Friday, November 19, 2010

DOA KETIKA SAKIT

Do’a Ketika Sakit


“ALLAAHUMMA RABBANNAAS
ADZHIBILBA'SYA ISYFI
ANTASY SYAAFII
LAASYIFA'A ILLAA SYIFAA'UKA
SYIFAA'AN LAA YUGHAADIRU SAQAMAA”

“Ya Allah Tuhan segenap manusia,
hilangkanlah sakit dan sembuhkanlah,
Engkaulah Yang Maha Penyembuh,
tiada kesembuhan kecuali dengan penyembuhan-Mu,
kesembuhan yang tidak meninggalkan penyakit”.
(H.R. Muttafaq ‘Alaih).

Lengkapnya dengan bermunajat kepada Allah :

ALLAAHUMMA RABBANNAAS ...... Ya Allah Tuhan Manusia
Engkau Maha Penyayang ...... sementara kami sedang mengalami kesulitan

ADZHIBILBA'SYA ISYFI. ........ sembuhkan kami dari penyakit kami dan hilangkan rasa sakit yang menyertai penyakit kami.....

Sesungguhnya di balik rasa sakit yang kami derita, terdapat suatu penyakit di dalam diri. Dan jika kami telan obat penghilang rasa sakit , maka rasa sakit mungkin hilang, tetapi penyakit kami masih mungkin ada di dalam tubuh kami. Padahal rasa sakit yang kami derita dapat Engkau jadikan sebagai penghapus dosa kami.

Karena itu...

Ya Allah, sembuhkan kami dan ampunilah dosa kami....

Penyembuhan yang datang dari Engkau Ya Allah, adalah yang menyembuhkan penyakit sekaligus rasa sakit yang menyertainya.

ANTASY SYAAFII ....LAASYIFA'A ILLAA SYIFAA'UKA...

Engkaulah Maha Penyembuh..... tiada kesembuhan sejati kecuali yang datang karena-Mu

Tolonglah kami dengan menunjukkan cara yang benar dalam pengobatan penyakit kami...

Sesungguhnya apapun perantara yang tepat untuk kami, hanya akan datang karena-Mu… yang hanya akan kami terima, jika Engkau meridhai....

SYIFAA'AN LAA YUGHAADIRU SAQAMAA.......

Ya Allah yang maha Penyayang, sembuhkan kami secara tuntas.....
kesembuhan yang tidak membawa komplikasi rasa sakit atau penyakit lain.....
yaitu kesehatan yang datang karena ridha-Mu.
Kesehatan yang semakin meningkatkan ketakwaan kami.

ASTAGHFIRULLAH YA GAFUR... ASTAGHFIRULLAH YA AFUW.... ASTAGHFIRULLAH YA SALAM…

Ampunilah kami ya Allah, Dzat Yang Maha Pengampun
Ampunilah kami ya Allah, Dzat Yang Maha Pemaaf
Ampunilah kami ya Allah, Dzat Yang Maha Memberi Keselamatan…

Amien…


Hendaknya disertai dengan memperbanyak :

1. Taubat dengan sering2 ber-istighfar
2. Shalat malam
3. Dzikrullah
4. Membaca Al-Qur’an
5. Berdo’a di berbagai kesempatan
6. Bertasbih dan bertahlil
7. Zakat, infak & shadaqah membersihkan harta kita
8. Selalu sabar, tetap bersyukur, yakin, dan ikhlas…

===================
DOA BUAT YANG SAKIT


Ini adalah salah satu do’a untuk yang sakit, dibacakan Nabi Muhammad SAW ketika menjenguk yang sakit. (H.R. Bukhari Muslim dari Aisyah dan juga dari Anas RA, dalam "Riyadlus Shalihin").
Seorang muslim yang sedang sakit hendaknya bersangka baik kepada Allah SWT, bahwa Allah akan mengasihinya dan tidak menyiksanya.

Berada antara takut dan penuh harap, takut pada siksa Allah dan berharap pada keluasan rahmat-Nya, Rasulullah SAW bersabda :

“Tidaklah menyatu (rasa takut dan harapan) dalam hati seorang hamba pada saat seperti ini (sakit) kecuali Allah mengabulkan harapannya dan memberikan kepadanya rasa aman dari apa yang ditakutkannya.” (H.R. At-Tirmidzi).

Beliau juga mengajarkan kepada sahabatnya yang sakit untuk berdo’a, seraya bersabda :

“Letakkan tanganmu pada bagian tubuhmu yang sakit dan ucapkan : “BISMILLAH” 3 kali, kemudian ucapkan “A’UDZU BI ‘IZZATILLAHI WA QUDRATIHI MIN SYARRI MA AJIDU WA UHADZIR’U” (“Aku berlindung kepada keagungan dan kekuasaan Allah dari keburukan yang aku dapati dan aku takutkan”) 7 kali”. (H.R. Muslim).

Sahabat melakukan (nasihat beliau) dan Allah SAW pun menghilangkan penyakit yang selama ini diderita.

Nabi Muhammad SAW juga biasanya meletakkan tangannya pada tubuh orang yang sakit seraya berdo’a di bawah ini.

----------------

Doa menjenguk orang Sakit

DOA APABILA BERKUNJUNG KEPADA ORANG YANG SAKIT
147- لاَ بَأْسَ طَهُوْرٌ إِنْ شَاءَ اللهُ.147. “Tidak mengapa semoga sakitmu ini membuat dosamu bersih insya Allah.” (165)

148- أَسْأَلُ اللهَ الْعَظِيْمَ رَبَّ الْعَرْشِ الْعَظِيْمِ أَنْ يَشْفِيَكَ. 148. “Aku mohon kepada Allah Yang Maha Agung Tuhan yg menguasai arasy yang agung agar menyembuhkan penyakitmu” (166)(165) HR. Al-Bukhari dgn Fathul Bari 10/ 118. (166)

“Tidaklah seorang hamba Muslim mengunjungi orang sakit yg belum datang ajalnya lalu membaca sebanyak tujuh kali: … … kecuali ia pasti disembuhkan HR. At-Tirmidzi Abu Dawud dan lihat Shahih At-Tirmidzi 2/210 dan Shahihul Jami’ 5/180.

50- KEUTAMAAN BERKUNJUNG KEPADA ORANG SAKIT

149- قَالَ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِذَا عَادَ الرَّجُلُ أَخَاهُ الْمُسْلِمَ مَشَى فِيْ خِرَافَةِ الْجَنَّةِ حَتَّى يَجْلِسَ فَإِذَا جَلَسَ غَمَرَتْهُ الرَّحْمَةُ، فَإِنْ كَانَ غُدْوَةً صَلَّى عَلَيْهِ سَبْعُوْنَ أَلْفَ مَلَكٍ حَتَّى يُمْسِيَ، وَإِنْ كَانَ مَسَاءً صَلَّى عَلَيْهِ سَبْعُوْنَ أَلْفَ مَلَكٍ حَتَّى يُصْبِحَ.149.

Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda: “Apabila seorang laki-laki berkunjung kepada saudaranya yg muslim maka seakan-akan dia berjalan di kebun Surga hingga duduk. Apabila sudah duduk maka dituruni rahmat dgn deras. Apabila berkunjung di pagi hari maka tujuh puluh ribu malaikat akan mendoakannya agar mendapat rahmat hingga sore. Apabila berkunjung di sore hari maka tujuh puluh ribu malaikat akan mendoakannya agar diberi rahmat hingga pagi.” (167)(167) HR. At-Tirmidzi Ibnu Majah Ahmad dan lihat Shahih Ibnu Majah 1/244 dan Shahih At-Tirmidzi 1/286. Ahmad Syakir menyatakan bahwa hadits tersebut adl shahih.

51- DOA ORANG SAKIT YANG TIDAK ADA LAGI HARAPAN UNTUK HIDUP TERUS150- اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِيْ وَارْحَمْنِيْ وَأَلْحِقْنِيْ بِالرَّفِيْقِ اْلأَعْلَى.150. “Ya Allah ampunilah dosaku berilah rahmat kepadaku dan pertemukan aku dengan Kekasih Yang Maha Tinggi.” (168)151. Nabi Shallallahu’alaihi wasallam memasukkan kedua tangannya ke dalam air lalu diusapkan ke wajahnya dan beliau bersabda:151- لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ إِنَّ لِلْمَوْتِ لَسَكَرَاتٍ.“Tiada Tuhan yg berhak disembah selain Allah sesungguhnya mati itu mempunyai sekarat.” (169)152- لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ، لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ، لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ.152.

“Tiada Tuhan yg berhak disembah selain Allah Allah Maha Besar. Tidak ada Tuhan yg berhak disembah selain Allah Yang Maha Esa tidak ada Tuhan yg berhak disembah selain Allah Yang Maha Esa tiada sekutu bagiNya tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah bagiNya kerajaan dan bagiNya pujian. Tidak ada Tuhan yg berhak disembah kecuali Allah. Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah.”

(170)(168) HR. Al-Bukhari 7/10 Muslim 4/1893. (169) HR. Al-Bukhari 8/144 dgn Fathul Bari dalam hadits terdapat keterangan siwak. (170) HR. At-Tirmidzi dan Ibnu Majah. Menurut penda-pat Al-Albani hadits tersebut adalah sahih.
Lihat pula Shahih At-Tirmidzi 3/152 dan Shahih Ibnu Majah 2/317.

sumber : Kitab Hisnul Muslim - Kumpulan Doa dan Dzikir Dari Al Quran dan As Sunnah, Said bin Ali Al Qathani dalam ebook DzikirWirid.chm oleh akhukum fillah La Adri At Tilmidz

=======

BismillaahirRahmaanirRahiim

Allaahumma rabbannaasi Adzhibil ba'sa isyfi antasysyaafii ....
Lasyifaa- a illaa Syifaa-uka Syifaa-an laa yughaadiru saqamaan
AllaahummaRabbannaas ...... Ya Allah Tuhan Manusia
Engkau Maha Penyayang ...... sementara kami sedang mengalami kesulitan
Adzhibilba'sya isyfi. ........sembuhkan kami dari penyakit kami dan hilangkan rasa sakit yang menyertai penyakit kami.....

