Monday, March 31, 2008

Darah yang keluar menjelang melahirkan

Sister semua ini ada pertanyaan sister Y mengenai darah yang keluar menjelang melahirkan dst, dan jawaban langsung oleh Ustadzah Herlini Amran
Sister Y

Biasanya kalau wanita menjelang melahirkan ada yang mengeluarkan darah terlebih dahulu selain mungkin air ketubannya pecah duluan, apakah itu sudah dianggap nifas dengan segala hal-hal yang dilarang dilakukan pada saat itu (mis. sholat) atau nifas itu diberlakukan setelah kita melahirkan saja ?
kalau darah yang keluar dulu sebagai tanda-tanda wanita mau melahirkan dianggap bukan darah nifas lalu disebut sebagai apa? apakah darah istihada'?
bagaimana dengan kewajiban wanita tersebut untuk melakukan sholat dsb?

Jawab
Para ulama berbeda pandangan terkait dengan darah yang keluar menjelang melahirkan :
1- Syafi'i & Hambali mengatakan darah tersebut adalah darah nifas
2- Maliki berpendapat bahwa itu adalah darah haidh
3- Hanafi mengatakan itu adalah darah istihadhoh

Dari pandangan tersebut, apakah perbedaan itu terletak dari status darahnya (haidh/nifas), maka seorang wanita tidak lagi diwajibkan untuk sholat setelah mengeluarkan darah sesaat akan melahirkan.

Ketuban yang tidak diiringi dengan keluarnya darah, masih mengharuskan wanita tersebut untuk sholat, dapat dilakukan dengan kondisi berbaring,

wallahu a'lamWassalam Wrwb
PJ Konsultasi Ustadzah Imsis
Eka Puspawati

Monday, March 24, 2008

How to be a Successful Wife

by Muhammad Alshareef

http://www.khutbah.com/

1. Use your 'Fitnah' to win the heart of your husband. All women have the ornaments that Allah blessed them with. Use the beauty Allah Ta'ala has bestowed you with to win the heart of your husband.

2. When your husband comes home, greet him with a wonderful greeting. Imagine your husband coming home to a clean house, an exquisitely dressed wife, a dinner prepared with care, children clean and sweet smelling, a clean bedroom - what would this do to his love for you? Now imagine what the opposite does to him.

3. Review the characteristics of the Hoor Al-Ayn and try to imitate them. The Qur'an and Sunnah describe the women in Jannah with certain characteristics. Such as the silk they wear, their large dark eyes, their singing to their husband, etc. Try it, wear silk for your husband, put Kohl in your eyes to 'enlarge' them, and sing to your husband.

4. Always wear jewelry and dress up in the house. From the early years, little girls have adorned themselves with earrings and bracelets and worn pretty dresses - as described in the Qur'an. As a wife, continue to use the jewelry that you have and the pretty dresses for your husband.

5. Joke and play games with your husband. A man's secret: they seek women who are lighthearted and have a sense of humor. As Rasulullah (saw) told Jabir to marry someone who would make him laugh and he would make her laugh.

6. Thank your husband constantly for the nice things he does. Then thank him again. This is one of the most important techniques, as the opposite is a characteristic of the women of hellfire.

7. An argument is a fire in the house. Extinguish it with a simple 'I'm sorry' even if it is not your fault. When you fight back, you are only adding wood to the fire. Watch how sweetly an argument will end when you just say sincerely, "Look, I'm sorry. Let's be friends."

8. Always seek to please your husband, for he is your key to Jannah. Rasulullah (saw) taught us that any woman who dies in a state where her husband is pleased with her, shall enter Jannah. So please him.

9. Listen and Obey! Obeying your husband is Fard! Your husband is the Ameer of the household. Give him that right and respect.

10. Make Dua to Allah to make your marriage and relationship successful. All good things are from Allah. Never forget to ask Allah Ta'ala for the blessing of having a successful marriage that begins in this Dunya and continues on - by the Mercy of Allah Ta'ala - into Jannah.

And Allah ta'ala knows best.

Tuesday, March 18, 2008

Keistimewaan Wanita Menurut Hadis

Kiriman email dari teman...Maaf tidak disebutkan sumbernya..

1. Doa wanita itu lebih makbuldaripada lelaki kerana sifat penyayang yang lebih kuat daripada lelaki. Ketika ditanya kepada Rasulullah SAWakan hal tersebut, jawab baginda , "Ibu lebih penyayang dari pada bapa dan doa orang yang penyayang tidak akan sia-sia."

2. Wanita yang solehah (baik) itu lebih baik daripada 1000 lelaki yang soleh.

3. Barangsiapa yang menggembirakan anak perempuannya, derajatnya seumpama orang yang sentiasa menangis karena takut akan Allah . Dan orang yang takutkan Allah SWT akan diharamkan api neraka ke atas tubuhnya.

4. Wanita yang tinggal bersama anak-anaknya akan tinggal bersama aku(Rasulullah SAW) di dalam syurga.

5. Barangsiapa membawa hadiah (barang makanan dari pasar ke rumah lalu diberikan kepada keluarganya) maka pahalanya seperti melakukan amalan bersedekah.Hendaklah mendahulukan anak perempuan daripada anak lelaki. Maka barangsiapa yang menyukakan anak perempuan seolah-olah dia memerdekakan anak Nabi Ismail.

