fiqih mereka bermadzhab Hambali. Dan dalam mazhab Imam Ahmad ini, sholat jumat boleh dilakukan sebelum waktu zawal atau waktu dimana tergelincirnya matahari, yaitu waktu zuhur.

Dan dari 4 mazhab fiqih, dalam masalah waktu sholat jumat ini semua mengatakan bahwa sholat jumat itu dilaksanakan setelah zawal hanya mazhab Imam Ahmad bin Hambal saja yang membolehkan sholat jumat sebelum waktu zawal.

Ini menjadi aneh karena kita (Indonesia) mayoritas bermazhab syafi'i. dan mazhab kita ini melarang untuk melaksanakan sholat jumat sebelum waktu zuhur. Karena waktu sholat jumat ialah waktu sholat zuhur.

Lalu apa dalil mazhab Imam Ahmad bin Hambal atas bolehnya sholat jumat sebelum zawal?

Dalam kitab "Nailul Author" karangan Imam Al-syaukani, dijelaskan beberapa dalil yang memang menunjukkan bahwa boleh melaksanakan sholat jumat sebelum waktu zawal.

Disebutkan bahwa sahabat Anas Bin Malik ra mengatakan: "Kami pernah melaksanakan Sholat Jumat bersama Nabi saw kemudian kami pulang dan Qoilulah (Tidur siang)"(HR Ahmad dan Bukhori)

Dari Sahl bin Sa'd ra, ia berkata: "kami tidak qoilulah dan tidak makan siang kecuali setelah sholat jumat. Dan itu kami lakukan pada masa Nabi Muhammad saw (ketika ada Nabi)" (HR Muslim, Ahmad dan Tirmidzi).

Dalam hadits ini tergambar bahwa Nabi saw pernah sholat jumat seblum waktu zawal. Buktinya ialah bahwa Qoilulah dalam budaya orang Arab pada masa itu ialah Tidur siang yang dilakukan sebelum waktu zawal (tergelincirnya matahari). Dan tidak dinamakan qoilulah jika tidur setelah waktu zawal 9tergelincirnya matahari) atau waktu zuhur.

Dan juga disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abu Hurairoh dan Ibnul Abbas bahwa Nabi saw pernah sholat jumat bersama para sahabat dan setelah sholat jumat beliau saw keluar untuk beristirahat (Qoilulah)

Seandainya sholat jumat beserta khutbahnya itu dilaksanakan setelah zawal, tentulah tidak ada waktu untuk beliau saw dan para sahabat untuk beristirahat.

Kemudian juga diriwayatkan dari sahabat Abdullah bin Saidan ra, ia berkata: "Aku pernah sholat bersama Abu Bakar (dimasa Kholifah Abu Bakar), khutbah dan sholatnya (selesai) sebelum tengah hari. Aku juga pernah sholat jumat bersama Umar, Khutbah dan sholatnya (selesai) ketika tengah hari.

Dan aku juga pernah sholat jumat bersama Utsman, khutbah dan sholatnya (selesai) ketika tergelincirnya matahari. Dan tidak ada satupun yang mencela dan mengingkarinya." (HR Ad-Daar Al-Quthni)

Ini bukti bahwa 2 kholifah pernah melakukan sholat jumat sebelum waktu zawal. Dan hadits ini dan hadits diatas menjadi dasar bagi mazhab Imam Ahmad bin hambal atas boleh sholat jumat sebelum waktu zawal.

Tentu masih banyak lagi dalil mazhab ini atas pendapatnya tersebut, namun tidak bisa penulis sebutkan semuanya, karena keterbatasan tempat.

Untuk lebih jelasnya silahkan buka kitab-kitab fiqih mazhab hambali.
Wallahu A'lam