Sesungguhnya di balik rasa sakit yang kami derita,terdapat suatu penyakit di dalam diri. Dan jika kami telan obat penghilang rasa sakit, maka rasa sakit mungkin hilang, tetapi penyakit kami masih mungkin ada di dalam tubuh kami.. Padahal rasa sakit yang kami derita dapat Engkau jadikan sebagai penghapus dosa kami.
Karena itu... Ya Allah sembuhkan kami dan ampunilah dosa kami.... Penyembuhan yang datang dari Engkau Ya Allah , adalah yang menyembuhkan penyakit sekaligus rasa sakit yang menyertainya

AntasySyaafii ....laasyifa'a illaa Syifaa'uka... Engkaulah Maha Penyembuh... .. tiada kesembuhan sejati kecuali yang datang karenaMU
Tolonglah kami dengan mendatangkan orang yang ahli mengobati kami....
Tolonglah kami dengan mendatangkan orang yang tahu obat penyakit kami...
Tolonglah kami dengan menunjukkan cara yang benar dalam pengobatan penyakit kami........ ....
Sesungguhnya ahli pengobatan maupun obat yang tepat untuk kami, hanya akan datang karenaMU ...yang hanya akan kami terima , jika Engkau meridhai....

Syifaa'an laa yughaadiru saqamaa....... Ya Allah yang maha Penyayang, sembuhkan kami secara tuntas.....kesembuh an yang tidak membawa komplikasi rasa sakit atau penyakit lain..... , yaitu kesehatan yang datang karena ridhaMu. Kesehatan yang semakin meningkatkan ketakwaan kami.

Astaghfirullah Ya Gafur .....Astaghfirullah Ya Afuw......Astaghfir ullah Ya Salam
Amin

Wednesday, November 10, 2010

KEUTAMAAN SEPULUH HARI PERTAMA BULAN DZULHIJJAH

Sesungguhnya termasuk sebagian karunia Allah dan anugerah-Nya adalah Dia menjadikan untuk hamba-hamba-Nya yang shalih waktu-waktu tertentu dimana hamba-hamba tersebut dapat memperbanyak amal shalihnya. Diantara waktu-waktu tertentu itu adalah sepuluh hari (pertama) bulan Dzulhijjah. Berkenaan dengan firman Allah Ta’ala:



”Demi Fajar, dan malam yang sepuluh.” (QS. Al Hajr:1-2)


Mayoritas ulama berpendapat bahwa dalam ayat ini Allah Ta’ala telah bersumpah dengan “sepuluh hari” pertama dari bulan Dzulhijjah ini. Pendapat ini pula yang dipilih oleh Ibnu Jarir ath Thabari dan Ibnu Katsir rahimakumullah dalam kitab tafsir mereka.

Hari-hari sepuluh pertama bulan Dzulhijjah ini memiliki beberapa keutamaan dan keberkahan, dan penjelasannya sebagai berikut:

PERTAMA : beramal shalih pada sepuluh hari ini memiliki keutamaan yang lebih dibanding dengan hari-hari lainnya.

Imam Al Bukhari telah meriwayatkan hadits dari Ibnu Abbas radhiallahu anhuma dari Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam, bahwa beliau bersabda:

“Tidaklah ada amal yang lebih utama daripada amal-amal yang dikerjakan pada sepuluh hari Dzulhijjah ini.” Lalu para sahabat bertanya, “Tidak juga Jihad?” Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam menjawab,”Tidak juga Jihad, kecuali seseorang yang keluar (untuk berjihad) sambil mempertaruhkan diri (jiwa) dan hartanya,lalu kembali tanpa membawa sesuatupun.” (HR. Bukhari).

Dari Said bin Jubair rahimahullah, dan dia yang meriwayatkan hadits Ibnu Abbas radhiallahu anhuma yang lalu, “Jika kamu masuk ke dalam sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah, maka bersungguh-sungguhlah sampai hampir saja ia tidak mampu menguasainya (melaksanakannya).”(HR. Ad Darimi, hadits hasan)

Ibnu Hajar berkata dalam kitabnya Fathul Baari: “Sebab yang jelas tentang keistimewaan sepuluh hari di bulan Dzulhijjah adalah karena pada hari tersebut merupakan waktu berkumpulnya ibadah-ibadah utama; yaitu shalat, shaum, shadaqah dan haji. Dan itu tidak ada di hari-hari selainnya.”

KEDUA : keutamaan yang lebih khusus pada hari kesembilan sebagai hari ‘Arafah.

Pada hari ini para jama’ah Haji melaksanakan wukuf di ‘Arafah, dan wukuf ini merupakan rukun utama dari ibadah Haji. Karenanya hari ini menjadi hari yang memiliki keitamaan yang agung dan keberkahan yang melimpah. Diantara keutamaannya, bahwa sesungguhnya Allah menggugurkan dosa-dosa (dosa kecil) selama dua tahun bagi orang yang berpuasa pada hari ‘Arafah.

Dari Abu Qatadah al Anshari radhiallahu anhu bahwa Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam pernah ditanya tentang puasa pada hari ‘Arafah, maka beliau Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda, “(Puasa pada hari itu) mengugurkan dosa-dosa setahun yang lalu dan dosa-dosa setahun berikutnya.” (HR.Muslim)

Di sunnahkan pula untuk berpuasa ‘Arafah bagi mereka yang tidak ber Haji (yang berada di luar ‘Arafah). Sebagaimana petunjuk Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam, adalah beliau berbuka (tidak berpuasa) ketika berada di ‘Arafah pada hari ‘Arafah (sedang ber haji). (lihat shaih Bukhari kitab al Hajj dan shahih Muslim kitab ash Shiyaam)

Ibnul Qoyyim rahimahullah menjelaskan, “Berbukanya Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam pada hari ‘Arafah itu mengandung beberapa hikmah, diantaranya memperkuat do’a di ‘Arafah, bahwa berbuka dai puasa yang wajib saja disaat perjalanan safar lebih utama , maka apa lagi dengan puasa yang hanya hukumnya sunnah…” Ibnul Qoyyim melanjutkan, “Guru kami, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah mengambil jalan yang berbeda dengan orang lain, yaitu bahwa hari ‘Arafah merupakan hari raya bagi mereka yang sedang berwukuf di ‘Arafah dikarenakan pertemuan mereka disana, seperti pertemuan mereka di hari raya (yaumul ‘Ied), dan pertemuan ini hanya khusus bagi mereka yang berada di ‘Arafah saja, tidak bagi yang selain mereka…” (Zaadul Ma’aad)

Dan di antara keberkahan hari ‘Arafah berikutnya, pada hari itu banyak orang yang dibebaskan oleh Allah Ta’ala, dia mendekat ke langit dunia dan membangga-banggakan para jama’ah Haji di hadapan para Malaikat. Dari ‘Aisyah radhiallahu anha, ia berkata, Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda:

“Tidak ada hari yang Allah lebih banyak membebaskan hamba-Nya dari adzab neraka daripada hari ‘Arafah. Sesungguhnya Dia (pada hari itu) mendekat, kemudian menbangga-banggakan mereka (para jama’ah Haji) dihadapan para Malaikat.” Lalu Dia bertanya,”Apa yang diinginkan oleh para jama’ah Haji itu?” (HR. Muslim)

Dan dari Jabir bin ‘Abdillah radhiallahu anhu, dia berkata, “Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda, “Pada hari ‘Arafah sesungguhnya Allah turun ke langit dunia, lalu membangga-banggakan mereka (para jama’ah Haji) di hadapan para Malaikat, maka Allah berfirman,’Perhatikan hamba-hamba-Ku, mereka datang kepada-Ku dalam keadaan kusut berdebu dan tersengat teriknya matahari, datang dari segala penjuru yang jauh. Aku bersaksi kepada kalian (para Malaikat) bahwa Aku telah mengampuni mereka.’” (HR.Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban, al Laalikai, dan Imam al Baghawi, hadits shahih)

KETIGA : keutamaan hari ke sepuluh bulan Dzulhijjah, yaitu ‘Iedul Adh-ha yang disebut juga yaumul Nahr.

Dalil yang menunjukkan keutamaan dan keagungan hari ‘Iedul Adh-ha adalah hadits yang diriwayatkan oleh ‘Abdullah bin Qurth radhiallahu anhu, dari Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bahwa beliau bersabda:

“Hari teragung di sisi Allah adalah hari ‘Iedul Adh-ha (yaumul Nahr) kemudian sehari setelahnya…” (HR. Abu Dawud)

Dan hari yang agung ini dinamakan juga sebagai hari Haji Akbar. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman:



“Dan (inilah) suatu pemakluman dari Allah dan Rasul-Nya kepada manusia pada hari haji akbar.” (QS. At Taubah:3)




MACAM-MACAM AMALAN YANG DISYARI’ATKAN

1. Shalat

Disunnahkan untuk bersegera dalam melaksanakan hal-hal yang wajib dan memperbanyak amalan-amalan sunnah, karena itu adalah sebaik-baik cara untuk mendekatkan diri kepada Allah. Telah diriwayatkan dari Tsauban radhiallahu anhu, ia berkata, ‘Saya mendengar Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda:

“Hendaklah kamu memperbanyak sujud untuk Allah. Karenaa kamu tidak bersujud kepada Allah sebanyak satu kali sujud kecuali Allah akan mengangkatmu satu derajat dan Allah akan menghapuskan darimu satu kesalahan.”(HR. Muslim)

Ketetapan ini berlaku umum, untuk segala waktu.




