Tuesday, September 30, 2008

Keluarga Sakinah, Keluarga Dambaan

Ditulis oleh Farid Ma'ruf di/pada Februari 29, 2008

Semoga menjadi keluarga sakinah mawaddah wa rahmah. Ungkapan ini sering terdengar seiring dengan musim orang menikah. Seakan sudah menjadi kalimat pakem yang harus diucapkan saat menghadiri kondangan dan menyalami sang mempelai. Lantas apa maksud dari ungkapan tersebut ?

Keluarga Samara. Sebagai sebuah ibadah, tentu saja pernikahan memiliki sejumlah tujuan yang mulia. Memahami tujuan itu akan menghindarkan pernikahan hanya sekedar ajang pelampiasan nafsu seksual belaka. Tujuan-tujuan itu adalah pertama mewujudkan mawaddah dan rahmat, yakni terjalinnya cinta kasih dan tergapainya ketentraman hati (ar-Rum : 21). Kedua, sebagai upaya mengikuti sunnah Rasulullah. Ketiga, melanjutkan keturunan dan menghindari dosa. Keempat, untuk mempererat tali silaturahim. Kelima, pernikahan sebagai sarana dakwah. Keenam, dalam rangka menggapai mardhatillah.

Jika demikian tujuan pernikahan yang sebenarnya, maka dapat dipastikan bahwa suatu pernikahan yang tidak diarahkan untuk mewujudkan keluarga sakinah, berarti jauh dari apa yang diajarkan oleh Islam itu sendiri. Lalu, apa ukuran sebuah keluarga disebut keluarga sakinah?

Keluarga Sakinah: Keluarga dengan Enam Kebahagiaan
Keluarga sakinah adalah keluarga dengan enam kebahagiaan yang terlahir dari usaha keras pasangan suami istri dalam memenuhi semua kewajiban, baik kewajiban perorangan maupun kewajiban bersama. Teramat jelas bagaimana Allah dan Rasul-Nya menuntun kita untuk mencapai tiap kebahagiaan itu. Enam kebahagiaan yang dimaksud adalah:

Pertama, kebahagiaan finansial. Kepala keluarga wajib mencukupi kebutuhan nafkah istri dan anak-anaknya dengan berbagai usaha yang halal. Kebahagiaan finansial adalah ketika kebutuhan asasi seperti sandang, papan dan pangan, serta kebutuhan dharuri seperti pendidikan, kesehatan, keamanan, terlebih bila kebutuhan kamali dapat dipenuhi. Sehingga keluarga itu dapat hidup normal, mandiri, bahkan bisa memberi.

Kedua, kebahagiaan seksual. Sudah menjadi fitrahnya, dalam kehidupan rumah tangga suami istri ingin meraih kepuasan seksual. Islam menuntunkan agar istri senantiasa bersiap memenuhi panggilan suami, tapi juga diajarkan agar suami selalu memperhatikan kebutuhan seksual istri. Ketika sepasang suami istri secara bersama dapat mencapai kepuasan seksual, maka mereka akan merasakan kebahagiaan seksual. Terlebih bila dari aktifitas seksual itu kemudian terlahir anak. Dengan pendidikan yang baik tumbuh menjadi anak yang shalih dan shalihah, kebahagiaan akan semakin memuncak.

Ketiga, kebahagiaan spiritual. Salah satu kewajiban bersama suami istri adalah melaksanakan ibadah-ibadah mahdah seperti shalat, puasa, zakat, haji dan sebagainya. Ketika sebuah keluarga terdiri dari pasangan suami istri yang rajin beribadah, dan dalam moment-moment tertentu memenuhi anjuran Allah dan Rasul-Nya untuk melaksanakannya secara bersama, seperti shalat berjamaah, membaca al-Qur’an, puasa sunnah dan sebagainya, maka kehidupan rumah tangga itu akan dihiasi oleh suasana religius dengan aura spiritual yang kental. Mereka merasakan secara bersama nikmatnya beribadah kepada Allah. Inilah yang disebut kebahagiaan spiritual.

Keempat, kebahagiaan moral. Suami wajib menggauli istri dengan ma’ruf. Istri juga wajib bersikap sopan dan patuh kepada suami. Suami istri bersikap sayang kepada anak-anak, sementara anak wajib bersikap hormat kepada kedua orang tuanya. Ketika pergaulan antar anggota keluarga, juga dengan karib kerabat dan tetangga, senantiasa dihiasi dengan akhlaq mulia, akan terciptalah kebahagiaan moral.
Masing-masing akan merasa nyaman dan tenteram tinggal di rumah itu. Rumah akan benar-benar dirasakan sebagai tempat yang memberikan ketenangan, bukan sebaliknya. Keresahan yang membuat para penghuninya tidak betah tinggal di sana.

Kelima, kebahagian intelektual. Untuk menjalani hidup dengan sebaik-baiknya menurut tolok ukur Islam, juga untuk mampu mengatasi secara cepat dan tepat setiap problematika keluarga yang timbul, diperlukan pengetahuan akan ara’ (pendapat), afkar (pemikiran) dan ahkam (hukum-hukum) Islam pada pasangan suami istri. Maka menuntut ilmu (tsaqofah Islam) adalah wajib.

Ketika, sepasang suami istri memiliki pemahaman dan ilmu Islam yang cukup sedemikian kebutuhan untuk hidup secara Islami dan menjawab setiap masalah tercukupi, mereka akan merasakan suatu kebahagiaan karena hidup akan dirasakan terkendali, terang dan mantap. Pengetahuan memang akan mendatangkan kebahagiaan. Sebagaimana kebodohan mendatangkan kesedihan. Inilah yang disebut kebahagiaan intelektual.

Keenam, kebahagiaan ideologis. Keluarga dalam Islam bukan hanya dibentuk untuk memenuhi kebutuhan individu, tapi juga memuat misi keumatan. Yakni sebagai basis para pejuang Islam dalam usahanya menegakkan risalah Islam. Dengan misi itu, berarti masing-masing anggota keluarga diarahkan untuk memiliki peran yang nyata dalam dakwah. Termasuk anak-anak yang terlahir dididik untuk menjadi kader dakwah yang tangguh di masa mendatang.
Nah, keluarga yang mampu merealisasikan misi Islam yang amat mulia inilah keluarga muslim yang sebenarnya. Ketika suami istri merasa mampu mengayuh biduk rumah tangganya dalam kerangka misi tersebut, pasti mereka akan merasakan suatu kebahagiaan tersendiri. Kebahagiaan itu kita sebut kebahagiaan ideologis.

Manakah diantara keenam kebahagiaan itu yang utama? Tergantung pada persepsi atau pemahaman pasangan suami istri. Keluarga Rasulullah dibangun dengan meletakkannya pada kerangka perjuangan. Inilah keluarga teladan dengan kebahagiaan ideologis. Tapi berdasarkan riwayat-riwayat yang sangat jelas, Rasul juga mampu menciptakan kebahagiaan intelektual, kebahagiaan moral, spiritual, termasuk seksual bagi keluarganya.

Secara finansial, Rasul memang hidup dalam kesahajaan. Tapi siapa sangka mereka juga ternyata merasakan kebahagiaan finansial. Karena kebahagiaan yang terakhir ini tidak ditentukan oleh jumlah harta yang dimiliki, tapi oleh perasaan qanaah (cukup) atas rizki yang Allah karuniakan.

Kesiapan Mental Spiritual
Paling sedikit ada empat persiapan yang harus dilakukan untuk membentuk keluarga sakinah mawaddah wa rahmah. Yakni persiapan ilmu menyangkut tentang bagaimana hidup sebagai istri/ibu atau sebagai suami/bapak dan bagaimana menjalani hidup bersama dalam sebuah keluarga dengan segala hak dan kewajibannya. Berikutnya adalah persiapan mental, finansial dan fisikal (kesehatan).

Empat persiapan itu perlu dilakukan oleh calon pengantin, mengingat bahwa pernikahan berarti mempertautkan dua pribadi dari dua keluarga yang sama sekali berbeda. Hidup dalam satu atap dengan pasangan barunya jelas akan membawa perubahan-perubahan yang drastis. Yang semula sendiri, kini berdua. Yang semula bebas kini terikat dengan hak dan tanggungjawab dan sebagainya.

Untuk menghadapi semua itu, diperlukan kesiapan mental. Yakni bagaimana menghadapi tekanan hidup dengan berbagai macam problematika kehidupan, kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan pasangan dan sebagainya. Pasangan yang memiliki kesiapan mental akan dapat menjalani semua tekanan itu dengan jiwa yang tegar, sabar dan optimis.
Sebaliknya yang tidak memiliki kesiapan mental akan banyak sekali menghadapi tekanan mental. Mungkin persoalan yang dihadapi sebenarnnya biasa-biasa saja, tapi karena memang dasarnya miskin ketahanan mental, akibatnya menjadi sangat serius.

Keluarga yang normal dalam ukuran Islam adalah keluarga yang mampu mewujudkan sejumlah fungsi pokoknya, yaknsi fungsi ekonomi, fungsi sosial, fungsi edukatif, fungsi protektif, fungsi religius, fungsi rekreatif, fungsi dakwah dan fungsi afektif. Terpenuhinya seluruh hak dan kewajiban anggota keluarga (suami, istri dan anak-anak) akan membuat semua fungsi tersebut berjalan.

Sehingga peluang tercapainya enam kebahagiaan dalam keluarga sakinah terbuka lebar. Sebaliknya, pengabaian sebagian apalagi seluruh hak dan kewajiban anggota keluarga jelas akan menimbulkan disfungsi keluarga. Ujungnya, tak satu pun kebahagiaan bisa diraih.
Buruknya relasi suami istri acap dipicu tidak didapatkannya salah satu atau lebih dari enam kebahagiaan tersebut di atas. Seorang suami yang mengalami kesulitan memenuhi kebutuhan finansial keluarga akan memancing reaksi negatif dari sang istri. Terlebih bila tolok ukur kebahagiaan istri pada tercapainya perolehan materi.

Begitu juga pasangan suami istri yang gagal mencapai kepuasan seksual, bergaul secara kasar, miskin pemahaman Islam, kering nuansa ibadah dan tak secuilpun terpikir perjuangan Islam, jelas akan memurukkan keluarga itu ke jurang disfungsi yang teramat fatal. Bila tidak segera teratasi, keutuhan keluarga itu akan terancam. Paling tidak kehidupan keluarga itu tidak harmonis, kering dan menggelisahkan. (www.keluarga-samara.com)

Sumber : Majalah Female Readers (Zulia

Wednesday, September 24, 2008

Pesan Rasulullah untuk Fatimah az-Zahra

:)Message:

Ada sepuluh wasiat Rasulullah kepada putrinya Fatimah Az-Zahra, wasiat ini merupakan mutiara termahal nilainya,khususnya bagi setiap istri yang mendambakan kesalehan. Wasiat tersebut adalah:

1.Wahai Fatimah! Sesungguhnya wanita yangmembuat tepung untuk suami dan anak-anaknya, kelak Allah akan tetapkan baginya kebaikan dari setiap biji gandum yang diadonnya, dan juga Allah akan melebur kejelekan serta meningkatkan derajatnya.

2.Wahai Fatimah! Sesungguhnya wanita yang berkeringat ketika menumbuk tepunguntuk suami dan anak-anaknya, niscayaAllah akan menjadikan antara neraka dan dirinya tujuh tabir pemisah.

3.Wahai Fatimah! Sesungguhnya wanita yang meminyaki rambut anak-anaknya lalumenyisirnya dan kemudian mencuci pakaiannya, maka Allah akan tetapkan pahalabaginya seperti pahala memberi makan seribu orang yang kelaparan dan memberi pakaian seribu orang yang telanjang.

4.Wahai Fatimah! Sesungguhnya wanita yangmembantu kebutuhan tetangga-tetanggany a,maka Allah akan membantunya untukdapat meminum telaga kautsar pada harikiamat nanti.

5.Wahai Fatimah! Yang lebih utama dariseluruh keutamaan di atas adalah keridhaan suami terhadap istri.Andaikata suamimu tidak ridha kepadamu,maka aku tidak akan mendoakanmu.Ketahuilah Fatimah, kemarahan suami adalah kemurkaan Allah.

6.Wahai Fatimah! Disaat seorang wanita mengandung, maka malaikat memohonkan ampunan baginya, dan Allah tetapkan baginya setiap hari seribu kebaikan,serta melebur seribu kejelakan. Ketika seorang wanita merasa sakit akan melahirkan, maka Allah tetapkan pahalab aginya sama dengan pahala para pejuang Allah. Disaat seorang wanita melahirkan kandungannya, maka bersihlah dosa-dosanya seperti ketika dia dilahirkan dari kandungan ibunya. Disaat seorang wanita meninggal karena melahirkan, maka dia tidak akan membawa dosa sedikit pun, didalam kubur akan mendapat taman yang indah yang merupakan bagian dari taman surga. Allah memberikan padanya pahala yang sama dengan pahala seribu orang yangmelaksanakan ibadah haji dan umrah, danseribu malaikat memohonkan ampunan baginya hingga hari kiamat.