6. Syurga itu di bawah telapak kakiibu.

7. Barangsiapa mempunyai tiga anak perempuan atau tiga saudara perempuan atau dua anak perempuan atau dua saudara perempuan lalu dia bersikap ihsan dalam pergaulan dengan mereka dan mendidik mereka dengan penuh rasa takwa serta sikap bertanggungjawab,maka baginya adalah syurga.

8. Apabila memanggil akan dirimu dua orang ibu bapamu, maka jawablah panggilan ibumu terlebih dahulu.

9. Daripada Aisyah r.a." Barangsiapa yang diuji dengan sesuatu daripada anak-anak perempuannya lalu dia berbuat baik kepada mereka, maka mereka akan menjadi penghalang baginya daripada api neraka.

10. Wanita yang taat berkhidmat kepada suaminya akan tertutuplah pintu-pintu neraka dan terbuka pintu-pintu syurga. Masuklah dari mana-manapun pintu yang dia kehendaki dengan tidak dihisab.

11. Wanita yang taat pada suaminya,maka semua ikan-ikan di laut, burungdi udara, malaikat di langit, matahari dan bulan semua beristighfar baginya selama mana dia taat kepada suaminya serta menjaga solat dan puasanya.

12. Aisyah r.a berkata, "Aku bertanya kepada Rasulullah, siapakah yang lebih besar haknya terhadap wanita?" Jawab Rasulullah SAW "Suaminya." "Siapa pulaberhak terhadap lelaki?" Jawab Rasulullah SAW, "Ibunya."

13. Perempuan apabila sembahyang limawaktu, puasa di bulan Ramadhan,memelihara kehormatannya serta kepada suaminya, masuklah dia dari pintu syurga mana sahaja yang dikehendaki.

14. Tiap perempuan yang menolong suaminya dalam urusan agama, makaAllah SWT memasukkan dia ke dalam syurga terlebih dahulu daripada suaminya (10,000 tahun).

15. Apabila seseorang perempuan mengandung janin dalam rahimnya,maka beristighfarlah para malaikat untuknya. Allah SWT mencatatkanb aginya setiap hari dengan 1,000 kebajikan dan menghapuskan darinya 1,000 kejahatan.

16. Apabila seseorang perempuan mulai sakit hendak bersalin, maka Allah SWTmencatatkan baginya pahala orang yang berjihad pada jalan Allah.

17. Apabila seseorang perempuan melahirkan anak, keluarlah dia dari dosa-dosa seperti keadaan ibunya melahirkannya.

18. Apabila telah lahir anak lalu disusui, maka bagi ibu itu setiap satu tegukan daripada susunya diberi satu kebajikan.

19. Apabila semalaman seorang ibu tidak tidur dan memelihara anaknya yang sakit, maka Allah SWT memberinya pahala seperti memerdekakan 70 orang hamba dengan ikhlas untuk membela agama Allah SWT.

Subhanallah...betapa mulianya Wanita....

Sunday, March 16, 2008

Hanya Beda Lima Menit

Oleh Sabrul Jamil

Salah satu komitmen saya belakangan ini adalah berusaha untuk sholat tepat waktu, meninggalkan apa pun pekerjaan yang sedang dilakukan, dan bergegas memenuhi panggilan adzan. Walau sering juga gagal, namun saya berusaha untuk tidak kapok.

Ibarat seorang anak yang baru belajar jalan,saya tidak akan kapok hanya karena setiap kali berjalan, saya jatuh terjengkang, terduduk, terjerembab, dan berbagai jenis jatuh lainnya.Saya terus berusaha memenuhi komitmen itu. Mengapa?Jawabannya rada klasik, yaitu meniru jawaban Baginda Rasulullah, "tidak bolehkah aku menjadi hamba yang bersyukur?"

Jawaban lainnya, saya tidak ingin membuat setan bahagia, dengan menimbulkan perasaan putus asa di hati saya, untuk menjadi orang baik. Jadi, saya terus berusaha jatuh bangun untuk menjaga komitmen. Komitmen tersebut juga termasuk ketika berada di perjalanan. Dan ini termasuk yang paling sulit untuk dipenuhi.

Suatu ketika, saat sedang mencari-cari lokasi kantor client, adzan Dzuhur memanggil. Saya mengikuti arah panggilan adzan, dan menepikan kendaraan. Beruntung, sholat dzuhur belum lagi dimulai. Sebagian jamaah masih sholat sunat, sebagian lagi masih berwudhu. Tak banyak jemaah yang sholat. Namun ini bisa dimaklumi. Mungkin sebagian besar warga masih berada di tempat kerja masing-masing. Alhamdulillah, saya tidak perlu masbuk. Dengan lega saya takbiratulihram, mengikuti imam. Saya pun membaca bacaan-bacaan sebagai mana mestinya. Doa iftitah, surat Al-Fatihah, dan surat pendek. Usai saya membaca surat pendek, ternyata Sang Imam belum selesai dengan bacaannya. Sebagai makmum, saya pun menunggu. Saya mencoba maklum. Mungkin bacaan suratnya memang agak panjang.Namun, alangkah lama rasanya waktu menunggu itu. Sungguh di atas rata-rata.

Ketika akhirnya Sang Imam ruku', sudah muncul setitik perasaan tak suka di hati saya. Namun ternyata, tak hanya tegaknya yang lama, ruku'nya pun lebih lama ketimbang rata-rata. Bertambah lagi noda hitam di hati saya. Begitulah seterusnya, sujud, duduk di antara dua sujud, dan gerakan-gerakan lainnya, dilakukan Sang Imam dengan jeda waktu yang membuat konsentrasi saya buyar.