2. Melaksanakan Haji dan ‘Umrah

Amal ini adalah amal yang paling utama, berdasarkan berbagai hadits shahih yang menunjukkan keutamaannya, salah satunya adalah sabda Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wassalam:

“Dari umrah ke umrah adalah tebusan (dosa-dosa yg dikerjakan) di antara keduanya, dan haji yang mabrur balasannya tiada lain adalah surga.” (HR. Muslim)




3. Berpuasa Pada Hari-Hari Tersebut, Terutama Pada Hari ‘Arafah

Tidak disangsikan lagi bahwa puasa adalah jenis amalan yg paling utama dan yg dipilih Allah untuk diri-Nya. Disebutkan dalam hadits qudsi, artinya:

“Puasa itu adalah untuk-Ku, dan Akulah yang akan membalasnya. Sungguh dia telah meninggalkan syahwat, makanan dan minumannya semata-mata karena Aku.”

Diriwayatkan dai Abu Said Al Khudri radhiallahu anhu, Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda:

“Tidaklah seorang hamba berpuasa sehari di jalan Allah melainkan Allah pasti menjauhkan dirinya dengan puasanya itu dari api neraka selama tujuh puluh tahun.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Diriwayatkan dari Abu Qatadah radhiallahu anhu bahwa Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda:

“Berpuasa pada hari ‘Arafah melebur dosa-dosa setahun sebelum dan sesudahnya.” (HR. Muslim)

Dari Hinaidah bin Khalid radhiallahu anhu, dari istrinya dari sebagian istri-istri Rasululllah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam, dia berkata:

“Adalah Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam berpuasa pada tanggal sembilan Dzulhijjah, sepuluh Muharram dan tiga hari setiap bulan.”(HR. Ahmad, Abu Daud dan Nasa’i)

Imam Nawawi berkata tentang puasa sepuluh hari bulan Dzulhijjah: “Sangat di sunnahkan.”




4. Takbir, Tahlil dan Tahmid Serta Dzikir

Sebagaimana firman Allah Ta’ala:



“…dan agar mereka menyebutkan nama Allah pada hari-hari yang telah ditentukan…” (QS. Al Hajj:28)

Para ahli tafsir menafsiri bahwa yang dimaksud dengan “hari-hari yang telah ditentukan” adalah sepuluh hari dari bulan Dzulhijjah. Oleh karena itu, para ulama menganjurkan untuk memperbanyak dzikir pada hari-hari tersebut, berdasarkan hadits dari Ibnu Umar radhiallahu anhuma yang artinya,“maka perbanyaklah pada hari-hari itu tahlil, takbir, dan tahmid.”(HR. Ahmad)

Imam Bukhari rahimahullah berkata:” Ibnu Umar dan Abu Hurairah radhiallahu anhum keluar ke pasar pada hari-hari sepuluh (sepuluh hari pertama) dalam bulan Dzulhijjah seraya mengumandangkan takbir lalu orang-orang pun mengikuti takbir keduanya.”



5. Taubat Serta Meninggalkan Segala Maksiat dan Dosa, Sehingga Akan Mendapatkan Ampunan dan Rahmat Allah Ta’ala.

Maksiat adalah penyebab terjauhkan dan terusirnya hamba Allah Ta’ala dan ketaatan adalah penyebab dekat dan cinta kasih Allah Ta’ala kepadanya. disebutkan dalam hadits dari Abu Hurairah radhiallahu anhu bahwa Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda:

“Sesungguhnya Allah itu cemburu, dan kecemburuan Allah itu manakal seorang hamba melakukan apa yang diharamkan Allah terhadapnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)




6. Banyak Beramal Shalih

Memperbanyak amalan-amalan shalih berupa ibadah sunnah seperti: shalat, sedekah, jihad, membaca Al Qur’an, amar ma’ruf nahi munkar dan lain sebagainya. Sebab amalan-amalan tersebut pada hari itu dilipatgandakan pahalanya. Amalan yang tidak utama bila dilakukan pada hari itu akan menjadi lebih utama dan dicintai Allah daripada amal ibadah pada hari lainnya meskipun merupakan amal ibadah utama. Sekalipun jihad yang merupakan amal ibadah yang utama, kecuali jihadnya orang yang tidak kembali dengan harta dan jiwanya.




7. Berkurban Pada Hari Raya Qurban dan Hari-Hari Tasyriq

Hal ini adalah sunnah Nabi Ibrahim ‘Alaihis Salam yakni ketika Allah menebus putranya dengan sembelihan yang agung dan juga sunnah Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wassalam. Tentang keutamaan hari raya kurban , telah di jelaskan diatas dalam pasal ketiga (keutamaan yaumul Nahr) keutamaan sepuluh hari bulan Dzulhijjah.




8. Melaksanakan Shalat Idul Adh-ha dan Mendengarkan Khutbahnya.

Setiap muslim hendaknya memahami hikmah disyari’atkannya hari raya ini. Hari ini adalah hari bersyukur dan beramal kebajikan. Maka janganlah dijadikan sebagai hari keangkuhan dan kesombongan; janganlah dijadikan kesempatan bermaksiat dan bergelimang dalam kemungkaran seperti: nyanyi-nyanyian, main judi, mabuk-mabukkan dan sejenisnya. Dimana hal tersebut akan menyebabkan terhapusnya amal kebajikan yang dilakukannya selama sepuluh hari. Tentang keutamaan hari ini , telah dijelaskan sebagiannya diatas.

Selain hal-hal yang telah disebutkan diatas, hendaknya setiap muslim dan muslimah mengisi hari-hari ini dengan melakukan ketaatan, dzikir dan syukur kepada Allah, melaksanakan segala kewajiban dan menjauhi segala larangan; memanfaatkan kesempatan ini dan berusaha memperoleh kemurahan Allah agar mendapat ridha-Nya.

Sumber : abuzubair wordpress

Tuesday, November 09, 2010

Sikap Muslim Dalam Menghadapi Musibah

Alhamdulillah, shalawat dan salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada Nabi Muhammad, keluarga dan sahabatnya, amiin.

Saudaraku! Ucapkanlah:

إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ اللَّهُمَّ أْجُرْنِى فِى مُصِيبَتِى وَأَخْلِفْ لِى خَيْرًا مِنْهَا

“Sesungguhnya kami adalah milik Allah, dan kamipun kepada-Nya akan kembali. Ya Allah karuniakanlah kami pahala atas ketabahan kami menerima musibah ini dan gantikanlah kami dengan yang lebih baik dibanding apa yang telah sirna karena musibah tersebut.”

Kembali negara kita dirundung musibah. Saudara-saudara kita umat Islam di negeri kita tercinta kembali mendapat cobaan. Gempa kembali menghancurkan bangunan, perumahan dan merenggut jiwa sebagian saudara kita dan melukai tubuh sebagian lainnya.

Jangan berkecil hati! Tetaplah berbaik sangka kepada Allah Ta’ala, dan tabahkanlah hatimu. Percayalah, bila anda tabah menerima musibah ini, tanpa keluh kesah, dan tetap berbaik sangka kepada suratan takdir ilahi ini, niscaya Allah memberikan jalan keluar terbaik bagi kita dan negeri kita. Bukan hanya jalan keluar yang terbaik, bahkan musibah ini berubah menjadi nikmat.

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوفْ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الأَمَوَالِ وَالأنفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ {155} الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُم مُّصِيبَةٌ قَالُواْ إِنَّا لِلّهِ وَإِنَّـا إِلَيْهِ رَاجِعونَ {156} أُولَـئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِّن رَّبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولَـئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ . البقرة 155-157

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.” Mereka itulah yang mendapatkan pujian dan rahmat dari Rabbnya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (Qs. Al Baqarah: 155-157)

Saudaraku! Ummu Salamah radhiallahu ‘anha mengisahkan: Aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Barang siapa ditimpa musibah, selanjutnya ia berkata:

إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ اللَّهُمَّ أْجُرْنِى فِى مُصِيبَتِى وَأَخْلِفْ لِى خَيْرًا مِنْهَا

“Niscaya Allah melimpahkan pahala kepadanya dalam musibah yang menimpanya itu dan menggantikannya dengan yang lebih baik dari apa yang telah sirna darinya.” Dan tatkala suamiku Abu Salamah meninggal dunia, akupun mengucapkan ucapan itu, sebagaimana yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan ternyata Allah menggantikanku dengan yang lebih baik dari Abu Salamah, yaitu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (Riwayat Al Bukhari)

Benar, setelah masa ‘iddah Ummu Salamah berlalu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus utusan untuk melamar Ummu Salamah untuk dijadikan sebagai istri beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Allahu Akbar! Benar-benar pengganti yang lebih baik, dan bahkan tiada yang lebih baik darinya. Betapa tidak, mendapat kehormatan menjadi pendamping Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam semasa hidupnya di dunia, menjadi belahan jiwanya di dunia. Dan sudah barang tentu menjadi pendamping beliau di surga, di sisi Allah Ta’ala. Benar-benar beliau Ummu Salamah radhiallahu ‘anha mendapat karunia kebahagian di dunia dan akhirat.

Apa yang dialami oleh Ummu Salamah ini hanyalah contoh nyata dari apa yang dijanjikan Allah Ta’ala kepada orang-orang yang bersabar.