7.Wahai Fatimah! Disaat seorang istrimelayani suaminya selama sehari semalam,dengan rasa senang dan ikhlas, maka Allah akan mengampuni dosa-dosanya sertamemakaikan pakaian padanya dihari kiamatberupa pakaian yang serba hijau,dan menetapkan baginya setiap rambutpada tubuhnya seribu kebaikan. Allahpun akan memberikan kepadanya pahala seratus kali ibadah haji dan umrah.

8.Wahai Fatimah! Disaat seorang istritersenyum dihadapan suaminya, makaAllah akan memandangnya dengan pandanganpenuh kasih.

9.Wahai Fatimah! Disaat seorang istrimembentangkan alas ! tidur untuksuaminya dengan rasa senang hati, makapara malaikat yang memanggil darilangit menyeru wanita itu agarmenyaksikan pahala amalnya, dan Allahmengampuni dosa-dosanya yang telah laludan yang akan datang.

10.Wahai Fatimah! Disaat seorang wanita meminyaki kepala suami dan menyisirnya,meminyaki jenggotnya dan memotong kumisnya serta kuku-kukunya, maka Allah akan memberi minuman yang dikemas indah kepadanya, yang didatangkan dari sungai-sungai surga. Allah pun akan mempermudah sakaratul maut baginya,serta menjadikan kuburnya bagian daritaman surga. Allah pun menetapkanbaginya bebas dari siksa neraka sertadapat melintasi shirathal mustaqim dengan selamat.

--taken from Bulletin Board friendster--

Friday, September 19, 2008

Bertadarrus Al-Qur'an di bulan Ramadhan

http://www.pesantrenvirtual.com

Oleh: Dewan Asatidz
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh Manakah yang lebih utama (besar pahalanya) membaca Al-Quran atau memahami Al-Quran?. Karena kalau saya amati umat islam di Indonesia dalam berbagai acara, seperti mengisi acara ramadhan, mereka memperbanyak "tadarus", jadi lebih mengutamakan membaca dari pada memahami. Menurut hemat saya sangat sedikit sekali orang yang mau memahami Al-Quran dan lama kelamaan Al-Quran itu hanya tinggal bunyinya saja tapi nur (cahayanya)akan padam.
Dasun


--------- Jawab ---------
Assalamu'alaikum wr. wb.
Sdr. Dasun, Memahami al-Qur'an, membacanya dan bahkan mendengarkannya semua mendapatkan pahala. Itulah salah satu kelebihan al-Qur'an, meskipun hanya dengan membaca dan mendengarkannya dengan tanpa memahami ma'nanya tetap mendapatkan pahala. Membaca al-Qur'an juga termasuk zikir qauli, yaitu zikir menggunakan mulut kita. Dalam sebuah hadist Rasulullah s.a.w. bersabda "Perumpamaan seorang mu'min yang membaca al-Qur'an seperti buah "utrujah", baunya harum dan rasanya manis. Perumpamaan seorang mu'min yang tidak membaca al-Qur'an adalah seperti buah kurma, tidak mempunyai aroma namun rasanya manis. Perumpamaan seorang munafiq yang membaca al-Qur'an adalah buah "raihanah" aromanya harum namun rasanya pahit dan perumpamaan orang munafik yang tidak membaca al-Qur'an adalah buah "handlalah" tidak mempunyai aroma dan rasanya pahit" (H.R. Buhkari Muslim). Kita juga dianjurkan membaca al-Qur'an hingga khatam (dari awal sampai akhir).


Ibnu Umar pernah bertanya kepada Rasulullah s.a.w. "Berapa kali saya harus menghatamkan al-Qur'an?" Rasulullah menjawab "Khatamkanlah dalam satu bulan". "Saya bisa lebih cepat dari itu" kata Ibnu Umar. "Kalau begitu setiap dua puluh hari", jawab Rasulullah. "Saya masih bisa lebih cepat dari itu", tambah Ibnu Umar. "Kalau begitu dalam lima belas hari" lalu "Sepuluh hari". "Saya masih lebih cepat dari itu", kata Ibnu Umar. "Kalau begitu lima hari", lalu Rasulullah tidak melanjutkan lagi. (H.R. Tirmidzi).

Rasullah juga gemar mendengarkan al-Qur'an dan sering matanya berlinang ketika mendengarkan lantunan ayat-ayat al-Qur'an. Ibnu Umar bercerita suatu hari Rasulullah memintaku membaca al-Qur'an untuk beliau "Ibnu Umar bacalah sesuatu dari al-Qur'an untukku", lalu aku baca surah al-Nisa hingga ayat (41, artinya) "Maka bagaimanakah apabila Kami datangkan seorang saksi dari tiap-tiap umat dan Kami datangkan kamu (Muhammad) sebagai saksi atas mereka atas mereka itu sebagai umatmu". Aku melihat kedua mata beliau basah meneteskan air mata. (H.R. Bukhari).

Demikian juga Rasulullah sering membaca al-Qur'an dengan mentafakkuri dan memahami arti dan makna kandungannya. Di sini Rasulullah dalam sebuah hadist mengisyaratkan bahwa mereka yang membaca al-Qur'an hingga khatam selama kurang dari tiga hari termasuk orang yang kurang faqih" (H.R. ABu Dawud dll). Ini merupakan anjuran bahwa dalam membaca al-Qur'an selayaknya tidak terlalu cepat dan lebih menekankan kepada tadabbur dan tafakkur pada isi dan makna ayat-ayatnya.

Bertadarus al-Qur'an selama bulan Ramadhan termasuk kebisaan yang dilakukan Rasulullah s.a.w. Riwayat Ibnu Abbas menjelaskan bahwa "Rasullah adalah orang yang paling dermawan, kedermawaan beliau meningkat pada bulan Ramadhan, yaitu ketika didatangi Jibril setiap malam Ramadhan, ia bertadarus al-Qur'an dengan Rasulullah. (H.R. Bukhari Muslim).

Jadi kesimpulannya, baik membaca, mendengarkan dan memahami al-Qur'an pada bulan Ramadhan sangat dianjurkan. Yang lebih utama tentu membaca sambil memahami maknanya. Namun membaca atau mendengarkan al-Qur'an dengan tanpa memahami maknanya pun tetap merupakan ibadah yang mendapatkan pahala. Cahaya yang dibawa al-Qur'an akan senantiasa menerangi hati kita manakala kita rajin membacanya, mendengarnya dan ditambah lagi mau mempelajari kandungannya.
Wallahu a'lam bissowab Wassalam

Muhammad Niam

Monday, September 15, 2008

Kiat Aman Puasa Pada Anak

Si Polan sejak usia 5 tahun ternyata sudah melakukan ibadah puasa penuh selama 1 bulan. Tetapi si Udin dengan usia yang sama, jangankan untuk berpuasa terlambat makan sebentar saja sudah berteriak keras sekali. Ibadah yang cukup berat ini dilakukan baik oleh keinginan sendiri ataupun karena keinginan orangtua. Bagaimana merencanakan dan membimbing anak dalam melakukan ibadah puasa tanpa harus mengganggu perkembangan dan pertumbuhan anak?

Memasuki bulan ramadhan, anak belum akil baliq tidak termasuk umat yang diwajibkan berpuasa. Tetapi pada kenyataannya banyak anak pra akil baliq sudah berpuasa "penuh" layaknya orang dewasa. Periode akil baliq biasanya terjadi saat anak sudah mulai masa pubertas atau sekitar usia 12 tahun. Anak perempuan akan mendapat menstruasi dan payudara mulai berkembang. Anak lelaki mulai memperlihatkan perubahan dalam suara, otot, bentuk fisik berubah secara cepat, dan sudah mengalami peristiwa "mimpi basah". Sejak saat inilah anak diwajibkan untuk berpuasa.

Banyak orang tua beralasan dalam mendidik beribadah khususnya puasa harus dilakukan secara dini dan bertahap. Tak jarang puasa sudah dikenalkan pada anak sejak usia 6 atau 7 tahun meskipun baru puasa setengah hari. Menurut perspektif agama Islam bila ibadah termasuk yang tidak wajib boleh dilakukan asalkan mampu dan tidak dipaksakan. Bila ditinjau dalam bidang kesehatan tampaknya puasa juga mungkin bisa dilakukan oleh anak usia pra akil baliq tetapi harus cermat dipertimbangkan kondisi dan keterbatasan kemampuan anak.

Kondisi psikobiologis anak memang berbeda dengan dewasa dalam melakukan ibadah puasa. Meskipun belum banyak dilakukan penelitian dilakukan terhadap pengaruh berpuasa pada anak dikaitkan dengan aspek kesehatan dan tumbuh kembang anak. Sejauh ini belum pernah dilaporkan seorang anak yang mengalami gangguan yang berat akibat puasa.

FAKTOR PSIKOBIOLOGIS
Aspek kesehatan secara psikobiologis anak usia sebelum akil baliq dapat ditinjau dari aspek tumbuh kembang anak dan fungsi biologis. Aspek perkembangan meliputi perkembangan psikologis seperti perkembangan emosional, perkembangan moral dan perilaku lainnya. Fungsi biologis meliputi aspek fisiologis tubuh, metabolisme tubuh, kemampuan fungsi organ dan sistem tubuh.

Dari aspek perkembangan khususnya kecerdasan dalam periode ini anak mulai banyak melihat dan bertanya. Fantasinya berkurang karena melihat kenyataan, ingatan kuat daya kritis mulai tumbuh, ingin berinisiatif dan bertanggung jawab.

Perkembangan rohani pemikiran tentang Tuhan sudah mulai timbul. Anak sudah mulai dapat memisahkan konsep pikiran tentang Tuhan dengan orangtuanya. Tetapi pemahaman tentang konsep ini masih terbatas, bahwa Tuhan itu ada. Demikian pula dalam perkembangan moral, pada periode ini pemahaman konsep baik dan buruk masih sederhana. Makna pemahaman ini hanya sebatas sekedar tahu. Artinya kenapa kewajiban agama dan kebaikan perilaku harus dilakukan belum dipahami secara sempurna. Sehingga dalam melakukan ibadah puasa juga lebih dilatarbelakangi karena faktor fisik tidak dipahami secara moral.

Kalaupun moral berperanan lebih dari sekedar hubungan manusia dan manusia. Niat ibadah puasa dikerjakan berdasarkan pengaruh hubungan keluarga atau lingkungan. Misalnya, anak berpuasa karena teman sekelas atau sepermainan sudah berpuasa. Atau, bila berpuasa penuh akan mendapat hadiah dari orang tua.

Dalam aspek biologis kondisi fisiologis tubuh khususnya metabolisme tubuh, fungsi hormonal dan fungsi sistem tubuh usia anak berbeda dengan usia dewasa. Bila aktifitas berpuasa merupakan beban yang tidak sesuai dengan kondisi fisiologis anak dapat berakibat mengganggu tumbuh dan berkembangnya anak. Demikian pula dalam hal mekanisme sistem imun atau pertahanan tubuh anak dan dewasa berbeda. Ketahanan anak dalam merespon masuknya penyakit dalam tubuh lebih lemah.

PERUBAHAN KONDISI TUBUH SAAT BERPUASA
Beberapa penelitian menyebutkan sebenarnya tidak terdapat perbedaan yang berarti saat berpuasa dibandingkan saat tidak berpuasa. Puasa saat Ramadan tidak mempengaruhi secara drastis metabolism lemak, karbihidrat dan protein. Meskipun terjadi peningkatan serum uria dan asam urat sering terjadi saat terjadi dehidrasi ringan saat puasa.

Saat berpuasa ternyata terjadi peningkatan HDL and apoprotein A1, dan penurunan LDL ternyata sangat bermanfaat bagi kesehatan jantung dan pembuluh darah. Beberapa the penelitian "chronobiological" menunjukkan saat puasa ramadan berpengaruh terhadap ritme penurunan distribusi sirkadian dari suhu tubuh, hormon kortisol, melatonin dan glisemia.
Ritme dan kualitas jam tidur malam, dan kewaspadaan sehari-hari dan kemampuan psikomotor cederung berkurang.

Hal inilah yang mengakibatkan peningkatan resiko terjadinya kecelakaan pada anak seperti terjatuh, terpeleset atau kecelakaan saat mengendarai sepeda. Resiko ini semakin meningkat pada anak yang sebelumnya mengalami gangguan kesimbangan, regulasi dan koordinasi.

PERENCANAAN IBADAH PUASA PADA USIA ANAK

Melihat kondisi psikobiologis dan perubahan fisiologi tubuh saat puasa khususnya pada usia anak tertentu sebaiknya dilakukan tahapan waktu disesuaikan dengan usia dan kemamuan mental anak. Tahapan waktu mungkin bisa dilakukan dengan puasa setengah hari pada usia di bawah enam tahun. Di atas usia enam tahun mungkin diperkenalkan puasa penuh saat awal dan akhir puasa yang secara bertahap dilakukan penambahan jumlah puasa yang penuh. Tahapan waktu tersebut harus disesuaikan dengan mental seorang anak. Seorang anak berusia 5 tahun yang mempunyai motivasi yang tinggi dan bermental kuat mungkin dapat berpuasa penuh. Tetapi anak lain yang bahkan dengan usia 2 tahun di atasnya mungkin untuk satu hari berpuasa penuh sudah merupakan siksaan yang luar biasa.