Apa sesungguhnya yang dibaca Imam ini?Tak tahukah ia jika bacaannya yang terlalu lama ini bisa merusak konsentrasi makmumnya?Tak pernahkah ia mendengar hadits nabi yang mempersingkat bacaan sholatnya begitu mendengar suara tangis bayi? Bukankah hal ini adalah isyarat bahwa seorang imam harus peka?Fakta bahwa saya masih harus mencari-cari lokasi kantor client saya turut menambah pekat keruwetan lintasan-lintasan pikiran saya.Begitulah cara kerja pikiran. Tidak bebas nilai, dan cenderung mengikuti saja apa yang kita inginkan.

Karena saat itu saya sedang tidak suka dengan sang Imam, dan berkeyakinan bahwa imam itu salah, maka saya memerintahkan pikiran saya untuk mencari-cari berbagai argumen yang dapat menunjang dan membenarkan kejengkelan saya. Maka bermunculanlah berbagai argumentasi yang bahkan terkadang berlandaskan dalil dan nash.Tapi, tak ada yang bisa saya lakukan. Saya pun mengikuti saja gerakan imam. Tampak seperti patuh, namun sesungguhnya di dalam hati penuh dengan dendam pembangkangan.

Memasuki rakaat ketiga, menggeliatlah sang nurani. Mungkin sejak semula ia telah berusaha berkata-kata, mengingatkan, namun terbungkam oleh emosi yang tidak pada tempatnya. Kali ini, mungkin dengan berteriak,pikiran jernih pun pelan-pelan muncul. Mirip cahaya mentari di balik awan pekat yang mulai menyibak, di tiup angin ke segala arah. Aku pun mulai tenang, dan merasa yakin bahwa pilihan terbaik adalah tetap menjaga kekhusyu'an. Pelan-pelan kesadaran pun muncul. Kesadaran hakiki bahwa saat itu sejatinya saya sedang berhadapan Allah Yang Maha Besar.

Sungguh tak pantas jika saya mencak-mencak, meski cuma di dalam hati.Dan, sebagaimana sebelumnya, pikiran pun hanya mengikuti saja kehendak hati. Jika semula beragam alasan negatif telah dimuntahkan, kali ini nilai-nilai positiflah yang dimunculkan, digali-gali dari berbagai lipatan memori di dalam otak. Mulailah pikiran-pikiran saya mengingatkan bahwa sholat khusyu hanya bisa diperoleh dengan ketenangan.

Bahwa ihsan adalah meyakini bahwa Allah melihat kita, dan kita merasa diawasi Allah.

Bahwa bacaan ruku dan sujud hendaknya terus diulang-ulang, sampai benar-benar terasa bahwa kita tengah merendahkan diri di hadapan SangPenguasa Jagat.

Bahwa banyaknya bacaan ruku dan sujud tidaklah hanya dibatasi tiga kali sebagaimana selama ini dipahami kebanyakan orang. Jumlah tiga bukanlah komando untuk bangkit ke gerakan berikutnya.

Ketika sholat usai, saya menyempatkan diri menengok ke jam. Tahukah berapa waktu yang dibutuhkan untuk sholat yang terasa seperti selamanya itu? Hanya sepuluh menit! Ya, hanya lima menit lebih lama dari waktu rata-rata!Saya tak tahu apa yang selanjutnya berkecamuk di hati ini. Perasaan malu, bersalah, khianat, berdosa, dan lain-lain. Hanya lima menit lebih lama, mengapa saya begitu kikir? Inikah orang yang mengaku mencintaiNya, melebihi cinta kepada selainNya?

Lima menit tak cukup untuk mengantri di kasir pasar Swalayan. Juga tak akan cukup untuk menunggu antrian martabak keju di malam minggu. Lima menit tak cukup untuk membaca info selebritis tak berguna, atau liputantak bermanfaat tentang sepakbola. Lima menit terlalu singkat untuk makan siang, apalagi jika sambil ngerumpi dengan teman sekantor.

Namun lima menit yang penuh makna, saat-saat berkomunikasi denganNya,dapat mewarnai hari-hari kita. Saya teringat salah satu hadits, yang kira-kira mengatakan,bahwa jika kita ingin mengetahui bagaimana kedudukan kita di mata Allah,maka bertanyalah kepada diri sendiri, bagaimana kedudukan Allah di hati kita.

Lalu, bagaimana mengukur kedudukan Allah di hati kita? Mungkin jawabannya terletak pada seberapa khusyu-nya kita sholat. Karena sholat khusyu adalah peristiwa di mana kita merasa benar-benar berhadapan dengan Allah. Sebagaimana DIA sendiri mengatakan, yaitu orang-orang yang meyakini pertemuan dengan Rabb-nya, dan meyakini bahwa ia akan kembali kepadaNya.

Dan kata orang-orang yang telah merasakannya, ketika sholat telah khusyu', terutama ketika sholat malam, maka waktu lima atau sepuluhmenit akan terasa sebentar saja.

Dikutip dari email TH

Sunday, March 09, 2008

Manfaat Cobaan Bagi Seorang Mukmin

Soal :Kenapa Allah membebani kaum mukminin dengan banyak ibadah, dengan penyakit dan berbagai macam cobaan, sementara para pelaku maksiat bersenang-senang saja dengan segala kenikmatan hidup?