Dan bila saudara bertanya: Bila demikian adanya, maka apa yang mungkin kita peroleh sebagai ganti dari apa yang menimpa kita seklarang ini; rumah rusak, harta benda hancur berantakan, kerabat luka-luka dan mungkin meninggal dunia?

Jangan kawatir saudaraku! Ganti yang lebih besar telah Allah siapkan untuk anda, bila anda benar-benar bersabar menjalani musibah ini. Anda ingin tahu apa balasan yang telah menanti anda? Simaklah jawabannya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

أُمَّتِى هَذِهِ أُمَّةٌ مَرْحُومَةٌ لَيْسَ عَلَيْهَا عَذَابٌ فِى الآخِرَةِ عَذَابُهَا فِى الدُّنْيَا الْفِتَنُ وَالزَّلاَزِلُ وَالْقَتْلُ. رواه أحمد وأبو داود وصححه الحاكم ووافقه الألباني

“Ummatku ini adalah ummat yang dirahmati, mereka semua tidak akan disiksa secara menyeluruh di akhirat, siksa mereka hanyalah terjadi di dunia, berupa berbagai kekacauan, gempa bumi dan pertumpahan darah yang menimpa mereka.” (Riwayat Ahmad, Abu Dawud, dan dinyatakan sebagaihadits shahih oleh Al Hakim dan disetujui oleh Al Albani)

Saudaraku! Berbagai musibah yang silih berganti menimpa negeri kita, adalah sebagai tebusan atas berbagai kemaksiatan yang akhir-akhir ini merajalela di negeri kita. Pornografi, pornoaksi, riba, narkoba, tidak membayar zakat, dan memakan harta haram.

Mungkin anda akan berkata: Mengapa anda kok begitu pesimis dan berburuk sangka terhadap masyarakat dan negara anda sendiri?

Saudaraku! Ketahuilah bahwa saya tidak sedang berburuk sangka dan pesimis terhadap negeri dan masyarakat saya sendiri. Coba saudaraku sekalian membandingkan keadaan negeri kita sekitar 20 tahun silam dengan negeri kita sekarang. Jauh berbeda bukan?

Walaupun hati ini pilu, seakan hancur tersayat-sayat mengikuti berita musibah yang demikian bertubi-tubi dan silih berganti. Akan saya masih dapat menyaksikan sinar harapan yang tetap bercahaya bersama terbitnya mentari di setiap pagi hari.

Betapa tidak, walau kemaksiatan dan kemungkaran telah begitu meraja lela, akan tetapi Allah Ta’ala masih sudi menerima tebusan dari kita yang terwujud dalam bencana alam.

Andai Allah Ta’ala talah menutup pintu harapan dari negeri kita, niscaya Allah akan menunda semua musibah ini hingga di akhirat, dan hanya siksa nerakalah yang menanti kita. Mungkinkah anda mengharapkan kemungkinan ini yang menimpa negeri dan masyarakat anda?

Inilah sebagian dari hikmah yang dapat kita petik dari sikap Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang senantiasa memuji Allah, walaupun ditimpa kesusahan.

Sahabat ‘Aisyah radhiallahu ‘anha mengisahkan: Dahulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bila mendapatkan hal yang beliau sukai, beliau mengucapkan:

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِى بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ

“Segala puji hanya milik Allah Yang atas karunia-Nya segala kebaikan dapat terwujud.”

Dan bila mendapatkan hal yang tidak beliau sukai, beliau berkata:

الْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى كُلِّ حَالٍ

“Segala puji hanya milik Allah atas segala keadaan yang menimpa.” (Riwayat Ibnu Majah, Al Hakim dan dinyatakan sebagai hadits shahih oleh Al Albani)

Semoga bencana yang bertubi-tubi dan musibah yang silih berganti ini telah mengobarkan semangat dalam jiwa saudara sekalian untuk berjuang merintis perubahan. Hanya dengan perjuangan saudara-saudara sekalianlah negeri kita akan kembali makmur dan diselimuti oleh kemakmuran, kerahmatan dan kedamaian.

ذَلِكَ بِأَنَّ اللّهَ لَمْ يَكُ مُغَيِّرًا نِّعْمَةً أَنْعَمَهَا عَلَى قَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُواْ مَا بِأَنفُسِهِمْ وَأَنَّ اللّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ. الأنفال 53

“Yang demikian (siksaan) itu adalah karena sesungguhnya Allah sekali-kali tidak akan merubah suatu nikmat yang telah dianugerahkan-Nya kepada sesuatu kaum, pada diri mereka sendiri, dan sesungguhnya Allah Maha Pendengar lagi Maha Mengetahui.” (Qs. Al Anfaal: 53)

Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ النَّاسَ إِذَا رَأَوُا الْمُنْكَرَ لاَ يُغَيِّرُونَهُ أَوْشَكَ أَنْ يَعُمَّهُمُ اللَّهُ بِعِقَابِهِ. رواه أحمد وابن ماجة وصححه الألباني

“Sesungguhnya masyarakat bila mengetahui suatu kemungkaran lalu mereka tidak merubahnya, maka tidak lama lagi Allah akan menimpakan hukuman kepada mereka semua.” (Riwayat Ahmad, Ibnu Majah dan dinyatakan sebagai hadits shahih oleh Al Albani)

Saudaraku! Kunci perubahan negeri anda ada di tangan anda, bagaimana dan kapankah anda menggunakan kunci itu, sehingga negeri anda menjadi negeri yang penuh dengan kerahmatan dan kedamaiaan?

Kapan lagi bila bukan sejak sekarang? Tegakkanlah nahi mungkar dan sebarkanlah yang ma’ruf, niscaya bencana dan musibah yang selama ini setiap menemani negeri kita akan menyingkir.

Penulis: Ustadz Dr. Muhammad Arifin Badri, MA hafidzohullah

Untuk melengkapi khasanah keilmuwan terhadap sikap kita dalam menghadapi musibah simak kajian yang sangat bermanfaat berikut:

Tema : Sikap Muslim Dalam Menghadapi Musibah

Pemateri : Ustadz Fariq Bin Qasim Anuz hafidzohullah

Monday, November 08, 2010

Jangan Tidur Sebelum 4 Hal:

Suatu hari Rasulullah saw masuk ke rumah Fatimah r.ha. Ketika itu Fatimah sudah berbaring untuk tidur. Rasulullah saw lalu berkata, “Wahai Fatimah, janganlah engkau tidur sebelum engkau lakukan empat hal: mengkhatamkan al-Qur’an, Memperoleh syafaat dari para Nabi, Membuat hati kaum mukminin dan mukminat senang dan ridho kepadamu, serta melakukan haji dan umrah.”

Fatimah bertanya, “Bagaimana mungkin aku melakukan itu semua sebelum tidur?”

Rasulullah saw menjawab, “Sebelum tidur, bacalah olehmu Qul huwallahu ahad (surat Al Ikhlas) tiga kali. Itu sama nilainya dengan mengkhatamkan al-Qur’an. Agar engkau memperoleh syafaat dariku dan para Nabi sebelumku, bacalah shalawat: Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa ‘ala ali Muhammad, kama shalaita ‘ala Ibrahim wa ‘ala ali Ibrahim. Allahumma barik ‘ala Muhammad wa ‘ala ali Muhammad, kama barakta ‘ala Ibrahim wa ‘ala ali Ibrahim. Fil ‘alamina innaka hamidun majid. Kemudian supaya kamu memperoleh ridho dari kaum mukminin dan mukminat, disenangi mereka dan supaya kamu juga ridha kepada mereka, bacalah istigfar bagi dirimu, orang tuamu, dan seluruh kaum mukminin dan mukminat. Siapa yang membaca subhanallah wal hamdulillah wa la ila ha illallahu wallahu akbar, nilainya sama dengan orang yang melakukan haji dan umrah.”

Menurut Rasulullah saw, barangsiapa yang membaca wirid itu lalu tertidur pulas, kemudian dia bangun kembali, Allah menghitung waktu tidurnya sebagai waktu berdzikir sehingga orang itu dianggap sebagai orang yang berdzikir terus menerus. Tidurnya bukanlah tidur ghaflah (tidur kelalaian) tapi tidur dalam keadaan berdzikir. Sebetulnya bila sebelum tidur kita membaca dzikir, tubuh kita akan tertidur tapi ruh kita akan terus berdzikir. Sekiranya orang itu terbangun di tengah tidurnya, niscaya dari mulut orang itu akan keluar dzikir asma Allah.

Email IMSIS

Friday, November 05, 2010

Wanita Sholihah Pengukir Sejarah - Fatimah az Zahra

Fatimah az Zahra

Nama lengkapnya adalah Fatimah binti Muhammad bin Abdullah bin Abu Muthalib. Fatimah, putri Rasulullah Saw merupakan putri termuda diantara putri-putri Nabi lainnya. Ia menikah dengan Ali bin Abi Thalib pada usianya yang ke 18 tahun. Ia merupakan ibu dari Hasan, Husain, Ummu Kultsum dan Zaenab.