Saat berpuasa pembelanjaran mental adalah pengalaman penting yang dapat berguna dalam pembinaan moral dan mental anak. Faktor mental inilah yang tampaknya sangat berperanan penting dalam keberhasilan pelkaksanaan ibadah puasa seorang anak. Mental setiap anak berbeda dengan anak lainnya dalam melakukan ibadah puasa. Anak dengan tipe mental baja atau yang jarang mengeluh berbeda dengan anak yang bernyali rendah. Meskipun dengan kondisi fisik yang tidak optimal ternyata dapat bertahan baik untuk menutupi kelemahan fisik saat puasa. Kadang hanya dengan memotivasi dan mensuport mental anak dengan pujian maka kendala fisik dalam berpuasa dapat diabaikan.

Sebaiknya dalam memotivasi mental anak tersebut bukan dengan paksaan yang dapat berakibat tergangguanya psikologis anak. Tekanan psikologis inilah dapat memperberat beban fisik yang sudah terjadi saat menjalani ibadah puasa pada anak.
Kegiatan puasa berpengaruh terhadap perkembangan emosi, perkembangan moral dan perkembangan psikologis anak. Tidak dapat disangkal lagi bahwa ibadah puasa mempunyai pengaruh positif terhadap pendidikan perkembangan anak. Tetapi harus diwaspadai bahwa aktifitas puasa juga dapat berpengaruh negatif bila tidak mempertimbangkan kondisi psikologi anak. Hal ini terjadi bila ibadah ini dilakukan dengan paksaan dan ancaman. Dalam keadaan normal emosi dan perilaku anak sangat tidak stabil. Saat puasa yang dalam kondisi lapar dan haus akan sangat mempengaruhi kestabilan emosi dan perilaku anak.
Mengingat fungsi psikobiologis anak berbeda dengan dewasa, maka harus dicermati pengaruh puasa terhadap anak. Pengaruh negatif yang harus diwaspadai adalah berkurangnya jam tidur anak. Saat bulan ramadhan jadwal aktifitas anak berbeda dengan sebelumnya. Dalam bulan tersebut aktifitas anak bertambah dengan kegiatan sholat tarawih, makan sahur atau kegiatan pesantren kilat. Bila jam tidur ini berkurang atau berbeda dengan sebelumnya akan mempengaruhi keseimbangan fisiologis tubuh yang sebelumnya sudah terbentuk. Gangguan keseimbangan fisiologis tubuh ini akan berakibat menurunkan fungsi kekebalan tubuh yang berakibat anak mudah sakit. Sebaiknya orang tua harus ikut merencanakan dan mamantau jadwal aktifitas anak termasuk jam tidur anak dengan cermat. Pada usia pra akil baliq kebutuhan tidur anak secara normal berkisar antara 10-12 jam per hari, dengan rician malam hari 10 jam siang hari 1-2 jam. Dalam bulan ramadan orang tua hendaknya dapat memodifikasi jadwal tidur ini dengan baik.

Pengaruh lain yang harus diamati adalah pengaruh asupan gizi pada anak. Jumlah, jadwal dan jenis gizi yang diterima akan berbeda dengan saat sebelum puasa. Dalam hal jumlah mungkin terjadi kekurangan asupan kalori, vitamin dan mineral yang diterima anak. Aktifitas yang bertambah ini juga akan meningkatkan kebutuhan kalori, vitamin dan mineral lainnya. Padahal saat puasa relatif pemenuhan kebutuhan kalori lebih rendah. Bila keseimbangan asupan gizi terganggu dapat menurunkan fungsi kekebalan tubuh sehingga anak mudah terserang penyakit. Dalam keadaan seperti ini tampaknya pemberian suplemen vitamin cukup membantu. Parameter yang paling mudah untuk melihat asupan kalori cukup adalah dengan memantau berat badan anak. Bila berat badan anak tetap atau meningkat mungkin puasa dapat dilanjutkan. Tetapi bila berat badan menurun drastis dalam jangka pendek sebaiknya puasa harus dihentikan.

Demikian pula dengan jenis asupan gizi yang diterima. Variasi dan jumlah makanan yang didapatkan saat bulan puasa akan berbeda dengan sebelumnya. Saat bulan puasa variasi makanan yang tersedia biasanya lebih banyak. Pada penderita alergi pada jenis makanan tertentu harus diwaspadai karena dapat berpengaruh terhadap gangguan kesehatan. Menurut pengalaman praktek sehari-hari kasus alergi makanan pada anak cenderung meningkat saat bulan puasa. Sebaiknya orangtua menghindari jenis makanan ringan kemasan yang mengandung bahan pengawet dan beraroma rasa atau warna yang kuat. Minuman bersoda dan sangat pedas sebaiknya dihindarkan. Mulailah berbuka dengan bahan makanan dan minuman pembuka yang manis. Pemilihan makanan yang berkalori dan karbohidrat tinggi saat sahur lebih utama. Secara umum prinsip pemilihan menu makanan dengan gizi yang cukup dan seimbang harus diutamakan.

YANG HARUS DIWASPADAI PADA ANAK
Kondisi umum yang harus diwaspadai dalam melakukan puasa pada anak adalah anak yang mudah sakit (mengalami infeksi berulang), gangguan pertumbuhan, penyakit alergi atau asma serta gangguan perilaku (Autis, ADHD dll). Kegemukan apada anak juga merupakan kondisi yang harus diwaspadai. Pada penderita kegemukan pada anak seringkali terjadi perbedaan komposisi kesimbangan cairan tubuh dan perbedaan fungsi tubuh lainnya. Bila perlu pada kondisi tertentu sebaiknya dilakukan konsultasi ulang pada dokter anak sebelum melakukan ibadah puasa.

Keadaan yang harus dihindari berpuasa pada anak akil baliq adalah penyakit infeksi akut (batuk, pilek, panas), infeksi kronis (tuberkulosis dll), penyakit bawaan gangguan metabolisme, jantung, ginjal, kelainan darah dan keganasan. Meskipun infeksi akut virus seperti batuk, pilek atau panas yang dialami ringan, bila kondisi tubuh turun seperti berpuasa akan menimbulkan resiko komplikasi yang berat.

Pengeluaran kalori yang tinggi pada anak sering diakibatkan pada aktifitas bermain harus disesuaikan dengan kondisi saat berpuasa. Tidak seperti pada manusia dewasa, pada umumnya anak masih belum bisa menakar kemampuan tubuh dan aktifitas sehari-hari. Dalam melakukan aktifitas pada usia anak hanya didominasi kesenangan dan keasyikan bermain. Sebaiknya orangtua membantu mencari kegiatan dan permainan yang sesuai dengan kondisi tubuh saat berpuasa. Sebaiknya dicari permainan yang lokasinya berada di dalam gedung atau tempat teduh, dan saat sore hari menjelang berbuka. Permainan yang menyita tenaga lebih sebaikknya dihindarkan. Peningkatan aktifitas belanja di pusat perbelanjaan saat menjelang lebaran, meskipun tampaknya ringan ternyata sangat menyita energi. Hal ini terjadi karena pengaruh situasi yang nyaman saat belanja. Sebaiknya anak tidak diikutsertakan dalam kegaiatan ini, kalaupun ikut dicari waktu setelah buka puasa.

PENUTUP
Puasa pada anak mungkin dapat dilakukan tetapi harus cermat memperhatikan kondisi normal psikobiologisnya. Sedangkan kondisi psikobiologis setiap anak berbeda dan tidak dapat disamakan. Bila kondisi itu tidak diperhatikan maka puasa merupakan beban bagi mental dan fisik anak. Selanjutnya akan berakibat mengganggu tumbuh kembang anak. Tetapi bila puasa dilakukan dengan mempertimbangkan dengan cermat kondisi anak maka dapat merupakan pendidikan terbaik bagi perkembangan moral dan emosi anak. Buah hatiku, selamat menjalani ibadah puasa.

Sumber: Email Imsis

http://www.wikimu.com/News/DisplayNews.aspx?id=10327
Dr Widodo Judarwanto SpA
CHILDREN ALLERGY CLINICPICKY EATERS CLINIC (KLINIK KESULITAN MAKAN ANAK)Jl Rawasari selatan 50 Cempaka Putih, Jakarta PusatJl Taman Bendungan Asahan 5, Jakarta PusatRumah Sakit Bunda, JakartaTelepon : (021) 5703646 - (021) 70081995 - (021) 31922005 - 0817171764

Sunday, September 14, 2008

Kitab Suci Multiwajah

[ Minggu, 14 September 2008 ]

Oleh Masdar Farid Mas'udi *

Dalam Ramadan Alquran diturunkan, dalam Ramadan Alquran paling banyak dibaca dan diperdengarkan. Membaca ayat-ayat Alquran, demikian kita selama ini diajari, tanpa mengerti artinya pun sudah ibadah, apalagi bagi yang mengerti. Masya Allah.... Begitulah kemurahan Tuhan, Allah subhanahu wa ta'ala.... Terima kasih Ya Rabb!

Tapi, apakah maksud Alquran diturunkan? Apakah sekadar untuk dibaca seperti namanya sendiri, Quran, yang berarti bacaan?
Jawab kiai saya almarhum yang juga seorang ulama ahli tafsir terkemuka: Tentu saja tidak; dibaca kalimatnya, dimengerti artinya, direnungkan kandungannya, dan diamalkan pesannya. Itulah tujuan seutuhnya.

Tapi, berapa gelintir manusia yang mampu begitu? Belum lagi, kata orang, untuk memahami ayat dengan benar dan tepat, seseorang perlu perangkat ilmu yang macam-macam, terutama yang berkaitan dengan bahasa Arab, dan tidak kalah penting konteks kesejarahan, baik yang juz'iy maupun yang kully. Singkatnya sulit!

Hanya segelintir orang yang kayaknya mampu mencapai tingkatan itu.Kalau begitu, apakah Alquran hanya boleh dinikmati oleh segelintir orang?
Jawab kiai saya tegas: Tidak! Quran, kata beliau, adalah kitab suci yang sangat ramah terhadap setiap pembacanya. Siapa pun mereka, dengan kapasitas keilmuan apa pun dan seberapa pun bisa bercakap-cakap dengannya.

Seperti Allah sendiri, tidak pernah pilih kasih hanya kepada yang berpendidikan tinggi, yang ulama, yang sarjana. Semua berhak meraup rahmat-Nya. Tapi memang, Alquran sebagaimana yang mensabdakannya (Allah SWT) akan bersikap dan berbicara kepada setiap pembacanya sesuai harapan si pembaca sendiri.

Allah bersabda: "Ana 'inda dhonni 'abdiy biy / Aku akan bersikap kepada hamba-Ku sesuai dengan persangkaannya terhadap-Ku". Artinya, jika Allah dipersangkakan sebagai Yang Mahakasih & Pemurah, Allah memang Yang Mahakasih dan Pemurah;Sebaliknya, jika dipersepsikan sebagai Yang Mahakejam dan Pelit, bisa terasa demikian bagi yang bersangkutan. Maka pesan moralnya: berbaik sangkalah selalu kepada-Nya.

Demikian pula Alquran. Ia akan tampil dan berbicara kepada sang pembaca sesuai dengan kondisi kebatinan dan kapasitasnya. Ada orang yang membaca Alquran dengan nurani yang bening penuh kedamaian; ada yang sebaliknya, keruh penuh kebencian.

Juga ada yang membacanya dengan nalar dan keilmuan yang luas; ada juga dengan nalar dan pengetahuan yang sempit dan cetek. Juga ada kalanya seseorang membacanya dengan emosi meledak-ledak, penuh fanatisme dengan pihak tertentu; atau sebaliknya penuh kutukan kepada pihak lain. Alquran pun akan tampil sesuai dengan kondisi kebatinan dan kapasitas pembacanya.

Itulah sebabnya, Alquran bisa tampil menjadi kitab suci yang multiwajah. Bagi seorang ilmuwan sosial, ia tiba-tiba hadir sebagai kitab dengan teori-teori sosial yang sangat canggih dan mencerahkan. Atau bagi seorang fisikawan atau filosof, Alquran pun tampil spenuhnya sebagai sumber inspirasi teori-teori fisika dan filsafat yang sangat mengagumkan. Atau bagi seorang sufi yang tengah dimabuk cinta, Alquran pun hadir sebagai surat cinta dari Yang Maha Terkasih yang akan memuaskan kerinduannya.

Juga bagi seorang pembenci kepada sesama, kepada orang atau sekelompok orang yang menurut nafsunya harus dibenci dan dikutuki, Alquran pun akan tampil sebagai kitab yang mengobarkan kebencian di dadanya. Sebagaimana bagi seorang pembaca Alquran yang berhati lapang, penuh senyum kedamaian dan rendah hati kepada sesama, Alquran pun akan tampil sebagai kitab suci dengan wajah berseri-seri penuh keramahan dan kasih sayang yang berlimpah ruah.