Jawab :
Pertanyaan ini terlontarkan atas dua alasan:

pertama, sebagai gugatan.
Kedua, untuk mencari bimbingan. Kalau pertanyaan itu dilontarkan dalam rangka menggugat, jelas itu menunjukkan kebodohan si penanya. Karena hikmah Allah itu terlalu agung untuk dapat dicapai oleh akal manusia. Allah berfirman:
"Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah:" Roh itu termasuk urusan Rabb-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit"" (Al-Israa : 85)
Ruh yang berada dalam tubuh kita sendiri, yang merupakan materi kehidupan kita, itupun tidak kita ketahui.

Para Ahli Logika, Ahli Filsafat dan Ahli Kalam tidak mampu memberikan definisi dan penjelasan substansial dari ruh tersebut. Kalau ruh yang merupakan ciptaan Allah terdekat dengan kita saja tidak kita ketahui kecuali sebatas yang dijelaskan dalam Kitabullah dan Sunnah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, apalagi dengan segala hal yang tersembunyi di balik itu?Allah berfirman:
"Dan mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah bahwa ruh itu termasuk urusan Rabb-ku, dan tidaklah kalian diberikan pengetahuan tentang ruh itu melainkan sedikit saja.."
Di balik itu, apa yang tersembunyi? Allah itu lebih bijaksana, lebih mulia, lebih agung dan lebih memiliki kekuasaan. Maka hendaknya kita pasrah sepasrah-pasrahnya terhadap segala takdir-Nya; takdir hukum alam maupun kodtrat-Nya. Karena kita memang tidak akan mampu memahami batas dari kebijaksanaan- Nya.

Oleh sebab itu, ditinjau dari sisi ini, maka jawaban pertanyaan tersebut di atas adalah: Allah itu lebih bijaksana, lebih mampu dan lebih agung adanya.Adapun kemungkinan kedua adalah pertanyaan yang berbentuk meminta penjelasan. Kepada si penanya kita katakan: Seorang mukmin pasti mendapatkan cobaan.

Dan cobaan Allah yang terlihat mengganggu dirinya itu pada dasarnya memiliki dua keuntungan besar:

Keuntungan pertama, menguji keimanan si mukmin tersebut. Apakah imannya teguh, atau mudah bergoncang. Mukmin yang tulus imannya akan tabah menghadapi takdir dan ketentuan Allah. Ia akan mengharap-harap pahala dari takdir tersebut, sehingga ujian itu menjadi ringan ia rasakan. Dikisahkan bahwa ada seorang Ahli Ibadah wanita yang diberi cobaan dengan jarinya yang terluka atau buntung, namun ia tidak sedikitpun mengeluh, dan tidak tampak kekecewaan di wajahnya. Ada orang yang bertanya kepadanya tentang sikapnya itu, maka ia menjawab: "Manisnya pahala cobaan ini membuatku lupa akan pahitnya menahan kesabaran dalam menghadapinya. " Seorang mukmin memang selalu mengharap pahala dari Allah dan bersikap pasrah kepada-Nya dengan sedalam-dalamnya. Itu adalah satu keuntungan.

Keuntungan kedua, bahwasanya Allah Subhanahu wa Ta'ala amat memuji orang-orang yang tabah dan memberitahukan bahwa Dia selalu bersama mereka, Dia akan memberikan pahala sempurna kepada mereka tanpa batas. Ketabahan adalah satu tingkat yang tinggi, yang hanya dapat dicapai dengan bersabar menghadapi berbagai cobaan. Bila seseorang mampu bersabar, maka ia akan memperoleh derajat tinggi tersebut yang mengandung pahala besar tersebut. Allah menguji kaum mukminin dengan berbagai cobaan berat agar mereka memperoleh pahala bagi orang-orang bersabar tersebut.

Oleh sebab itu, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam sebagai orang yang paling beriman dan bertakwa serta paling takut kepada Allah juga merasakan sengsara sebagaimana orang biasa. Beliau juga merasakan beratnya sakaratul maut. Semua itu diperuntukkan agar beliau mendapatkan pahala kesabaran secara maksimal. Karena beliau adalah orang yang paling bersabar. Dengan penjelasan ini semua, menjadi jelas bagi kita hikmah kenapa Allah memberi cobaan kepada seorang mukmin dengan berbagai musibah tersebut.

Adapun kenapa Allah memberikan kesehatan dan rezeki kepada para pelaku maksiat, orang-orang fasik dan pembuat keonaran, serta melapangkan jalan buat mereka, maka yang demikian itu adalah istidraj (semacam tipuan) dari Allah kepada mereka hingga mereka terlena. Diriwayatkan dengan shahih bahwasanya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:"Dunia itu adalah penjara seorang mukmin dan Surga bagi orang kafir." Mereka memperoleh berbagai kenikmatan sebagai kenikmatan yang diberikan dalam kehidupan dunia mereka saja. Sementara di Hari Kiamat nanti mereka akan memperoleh ganjaran dari perbuatan mereka. Allah berfirman:
"Dan (ingatlah) hari (ketika) orang-orang kafir dihadapkan ke Neraka (kepada mereka dikatakan): "Kamu telah menghabiskan rezkimu yang baik dalam kehidupan duniawimu (saja) dan kamu telah bersenang-senang dengannya; maka pada hari ini kamu dibalasi dengan azab yang menghinakan karena kamu telah menyombongkan diri di muka bumi tanpa hak dan kamu telah fasik"..." (Al-Ahqaaf : 20)