Dari Aisyah r.a, ia berkata, "Aku bertemu dengan Fatimah. Ia berjalan sebagaimana layaknya nabi berjalan. Dan di saat ia bertemu dengan Nabi Saw, berkatalah Nabi, 'Selamat datang wahai putriku.' Lalu Nabi memintanya duduk di sebelah kanan atau kirinya. Kemudian di saat Nabi mengatakan sesuatu kepadanya, menangislah ia. Maka aku langsung bertanya kepadanya, 'Mengapa kamu menangis?' . Namun, di saat Nabi mengatakan sesuatu lagi kepada Fatimah, maka ia pun tertawa riang. Sekali lagi, aku pun berkata kepada Fatimah, 'Aku tidak pernah menjumpai kebahagiaan yang berdekatan dengan kesedihan sebagaimana hari ini.' Maka aku bertanya kepadanya tentang apa yang telah dikatakan Nabi kepadanya. Berkatalah Fatimah, 'Kamu jangan menyebarluaskan rahasia ini hingga Nabi wafat nanti..' Lalu aku menanyakan rahasia itu, maka berkatalah Fatimah, 'Nabi telah memberi isyarat kepadaku, dan berkata bahwa Jibril biasanya meminta kepadaku (Nabi) untuk membaca Al Quran secara langsung dihadapannya sekali dalam setahun. Namun pada tahun ini, Jibril memintaku (Nabi) sebanyak dua kali. Maka menangislah aku mendengar perkataan itu. Sebab, tandanya Nabi akan meninggalkan kita semua. Namun aku merasa sangat bahagia, di saat Nabi berkata kepadaku, 'Relakanlah dirimu menjadi ratu wanita-wanita penghuni surga, atau menjadi ratu wanita-wanita muslim.'" (Diriwayatkan oleh Al Bukhari)

Dari Aisyah r.a berkata, "Aku tidak pernah melihat seorangpun yang mampu menyerupai Fatimah dalam hal keserupaannya dengan Nabi. Ketenangan dan keistiqamahannya dalam duduk maupun berdiri sebagaimana ketenangan dan keistiqamahan Nabi. Ia di saat masuk ke rumah Nabi, Nabi langsung berdiri menyambut kedatangannya. Begitu pula disaat Nabi mengunjungi rumah Fatimah, ia pun beranjak dari tempat duduknya menyambut Nabi, dan memberikan tempat duduknya kapada Nabi. (Diriwayatkan oleh Turmudzi)

Berkatalah Nabi Saw bahwa wanita paling mulia di surga nanti adalah Khadijah binti Khuwailid, Fatimah binti Muhammad, istri Firaun yang bernama Asiyah binti Muzahim, dan Maryam binti Imran (HR Ahmad)

Dari Anas r.a berkata, di saat sakit Nabi mulai parah dan berselimut, berkatalah Fatimah, "Sakitkah wahai ayah?" Maka berkatalah Nabi kepada Fatimah, "Ayahmu tidak akan pernah mengalami kesusahan setelah hari ini." Dan ketika Nabi wafat, berkatalah Fatimah, "Wahai ayah, Tuhan telah mengabulkan permohonanmu. Wahai ayah, surga Firdaus adalah tempat kembalimu. Wahai ayah, Jibrillah yang akan memperhatikanmu."

Fatimah az Zahra, meninggal dalam usia 29 tahun, 6 bulan setelah meninggalnya Rasulullah Saw.


Sumber:
- Majalah Ummi
- Dakwatuna

Wanita Sholihah Pengukir Sejarah - Ummu Salamah

Ummu Salamah

Nama lengkapnya adalah Hindun binti Hudzaifah bin Mughirah Al-Qursyiyah Al-Makhzumiyah, dan biasa dipanggil dengan Ummu Salamah. Ummu Salamah adalah anak dari Abu Umayyah, putera Quraisy yang terkenal dengan sifat pemurahnya, yang apabila bepergian tidak memperkenankan seorangpun dari teman-temannya untuk membawa perbekalan. Abu Ummayah sendirilah yang membawa perbekalan yang cukup untuk rombongannya itu. Oleh karena itu Ummu Salamah terkenal sebagai putri si perbekalan rombongan. Suami pertamanya adalah Abu Salamah. Mereka memiliki masa lampau yang indah dalam sejarah Islam, keduanya termasuk orang yang mula-mula masuk Islam, yang kemudian bersama-sama memulai perjuangan dalam hidup mereka. Keduanya kemudian hijrah ke Habasyah, dan disanalah anak mereka lahir, yaitu Salamah.

Setelah dari Habasyah, mereka hijrah ke Madinah. Ummu Salamah adalah wanita yang sabar dan tabah. Ketika Ummu Salamah, Abu Salamah dan putra mereka Salamah hendak berhijrah, mereka dihalang-halangi oleh Bani Mughiroh. Hingga akhirnya Ummu Salamah terpisah dari suami dan anaknya. Setelah beberapa saat dia dipertemukan dengan anaknya, akhirnya Ummu Salamah bisa menyusul suaminya ke Madinah. Abu Salamah meninggal dunia di Madinah, didampingi Rasulullah Saw. Sejarah mencatat bahwa Ummu Salamah adalah wanita pertama yang hijrah ke Madinah.

Setelah masa iddah nya selesai, Rasulullah Saw melamarnya dan menikahinya. Pada tahun 6 H, Ummu Salamah menemani Rasulullah Saw dalam perjalanan ke Makkah, untuk menunaikan ibadah haji. Pada tahun kafir itulah kaum Quraisy menghalang-halangi Nabi Saw serta para pengikutnya untuk memasuki tanah haram Makkah. Kemudian diadakan perjanjian Hudaibiyah, dimana Ummu Salamah mempunyai peranan yang mulia, yang dinilai para ahli sejarah sebagai sebuah kemenangan nyata. Ummu Salamah juga menemani Rasulullah Saw pada perang Khaibar, juga pada waktu beliau berangkat untuk mengislamkan kota Makkah. Dia juga ikut Rasulullah Saw ketika mengepung kota Tha'if, dan pada perang Hawazin dan Tsaqif, sampai akhirnya Ummu Salamah kembali ke Madinah pada tahun 8 H.

Ummu Salamah juga terkenal sebagai wanita penyayang. Dia lah yang menyampaikan berita kepada Abu Lubabah bahwa Allah menerima taubatnya. Ummu Salamah juga pernah menjadi penyebab kesediaan Nabi memaafkan anak pamannya.

Ummu Salamah dianggap sebagai ulama pada generasi sahabat. Ulama besar sekaliber Ibnu Abbas tidak jarang mengutus orang untuk menanyakan masalah hukum kepadanya. Setelah Rasulullah Saw meninggal, Ummu Salamah senantiasa banyak melakukan puasa dan beribadah, mengamalkan ilmunya serta meriwayatkan hadits yang berasal dari Rasulullah Saw.

Ummu Salamah meninggal dalam usia lanjut, setelah hidup dengan aktifitas yang dipenuhi oleh pengorbanan, jihad dan kesabaran di jalan Allah Swt dan Rasulnya. Beliau dishalatkan oleh Abu Hurairah r.a dan dikuburkan di Baqi disamping kuburan ummul mukminin lainnya.


Sumber:
- Istri-Istri Nabi (Dr. A'isyah Bintusy-Syathi)
- Dakwatuna

Sepasang Suami-Istri Teladan

oleh :Mochamad Bugi
dakwatuna.com - Masyarakat Islam bagaikan bangunan kokoh. Keluarga bukan saja sebagai sendi terpenting dalam bangunan tersebut, tetapi uga menjadi unsur pokok bagi eksistensi umat Islam secara keseluruhan. Karena itu, agama Islam memberikan perhatian khusus masalah pembentukan keluarga.
Perhatian istimewa terhadap pembentukan keluarga tersebut tercermin dalam beberapa hal, yaitu:

Pertama, Al-Qur’an menjabarkan cukup terinci tentang pembentukan keluarga ini. Ayat-ayat tentang pembinaan keluarga termasuk paling banyak jumlahnya dibandingkan dengan ayat-ayat yang menjelaskan masalah lain. Al-Qur’an menjelaskan tentang keutamaan menikah, perintah menikah, pergaulan suami-istri, menyusui anak, dan sebagainya.

Kedua, sejak dini As-Sunah telah mengajarkan takwinul usrah yang shalihah dengan cara memilih calon mempelai yang shalihah. Rasulullah saw. bersabda, “Pilihlah tempat untuk menanam benihmu karena sesungguhnya tabiat seseorang bisa menurun ke anak.”

Rasulullah Suami Teladan

Rasulullah saw. sejak masa remaja sudah terkenal sebagai orang yang bersih dan berbudi mulia. Ketika beliau menginjak usia 25 tahun menikahi Khadijah binti Khuwailid. Sejak saat itulah beliau mengarungi kehidupan rumah tangga bahagia penuh ketentraman dan ketenangan.

Rasulullah saw. amat menghormati wanita, lebih-lebih istrinya. Beliau bersabda, “Tidaklah orang yang memuliakan wanita kecuali orang yang mulia; dan tidaklah yang menghinakannya kecuali orang yang hina.”

Menghormati istri adalah kewajiban suami. Al-Qur’an berkali-kali memerintahkan agar menghormati dan berbuat baik terhadap istri. Kita tidak mendapatkan kata-kata dalam Al-Qur’an yang mengharuskan untuk berbuat baik dalam menggauli istri, baik dalam keadaan marah atau tidak. Kecuali, ditekankan kewajiban berbuat ma’ruf dan ihsan terhadap istri dan dilarang menyakiti atau menyiksanya.

Pernah datang seorang wanita mengadu kepada Rasulullah saw. bahwa suaminya telah memukulnya. Maka beliau berdiri seraya menolak perlakukan tersebut dengan bersabda, “Salah seorang dari kamu memukuli istrinya seperti memukul seorang budang, kemudian setelah itu memeluknya kembali, apakah dia tidak merasa malu?”