Itulah sebabnya, masing-masing orang cenderung memiliki ayat-ayat favorit sendiri-sendiri. Seseorang dengan fanatisme tinggi akan memilih ayat-ayat yang berbeda, bahkan terasa berseberangan, dengan ayat-yat pilihan mereka yang berlapang dada, penuh tasamuh kepada sesama meski lain paham, keyakinan, atau pilihan politik.

Maka kata kiai saya, Alquran adalah "bacaan" tentang jatidiri kita sendiri juga. Sejalan dengan pengertian ini, tidak mengherankan sama sekali, alias banyak ditemukan di mana-mana bahwa seseorang/ kelompok yang saling bermusuhan dan saling mengutuk dengan orang/kelompk lain, dengan mengutip ayat-ayat yang berbeda dari kita suci yang sama, atau ayat yang sama dengan pemahaman/tafsir berbeda.

Pertanyaannya, kondisi kebatinan macam manakah yang paling tepat untuk dipersiapkan oleh seseorang yang hendak membaca Alquran? Kata kiai saya; ajaran berwudu sebelum membaca Alquran memberikan jawabannya: Bersihkan jari jemarimu, lidah dan mulutmu, hidungmu, matamu, muka dan hatimu, telingamu, kepalamu, dan kakimu dari semua daki dosa dan prasangka kepada Allah dan sesama.

Bacalah ta'awudz, maka Anda akan menemukan Alquran sebagai sabda dan sekaligus wajah Allah yang sebenarnya: "Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang". Adakah yang lebih kita harapkan dari-Nya melebihi kasih dan sayang-Nya? Semoga peringatan Nuzulul Quran dapat memperbarui semangat dan suasana kebatinan kita, dapat menggantikan prasangka dan kebencian dengan cinta kasih terhadap sesama, sesama umat, sesama warga bangsa dan sesama manusia, hamba Allah SWT dan ciptaan-Nya.*.

Masdar Farid Mas'udi , ketua PB NU di Jakarta

Berbuka puasa dengan korma atau air

" Salman bin Amr Adh-Dabiy RA, berkata, bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Jika kalian berbuka puasa, hendaknya berbuka dengan korma. Jika tidak ada, hendaknya berbuka dengan air, karena air itu dapat membersihkan." (HR perawi lima, Ibn Khuzaimah, Ibn Hibban, dan Hakim)

Pelajaran dalam hadits ini:
Air dapat membersihkan pencernaan dari segala macam kotoran
Kita dianjurkan utnuk berbuka dengan korma, jika tidak ada, dengan air. Anas bin Malik RA menceritakan Rasulullah SAW berbuka dengan beberapa rutob (korma basah) sebelum shalat maghrib. Jika tidak ada rutob, beliau berbuka dengan korma. jika tidak ada korma, beliau minum beberpa teguk (HR Ibn Dawud)

Perhatian dan kasih sayang nabi SAW kepada umatnya sangatlah besar, hingga dalam masalah inipun beliau memberikan perhatiannya.
Penjelasan ttg manfaat korma, menyebutkan diantaranya:(sumber, Manafi'ut Tamr,terbitan Dep kes Mesir)

Korma memiliki kandungan zat gula yang sangat besar, dan sangat dibutuhkan tubuh.
Korma mudah dicerna, sehingga tidak memberatkan alat pencernaan.
Korma mengurangi rasa lapar dengan cepat sehingga mengurangi dorongan untuk makan dalam porsi yang banyak. Dengan begitu pencernaan tidak dibebabani oleh kerja berat.

Memberikan kesiapan pada lambung untuk menerima makanan setealh beberapa lama lambung tidak terisi.

Mencegah penyakit maag yang bisa timbul karena pergantian jadal makan
Alkalinitas yang terkandung pada korma dapat menetralisisr asam kuat pada darah yang seringkali menyebabakan penyakit berbahaya, seperti diabetis, rematik ginjal, darah tinggi dan wasir

Kita harus memilihkan yang terbaik utuk tubuh kita, seperti dengan mengkonsumsi makanan dan minuman yang bermafaat bagi tubuh.

Wassalamu'alaikum Wr.Wb.Dept. Dakwah IMSIS

Friday, September 12, 2008

Enam Tips Sehat Puasa

Menjalankan ibadah puasa adalah sebuah kewajiban bagi umat muslim, namun jika ditilik dari sisi kesehatan dibalik nilai ibadah dari ritus yang dijalankan sebulan penuh tiap tahun ini, juga tersimpan banyak manfaat. Tapi tentu saja jika itu dijalankan dengan aturan yang benar dan tidak asal-asalan. Bagaimana memadukan antara ibadah dan mendapatkan manfaat bagi kesehatan kita, berikut kami suguhkan 6 tips menjalankan puasa sehat:

1. Jangan Tinggalkan Sahur
Sahur merupakan salah satu rangkaian dalam ibadah puasa Ramadhan yang sangat disarankan, dalam sebuah Hadist disebutkan bahwa "Bersabda Rasulullah SAW: "Sahurlah kamu, karena dalam sahur itu terdapat berkah yang besar". Kenapa sahur penting bagi kita yang menjalankan puasa?, Saat menjalankan puasa tubuh kita tidak mendapatkan asupan gizi kurang lebih selama 14 jam. Untuk itu supaya tubuh dapat menjalankan fungsi dengan baik, sel-sel tubuh membutuhkan gizi dan energi dalam jumlah cukup. Untuk menu sahur sebaiknya pilih makanan berserat dan berprotein tinggi, tapi hindari terlalu banyak mengkonsumsi makanan yang manis-manis.
Banyak makan makanan manis disaat sahur akan membuat Anda cepat lapar di siang hari. Makanan manis membuat tubuh bereaksi melepaskan insulin secara cepat, insulin berfungsi memasukkan gula dari dalam darah ke dalam sel-sel tubuh dan digunakan sebagai sumber energi. Sedangkan makan makanan berserat membuat proses pencernaan lebih lambat dan membantu insulin dikeluarkan secara bertahap. Untuk membuat energi dari sahur tahan lama, bersahurlah lebih akhir saat mendekati imsak.

2. Jangan Tunda Berbuka
Setelah seharian menahan lapar dan dahaga tentunya energi kita terkuras, untuk memulihkan energi kembali, saat berbuka makanlah karbohidrat sederhana yang terdapat dalam makanan manis. Makanan yang mengandung gula mengembalikan secara instant energi kita yang terkuras seharian. Tetapi usahakan menghindari minum es atau yang bersoda, karena jenis minuman ini dapat membuat pencernaan tak berfungsi secara normal.

3. Makanlah Secara Bertahap
Biasanya begitu mendengar bedug magrib, tanpa tunggu lagi kita langsung menyantap habis hidangan yang disediakan diatas meja. Ini bukanlah pola yang bagus untuk kesehatan, setelah seharian perut kita tak terisi dan organ cerna beristirahat, sebaiknya jangan langsung menyantap hidangan dalam jumlah besar. Saat tiba waktu berbuka makan makanan manis, seperti kolak, atau minum teh hangat, istirahatkan sesaat, bisa Anda gunakan jeda itu untuk menjalankan sholat magrib sambil memberi waktu organ cerna kita menyesuaikan. Baru setelah sholat Anda dapat lanjutkan kembali makan makanan yang lebih berat seperti nasi dan lauk-pauknya. Dan setelah Tarawih dilanjutkan lagi dengan sesi makan kecil atau camilan.

4. Jangan Tinggalkan Olahraga
Menjalankan puasa bukan berarti berhenti total berolahraga. Justru aktivitas fisik tetap dibutuhkan untuk menjaga kelancaran peredaran darah agar kita tidak mudah loyo. Namun untuk urusan ini pilih olahraga ringan yang tak membutuhkan energi berlebih, seperti lari-lari kecil atau jalan kaki. Sebaiknya lakukan olahraga menjelang waktu berbuka. Tarawih selain ibadah juga sebagai sarana menjaga kebugaran jasmani karena saat melakukan sholat tarawih sama dengan membakar kalori.

5. Konsumsi Cukup Air
Air merupakan zat yang sangat dibutuhkan tubuh. Lebih dari 60 % tubuh kita terdiri dari air. Untuk menjalankan fungsinya dengan baik setiap organ tubuh kita membutuhkan air. Tanpa air yang cukup tubuh akan mengalami gangguan. Untuk itu perbanyak minum air untuk simpanan dalam tubuh supaya semua organ berfungsi dengan baik. Yang disebut air disini bukan hanya berupa air putih, tapi susu dan teh pun juga termasuk di dalamnya. Supaya kebutuhan tubuh tercukupi, aturlah agar Anda minum delapan gelas air sebelum menjalani puasa esok hari.

6. Kendalikan Emosi
Rasulullah bersabda bahwa puasa itu bukan hanya menahan lapar dan dahaga tetapi juga menahan nafsu. Dengan kata lain tujuan puasa adalah me-manage emosi, belajar bersabar dan berupaya mendekatkan diri kepada Tuhan. Secara psikologis ini mempengaruhi mental-spiritual kita, dengan mengendalian emosi membuat jiwa kitatumbuh lebih sehat, dan merasakan kedekatan dengan Allah membuat hati kita damai. (erl)

Sumber : email dr teman

Saturday, September 06, 2008

Ramadhan Bulan Taubat

Oleh Ihsan Tandjung

Ramadhan merupakan bulan yang mengandung peluang emas untuk bertaubat kepada Allah ta’aala. Barangsiapa yang bersungguh-sungguh dalam berpuasa di bulan ini, maka Allah ta’aala akan mengampuni segenap dosanya sehingga ia diumpamakan bagai berada di saat hari ia dilahirkan ibunya. Setiap bayi yang baru lahir dalam ajaran Islam dipandang sebagai suci, murni tanpa dosa.

فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ رَمَضَانَ شَهْرٌ افْتَرَضَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ صِيَامَهُ وَإِنِّي سَنَنْتُ لِلْمُسْلِمِينَ قِيَامَهُ فَمَنْ صَامَهُ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا خَرَجَ مِنْ الذُّنُوبِ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ
Bersabda Rasululah shollallahu ’alaih wa sallam, "Sesungguhnya Ramadhan adalah bulan di mana Allah ta’aala wajibkan berpuasa dan aku sunnahkan kaum muslimin menegakkan (sholat malam). Barangsiapa berpuasa dengan iman dan dan mengharap ke-Ridhaan Allah ta’aala, maka dosanya keluar seperti hari ibunya melahirkannya. " (HR Ahmad 1596)

Subhanallah…! Wahai para pemburu ampunan Allah ta’aala. Marilah kita manfaatkan kesempatan emas ini untuk bertaubat. Sebab tidak ada seorangpun di antara manusia yang bebas dari dosa dan kesalahan. Setiap hari ada saja dosa dan kesalahan yang dikerjakan, baik sadar maupun tidak. Alangkah baiknya di bulan pengampunan ini, kita semua berburu ampunan Allah ta’aala.
يَا عِبَادِي إِنَّكُمْ تُخْطِئُونَ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَأَنَا أَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا فَاسْتَغْفِرُونِي أَغْفِرْ لَكُمْ
“Wahai hamba-hambaKu! Setiap siang dan malam kalian senantiasa berbuat salah, namun Aku mengampuni semua dosa. Karena itu, mohonlah ampunanKu agar Aku mengampuni kalian.” (Hadits Qudsi Riwayat Muslim 4674)

Marilah kita ikuti contoh teladan kita, Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam. Beliau dikabarkan tidak kurang dalam sehari semalam mengucapkan kalimat istighfar seratus kali. Padahal beliau telah dijanjikan oleh Allah akan dihapuskan segenap dosanya yang lalu maupun yang akan datang. Bahkan dalam satu riwayat beliau dikabarkan dalam sekali duduk bersama majelis para sahabat beristighfar seratus kali. Masya Allah...!

عَنْ ابْنِ عُمَرَ قَالَ إِنْ كُنَّا لَنَعُدُّ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْمَجْلِسِ الْوَاحِدِ مِائَةَ مَرَّةٍ رَبِّ اغْفِرْ لِي وَتُبْ عَلَيَّ إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ
“Sesungguhnya kami benar-benar menghitung dzikir Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam dalam satu kali majelis (pertemuan), beliau mengucapkan 100 kali (istighfar dalam majelis): “Ya rabbku, ampunilah aku, terimalah taubatku, sesungguhnya Engkaulah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.” (HR Abu Dawud 1295)

Ibadah puasa Ramadhan ditujukan untuk membentuk muttaqin(orang bertaqwa). Sedangkan di antara karakter orang bertaqwa ialah sibuk bersegera memburu ampunan Allah ta'aala dan surga seluas langit dan bumi.

وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ
“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.” (QS Ali Imran ayat 133)

Dalam kitabnya “Yakinlah, Dosa Pasti Diampuni”, ‘Aidh Al-Qarni menulis mengenai pentingnya bertaubat sebagai berikut:
”Saya serukan kepada setiap insan untuk bergegas menuju pelataran Tuhan pemilik langit dan bumi. Dialah Allah ta’aala yang rahmat-Nya lebih luas dari segala sesuatu, dan pintu ampunan-Nya senantiasa terbuka dari segala penjuru. Anda semua harus tahu bahwa suara yang paling merdu adalah suara orang yang kembali kepada Allah ta’aala, orang yang membebaskan diri dari penghambaan terhadap setan serta mengarahkan semua anggota tubuhnya menuju kepada Allah ta’aala semata. Melalui risalah ini, mari kita kenali cara kembali dan bertobat kepada Allah ta’aala dari segala dosa dan maksiat.”