Wal hasil, bahwa dunia ini adalah milik orang-orang kafir. Di dunia ini mereka di "emong" dengan kenikmatan. Dan ketika mereka berpindah ke negeri Akhirat dari kehidupan dunia di mana mereka mendapatkan berbagai kenikmatan tersebut, mereka akan mendapatkan siksa. Siksa itu menjadi lebih berat buat mereka karena mereka mendapatkannya sebagai balasan dan ganjaran. Karena dengan hilangnya kenikmatan dan kesejahteraan yang selama ini mereka senangi di dunia. Ada hikmah ketika yang bisa kita tambahkan di sini berkaitan dengan gangguan dan penyakit yang diderita seorang mukmin. Ketika seorang mukmin berpindahan dari negeri tempat ia melakukan kebajikan di dunia ini, berarti ia berpindah dari segala hal yang menyakiti dan mengganggu dirinya menuju segala kemudahan dan kegembiraan. Sehingga kegembiraan tersebut yang sebelumnya sudah didahului oleh berbagai kenikmatan dunia, menjadi berlipatganda. Karena ia berhasil memperoleh kenikmatan setelah segala musibah dan rasa sakit yang dialaminya hilang.

Dari fatwa Syaikh Muhammad Al-Utsaimin -Rahimahullah- - dalam kitab Fatawa Al-Islamiyyah I : 83

(Kiriman milis)

Friday, March 07, 2008

Agar terjaga dari Kemiskinan

Diriwayakan oleh Al-Hafizd Ibn Asakir dari Abi Dzibyah yang berkata: “Ketika Abdullah bin Masud (RA) dalam keadaan sakit dan saat-saat menjelang kematiannya, Uthman bin Affan (RA) berkunjung kepadanya dan berkata: “Apa yang kamu keluhkan?
“Dosa-dosaku” jawab Ibn Masu’d. Apa yang kamu dambakan? Kata Sayidina Uthman.
Ibn Masu’d menjawab: “Rahmat Tuhanku.” “Tidakkah engkau mau aku memberikan sesuatu untukmu? Ibn Masu’d menjawab: “Aku tidak perlu apa-apa dari hartamu.” Uthman berkata: “Biarkan untuk anak-anak perempuanmu setelah kamu (meninggal). “Apakah kamu takut anak-anak perempuanku menjadi miskin? (Jangan takut) aku sudah memerintahkan kepada mereka agar supaya membaca surat Al-Waqi’ah setiap malam.

Aku pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa membaca surat Al-Waqi’ah setiap malam tidak
akan terkena kefakiran atau kemiskinan sama sekali.” Jawab Ibn Masu’d. “

Maka sejak itu Abu Dzibyah (yang meriwatkan Hadith diatas) tidak pernah meniggalkannya setiap malam.

Mari mulai hari ini kita ajarkan anak-anak kita untuk menghafal surat al-Baqarah

Mohamad Joban

Makna Malaikat

Malaikat adalah salah satu makhluq Allah SWT yang diciptakan-Nya dari cahaya (nuur) [1] dan diberikan kekuatan untuk senantiasa taat kepada-Nya tanpa bermaksiat sedikitpun [2]. Tetapi walaupun tidak pernah sedikitpun bermaksiat kepada Allah SWT, malaikat adalah makhluq yang paling takut kepada azab Allah SWT, sebagaimana dalam hadits nabi SAW berikut [3]:
"Apabila Allah menentukan suatu keputusan di langit, maka semua malaikat sama-sama memukulkan sayapnya karena tunduk kepada firman Allah SWT, sehingga seperti bunyi-bunyian yang sangat nyaring. Sehingga apabila telah mereda rasa takut dalam hati mereka, maka mereka saling berbisik satu sama lain: Apakah yang diucapkan oleh Allah? Maka jawab yang lain: Kebenaran, Dia adalah Maha Luhur lagi Maha Besar."

Bentuk dan Sifat Malaikat
Malaikat adalah makhluk gaib diciptakan oleh Alloh Ta'ala dari cahaya, walaupun mereka memiliki keluarbiasaan yang sangat hebat mereka tidak berhak untuk diibadahi. Hal tersebut dapat kita ketahui berdasarkan hadits Rosululloh dari 'Aisyah rodhiyallohu 'anha, "Malaikat itu diciptakan dari cahaya dan jin diciptakan dari percikan api, sementara Adam diciptakan dari apa yang telah dijelaskan kepadamu." (HR. Muslim).

Mereka juga memiliki sayap, "Segala puji bagi Alloh Pencipta langit dan bumi, Yang menjadikan malaikat sebagai utusan-utusan yang mempunyai sayap, masing-masing dua, tiga dan empat. Allah menambahkan pada ciptaan-Nya apa yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya Alloh Maha Kuasa atas segala sesuatu." (Faathir: 1)

Sifat malaikat yang paling utama adalah mereka tidak pernah mendurhakai apa yang Alloh perintahkan kepada mereka dan mengerjakan setiap yang Alloh titahkan kepada mereka. Mereka diciptakan oleh Alloh khusus untuk beribadah kepada-Nya. Alloh berfirman, "Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Alloh terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan." (At Tahrim: 6).