Ketika Rasuluallah saw. mengizinkah memukul istri dengan pukulan yang tidak membahayakan, dan setelah diberi nasihat serta ancaman secukupnya, beliau didatangi 70 wanita dan mengadu bahwa mereka dipukuli suami. Rasulullah saw. berpidato seraya berkata, “Demi Allah, telah banyak wanita berdatangan kepada keluarga Muhammad untuk mengadukan suaminya yang sering memukulnya. Demi Allah, mereka yang suka memukul istri tidaklah aku dapatkan sebagai orang-orang yang terbaik di antara kamu sekalian.”

Rasulullah saw. merupakan contoh indah dalam kehidupan rumah tangganya. Beliau sering bercanda dan bergurau dengan istri-istrinya. Dalam satu riwayat beliau balapan lari dengan Aisyah, terkadang beliau dikalahkan dan pada hari lain beliau menang. Beliau senantiasa menegaskan pentingnya sikap lemah lembut dan penuh kasih sayang kepada istri. Kita jumpai banyak hadits yang seirama dengan hadits berikut, “Orang mukmin yang paling sempurna adalah yang paling baik akhlaknya dan paling lembut pada keluarganya.” Riwayat lain, “Sebaik-baik di antara kamu adalah yang paling baik pada keluarganya dan aku adalah yang paling baik terhadap keluargaku.”

Di antara yang menunjukkan keteladanan beliau dalam menghormati istri adalah menampakkan sikap lembut, penuh kasih sayang, tidak mengkritik hal-hal yang tidak berguna untuk dikritik, memaafkan kekeliruannya, dan memperbaiki kesalahannya dengan lembut dan sabar. Bila ada waktu senggang beliau ikut membantu istrinya dalam mengerjakan kwajiban rumah tanggannya.

Aisyah pernah ditanya tentang apa yang pernah dilakukan Rasulullah saw. di rumahnya, beliau menjawab, “Rasulullah mengerjakan tugas-tugas rumah tangga, dan bila datang waktu shalat, dia pergi shalat.”

Rasulullah saw. memiliki kelapangan dada dan sikap toleran terhadap istrinya. Bila istrinya salah atau marah, beliau memahami betul jiwa seorang wanita yang sering emosional dan berontak. Beliau memahami betul bahwa rumah tangga adalah tempat yang paling layak dijadikan contoh bagi seorang muslim adalah rumah tangga yang penuh cinta dan kebahagiaan. Kehidupan rumah tangga harus dipenuhi gelak tawa, kelapangan hati, dan kebahagiaan agar tidak membosankan.

Bila terpaksa harus bertindak tegas, Rasulullah saw. melakukannanya dengan disertai kelembutan dan kerelaan. Sikap keras dan tegas untuk mengobati keburukan dalam diri wanita, sedangkan kelembutan dan kasih sayang untuk mengobati kelemahan dan kelembutan dalam dirinya.

Khadijah Istri Teladan

Khadijah binti Khuwailid adalah seorang wanita bangsawan Quraisy yang kaya. Dia diberi gelar wanita suci di masa jahiliyah, juga di masa Islam. Banyak pembesar Quraisy berupaya meminangnya, tetapi ia selalu menolak. Ia pedagang yang sering menyuruh orang untuk menjualkan barang dagangannya keluar kota Mekkah.

Ketika mendengar tentang kejujuran Muhammad saw., ia menyuruh pembantunya mendatangi dan meminta Muhammad menjualkan barang dagangannya ke Syam bersama budak lelaki bersama Maisyarah. Nabi Muhammad menerima permohonan itu dan mendapatkan keuntungan besar dalam perjalanan pertama ini.

Setelah mendengar kejujuran dan kebaikan Muhammad, Khadijah tertarik dan meminta kawannya, Nafisah binti Maniyyah, untuk meminangkan Muhammad. Beliau menerima pinangan itu dan terjadilah pernikahan ketika beliau berusia 25 tahun sedangkan Khadijah berusia 40 tahun.

Khadijah sebagai Ummul Mukminin telah menyiapkan rumah tangga yang nyaman bagi Nabi Muhammad saw. Sebelum beliau diangkat menjadi Nabi dan membantunya ketika beliau sering berkhalwat di Gua Hira. Khadijah adalah wanita pertama yang beriman ketika Nabi mengajaknya masuk Islam. Khadijah adalah sebaik-baiknya wanita yang mendukung Rasulullah saw. dalam melaksanakan dakwahnya, baik dengan jiwa, harta, maupun keluarganya. Perikehidupannnya harum semerbak wangi, penuh kebajikan, dan jiwanya sarat dengan kehalusan.

Rasulullah saw. pernha menyatakan dukungan ini dengan sabdanya, “Khadijah beriman kepadaku ketika orang-orang ingkar. Dia membenarkanku ketika orang-orang mendustakanku. Dan dia menolongku dengan hartanya ketika orang-orang tidak memberiku apa-apa. Allah mengaruniai aku anak darinya dan mengharamkan bagku anak dari selainnya.” (Imam Ahmad dalam kitab Musnad-nya)

Khadijah amat setia dan taat kepada suaminya, bergaul dengannya, siap mengorbankan kesenangannya demi kesenangan suaminya, dan membesarkan hati suaminya di kala merasa ketakutan setelah mendapatkan tugas kenabian. Ia gunakan jiwa dan semua hartanya untuk mendukung Rasul dan kaum muslimin. Pantaslah kalau Khadijah dijadikan sebagai istri teladan pendukung risalah dakwah Islam.

Khadijah mendampingi Rasulullah saw. selama seperempat abad. Berbuat baik di saat Rasulullah gelisah. Menolong Rasulullah di waktu-waktu sulit. Membantu Rasulullah dalam menyampaikan risalah dan ikut merasakan penderitaan pahit akibat tekanan dan boikot orang-orang musyrik Quraisy. Khadijah menolong tugas suaminya sebagai Nabi dengan jiwa dan hartanya.

Rasulullah saw. senantiasa menyebut-nyebut kebaikan Khadijah selam hidupnya sehingga membuat Aisyah cemburu. Dengan ketaatan dan pengorbanan yang luar biasa itu, pantaslah jika Allah swt. menyampaikan salam lewat malaikat Jibril kepada Khadijah. Jibril datang kepada Nabi, lalu berkata, “Wahai Rasulullah, ini Khadiah telah datang membawa sebuah wadah berisi kuah, makanan dan minuman, apabila datang kepadamu sampaikan salam dari Tuhannya dan beritahukan kepadanya tentang sebuah rumah di surga, terbuat dari mutiara yang tiada suara gaduh di dalamnya dan tiada kepenatan.” (Bukhari)

Itulah Khadijah, sosok seorang istri yang layak dijadikan teladan bagi wanita-wanita yang mendukung keshalehan dan tugas dakwah suaminya.

Ciri-ciri Rumah Tangga Muslim

Sendi bangunannya adalah ketakwaan kepada Allah swt. Takwa adalah sendi yang kuat bangunan keluarga. Memilih suami/istri harus sesuai dengan arahan Rasulullah saw., yaitu utamakan sisi agamanya.
Kebahagiaan rumah tangga bukanlah berdasarkan kesenangan materi saja, sebab kebahagiaan sejati muncul dari dalam jiwa yang takwa kepada Allah swt. Bila ketakwaan telah menjadi sendi utama, maka kekurangan materi menjadi ringan. Ketakwaan yang ada di dalam dada pasangan suami-istri memunculkan tsiqah (rasa saling percaya) dan akan melahirkan ketentraman serta ketentraman dalam hubungan suami-istri. Hubungan antara anggota keluarga akan terasa indah karena semua sadar akan tanggung jawab dan hak-haknya.
Rumah yang dibangun untuk keluarga seharusnya sederhana dan mengutamakan skala prioritas dengan mengurangi hal-hal yang tertier dan berlebihan.
Dalam makanan dan berpakaian, seorang muslim amat sederhana, menekankan aspek kebersihan, dan menghindari dari yang haram, sikap berlebihan (israf), dan bermewah-mewahan. Semua anggota keluarga dipacu untuk memperbanyak berinfak dan bersedekah. Hindari syubhat, jauhi yang haram, itu moto mereka.
Anggaran rumah tangga dipenuhi dari rezeki yang halal dan baik. Sebab, daging yang terbentuk dari daging haram akan dibakar oleh api neraka. Secara teknis perlu ada kesepakatan antara suami-istri dalam menentukan besaran dan alokasi anggaran rumah tangga. Yang jelas, pengeluaran tidak boleh melebihi penghasilan. Cukupi diri dengan hal-hal yang dibutuhkan, bukan memperbanyak daftar keinginan.
Perhatikan hak-hak Allah swt. Tunaikan zakat, menabung untuk pergi haji, sediakan kotak khusus untuk sedekah bagi kemaslahatan umat.
__._,_.___

Doa menjenguk orang sakit/kecelakaan

"Allahumma rabban naasi adzhibil ba'sa asyfi antasy syaafii laa syifaa'a illaa syifaa'uka syifaa'an laa yughaadiru saqaman. Imsahil ba'sa rabban naasi biyadikasy syifaa'u, laa aasyifa lahu illaa anta, as'alullaahal 'azhiima, rabbal ' arsyil 'azhiimi an-yasfiyaka".