Wednesday, November 12, 2014

Berkata yang Baik atau Diam

BERKATA YANG BAIK ATAU DIAM

By Nopindra
Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam telah bersabda : "Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, maka hendaklah ia berkata baik atau diam, barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, maka hendaklah ia memuliakan tetangga dan barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, maka hendaklah ia memuliakan tamunya".
(HR. Bukhari dan Muslim)
Penjelasan :
Kalimat "barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat", maksudnya adalah barang siapa beriman dengan keimanan yang sempurna, yang (keimanannya itu) menyelamatkannya dari adzab Allah dan membawanya mendapatkan ridha Allah, "maka hendaklah ia berkata baik atau diam" karena orang yang beriman kepada Allah dengan sebenar-benarnya tentu dia takut kepada ancaman-Nya, mengharapkan pahala-Nya, bersungguh-sungguh melaksanakan perintah dan meninggalkan larangan-Nya. Yang terpenting dari semuanya itu ialah mengendalikan gerak-gerik seluruh anggota badannya karena kelak dia akan dimintai tanggung jawab atas perbuatan semua anggota badannya, sebagaimana tersebut pada firman Allah :
"Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati semuanya kelak pasti akan dimintai tanggung jawabnya". (QS. Al Isra' : 36)
dan firman-Nya:
"Apapun kata yang terucap pasti disaksikan oleh Raqib dan 'Atid". (QS. Qaff : 18)
Bahaya lisan itu sangat banyak. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam juga bersabda:
"Bukankah manusia terjerumus ke dalam neraka karena tidak dapat mengendalikan lidahnya".
Beliau juga bersabda :
"Tiap ucapan anak Adam menjadi tanggung jawabnya, kecuali menyebut nama Allah, menyuruh berbuat ma'ruf dan mencegah kemungkaran".
Barang siapa memahami hal ini dan beriman kepada-Nya dengan keimanan yang sungguh-sungguh, maka Allah akan memelihara lidahnya sehingga dia tidak akan berkata kecuali perkataan yang baik atau diam.
Sebagian ulama berkata: "Seluruh adab yang baik itu bersumber pada empat Hadits, antara lain adalah Hadits "barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, maka hendaklah ia berkata baik atau diam". Sebagian ulama memaknakan Hadits ini dengan pengertian; "Apabila seseorang ingin berkata, maka jika yang ia katakan itu baik lagi benar, dia diberi pahala. Oleh karena itu, ia mengatakan hal yang baik itu. Jika tidak, hendaklah dia menahan diri, baik perkataan itu hukumnya haram, makruh, atau mubah". Dalam hal ini maka perkataan yang mubah diperintahkan untuk ditinggalkan atau dianjurkan untuk dijauhi Karena takut terjerumus kepada yang haram atau makruh dan seringkali hal semacam inilah yang banyak terjadi pada manusia.
Allah berfirman :
"Apapun kata yang terucapkan pasti disaksikan oleh Raqib dan 'Atid". (QS.Qaaf : 18)
Para ulama berbeda pendapat, apakah semua yang diucapkan manusia itu dicatat oleh malaikat, sekalipun hal itu mubah, ataukah tidak dicatat kecuali perkataan yang akan memperoleh pahala atau siksa. Ibnu 'Abbas dan lain-lain mengikuti pendapat yang kedua. Menurut pendapat ini maka ayat di atas berlaku khusus, yaitu pada setiap perkataan yang diucapkan seseorang yang berakibat orang tersebut mendapat pembalasan.
Kalimat "hendaklah ia memuliakan tetangganya...., maka hendaklah ia memuliakan tamunya" , menyatakan adanya hak tetangga dan tamu, keharusan berlaku baik kepada mereka dan menjauhi perilaku yang tidak baik terhadap mereka. Allah telah menetapkan di dalam Al Qur'an keharusan berbuat baik kepada tetangga dan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam bersabda :
"Jibril selalu menasehati diriku tentang urusan tetangga, sampai-sampai aku beranggapan bahwa tetangga itu dapat mewarisi harta tetangganya".
Bertamu itu merupakan ajaran Islam, kebiasaan para nabi dan orang-orang shalih. Sebagian ulama mewajibkan menghormati tamu tetapi sebagian besar dari mereka berpendapat hanya merupakan bagian dari akhlaq yang terpuji.
Pengarang kitab Al Ifshah mengatakan : "Hadits ini mengandung hukum, hendaklah kita berkeyakinan bahwa menghormati tamu itu suatu ibadah yang tidak boleh dikurangi nilai ibadahnya, apakah tamunya itu orang kaya atau yang lain. Juga anjuran untuk menjamu tamunya dengan apa saja yang ada pada dirinya walaupun sedikit. Menghormati tamu itu dilakukan dengan cara segera menyambutnya dengan wajah senang, perkataan yang baik, dan menghidangkan makanan. Hendaklah ia segera memberi pelayanan yang mudah dilakukannya tanpa memaksakan diri". Pengarang juga menyebutkan perkataan dalam menyambut tamu.
Selanjutnya ia berkata : Adapun sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam "maka hendaklah ia berkata baik atau diam" , menunjukkan bahwa perkatan yang baik itu lebih utama daripada diam, dan diam itu lebih utama daripada berkata buruk. Demikian itu karena Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam dalam sabdanya menggunakan kata-kata "hendaklah untuk berkata benar" didahulukan dari perkataan "diam". Berkata baik dalam Hadits ini mencakup menyampaikan ajaran Allah dan rasul-Nya dan memberikan pengajaran kepada kaum muslim, amar ma'ruf dan nahi mungkar berdasarkan ilmu, mendamaikan orang yang berselisih, berkata yang baik kepada orang lain. Dan yang terbaik dari semuanya itu adalah menyampaikan perkataan yang benar di hadapan orang yang ditakuti kekejamannya atau diharapkan pemberiannya.