”Manusia hanya memiliki satu umur. Jika disia-siakan, maka dia akan rugi besar, baik di dunia maupun di akhirat. Pintu taubat selalu terbuka, anugerah Allah ta’aala selalu dicurahkan, dan kebaikan-Nya senantiasa mengalir, pagi dan siang.”
عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَيِّدُ الِاسْتِغْفَارِ أَنْ تَقُولَ اللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّي لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ خَلَقْتَنِي وَأَنَا عَبْدُكَ وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ أَبُوءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ وَأَبُوءُ لَكَ بِذَنْبِي فَاغْفِرْ لِي فَإِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ قَالَ وَمَنْ قَالَهَا مِنْ النَّهَارِ مُوقِنًا بِهَا فَمَاتَ مِنْ يَوْمِهِ قَبْلَ أَنْ يُمْسِيَ فَهُوَ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ وَمَنْ قَالَهَا مِنْ اللَّيْلِ وَهُوَ مُوقِنٌ بِهَا فَمَاتَ قَبْلَ أَنْ يُصْبِحَ فَهُوَ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ

Nabi shollallahu ’alaih wa sallam bersabda bahwa penghulu istighfar ialah ucapan seorang hamba: “Ya Allah, Engkaulah rabbku. Tidak ada ilah selain Engkau. Engkau telah menciptkanku dan aku adalah hamba-Mu. Aku senantiasa berada dalam perjanjian dengan-Mu (bersaksi dengan tauhid) dan janji terhadap-Mu selama aku mampu. Aku berlindung kepada-Mu dari segala keburukan yang telah aku perbuat. Aku mengakui nikmat-Mu terhadapku. Aku mengakui dosaku. Maka ampunilah aku karena sesungguhnya tidak ada yang mengampuni dosa melainkan Engkau.”
Siapa yang mengucapkannya dengan yakin di siang hari, lalu ia meninggal hari itu sebelum sore hari, maka dia termasuk penduduk surga. Dan siapa saja yang mengucapkannya dengan yakin di malam hari, lalu dia meninggal sebelum subuh, maka dia termasuk penghuni surga.” (HR Bukhary 5831)

Rasulullah s.a.w. amat menganjurkan umatnya agar bersahur kerana terdapat keberkatan pada waktu itu. Sabda baginda s.a.w., Bersahurlah kamu semua kerana sesungguhnya pada waktu makan sahur itu terdapat keberkatan. (Riwayat al-Bukhari dalam Sahih al-Bukhari, Kitab al-Shaum, hadis no. 1923)Maksud keberkatan itu ialah wujudnya ganjaran serta pahala yang besar dalam ibadah sahur tersebut.


Menurut al-Hafiz Ibn Hajar al-Asqalani, keberkatan sahur itu diperoleh melalui amalan mengikuti sunah, menyelisihi ahli kitab, menambah kekuatan dan semangat untuk beribadat serta menghindari tabiat buruk yang timbul akibat lapar.Selain itu, ia menjadi sebab untuk orang yang berpuasa bersedekah kepada orang lain, menjadi sebab untuk berzikir dan berdoa pada waktu yang mustajab dan memberi kesempatan untuk berniat bagi mereka yang belum sempat berniat puasa sebelum tidur. (Rujuk al-Hafiz Ibn Hajar al-Asqalani, Fath al-Bari, Jil. 11, hal. 120)


Antara hikmah disyariatkan bersahur adalah untuk membedakan antara ibadat puasa orang Islam dengan ibadat puasa orang Yahudi dan Kristian (ahli kitab).Sabda Rasulullah s.a.w.: Pemisah (yang membezakan) antara puasa kita dan puasa ahli kitab ialah makan sahur. (Riwayat al-Tirmizi dalam Sunan al-Tirmizi, Kitab al-Shaum, hadis no. 643)


Ibadat sahur adalah ibadat yang begitu agung sehinggakan Allah melimpahkan rahmat dan malaikat-Nya memohon keampunan bagi orang-orang yang makan sahur.Oleh itu, Nabi s.a.w. amat menitikberatkan umatnya untuk bersahur walaupun dengan hanya meminum seteguk air. Sabda Baginda s.a.w.: Makan sahur ada keberkatan.


Oleh itu, janganlah kamu meninggalkannya meskipun salah seorang antara kamu hanya meminum seteguk air. Sesungguhnya Allah dan malaikat-Nya berselawat ke atas orang-orang yang makan sahur. (Riwayat Ahmad di dalam Musnad Ahmad, hadis no. 10664)Sebenarnya, kita dibenarkan bersahur sehingga fajar terbit, iaitu sehingga azan solat Subuh dilaungkan.


Sabda Rasulullah s.a.w.:Kamu semua boleh makan dan minum sehingga Ibn Ummi Maktum melaungkan azan karena sesungguhnya dia tidak akan melaungkan azan (melainkan) hingga fajar sodiq benar-benar telah terbit. (Riwayat Bukhari dalam Sahih al-Bukhari, Kitab al-Shaum, hadis no. 1919)


Hadis ini secara tidak langsung membantah pendapat sesetengah pihak yang tidak membenarkan makan dan minum apabila telah masuk waktu imsak. Apatah lagi Allah menegaskan bahawa dibenarkan makan dan minum sehingga terbit fajar, iaitu sehingga azan Subuh sedang dilaungkan.Firman Allah s.w.t.: Makanlah serta minumlah sehingga nyata kepada kamu benang putih (cahaya siang) daripada benang hitam kegelapan malam), iaitu waktu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sehingga waktu malam (Maghrib). (al-Baqarah: 187)Adalah disunahkan juga untuk dilewatkan sahur sehingga hampir terbit fajar. Sahal bin Sa'ad r.a. berkata, "Aku makan sahur bersama keluargaku, kemudian aku pun tergesa-gesa untuk mendapatkan sujud bersama Rasulullah s.a.w." (Riwayat al-Bukhari dalam Sahih al-Bukhari, Kitab al-Shaum, hadis no. 1920)Kadi Iyadh r.h. berkata: "Tujuan Sahal terburu-buru makan sahur adalah kerana waktunya sangat dekat dengan terbitnya fajar." (Dinukil daripada Fath al-Bari, Jil. 11, hal. 114)Waktu yang terbaik untuk makan sahur adalah lebih kurang sama dengan kadar waktu seseorang membaca 50 ayat al-Quran iaitu kira-kira 10 hingga 20 minit sebelum azan solat Subuh dikumandangkan.Menurut Anas r.a., Zaid bin Thabit r.a. berkata, Kami makan sahur bersama Nabi s.a.w., kemudian Baginda berdiri untuk solat. Aku berkata: "Berapa lama antara azan dan sahur?" Baginda menjawab: Kira-kira (membaca) lima puluh ayat. (Riwayat al-Bukhari dalam Sahih al-Bukhari, Kitab al-Shaum, hadis no. 1921)Hadis ini digunakan oleh mereka yang berpendapat bahawa waktu imsak itu adalah 10 minit sebelum terbit fajar. Apabila masuk waktu imsak maka seseorang tidak boleh lagi makan dan minum.Namun tafsiran yang benar terhadap hadis tersebut ialah Rasulullah s.a.w. langsung mendirikan solat Subuh setelah baginda makan sahur. Kadar membaca 50 ayat al-Quran antara azan subuh dan sahur bukan waktu imsak seperti yang disangka oleh mereka, tetapi ia adalah kadar waktu Nabi s.a.w. memulakan dan mengakhirkan sahur Baginda.Antara hikmah mengakhirkan atau melewatkan sahur adalah:1. Sekiranya seseorang bangun awal untuk bersahur, tentu sekali setelah selesai bersahur dia akan kembali ke tempat tidur. Hal ini memungkinkan seseorang itu meninggalkan solat Subuh.2. Mengakhirkan bersahur juga boleh menambahkan kekuatan bagi orang yang berpuasa. Sekiranya seseorang bersahur terlalu awal maka ia akan menyebabkan seseorang itu cepat berasa lapar, dahaga dan keletihan pada siang harinya__._,_.___

Friday, September 05, 2008

Khusyuk dalam Shalat

Dr H Shobahussurur MA - detikRamadan

Jakarta - Sahabat Rasulullah SAW, Hudzaifah r.a mensinyalir bahwa hal pertama yang akan lenyap dari agama Islam adalah khusyu', sedangkan yang terakhir adalah shalat. Kelak akan banyak orang yang mengerjakan shalat, tapi tidak memperoleh kebaikan di dalamnya. Kamu hampir tidak menemukan seorangpun yang melaksanakan shalat dengan khusyu' ketika masuk ke dalam masjid.

Hudzaifah r.a. selanjutnya berkata: "Hindarilah olehmu khusyu' munafiq, yaitu kamu melihat tubuh seseorang dalam keadaan khusyu' tapi hatinya tidak". Fudhail bin Iyadh menambahkan: "Sangat dibenci ketika seseorang kelihatan khusyu', padahal hatinya tidak demikian.

Ketika ada seseorang yang kedua pundak dan badannya kelihatan khusyu', maka dikatakan kepadanya: "Hai Fulan, khusyu' ada di sini sambil menunjuk dadanya dan bukan disini sambil menunjuk kedua pundaknya". (Ibn Qayyim, Madârij al-Sâlikîn, 1/521).

Ibn Taimiyyah menjelaskan bahwa khusyu' dalam shalat dapat timbul karena dua hal, yaitu: 1)- karena keinginan yang kuat, dan 2)- kemampuan mengatasi rintangan.

Keinginan kuat dimaksudkan kesungguhan seseorang dalam merenungkan, memahami, dan menghayati ucapan dan bacaan dalam shalat, dengan keyakinan bahwa dia saat shalat itu sedang berkomunikasi dengan Allah, sebagaimana sabda Rasulullah tentang makna al-ihsân: Engkau beribadah kepada Allah seakan-akan Engkau melihat-Nya, dan jika Engkau tidak melihat-Nya, sesungguhnya Dia melihatmu". (H.R. al-Bukhârî).

Kemampuan mengatasi rintangan maksudnya adalah tekad yang kuat untuk menolak segala hal yang dapat melalaikan hati dari tafakur dan berzikir kepada Allah selama menunaikan shalat. Menghindarkan perasaan was-was (keraguan) dalam shalat karena gangguan nafsu syahwat. (Ibn Taimiyyah, Majmû' al-Fatâwâ, 22/606-607).

Oleh karena itu dalam rangka menghadirkan khusyu' dalam shalat diperlukan usaha-usaha, antara lain:
1. Melakukan persiapan awal sebelum mendirikan shalat, dengan terlebih dahulu menghayati lafadz Azan yang dikumandangkan oleh muazin, lalu mengikutinya dengan doa. Kemudian mensucikan diri dari hadats kecil dan besar, lengkap dengan melakukan rukun dan sunnahnya. Menggunakan pakaian yang suci dan bersih dengan memperhatikan bahwa pakaian yang dipakai itu didapatkan dari cara-cara yang halal, menutup aurat, membersihkan tempat shalat, menuju ke masjid dengan tenang sambil berzikir dan berdoa, meluruskan dan merapikan barisan, serta mengkondisikan suasana di masjid itu tenang dan aman.

2. Melakukan gerakan-gerakan dalam shalat secara thuma'nînah (tenang), baik ketika berdiri, ruku', sujud, bangun dari sujud, dan begitu seterusnya. Sabda Nabi Saw.: "Tidak sempurna shalat salah satu di antara kalian, sehingga dia melakukan gerakan-gerakan shalat secara thuma'nînah (tenang). H.R. Abu Daud. Nabi memberi perumpamaan orang yang shalat tanpa thuma'nînah itu ibarat pencuri yang mencuri shalatnya, mencuri ruku' dan sujudnya karena tidak menyempurnakannya.

3. Mengingat kematian di dalam shalat. Rasulullah berpesan kepada Abi Ayyub r.a.: "Apabila kamu berdiri untuk melaksanakan shalat, maka shalatlah seperti orang yang pamitan (pergi tak kembali). H.R Ahmad. Dalam hadits riwayat Ibn Hajar, Rasulullah bersabda: "Ingatlah akan kematian dalam shalatmu, karena jika seorang mengingat kematian dalam shalatnya niscaya akan menyempurnakan pelaksanaan shalatnya. Hendaknya kamu melaksanakan shalat seperti shalatnya orang yang tidak yakin akan dapat melaksanakaan shalat lagi". Dengan begitu seseorang akan melakukan shalat dengan khusyu' karena shalat yang sekarang dilakukan diyakini sebagai shalat terakhir, tidak tahu apakah shalat berikut dapat dilakukan karena kematian telah menjemputnya.

4. Merenungi dan menghayati ayat-ayat dan zikir yang sedang dibaca, yaitu dengan cara mengetahui arti dan makna dari ayat, zikir atau doa yang dibaca. Ada sebuah riwayat dari Hudzaifah r.a., bagaimana Rasulullah menghayati ayat-ayat dan doa yang dibaca dalam shalat.