Artinya : Ya Allah Tuhan segala manusia, jauhkanlah kesukaran/penyakit itu dan sembuhkanlah ia, Engkaulah yang menyembuhkan,tak ada obat selain obat-Mu, obat yang tidak meninggalkan sakit lagi. Hilangkan lah penyakit itu, wahai Tuhan pengurus manusia. Hanya padamulah obat itu. Tak ada yang dapat menghilangkan penyakit selain Engkau, aku mohon kepada Allah yang Maha Agung, Tuhannya 'arasy yang agung, semoga Dia menyembuhkan anda. (HR. Bukhari dan Muslim)

Doa Tolak Musibah Yang Datang Secara Tiba-Tiba


Doa Tolak Musibah Yang Datang Secara Tiba-Tiba

Suatu ketika putera sahabat Utsman bin Affan radhiyallahu ’anhu bernama Aban bin Ustman rahimahullahmeriwayatkan sebuah hadits Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam yang di dalamnya terdapat doa untuk memohon perlindungan Allah Ta’ala agar tidak tertimpa musibah yang datang secara mengejutkan. Doa tersebut berbunyi sebagai berikut:

بِسْمِ اللَّهِ الَّذِي لَا يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَيْءٌ

فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي السَّمَاءِ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

'BISMILLAAHIL LADZII LAA YADLURRU MA'AS MIHI SYAI'UN FIL ARDLI WALA FIS SAMAA'WAHUWAS SAMII'UL 'ALIIM' (dengan nama Allah, dengan nama-Nya tidak akan berbahaya sesuatu yang ada di bumi maupun yang ada di langit, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui)

Nabi shollallahu ’alaih wa sallam menganjurkan agar doa tersebut dibaca sebanyak tiga kali di waktu pagi dan tiga kali di waktu sore. Barangsiapa membacanya dengan rajin seperti itu, Nabi shollallahu ’alaih wa sallam menjanjikan bahwa orang itu tidak akan terkena musibah yang datang secara tiba-tiba. Bacaan di waktu pagi akan melindunginya hingga sore tiba, sedangkan bacaan di waktu sore akan melindunginya hingga pagi tiba.

Lengkap haditsnya berbunyi sebagai berikut:

عَنْ أَبَانَ بْنِ عُثْمَانَ عَنْ عُثْمَانَ أَنَّ

النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ

مَنْ قَالَ بِسْمِ اللَّهِ الَّذِي لَا يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَيْءٌ

فِي الْأَرْضِوَلَا فِي السَّمَاءِ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

ثَلَاثَ مَرَّاتٍ لَمْ تَفْجَأْهُفَاجِئَةُ بَلَاءٍ حَتَّى اللَّيْلِ وَمَنْ قَالَهَا

حِينَ يُمْسِيلَمْ تَفْجَأْهُ فَاجِئَةُ بَلَاءٍ حَتَّى يُصْبِحَ إِنْ شَاءَ اللَّهُ

(AHMAD - 497) : Dari Aban Bin Utsman dari Utsman bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Barangsiapa membaca 'BISMILLAAHIL LADZII LAA YADLURRU MA'AS MIHI SYAI'UN FIL ARDLI WALA FIS SAMAA'WAHUWAS SAMII'UL 'ALIIM' (dengan nama Allah, dengan nama-Nya tidak akan berbahaya sesuatu yang ada di bumi maupun yang ada di langit, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui) sebanyak tiga kali, maka tidak akan ditimpa musibah mengejutkan hingga malam hari, dan barangsiapa membacanya di waktu sore maka tidak akan ditimpa musibah mengejutkan hingga pagi hari jika Allah menghendaki."


Tentunya tidak seorangpun ingin dirinya tertimpa musibah. Dan umumnya musibah datang secara tiba-tiba. Oleh karenanya doa ini menjadi sangat relevan dan penting bagi kehidupan kita. Maka sudah sepatutnya kita menjalankan nasihat mulia Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam ini. Karena ia tidak saja kita butuhkan, tetapi dengan mengamalkannya berarti kita turut menegakkan salah satu sunnah Nabi shollallahu ’alaih wa sallam yang banyak ditinggalkan kaum muslimin dewasa ini.

Uniknya hadits ini dikuatkan oleh hadits lainnya yang menjelaskan bahwa suatu ketika Aban bin Ustman sendiri pernah terkena suatu musibah mendadak dalam perjalanan hidupnya. Sehingga ketika ia dikunjungi oleh muslim lainnya mereka terheran—heran mengapa ia sampai bisa mengalami musibah mendadak padahal ia pula yang meriwayatkan hadits tentang doa menolak musibah mendadak. Maka Aban bin Ustman dengan jujur mengakui bahwa pada hari itu ia terlupa membaca doa tersebut. Subhanallah.

أَبَانَ بْنَ عُثْمَانَ يَقُولُ سَمِعْتُ عُثْمَانَ يَعْنِي ابْنَ عَفَّانَ يَقُولُ

سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَنْ قَالَ

بِسْمِ اللَّهِ الَّذِي لَا يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَيْءٌ فِي الْأَرْضِ

وَلَا فِي السَّمَاءِ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ لَمْ تُصِبْهُ

فَجْأَةُ بَلَاءٍ حَتَّى يُصْبِحَ وَمَنْ قَالَهَا حِينَ يُصْبِحُ ثَلَاثُ مَرَّاتٍ

لَمْ تُصِبْهُ فَجْأَةُ بَلَاءٍ حَتَّى يُمْسِيَ و قَالَ فَأَصَابَ أَبَانَ بْنَ عُثْمَانَ

الْفَالِجُ فَجَعَلَ الرَّجُلُ الَّذِي سَمِعَ مِنْهُ الْحَدِيثَ يَنْظُرُ إِلَيْهِ

فَقَالَ لَهُ مَا لَكَ تَنْظُرُ إِلَيَّ فَوَاللَّهِ مَا كَذَبْتُ عَلَى عُثْمَانَ

وَلَا كَذَبَ عُثْمَانُ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلَكِنَّ

الْيَوْمَ الَّذِي أَصَابَنِي فِيهِ مَا أَصَابَنِي غَضِبْتُ فَنَسِيتُ أَنْ أَقُولَهَا

(ABU DAUD - 4425) : Aban bin Utsman berkata: Aku mendengar Utsman -maksudnya Utsman bin Affan- berkata, "Aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Barangsiapa mengucapkan: BISMILLAHILLADZI LAA YADLURRU MA'ASMIHI SYAI`UN FIL ARDLI WA LAA FIS SAMAA`I WA HUWAS SAMII'UL 'ALIIMU (dengan nama Allah yang tidak ada sesuatu pun di bumi dan di langit yang bisa memberikan bahaya. Dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui) sebanyak tiga kali, maka ia tidak akan tertimpa musibah yang datang dengan tiba-tiba hingga pagi hari. Dan barangsiapa membacanya pada pagi hari sebanyak tiga kali, maka ia tidak akan tertimpa musibah yang datang dengan tiba-tiba hingga sore hari." Perawi berkata, "Lalu Aban tertimpa penyakit lumpuh, hingga orang yang mendengar hadits darinya melihat kepadanya (Aban), maka Aban pun berkata, "Kenapa kamu melihat aku? Demi Allah, aku tidak berbohong atas nama Utsman, dan Utsman tidak berbohong atas nama Nabi shallallahu 'alaihi wasallam. Tetapi pada hari ketika aku tertimpa penyakit ini, aku sedang marah hingga aku lupa membacanya."

Source: eramuslim.com

Thursday, November 04, 2010

Kewajiban seorang muslim terhadap saudaranya

Dari Abu Hurairah ra, dia berkata : Rasulullah saw bersabda:” Janganlah saling mendengki, saling menipu , saling membenci, saling membelakangi dan janganlah sebagian kalian membeli barang yang telah dibeli orang lain. Jadilah kalian hamba-hmba Allah yang bersaudara. Seorang muslim adalah bersaudara bagi muslim lainnya. Ia tidak patut menzalimi, membohongi dan merendahkannya. Takwa itu disini (beliau menunjukkan dadanya tiga kali). Cukuplah seorang dikatakan buruk jika sampai menghina saudaranya sesama muslim. Darah, harta dan kehormatan setiap muslim adalah haram bagi muslim yang lain.”(HR.Muslim)

KANDUNGAN HADITS

1. Larangan Berbuat Dengki

Dengki adalah sifat yang sangat tercela. Karena dengki adalah sifat orang-orang munafik dan kafir sebagaimana firman Allah;



“Sebahagian besar ahli Kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman, Karena dengki yang (timbul) dari diri mereka sendiri, (al-Baqarah: 109)


“Ataukah mereka dengki kepada manusia (Muhammad) lantaran karunia yang Allah Telah berikan kepadanya?”(an-Nisa: 54)

Rasulullah saw bersabda;

Kalau kita perhatikan ayat dan urian hadits diatas maka definisi dengki adalah mengangan-angankan hilangnya nikamat orang lain yang didengkinya lalu kenikmatan itu hendaknya beralih kepadanya atau orang lain. Karena pada umumnya orang lain memiliki sifat tidak mau disaingi. Sifat dengki ini pada hakekatnya adalah pembangkangan kepada Allah swt. karena ketika orang lain dikaruniakan nikmat dia merasa iri dan sakit hati seolah-olah tidak mensyukuri nikmat yang telah Allah karuniakan kepadanya.