Bentuk para malaikat terkadang berubah dari aslinya atas izin Alloh, sebagaimana Jibril datang pada Rosululloh dengan menyerupai laki-laki yang sangat putih bajunya dan sangat hitam rambutnya. Nabi pernah mengabarkan bahwa Jibril memiliki enam ratus sayap yang menutupi seluruh ufuk semesta alam.

Jumlah Malaikat
1. Bersabda Nabi SAW [4]: "Sesungguhnya aku mendengar langit berkeriut dan bergemeretak, dan tidaklah ada satu tempat sebesar sejengkal kecuali ada seorang malaikat meletakkan dahinya sedang bersujud atau berdiri shalat."
2. Bersabda Nabi SAW [5]: "Masuk ke dalam baitul Ma'mur pada setiap harinya 70.000 malaikat dan tidak pernah keluar lagi sampai hari Kiamat."

Ketelitian dan Kedisiplinan Malaikat
1. Mereka sangat teliti dalam melaksanakan semua amanah yang diberikan oleh pencipta dan pemilik mereka (ALLAH SWT), sehingga tidak satupun tugas yang diberikan kepada mereka berani mereka lalaikan: "Dan sungguh atas kalian senantiasa ada malaikat yang senantiasa menjaga, yang mulia lagi senantiasa mencatat. [6]"
2. Mereka sangat disiplin dalam segala hal, sehingga Nabi kita yang mulia SAW memerintahkan kita untuk mengikuti kedisiplinan mereka dalam sabdanya: "Inginkah kalian shalat sebagaimana sikap para malaikat ketika menghadap Rabbnya? Maka para shahabat ra bertanya: Bagaimanakah sikap shalatnya para malaikat itu wahai RasuluLLAH? Maka jawab Nabi SAW: Mereka memenuhi semua shaf pertama kemudian baru shaf berikutnya dan mereka merapatkan shafnya. [7]"

Doa, Cinta, dan Pertolongan Mereka Kepada Kaum Mu'minin
1. Mereka tidak putus-putusnya mendoakan kita, memohonkan ampun dan bershalawat bagi kita yang benar-benar mu'min, sebagaimana dalam hadits: "Sesungguhnya ALLAH dan malaikat sampaipun semut dalam lubang-lubangnya sampaipun tiram di dasar samudera senantiasa berdoa bagi para da'i dan orang yang mengajarkan kebaikan. [8]"
2. Dalam hadits lainnya dikatakan: "Sesungguhnya malaikat senantiasa bershalawat untuk seorang diantara kalian selama ia masih di tempat shalatnya sepanjang ia belum berhadats. Mereka para malaikat tersebut senantiasa berkata: Ya ALLAH ampunilah dia.. Ya ALLAH sayangilah dia.. [9]"
3. Cinta mereka bersifat tulus dan seketika, yaitu ketika ALLAH SWT mencintai seorang hamba-NYA yang beriman, maka merekapun serentak mencintai orang tsb. Sebagaimana digambarkan dalam hadits: "Sesungguhnya jika ALLAH SWT mencintai seorang hamba, maka berserulah Jibril: Sesungguhnya ALLAH SWT telah mencintai Fulan, maka cintailah dia. Maka Jibrilpun mencintai orang tersebut dan para malaikat di langitpun semua mencintainya dan yang demikian itupun kemudian diikuti oleh para penduduk bumi. [10]"
4. Cinta mereka inipun ditunjukkan dengan keikutsertaan mereka dalam berbagai aktifitas kebaikan kita, sebagaimana ditunjukkan dalam hadits Nabi SAW: "Tidaklah berkumpul suatu kaum dalam sebuah rumah dari rumah-rumah ALLAH (mesjid) sambil membaca kitab ALLAH dan mempelajarinya diantara mereka. Melainkan di majlis itu turun ketenangan dari sisi ALLAH, dan diliputi oleh kasih sayang ALLAH, serta malaikat mengerubungi dengan sayap-sayapnya, serta ALLAH SWT menyebutkan nama mereka satu-persatu diantara makhluq yang ada disisi-NYA. [11]"

Tugas-Tugas Para Malaikat
1. Beribadah kepada Allah SWT dengan bertasbih kepada-Nya baik siang maupun malam tanpa rasa bosan maupun terpaksa [12].
2. Membawa wahyu kepada anbiya' maupun para Rasul [13].
3. Memohon ampunan bagi kaum yang beriman [14].
4. Meniup sangkakala [15].
5. Mencatat amal perbuatan manusia dan jin [16].
6. Mencabut nyawa [17].
7. Memberi salam kepada para penghuni jannah [18].
8. Menyiksa para penghuni neraka [19].
9. Memikul arsy' Allah SWT [20].
10. Memberi kabar gembira dan memperkuat kondisi kaum mukminin [21].
11. Mengerjakan berbagai pekerjaan lain selain di atas, seperti melarang perbuatan maksiat & memberikan pelajaran [22], membagi tugas & pekerjaan [23], membawa kebaikan, menyebarkan rahmat, membedakan antara benar & salah [24], dsb.
Kewajiban Kita Kepada Malaikat
1. Mengimani keberadaan mereka [25].
2. Mengimani nama-nama, sifat-sifat, dan tugas-tugas mereka yang kita kenali maupun yang tidak kita kenali tapi diberitakan oleh Allah SWT [26].
Nama-Nama Malaikat Menurut Al-Qur'an dan As-Sunnah Yang Shahih
1. Jibril [27], kadang juga disebut Ruhul Qudus [28], kadang juga disebut Ruhul Amin [29].
2. Mikal [30] atau sering disebut Mika'il.
3. Malik [31] atau Zabaniyyah [32].
4. Raqibun 'Atid [33] (Yang dekat lagi mencatat) atau juga Kiraman Katibin [34] (yang mulia lagi mencatat).
5. Israfil [35].
6. Munkar & Nakir [36].