Bahwa pada suatu malam ketika Rasulullah melaksanakan shalat, maka beliau membaca al-Quran sambil menguaraikannya (membaca pelan-pelan sambil menghayati maknanya). Bila dalam ayat yang dibaca itu ada kata-kata yang mengandung tasbîh (memahasucikan Allah), maka beliau pun bertasbih. Bila ada kalimat Tanya, beliaupun bertanya. Bila ada kalimat yang mengandung makna ta'awudz (memohon perlindungan) , maka beliaupun memohon perlindungan".

H.R. Muslim. Diriwayatkan oleh Aisyah r.a. bahwa pada suatu malam ketika melakukan shalat beliau tidak henti-hentinya menangis. Bilal bertanya: Ya Rasulullah, mengapa Engkau menangis, padahal Allah telah mengampuni dosa-dosamu yang lalu ataupun yang akan dating ?. Beliau menjawab: "Apakah aku tidak boleh menjadi hamba yang pandai bersyukur?. Sesungguhnya pada malam ini telah diturunkan kepadaku ayat-ayat yang menunjukkan kecelakaan bagi orang-orang yang membacanya tetapi tidak merenungi dan menghayati isinya". H.R. Ibn Hibbân.

5. Membaca ayat-ayat dan doa secara tartil (Q.S. al-Muzammil/ 73: 4), dimaksudkan agar orang yang melakukan shalat membaca ayat-ayat secara perlahan sambil bertafakkur memahami isinya, memperbagus suara agarlebih khusyu'. Rasulullah bersabda: "Sesungguhnya manusia yang paling indah suaranya dalam membaca al-Quran adalah orang yang apabila kamu mendengarnya membaca, kamu memandang dia karena takut kepada Allah. H.R. Ibn Mâjah.

6. Yakin bahwa Allah akan mengabulkan doa, zikir dan shalat kita. Kita meyakini bahwa kita sedang berkomunikasi dengan Allah. Apa yang kita baca, permohonan yang kita panjatkan didengar langsung oleh Allah. Maka kita tidak pernah lalai ketika berhadapan dengan-Nya. Raslullah bersabda: Sesungguhnya salah seorang di antara kamu, apabila mendirikan shalat, pada hakikatnya dia sedang bermunajat (memohon kepada Allah). Oleh karena itu hendaklah dia memperhatikan bagaimana cara dia bermunajat kepada Tuhannya". H.R. Hakim.

7. Melakukan gerakan-gerakan shalat sesuai dengan tuntunan yang disyariahkan. Ketika takbir, meletakkan kedua tangan, rujuk, sujud, duduk dan seterunya dilakukan sesuai dengan tuntunan. Tidak membuat cara-cara sendiri, sehingga akhirnya menyalahi tuntunan Rasulullah Saw.

8. Menundukkan pandangan ke arah tempat sujud. Untuk menambah kekhusyu'an, maka orang yang shalat pandangannya hendaknya terpusat pada satu titik, yaitu tempat sujud. Tidak menoleh ke sana kemari, ke atas atau ke kiri kanan. Diriwayatkan dari Aisyah r.a. bahwa Rasulullah Saw apabila mendirkan shalat, beliau menundukkan kepalanya dan mengarahkan pandangannya ke tempat sujud. H.R. Hakim. Pada waktu duduk tasyahud, beliau memberi isyarat dengan telunjuknya disertai dengan mengarahkan pandangannya kepada isyarat tersebut. H.R. Ahmad.

9. Tidak mengerjakan shalat ketika makanan siap saji. Rasulullah bersabda: "Tidak ada shalat ketika makanan telah dihidangkan" (H.R. Muslim). Hal itu dapat dipahami, karena orang yang shalat akan terganggu ingatannya menuju makanan yang dihidangkan itu.

10. Tidak mengerjakan shalat dalam keadaan menahan kentut, buang air kecil atau besar. H.R. Abu Daud menjelaskan bahwa Rasulullah Saw. menyuruh buang air dulu sebelum melakukan shalat. Bahkan andaikata pada saat shalat keinginan buang hajat itu muncul, maka hendaknya membatalkan shalatnya untuk segera buang air. Sabda Nabi Saw: Tidak ada shalat di hadapan makanan, dan tidak ada pula ketika berkeinginan buang air kecil atau besar". H.R. Muslim.

11. Tidak mengerjakan shalat ketika mengantuk. Rasulullah bersabda: Apabila seorang di antara kamu mengantuk ketika mengerjakan shalat, hendaknya dia tidur dulu sehingga mengerti apa yang diucapkan. H.R. al-Bukhari. Hal itu terjadi biasanya pada waktu shalat malam atau shalat Shubuh. Khusyu' tentu tidak dapat diraih ketika kantuk itu datang.

12. Tidak melakukan gerakan-gerakan diluar gerakan yang diajarkan dalam shalat, umpamanya merapikan pakaian, tempat shalat, mengaruk-garuk badan, menguap, meludah pada waktu shalat. Rasulullah bersabda: Janganlah kamu meratakan (membersihkan) tanah tempat sujud ketika shalat, namun jika mesti dikerjakan maka cukup satu kali saja". H.R. Abu Daud. Juga kegiatan-kegiatan lain diluar gerakan shalat hendaknya dihindari, agar dapat berkonsentrasi pada bacaan-bacaan shalat.

Marilah kita belajar khusyu' dalam shalat sehingga shalat kita memberikan arti bagi kita dan orang lain. Jangan sampai shalat kita hanya sekedar menjadi kegiatan rutin tak bermakna yang membebani setiap pelakunya. "Sesungguhnya shalat itu sungguh berat kecuali bagi orang-orang yang khusyu' (Q.S. al-Baqarah/2: 45).

Mari kita jadikan shalat sebagai kegiatan rutin yang kita cintai, senang melaksanakannya, menghayati kandungannya, dan membawa pengaruh positif bagi kehidupan kita. Kita berlindung kepada Allah dari hati yang tidak khusyu', lalai dalam shalat, dan sia-sia saja apa kita kerjakan. Naûdzu billâh.

*) Dr. H. Shobahussurur, M.A.; Ketua Takmir Masjid Agung Al Azhar(asy/asy)__._,_.___

Monday, September 01, 2008

10 Langkah Mengisi Ramadhan Bersama Anak

Ustadzah Herlini Amran


Shaum (puasa) Ramadan adalah salah satu pilar dari Rukun Islam. Maka mendidik anak untuk berpuasa Romadhon menjadi kewajiban keislaman yang integral bagi para orang tua. Para sahabat Rasul telah mendidik putra-putri mereka yang masih kecil untuk berpuasa. Seperti yang dituturkan shahabiyah Rubayyi' binti Mu'awwiz tentang bagaimana cara mereka mendidik anak-anak mereka berpuasa Asyura (sebelum diwajibkan puasa Romadhon: " ...dan kami melatih anak-anak kami yang masih kecil untuk berpuasa. Kami bawa mereka ke masjid dan kami buatkan mereka mainan dari bulu. Apabila diantara mereka ada yang merengek minta makan, maka kami bujuk dengan mainan itu terus hingga tiba waktu berbuka" (HR. Bukhari Muslim).

Dari riwayat diatas, kita dapat mengetahui bahwa para sahabat memberikan perhatian yang serius dalam melatih putra-putri mereka untuk membiasakan berpuasa. Lantas apa yang dapat kita lakukan saat ini untuk meneladani tradisi sahabat tadi ? Ada 10 panduan yang perlu kita perhatikan :

1- Melakukan pengkondisian menyambut Ramadhan dengan memberi bekalan pemahaman yang memadai tentang keutamaan Ramadhan. Jika pengkondisian ini dilakukan berulang-ulang sejak sebelum Ramadhan tiba, sangat mungkin akan tumbuh niat yang kuat pada anak untuk berpuasa Ramadhan.

2- Menyambut Ramadhan dengan keriangan dan keceriaan. Rasulullah telah menasehati Abdullah bin Mas'ud untuk menyambut Ramadhan dengan wajah yang berseri tidak cemberut. Jika kita perluas keceriaan tadi, dapat juga dengan cara memberi dekorasi yang khas pada kondisi rumah, sehingga anak semakin menyadari akan keistimewaan Ramadhan dibandingkan bulan lainnya. Hal ini akan menstimulus mereka untuk berpuasa. Dibuat sedemikian rupa sehingga bulan Ramadhan adalah hari-hari yang paling indah untuk dikenang sang anak hingga mereka remaja dan dewasa. Ini tentu akan lebih mudah tercapai jika ada peran serta masyarakat umum dan pemerintah dengan menghidupkan syiar-syiar Ramadhan di jalan raya, perkantoran, pabrik, media masa dan lain-lain.

3- Menata jam tidur anak-anak sehingga akan mudah bergairah saat bangun sahur. Waktu sahur sebaiknya diakhirkan (kira-kira satu atau setengah jam menjelang salat subuh) sebagaimana anjuran Rasulullah. Hikmahnya antara lain agar setelah sahur tidak terlalu lama menunggu waktu subuh.

4- Tidak meletakkan makanan, minuman dan buah-buahan secara terbuka, sehingga akan menggoda mereka untuk segera membatalkan puasanya. Makanan diletakkan pada tempat yang jauh dari perhatian mereka. Hal ini juga sepatutnya diperhatikan oleh restoran dan penjaja makanan dipinggir jalan.

5- Terhadap anak yang baru berlatih puasa (belum kuat dan gampang terpengaruh), sebaiknya mereka dijauhkan bermain dari anak-anak yang malas berpuasa. Dan didekatkan dengan anak-anak lainanya yang juga tekun berlatih. Ini perlu dilakukan agar mereka memperoleh rasa kebersamaan, bukan keterasingan karena puasanya.

6- Melatih berpuasa dengan bertahap dan menjanjikan hadiah sebagai rangsangan. Misalnya di awali dengan izin berbuka sampai jam 10, lalu jam 12 dan seterusnya sampai akhirnya penuh sampai waktu berbuka. Hadiahnya disamping penghargaan dan pujian sebagai anak yang sabar, juga dapat diberikan hadian lain yang beraspek mendidik berupa alat-alat belajar.

7- Stimulus dengan pahala dan surga dari Allah. Jadi hadiah materi diatas tak menutupi stimulus ganjaran Allah. "Jika kamu berpuasa, maka kamu ikut membuka pintu pahala dari Allah bagi orangtuamu yang telah mendidikmu untuk berpuasa" . Anak akan senang karrena sekaligus dapat berbuat sesuatu kebaikan untuk orangtuanya.

8- Memberi alternatif pengisian waktu yang tepat dan positif. Baik dengan istirahat tidur di siang panas, maupun dengan alternatif permainan yang mendidik untuk melupakan mereka dengan rasa haus dan lapar yang menyengat. Sebagaimana yang telah dilakukan shahabiyah di masa Rasul. Saat ini sudah ada pesantren Ramadhan untuk anak-anak dan remaja, ini juga alternatif kegiatan yang menyenangkan bagi mereka. Atau orangtua dapat juga bersepakat dengan anak-anaknya untuk memasang target, bahwa seusai bulan Ramadhan kemampuan mereka mengaji Al Quran harus lancar dan lebih baik. Perhatian kepada Al Quran memang harus lebih besar di bulan Ramadhan, karena Al Quran diturunkan pertama kali pada bulan ini. Dapat pula orang tua membacakan kisah-kisah keteladanan Islami, atau mendengarkan kaset-kaset cerita Islami.

9- Mengajak anak-anak untuk meramaikan syiar Ramadhan, seperti sholat tarawih berjamaah di masjid, mengaji dan mengkaji Quran, menyimak ceramah-ceramah agama, menyuruh mereka mengantar makanan ke masjid untuk orang yang berbuka puasa, lebih menggemarkan berinfak, shadaqah dan lainnya.

10- Khusus untuk para orang tua, jika mereka menyepelekan pendidikan puasa Ramadhan bagi anak-anaknya, maka mereka harus siap bertanggung jawab kepada Allah kelak di akhirat, jika putra-putrinya kemudian melalaikan kewajiban puasa Ramadhan. Oleh karena itu mereka harus memanfaatkan semaksimal mungkin pembiasaan puasa Ramadhan bagi anak-anaknya sejak dini. Dengan perhatian yang intens dan cara-cara yang bijak, niscaya dapat menggugah kesadaran anak-anak untuk berpuasa. Kesadaran itu tentu akan merupakan tabungan ibadah bagi para orang tua yang telah mendidik mereka.

Jika hal-hal di atas kita lakukan, maka Insya Allah keberkahan Romadhon akan turun ke setiap keluarga muslim

10 langkah mengisi Ramadhan bersama Anak ini diambil dari buku kecil
yang diterbitkan (dan di susun)oleh BINA MITRA (Akh. Beni ).

Kedudukan Ibadah Ramadahan dan Amalan2nya

Ibadah puasa merupakan Rukun Islam yang ke 3 dan wajib hukumnya. Sesuai dengan firman Allah SWT, dalam surat Albaqarah ayat 183 :

Artinya : Hai orang2 beriman, diwajibkan atasmu berpuasa sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, semoga kamu bertaqwa.