Sifat dengki ini apabila dilihat dari sikap terhadap orang yang menjadi sasarannya, maka dapat dibagi menjadi dua bagian;

Pertama; Mengharapkan hilangnnya nikmat yang diperoleh orang yang didengki dengan perkataan dan perbuatan yang zhalim. Ada yang berusaha agar nikmat itu kemudian pindah kepda dirinya, dan ada pula hanya berharap bahwa nikmat tersebut hanya sekedar hilang dari diri orang yang didengki. Inilah dengki yang paling buruk dan keji.[6]

Kedua; Orang yang dengki tersebut tidak melakukan apa yang menjadi tuntutan kedengkiannya, tidak berbuat zhalim kepada yang didengki baik dengan ucapan maupun perbuatan. Sifat dengki ini juga tidak lepas dari perbuatan dosa besar karena tidak akan mungkin ia tidak melakukan sesuatu kekejian dan kezhaliman apabila terdapat sifat dengki didalam hatinya, meskipun hanya sedikit. Hal ini sebagaimana firman Allah swt;


“..berkatalah orang-orang yang menghendaki kehidupan dunia: "Moga-moga kiranya kita mempunyai seperti apa yang Telah diberikan kepada Karun …".(al-Qashash; 79)

2. Najasy?

Najasy ialah menawar barang dengan niat untuk meninggikan harga barang dipasar atau yang semisalnya, bukan dengan niat untuk membeli. Hakekatnya adalah untuk merugikan orang lain. Bagi orang yang mengetahui maka najasy ini hukumnya haram. Hal ini sesuai dengan ijma’ para ulama, baik dia bertindak sebagai penjual maupun tidak.

Lalu bagimana hukum akad yang disertai najasy?

Para ulama berselisih pendapat. Sebagian ada yang berpendapat akadnya batal sebagaimana riwayat dari Imam Ahmad. Imam syafi’i berpendapat; jika yang melakukan najasy adalah penjual, atau orang yang bersengkokol dengan penjual, maka akadanya batal, karena larangan disini kembali kepada oang yang melakukan akad. Jika tidak demikan, maka akadnya tidak batal karena dia kembali kepada orang lain. Abu Hanifah berpendapat bahwa akad yang disertai najasy adalah sah secara mutlaq, begitu pula imam As-Syafi’i, imam Malik dan imam Ahmad. Hanya saja imam Malik dan imam Ahmd berpendapat bahwa pembeli memiliki hak khiyar (hak bagi pembeli melanjutkan akad) jika ia tidak mengetahui kondisi sbenarnya dan merasa dirugikan dengan kerugian yang mencolok.



3. Larangan Saling Membenci

Benci ialah salah satu penyakit hati. Secara terminologi benci ialah menghindar dari sesuatu karena padanya terdapat hal yang tidak menyenangkan atau dibenci. Benci bukan karena Allah dan hanya mengikuti hawa nafsu adalah merupakan perkara yang dilarang Rasulullah saw. karena kaum muslimin adalah besaudara. Firman Allah swt;


“Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara.”(al-Hujurat; 10)

Sabda Rasulullah saw;”Demi Dzat yang diriku ada ditangan-Nya, kamu sekalian tidak akan masuk surga sampai kamu beriman, dan tidak akan beriman sampai saling mencintai.”

Benci kepada sesama kaum muslimin apabila tidak didasari niat semata-mata karena lillahi ta’ala adalah haram. Sedangkan benci karena Allah adalah hukumnya wajib dan ada yang sunnah. Firman Allah;



“ Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuh-Ku dan musuhmu menjadi teman-teman setia yang kamu sampaikan kepada mereka (berita-berita Muhammad), Karena rasa kasih sayang; padahal Sesungguhnya mereka Telah ingkar kepada kebenaran yang datang kepadamu, mereka mengusir Rasul dan (mengusir) kamu Karena kamu beriman kepada Allah, Tuhanmu. jika kamu benar-benar keluar untuk berjihad di jalan-Ku dan mencari keridhaan-Ku (janganlah kamu berbuat demikian). kamu memberitahukan secara rahasia (berita-berita Muhammad) kepada mereka, Karena rasa kasih sayang. Aku lebih mengetahui apa yang kamu sembunyikan dan apa yang kamu nyatakan. dan barangsiapa di antara kamu yang melakukannya, Maka Sesungguhnya dia Telah tersesat dari jalan yang lurus.(al-Mumtahanah: 1)

Rasulullah bersabda;” Barang siapa yang cinta karena Allah, membenci karena Allah, memberi karena Allah, maka telah sempurna imannya.”

4. Larangan Saling Membelakangi

Saling membelakangi (tadaabur) ialah sikap sesorang membelakangi temannya atau memalingkan wajah darinya, yaitu saling memutuskan hubungan.

Tadaabur hukumnya haram apabila didasari bukan karena Allah. dan hanya semata-mata demi kepentingan dunia. Karena Rasulullah saw, telah bersabda sebagaimana riwayat Bukhari dan Muslim dari Abu Ayyub;” Tidak halal bagi seorang muslim untuk menjauhi saudaranya lebih dari tiga hari. Keduanya bertemu, yang ini berpaling dan yang itu berpaling juga. Yang paling baik diantara keduanya adalah yang memulai mengucapkan salam,” Barang siapa yang meninggalkan saudaranya selama enam hari, maka dia seperti menumpahkan darahnya.” Adapun jika meninggalkannya didasari karena Allah swt, maka dibolehkan. sebagaimama riwayat imam Ahmad, Rasulullah pernah memerintahkan para sahabat untuk memboikot para kaum muslimin yang tidak ikut berjihad selama lima puluh hari, sebagai pelajaran atas ketidak ikutsertaan orang-orang munafik. Dan juga diperbolehkan menjauhi para ahli bid’ah yang cukup parah.[7]

5. Sesama Muslim Adalah Bersaudara

Rasulullah saw bersbda;” Jadilah kamu sekalian hamba-hamba Allah yang besaudara.” dengan meningglkan saling mendengki, saling menipu, saling membenci, saling menjauhi, merebut penjualan orang lain, bergaullah diantara kamu sekalian dengan pergaulan yang penuh dengan persaudraan, memperlakukan mereka dengan penuh kasih sayang, lemah lembut saling bekerja sama dalam kebaikan yang disertai dengan kebersihan hati.

Allah swt berfirman;




“ Dan jika mereka bermaksud menipumu, Maka Sesungguhnya cukuplah Allah (menjadi pelindungmu). Dialah yang memperkuatmu dengan pertolongan-Nya dan dengan para mukmin,

“Dan yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman)[622]. walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah Telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya dia Maha gagah lagi Maha Bijaksana(al-Anfal: 62 dan 63).

6. Kewajiban Seorang Muslim Kepada Muslim Lainnya

Seorang muslim diperintahkan untuk senatiasa meyatukan hati dengan akhlak yang mulia. Firman Allah swt;


“Orang-orang beriman itu Sesungguhnya bersaudara. sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu .”(al-Hujurat: 10)

Berbuat kezhaliman, berdusta, dan mengejek adalah beberapa sikap yang dapat mendorong berbuat kebencian dan perselisihan. Bahkan keislaman seseorang muslim dianggap belum baik dan belum sempurna hingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.

Diharamkan secara pasti berbuat zhalim terhadp diri sendiri, agama, dan kehormatan agama tanpa alasan yang syar’i. karena hal tersebut dapat menghancurkan persaudaran islam. Dan merupakan suatu kewajiban terhadap orang muslim untuk menolong saudaranya yang sedang dalam keadaan sangat membutuhkan dan terdesak. Allah swt berfirman;“..Jika mereka meminta pertolongan kepadamu dalam (urusan pembelaan) agama, Maka kamu wajib memberikan pertolongan ..”(al-Anfal: 72)

Abu Daud meriwayatkan’”Tidak ada seorang muslim yang memberikan muslim lainnya (tanpa mendapat pertolongan) saat kehormatannya dirampas dan harga dirinya dirusak kecuali Allah pun akan membiarkannya saat dia sangat membutuhkan pertolongan-Nya.”

Imam Ahmad meriwayatkan.” Barang siapa yang dihadapannya ada seorang muslim yang dihinakan, lalu dia tidak menolongnya, padahal dia mampu untuk menolongnya, maka Allah akan menghinakannya dihadapan seluruh makhluk pada hari ikamat.”

Al-Bazar meriwayatkan,” Barang siapa yang menolong saudaranya ketika dia tidak berada dihadapannya , maka Allah akan menolongnya didunia dan akhirat.”

Berkata jujur dan menghormati saudara sesama muslim adalah salah satu kewajiban seorang muslim atas muslim lainnya.

At-Tirmizi meriwayatkan dari Nabi saw.”Jika seorang hamba berbohong dengan suatu kebohongan, maka Malaikat akan menjauh satu mil darinya karena busukny apa yang keluar darinya.”begitupula petikan hadits yang kita bahas ini bahwasanya Rasulullah sangat melarang menghina saudara sesama muslim,” Cukuplah seorang hamba berbuat jahat apabila dia menghina saudaranya yang muslim.”

7. Makna Taqwa

Takwa adalah menjauhi adzab Allah dengan mengerjakan yang diperintahkan dan meninggalkan apa yang dilarang-Nya. Takwa adalah merupakan barometer seorang manusia disisi Allah;


“Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal. (al-Hujurat: 13)

Ketaqwaan adalah bertempat dalam hati sebagaimana firman Allah:”Dan barang siapa mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketaqwaan hati.”(al-Hujurat: 32)

8. Kehormatan Seorang Muslim

Dr. Mustafa Dieb Al-Bugha berkata didalam bukunya (Al-wafi; Syarah Hadits arba’in Imam An-Nawawi’, Pustaka Al-kautsar, 2002) bahwa Rasulullah saw, senantiasa berkhutbah dalam forum-forum besar seperti ketika haji Wada’, hari Iedul Adha, hari Arafah, kedua hari Tasyrik, dengan bersabda,” Sesungguhnya harta, darah, dan kehormatan kalian haram atas kalian sebagaimana haramnya hari dan bulan kalian ini di negeri kalain ini.”

sumber :

*pokok-pokok ajaran Islam (syarah Arbain Nawawiyah)

*http://pemudabugis.multiply.com/journal/item/241

Wassalamu'alaikum wrwb