Nama-Nama Malaikat Yang Dhaif & Maudhu' Menurut As-Sunnah
1. Izra'il [37], oleh sebab itu yang benar adalah menamakannya dengan Malakul Maut [38] sesuai Al-Qur'an.
2. Ridhwan [39], oleh karenanya yang benar adalah menamakannya dengan Penjaga Syurga [40].

Pengaruh Beriman Kepada Malaikat
1. Semakin meyakini kebesaran, kekuatan dan kemahakuasaan Allah SWT.
2. Bersyukur kepada-Nya, karena telah menciptakan para malaikat untuk membantu kehidupan dan kepentingan manusia dan jin.
3. Menumbuhkan cinta kepada amal shalih, karena mengetahui ibadah para malaikat
4. Merasa takut bermaksiat karena meyakini berbagai tugas malaikat seperti mencatat perbuatannya, mencabut nyawa dan menyiksa di naar.
5. Cinta kepada malaikat karena kedekatan ibadahnya kepada Allah SWT, dan karena mereka selalu membantu dan mendoakan kita.

WaLLAAHu a'lamu bish Shawaab…
Wassalamu'alaikum wr wb.
Sub Dep Dakwah IMSIS.
Dikutip oleh (Winny S)

Tuesday, March 04, 2008

Etika Bercanda Dalam Islam

Dalam beberapa riwayat menyebutkan bahwa Nabi shallallaahu 'alaihi wasallam pernah bercanda ketika memanggil shahabatnya :"Hai yang mempunyai dua telinga " (HR. Tirmidzi dalam Syamail 225 dan Sunan-nya 1992, 3828; Abu Dawud no. 5002; dan Ahmad 3/117, 127. Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud no. 4182).

Nabi shallallaahu 'alaihi wasallam juga pernah berkata kepada seorang perempuan tua : "Tidak ada perempuan tua yang masuk surga". Kemudian beliau shallallaahu 'alaihi wasallam membaca ayat : "Sesungguhnya Kami menciptakan mereka (bidadari-bidadari itu) dengan langsung. Dan Kami jadikan mereka gadis-gadis perawan " (Al-Waaqi'ah : 35-36) (HR. Tirmidzi dalam Syamail 240 dan dihasankan oleh Syaikh Al-Albani dalam Ghayatul-Maram 375).

Dari Anas radliyallaahu 'anhu diriwayatkan bahwa ada seorang laki-laki menemui Nabi shallallaahu 'alaihi wasallam dan berkata: "Wahai Rasulullah, bawalah aku jalan-jalan". Beliau berkata : "Kami akan membawamu berjalan-jalan menaiki anak unta". Laki-laki itu pun menukas : "Apa yang bisa kuperbuat dengan anak unta?". Beliau berkata : "Bukankah setiap unta adalah anak ibunya?" (HR. Abu Dawud dalam Sunan-nya dalam kitab Al-Adab - 92 bab Riwayat tentang Bersendau-Gurau hadits no. 3998 (V : 270) dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud III : 943 no. 4180. Dikeluarkan juga oleh At-Tirmidzi dalam kitab Al-Birr - 57 bab Riwayat tentang Bersendau-Gurau hadits no. 1992 (VI : 207)).

Dari Abu Hurairah radliyallaahu 'anhu diriwayatkan bahwa ia berkata : "Orang-orang bertanya : 'Wahai Rasulullah, apakah engkau juga mengajak kami bercanda?'. Beliau menjawab : 'Ya, tapi aku hanya mengatakan sesuatu apa adanya (tanpa berdusta) " (HR. Tirmidzi dalam kitab Al-Birr wash-Shilah - 57 bab Riwayat tentang Sendau-Gurau 1991; dan beliau berkata : "Hadits ini hasan shahih".

Dari beberapa riwayat tentang kelakar/bercandanya Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam terkumpul padanya 3 (tiga) perkara :
1. Tidak berdusta / tidak mengada-ada.2. Dilakukan terhadap wanita, anak-anak, dan kalangan pria yang lemah yang butuh bimbingan.3. Jarang dilakukan (kadang-kadang).

Tiga perkara di atas hendaknya diperhatikan oleh kaum muslimin - baik bagi orang awam, para da'i, dan para pemimpin - dalam bermuamalah terhadap sesama. Tidak halal hukumnya sengaja melucu dengan hal-hal kedustaan agar manusia tertawa karenanya. Merupakan musibah di masyarakat ketika profesi pelawak menjadi sangat laris di masyarakat. Hendaknya mereka bertaubat kepada Allah ta'ala dan meninggalkannya, sebab rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam mengancam mereka (yang melucu dengan dusta agar orang-orang tertawa) dengan sabdanya : "Neraka Wail bagi orang yang berbicara lalu berdusta untuk melucu (membuat orang tertawa); neraka Wail baginya, neraka Wail baginya " (HR. Abu Dawud dalam kitab Al-'Adab - 88, bab Ancaman Keras terhadap Dusta; hadits no. 3990 dan dihasankan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud III : 942 no. 4175).