Melalui ayat ini dapat kita pahami bahwa puasa adalah wajib keatas seluruh anggota badan. Lidah berpuasa, yaitu dengan menghindarkan diri dari berkata dusta, berbohong dan sebagainya. Telinga berpuasa, yaitu tidak mendengarkan hal2 yang diharamkan oleh agama. Mata berpuasa, yaitu tidak melihat hal2 yang melalaikan dan hal2 yang mengharamkan untuk dilihat. Begitu juga dengan seluruh anggota badan lainnya. Sehingga hawa nafsu pun berpuasa yaitu menghindar dari ketamakan dan nafsu syahwat. Puasa hati yaitu menghilangkan kecintaan kita terhadap keduniaan. Puasa ruhani yaitu mengingat kelezatan dan keni'matan akhirat. Puasa pikiran yaitu mengosongkan pikiran kita dari berpikir selain kepada Allah Ta'ala.
Menurut pandangan Imam Al-Ghazali, bahwa puasa ada 3 ( tiga) tingkatan :
1. Puasa orang awam
2. Puasa orang khusus.
3. Puasa orang super khusus.
Puasa orang awam ialah, menahan perut dan kemaluan dari memperturutkan syahwat. Puasa orang khusus ialah, menahan pendengaran, penglihatan, lisan, tangan, kaki dan semua anggota badan dari berbagai dosa. Sedangkan puasa orang khusus ialah, puasa hati dari berbagai keinginan yang rendah dan pikiran2 yang tidak berharga, juga menahan hati dari selain Allah secara total, dan puasa ini menjadi "batal" karena fikiran tentang selain Allah dan hari akhir, karena fikiran tentang dunia, kecuali dunia yang dimaksudkan untuk agama, karena dunia yang dimaksudkan untuk agama sudah termasuk bekal akhirat dan tidak lagi dikatakan sebagai dunia. Ini merupakan tingkatan para Nabi, Rasul, Shiddiqin dan Muqarrabin.

Adapun puasa orang khusus ialah puasa orang-orang shalih yaitu menahan anggota badan dari berbagai dosa. Sedangkan kesempurnaannya ialah dengan 6 (enam) perkara :
1. Menundukkan pandangan dan menahannya dari berkeliaran memandang kesetiap hal yang dicela dan dibenci, kesetiap hal yang bisa menyibukkan hati melalikan dari mengingat Allah SWT. Nabi SAW bersabda :
" pandangan adalah salah satu anak panah beracun diantara anak panah iblis, semoga Allah melaknatinya. Barangsiapa meninggalkannya karena takut kepada Allah maka ia telah diberi Allah keimanan yang mendapatkan kelezatannya didalam hatinya." ( Diriwayatkan oleh al-Hakim dan ia men-shahihkan sanad-nya)

2. Menjaga lisan dari bualan, dusta, ghibah, gunjingan, kekejian, perkataan kasar, pertengkaran, dan perdebatan. Mengendalikannya dengan diam, menyibukkan dengan dzikrullah dan tilawah al-Qur'an.

3. Menahan pendengaran dari mendengarkan setiap hal yang dibenci (makruh) karena setiap yang diharamkan perkataannya diharamkan pula mendengarkannya. Oleh sebab itu Allah menyamakan antara orang yang mendengarkan dan orang yang memakan barang yang haram. Firman-Nya : " Mereka itu adalah orang-orang yang suka mendengar berita bohong, banyak memakan yang haram. " ( al-Ma'idah :42 ).

4. Menahan berbagai anggota badan lainya dari berbagai dosa, seperti menahan tangan dan kaki dari hal2 yang dibenci, menahan perut dari berbagai syubhat pada waktu tidak puasa. Tidak ada artinya berpuasa, yaitu menahan makanan yang halal, kemudian berbuka puasa dengan barang yang haram. Orang berpuasa seperti ini laksana orang yang membangun istana tetapi ia menghancurkan negeri.

5.Tidak memperbanyak makanan ( yang halal tentunya) pada saat berbuka puasa sampai penuh perutnya. Sehingga sangat menyulitkan untuk melakukan Ibadah pada malam harinya.

6. Hendaknya setelah ifthar hatinya " tergantung " dan " terguncang " antara cemas dan harap, sebab ia tidak tahu apakah puasanya diterima sehingga termasuk golongan Muqarrabin atau ditolak sehingga termasuk orang2 yang dimurkai.

Kemudian amalan-amalan yang dapat kita lakukan pada bulan Ramadhan a/l :
1. Tilawah dan Tadabur al-Qur'an.

2. Sholat tarawih dan witir.

3. Zakat, infaq dan sedekah.

Untuk masalah amalan2 ini saya akan coba mengutip suatu hadist panjang yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas r.a :

Bahwa dia mendengar Rasulullah s.a.w bersabda, " Sesungguhnya surga itu semerbak wangi dan dihiasi dari tahun ke tahun untuk menyambut datangnya bulan Ramadhan. Apabila datang malam pertama dari bulan Ramadhan, bertiuplah angin dari bawah Arsy yang disebut Al-Mutsirah, sehingga daun-daun pepohonan surga bergesekan, juga gagang daun-daun pintu. Hal itu menyebabkan terdengarnya suara dengungan indah dimana para pendengar tidak pernah mendengarkan suara yang lebih indah daripadanya. Kemudian para bidadari bermata jeli bermunculan sehingga berdiri dihalaman surga, kemudian mereka memanggil, " Apakah ada orang yang berdo'a kepada Allah agar Dia mengawinkanku dengannya ?" Selanjutnya bidadari itupun berkata, " Wahai Ridwan penjaga surga, malam apakah ini?" Dia menjawab mereka dengan "labbaik", lalu mengatakan, " Ini adalah malam pertama dari bulan Ramadhan. Maka pintu-pintu surga dibuka untuk orang-orang yang berpuasa dari umat Muhammad s.a.w. " Dia mengatakan," Allah Azza Wa Jalla berfirman , 'Wahai Ridwan, bukalah pintu-pintu surga. Dan wahai Malik, tutuplah pintu-pintu neraka bagi orang-orang yang berpuasa dari umat Muhammad s.a.w. Wahai Jibril, turunlah ke bumi, ikatkan setan-setan durjana, belenggulah mereka dengan rantai dan buanglah ke lautan sehingga mereka tidak bisa merusak puasa umat Muhammad, kekasih-Ku s.a w.' " Dia mengatakan, Allah Azza Wa Jalla juga berfirman pada tiap malam dari bualn Ramadhan kepada seorang penyeru yang menyeru tiga kali, " Adakah sesiapa yang memohon, maka Aku akan memenuhi permohonannya. Dan adakah sesiapa yang bertaubat, maka Aku akan menerima taubatnya. Dan adakah sesiapa yang memohon ampun, maka Aku akan mengampuninya. Sesiapa yang telah memberikan pinjaman kepada Dzat Yang Kaya maka tidak pernah berkekurangan, dan Dzat yang memenuhi janji tanpa menganiaya. " Dia mengatakan, "Setiap hari pada bulan Ramadhan, yaitu pada saat berbuka, Allah membebaskan sejuta ruh dari neraka yang telah dimasukan ke dalam neraka. kemudian apabila pada hari akhir dari bulan Ramadhan, maka pada hari itu Allah membebaskan sejumlah ruh yang telah Dia bebaskan dari awal hingga akhir bulan. Dan pada malam Lailatul-Qadar, Allah Azza Wa Jalla memerintahkan Jibril sehingga dia turun sekumpulan malaikat, mereka membawa bendera hijau, kemudian mereka menancapkan bendera itu diatas Ka'bah. Dia memiliki seratus sayap, dua diantaranya tidak pernah dia rentangkan kecuali pada malam itu. Kemudian dia merentangkannya pada malam itu, sehingga menutupi jagat timur sampai barat. Kemudian Jibril a.s memerintahkan para malaikat supaya memberi salam kepada setiap orang yang berdiri maupun duduk bershalat dan berdzikir, bersalaman dengan mereka dan turut mengucapkan amin atas doa-doa mereka sehingga terbit fajar. Kemudian apabila terbit fajar Jibril memanggil, " Wahai para malaikat, berpisah-pisahlah." Mereka berkata, " Wahai Jibril, apakah yang dilakukan Allah mengenai hajat orang-orang mukmin dari umat Muhammad s.a.w ? " Jibril berkata, " Allah telah memandang kepada mereka pada malam ini. Maka Dia mengampuni mereka, kecuali empat orang." Maka kami (sahabat) berkata, " Wahai Rasulullah, siapakah mereka itu ?" Beliau bersabda, " Yaitu orang yang kecanduan khamr, orang yang durhaka kepada orang tuanya, orang yang memutuskan hubungan sanak saudara, dan pemusuh." Kami bertanya, " Wahai Rasulullah, siapakah pemusuh itu ? " Beliau bersabda, " Orang yang membenci dan memutudkan saudaranya. Apabila tiba malam hari raya ( Idul Fitri) maka malam itu dinamakan Malam Jaizah ( malam pembagian hadiah). Lalu apabila tiba Idul Fitri, Allah Azza Wa Jalla mengutus para malaikat di tiap-tiap negeri kemudian mereka turun kebumi. Mereka berdiri di mulut lorong-lorong, lalu memanggil dengan suara yang didengar oleh seluruh makhluk Allah kecuali jin dan manusia. Mereka mengatakan, " Wahai umat Muhammad, keluarlah kepada Tuhan Yang Mulia, yang memberi hadiah dan mengampuni dosa-dosa besar." Manakala mereka keluar ke mushalla mereka, maka Allah Azza Wa Jalla berfirman kepada para malaikat, " Apakah balasan seorang pekerja bila telah menyelesaikan pekerjaanya?" ( Rasulullah s.a.w) bersabda, " Maka para malaikat mengatakan, " Wahai Tuhan kami, balasannya adalah supaya diberi upah sepenuhnya."
Beliau bersabda, "Lalu Allah berfirman " Sungguh aku jadikan kamu sebagai saksi wahai para malaikat-Ku, bahwa sebenarnya Aku telah memberikan pahala kepada mereka dari puasa mereka pada bulan Ramadhan dab salat (tarawih) mereka berupa keridhaan-Ku, dan ampunan-Ku," Dan Dia berfirman, " Wahai hamba-hamba-Ku, memohonlah kamu kepada-Ku, maka demi kemulian-Ku dan keagungan-Ku, tidaklah kamu meminta sesuatu kepada-Ku dalam pertemuan pada hari ini, untuk akhiratmu, melainkan pasti Aku akan memberimu, dan tidak juga untuk keperluan duniamu, melainkan Aku pasti memandangmu. Maka demi kemulian-Ku, sungguh Aku akan menutupi kesalahan-kesalahan kamu selama kamu takut kepada-Ku. Demi kemulian dan keagungan-Ku, Aku tidak akan menghinakan kamu, juga tidak akan membuka aibmu diantara orang-orang yang melanggar batas. Kembalilah kamu. Telah diampuni kamu. Sungguh kamu ridha kepada-Ku dan aku telah ridha kepadamu." Maka para malaikat bergembira dan bersukaria terhadap apa yang diberikan Allah Azza Wa Jalla kepada umat ini, ketika mereka berhari raya fithrah pada bulan Ramadhan."

Akhirnya, semoga Hikmah Ramadhan ini, insyaAllah bermanfa'at bagi saya dan keluarga serta sisters semua. Kebenaran adalah dari Allah SWT, semua kekeliruan yang ada, saya dengan sangat rendah hati mohon dima'afkan. Wallahu A'lam bis shawab

Rujukan :
Al-Qur'an dan terjemahannya.
Himpunan Fadhillah Amal, oleh: Maulana Muhammad Zakariyya Al-Kandahlawi Rah.a. terjemahan : Ust.A Abdurrahman Ahmad.
Intisari Ihya' Ulumuddin Al-Ghazali, Sa'id Hawwa.

Dikutip oleh Imsa Sister

Hukum mencela, mengolok-ngolok dan ghibah dalam islam

Dikutip dari

Halal dan Haram dalam IslamOleh Syekh Muhammad Yusuf QardhawiAlih bahasa: H. Mu'ammal HamidyPenerbit: PT. Bina Ilmu, 1993

Baca seluruhnya di http://media.isnet.org/islam/Qardhawi/Halal/4042.html

Mendamaikan Persengketaan
Kalau cuaca pertengkaran itu telah cerah kembali sesuai dengan keharusan bersaudara, maka bagi masyarakat Islam mempunyai kewajiban lain. Sebab sepanjang pengertian masyarakat Islam yaitu suatu masyarakat yang saling saling membantu dan saling menolong. Oleh karena itu tidak boleh sementara orang melihat saudaranya bertengkar dan saling membunuh, kemudian dia berdiri sebagai penonton, dan membiarkan api bertambah menyala dan kebakaran makin meluas. Bahkan setiap orang yang arif dan bijaksana serta ada kemampuan, harus terjun ke gelanggang guna mendamaikan persengketaan itu dengan niat semata-mata mencari kebenaran dan jauh dari pengaruh hawa nafsu. Seperti apa yang difirmankan Allah:

"... maka adakanlah perdamaian di antara saudara-saudaramu, dan takutlah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat." (al-Hujurat: 10)
Dalam salah satu hadisnya Rasulullah s.a.w. pernah menjelaskan tentang keutamaan mendamaikan ini, serta bahayanya pertentangan dan perpisahan. Sabda Rasulullah s.a.w.:

"Maukah kamu saya tunjukkan suatu perbuatan yang lebih utama daripada tingkatan keutamaan sembahyang, puasa dan sedekah? Mereka menjawab: Baiklah ya Rasulullah! Maka bersabdalah Rasulullah s.a.w.: yaitu mendamaikan persengketaan yang sedang terjadi; sebab kerusakan karena persengketaan berarti menggundul, saya tidak mengatakan menggundul rambut, tetapi menggundul agama." (Riwayat Tarmizi dan lain-lain)

Jangan Ada Suatu Golongan Memperolokkan Golongan Lain
Dalam ayat-ayat yang telah kami sebutkan terdahulu terdapat sejumlah hal yang dilarang oleh Allah, demi melindungi persaudaraan dan kehormatan manusia.