Nikmatnya bersahabat dengan kesendirian

From: VOA-Islam (Syahidah).  
Hingar bingar dunia seringkali melenakan manusia. Keindahannya dibalut dalam keramaian yang penuh dengan kepentingan. Bagi yang tiada terbiasa, begitu kesendirian itu tiba, sejenak mereka akan merasa terpojok pada keadaan yang sangat menjemukan. Tapi justru sebenarnya disanalah nikmat itu berada. Kasih sayang Allah menanti kita untuk mendekat. Semua tergantung kepada keputusan diri kita untuk menyambutnya atau tidak.
Bahkan batinpun butuh istirahat, butuh nutrisi lebih untuk menahkodai langkah kita selalu menuju jalan yang benar. Mereka butuh sejenak, untuk mereview laporan kebaikan dan kebandelan kita sebagai “anak buahnya”, kepada Allah SWT. Ternyata kesendirian membawa nikmat bagi hati hati yang merasa tiada pernah sendiri.
Ternyata kesedirian tak selamanya mematikan. Tanyalah kepada para pecinta malam yang terhanyut dalam sholat dan keintiman dengan Robb mereka. Betapa nikmatnya karunia sebuah air mata itu. Air mata penyesalan dan permohonan keampunan atas dosa dan kekhilafan.
Ternyata kesendirian tak selamanya menyakitkan. Tanyakan saja kepada para “penyalur” rezeki. Mereka memilih untuk hanya memberi tahu diri mereka sendiri, atas apa yang mereka berikan kepada orang lain. Tak perlu beramai ramai apalagi dengan pengumuman. mereka melakukan sesuatu untuk hanya diketahui oleh yang maha mengetahui.
Ternyata kesendirian adalah menyelamatkan. Tanyakan saja pada para manusia penyimpan aib sodara mereka. tiada waktu lebih untuk mencela kesalahan manusia lain. yang ada adalah belajar dari kesalahan mereka dan terus memperbaiki diri sendiri.
Ternyata Kasih sayang Allah SWT itu unik untuk disampaikan.
Dalam kesendirian Allah SWT memberi jeda waktu untuk penyegaran nurani dan “benafas” kembali diri kita dalam pertemuan hangat dengannya, sebelum kita memulai langkah baru menghadapi tantangan dunia.
Ternyata Kasih sayang Allah SWT itu unik untuk direnungkan.
Dalam kesendirian kita diajarkan menjadi sahabat bagi diri sendiri. Dan hal itu adalah memang yang paling masuk akal. Bukan tak boleh meminta bantuan kepada sesama, tapi akan lebih baik jika kita mengharuskan berdiri dengan kaki sendiri. dan dikala terjatuhpun, kita harus mampu membangkitkan diri.
Mencoba ramah pada kesendirian, mungkin akan lebih baik dan berarti. Ya, akan lebih berarti disaat keadaan dan dunia tak bersahabat dengan kita. Berusaha menjadi sahabat terbaik bagi diri sendiri entah dalam keramaian ataupun kesendirian adalah sebuah anugrah. Karena kita sendirilah pemeran utamanya, pemimpin dari diri sendiri dan yang paling mengerti isi hati.
Ternyata kesendirian membawa nikmat bagi hati hati yang merasa tiada pernah sendiri. Karena mereka percaya bahwa Allah selalu menemani.



voa-islam [syahidah]