Dengan demikian, berlebihan dalam kelakar dan terus-terusan dengannya adalah terlarang, karena hal itu akan menjatuhkan kehormatan dan menumbuhkan dendam serta kemarahan. Adapun kalau sedikit, seperti yang telah disebutkan sebelumnya, maka hal itu mengandung kebaikan jiwa. Dan terakhir, tersisa nasihat emas dari Imam Dzahabi rahimahullah bagi kita semua, dengan perkataannya : "...hendaknya mereka membatasi diri dan hendaknya mereka mencela diri sendiri sehingga jiwanya tidak goyah.

Sementara bagi mereka yang berwajah kusam masam, hendaknya mereka tersenyum dan memperelokkan akhlaqnya, serta harus marah kepada diri sendiri karena kejelekan akhlaqnya. Setiap penyimpangan yang keluar dari rel penyimpangan adalah tercela. Sehingga jiwa itu perlu dididik dan dibenahi" (Siyaaru A'lamin-Nubalaa' X/140, 141).

Mohamad Joban

(Konsultasi Imsis)

Monday, March 03, 2008

Dzikir setelah sholat dan tata caranya

Dari sahih Bukhari , Muslim Dzikir setelah sholat dan tata caranya, dari sahih Bukhari Muslim.
Dzikir setelah sholat merupakan ibadah yang sangat disunnahkan dan salah satu kebiasaan Rasulullah s.a.w. Beliau juga melakukannya dengan suara keras.

Dalam sahih Bukhari dan Muslim disebutkan pada Bab Dzikir setelah sholat dari Ibnu Abbas beliau berkata"sesungguhnya mengeraskan suara dengan dzikir ketika orang-orang usai melaksanakan sholat wajib merupakan kebiasaan yang berlaku pada zaman Rasulullah s.a.w.. Ibnu Abbas menambahkan, aku mengetahui bahwa mereka selesai sholat karena aku mendengarnya.

Riwayat lain dari Bukhari dan Muslim dari Ibnu Abbas mengatakan:"Aku mengetahui selesainya sholat Rasulullah dengan takbir". Bagi imam ketika usai sholat disunnahkan membalikkan muka ke arah makmum. Demikian disebutkan riwayat sahih Bukhari dari Samurah bin Jundub:"Rasulullah s.aw. ketika selesai sholat beliau membalikkan mukanya ke arah kami". Hadist serupa dari rawi-rawilain juga diriwayatkan oleh imam Muslim dalam kitab sahihnya, Ahmad, Tirmidzi, Nasai,Abu dawud dll.

Adapun bacaan-bacaan dzikir yang disunnahkan dibaca setelah sholat sesuai riwayatBukhari dan Muslim adalah sbb.:1. سُبْحَانَ اللَّهِ x 332. الْحَمْدُ لِلَّهِ x 333. اللَّهُ أَكْبَرُ x 33

Dari Abu Hurairah: Suatu hari datanglah rombongan orang-orang fakir ke hadapanRasulullah s.a.w. mereka mengeluh: "Wahai Rasulullah, orang-orang kaya telah mendapatkan kemuliaan dan sorga dengan harta mereka. Mereka sholat seperti sholat kita, mereka puasa seperti puasa kita, mereka bersedekah tapi kami tidak, mereka memerdekakan budakdan kami tidak". Rasulullah s.a.w. pun menjawab: Maukah kalian ku ajari sesuatu yang dengan itu kalian bisa mengejar orang yang mendahului kalian dan meninggalkan orang-orang yang di belakang kalian dan tidak ada orang yang lebih utama dari kalian kecuali yang melakukan hal yang sama? "Tentu Mau wahai Rasulullah""Kalian membaca tasbih, takbir dan tahmid sebanyak 33 kali setiap selesai sholat". (H.R.Bukhari Muslim dll).

Riwayat lain dari Abu Hurairah menyebutkan 10 kali.4. لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ اللَّهُمَّ لَا مَانِعَ لِمَاأَعْطَيْتَ وَلَا مُعْطِيَ لِمَا مَنَعْتَ وَلَا يَنْفَعُ ذَا الْجَدِّ مِنْكَ الْجَدُّ.5. أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ x 3

lalu dilanjutkan dengan mambaca:اللَّهُمَّ أَنْتَ السَّلَامُ وَمِنْكَ السَّلَامُ تَبَارَكْتَ ذَا الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ.(hadist riwayat Thauban dan A'isah r.a. menyebutkan dua redaksi tersebut".6. لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَإِلَّا بِاللَّهِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَلَا نَعْبُدُ إِلَّا إِيَّاهُ لَهُ النِّعْمَةُ وَلَهُ الْفَضْلُ وَلَهُ الثَّنَاءُ الْحَسَنُ لَا إِلَهَإِلَّا اللَّهُ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ.Selain dzikir, setelah sholat juga disunnahkan berdoa.

Imam Bukhari bahkan membuat satubab dalam kitab sahihnya dengan judul "Berdoa setelah sholat".Semoga bermanfaat.

Di susun oleh Ustadz Muhammad Niam.
http://www.pesantrenvirtual.com/