Larangan pertama. tentang memperolokkan orang lain. Oleh karena itu tidak halal seorang muslim yang mengenal Allah dan mengharapkan hidup bahagia di akhirat kelak, memperolokkan orang lain, atau menjadikan sementara orang sebagai objek permainan dan perolokannya. Sebab dalam hal ini ada unsur kesombongan yang tersembunyi dan penghinaan kepada orang lain, serta menunjukkan suatu kebodohannya tentang neraca kebajikan di sisi Allah. Justru itu Allah mengatakan: "Jangan ada suatu kaum memperolokkan kaum lain, sebab barangkali mereka yang diperolokkan itu lebih baik daripada mereka yang memperolokkan; dan jangan pula perempuan memperolokkan perempuan lain, sebab barangkali mereka yang diperolokkan itu lebih baik daripada mereka yang memperolokkan."

Yang dinamakan baik dalam pandangan Allah, yaitu: iman, ikhlas dan mengadakan kontak yang baik dengan Allah. Bukan dinilai dari rupa, badan, pangkat dan kekayaan.

Dalam hadisnya Rasulullah s.a.w. mengatakan:

"Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa kamu dan kekayaan kamu, tetapi Allah melihat hati kamu dan amal kamu." (Riwayat Muslim)
Bolehkah seorang laki-laki atau perempuan diperolokkan karena suatu cacat di badannya, perangainya atau karena kemiskinannya?

Dalam sebuah riwayat diceriterakan, bahwa Ibnu Mas'ud pernah membuka betisnya dan nampak kecil sekali. Maka tertawalah sebagian orang. Lantas Rasulullah s.a.w. bersabda:

"Apakah kamu mentertawakan kecilnya betis Ibnu Mas'ud, demi Allah yang diriku dalam kekuasaanNya: bahwa kedua betisnya itu timbangannya lebih berat daripada gunung Uhud." (Riwayat Thayalisi dan Ahmad)
Al-Quran juga menghikayatkan tentang orang-orang musyrik yang memperolok orang-orang mu'min, lebih-lebih mereka yang lemah --seperti Bilal dan 'Amman-- kelak di hari kiamat, neraca menjadi terbalik, yang mengolok-olok menjadi yang diolok-olok dan ditertawakan,

Firman Allah:

"Sesungguhnya orang-orang yang durhaka itu mentertawakan orang-orang yang beriman. Dan apabila mereka melalui mereka, mereka berlirik-lirikan. Dan apabila mereka kembali kepada keluarganya, mereka kembali dengan suka cita. Dan apabila mereka melihat mereka itu, mereka berkata: 'Sungguh mereka itu orang-orang yang sesat.' Padahal mereka itu tidak diutus untuk menjadi pengawal atas mereka. Oleh karena itu pada hari ini orang-orang mu'min akan mentertawakan orang-orang kafir itu." (al-Muthaffifin 29-34)
Ayat ini31 dengan tegas dan jelas menyebutkan dilarangnya perempuan mengolok-olok orang lain, padahal perempuan sudah tercakup dalam kandungan kata kaum. Ini menunjukkan, bahwa pengolok-olokan sementara perempuan terhadap yang lain, termasuk hal yang biasa terjadi di kalangan mereka.

Jangan Mencela Diri-Diri Kamu
Larangan kedua: Tentang lumzun, yang menurut arti lughawi berarti: al-wakhzu (tusukan) dan ath-tha'nu (tikaman). Sedang lumzun yang dimaksud di sini ialah: 'aib (cacat). Jadi seolah-olah orang yang mencela orang lain, berarti menusuk orang tersebut dengan ketajaman pedangnya, atau menikam dengan hujung tombaknya.

Penafsiran ini tepat sekali. Bahkan kadang-kadang tikaman lidah justru lebih hebat. Seperti kata seorang penyair:

Luka karena tombak masih dapat diobati
Tetapi luka karena lidah berat untuk diperbaiki.
Bentuk larangan dalam ayat ini mempunyai suatu isyarat yang indah sekali.
Ayat tersebut mengatakan: laa talmizu anfusakum (jangan kamu mencela diri-diri kamu). Ini tidak berarti satu sama lain saling cela-mencela. Tetapi al-Quran menuturkan dengan jama'atul mu'minin, yang seolah-olah mereka itu satu tubuh. Sebab mereka itu secara keseluruhannya saling membantu dan menolong. Jadi barangsiapa mencela saudaranya, berarti sama dengan mencela dirinya sendiri. Karena dia itu dari dan untuk saudaranya.

Jangan Memberi Gelar dengan Gelar-Gelar yang Tidak Baik
Ketiga: Termasuk mencela yang diharamkan, ialah: memberi gelar dengan beberapa gelar yang tidak baik, yaitu suatu panggilan yang tidak layak dan tidak menyenangkan yang membawa kepada suatu bentuk penghinaan dan celaan.

Tidak layak seorang manusia berbuat jahat kepada kawannya. Dipanggilnya kawannya itu dengan gelar yang tidak menyenangkan bahkan menjengkelkan. Ini bisa menyebabkan berubahnya hati dan permusuhan sesama kawan serta menghilangkan jiwa kesopanan dan perasaan yang tinggi.

Su'uzh-Zhan (Berburuk Sangka)
Keempat: Islam menghendaki untuk menegakkan masyarakatnya dengan penuh kejernihan hati dan rasa percaya yang timbal balik; bukan penuh ragu dan bimbang, menuduh dan bersangka-sangka,

Untuk itu, maka datanglah ayat al-Quran membawakan keempat sikap yang diharamkan ini, demi melindungi kehormatan orang lain. Maka berfirmanlah Allah:

"Hai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak menyangka, karena sesungguhnya sebagian sangkaan itu berdosa." (al-Hujurat: 12)
Sangkaan yang berdosa, yaitu sangkaan yang buruk.

Oleh karena itu tidak halal seorang muslim berburuk sangka terhadap saudaranya, tanpa suatu alasan dan bukti yang jelas. Sebab manusia secara umum pada asalnya bersih. Oleh karena itu prasangka-prasangka tidak layak diketengahkan dalam arena kebersihan ini justru untuk menuduh. Sabda Nabi:

"Hati-hatilah kamu terhadap prasangka, karena sesungguhnya prasangka itu sedusta-dusta omongan." (Riwayat Bukhari)
Manusia karena kelemahan sifat kemanusiaannya, tidak dapat menerima prasangka dan tuduhan oleh sebagian manusia, lebih-lebih terhadap orang-orang yang tidak ada hubungan baik.

Oleh karena itu sikap yang harus ditempuh, dia harus tidak menerima tuduhan itu dan berjalan mengikuti suara nafsu tersebut.

Inilah makna hadis Nabi yang mengatakan:

"Kalau kamu akan menyangka, maka jangan kamu nyatakan." (Riwayat Thabarani)

Tajassus (Memata-matai)
Kelima: Tidak adanya kepercayaan terhadap orang lain, menyebabkan seseorang untuk melakukan perbuatan batin yang disebut su'uzh-zhan dan melakukan perbuatan badan yang berbentuk tajassus. Sedang Islam bertujuan menegakkan masyarakatnya dalam situasi bersih lahir dan batin. Oleh karena itu larangan bertajassus ini dibarengi dengan larangan su'uzh-zhan (berburuk sangka). Dan banyak sekali su'uzh-zhan ini terjadi karena adanya tajassus.

Setiap manusia mempunyai kehormatan diri yang tidak boleh dinodai dengan tajassus dan diselidiki cacat-cacatnya, sekalipun dia berbuat dosa, selama dilakukan dengan bersembunyi.

Abul Haitsam sekretaris Uqbah bin 'Amir --salah seorang sahabat Nabi-- berkata: saya pernah berkata kepada Uqbah: saya mempunyai tetangga yang suka minum arak dan akan saya panggilkan polisi untuk menangkapnya. Maka kata Uqbah: Jangan! Tetapi nasehatilah mereka itu dan peringatkanlah. Abul Haitsam menjawab: Sudah saya larang tetapi mereka tidak mau berhenti, dan tetap akan saya panggilkan polisi untuk menangkapnya. Uqbah berkata: Celaka kamu! Jangan! Sebab saya pernah mendengar Rasulullah s.a.w. berkata:

"Barangsiapa menutupi suatu cacat, maka seolah-olah ia telah menghidupkan anak yang ditanam hidup-hidup dalam kuburnya." (Riwayat Abu Daud, Nasa'i, Ibnu Hibban)
Rasulullah s.a.w. menilai, bahwa menyelidiki cacat orang lain itu termasuk perbuatan orang munafik yang mengatakan beriman dengan lidahnya tetapi hatinya membenci. Kelak mereka akan dibebani dosa yang berat di hadapan Allah.

Dalam hadis Nabi yang diriwayatkan dari Ibnu Umar ia berkata: Rasulullah s.a.w, pernah naik mimbar kemudian menyeru dengan suara yang keras:

"Hai semua orang yang telah menyatakan beriman dengan lidahnya tetapi iman itu belum sampai ke dalam hatinya! Janganlah kamu menyakiti orang-orang Islam dan jangan kamu menyelidiki cacat-cacat mereka. Sebab barangsiapa menyelidiki cacat saudara muslim, maka Allah pun akan menyelidiki cacatnya sendiri; dan barangsiapa yang oleh Allah diselidiki cacatnya, maka Ia akan nampakkan kendatipun dalam perjalanan yang jauh." (Riwayat Tarmizi dan Ibnu Majah)
Maka demi melindungi kehormatan orang lain, Rasulullah s.a.w. mengharamkan dengan keras seseorang mengintip rumah orang lain tanpa izin; dan ia membenarkan pemilik rumah untuk melukainya. Seperti sabda Nabi:

"Barangsiapa mengintip rumah suatu kaum tanpa izin mereka, maka halal buat mereka untuk menusuk matanya." (Riwayat Bukhari dan Muslim)
Diharamkan juga mendengar-dengarkan omongan mereka tanpa sepengetahuan dan perkenannya. Sabda Nabi:

"Barangsiapa mendengar-dengarkan omongan suatu kaum; sedang mereka itu tidak suka, maka kelak di hari kiamat kedua telinganya akan dituangi cairan timah." (Riwayat Bukhari)
Al-Quran mewajibkan kepada setiap muslim yang berkunjung ke rumah kawan, supaya jangan masuk lebih dahulu, sehingga ia minta izin dan memberi salam kepada penghuninya.

Firman Allah:

"Hai orang-orang yang beriman! Jangan kamu masuk rumah selain rumah-rumah kamu sendiri, sehingga kamu minta izin lebih dahulu dan memberi salam kepada pemiliknya. Yang demikian itu lebih baik bagi kamu, supaya kamu ingat. Maka jika kamu tidak menjumpai seorang pun dalam rumah itu, maka jangan kamu masuk, sehingga kamu diberi izin. Dan jika dikatakan kepadamu: kembalilah! Maka kembalilah kamu. Yang demikian itu lebih bersih buat kamu, dan Allah Maha Menge tahui apa saja yang kamu kerjakan." (an-Nur: 27-28)
Di dalam hadis Nabi, juga dikatakan:

"Barangsiapa membuka tabir kemudian dia masukkan pandangannya sebelum diizinkan, maka sungguh dia telah melanggar suatu hukum yang tidak halal baginya untuk dikerjakan." (Riwayat Ahmad dan Tarmizi)
Nas-nas larangan tentang tajassus dan menyelidiki cacat orang lain ini meliputi hakim dan yang terhukum, seperti yang diterangkan dalam hadis yang diriwayatkan oleh Mu'awiyah dari Rasulullah s.a.w. ia bersabda:

"Sesungguhnya kamu jika menyelidiki carat orang lain, berarti kamu telah merusak mereka atau setidak-tidaknya hampir- merusak mereka itu." (Riwayat Abu Daud dan ibnu Hibban)
Abu Umamah meriwayatkan dari Rasulullah s.a.w., ia bersabda:

"Sesungguhnya seorang kepala apabila mencari keraguraguan terhadap orang lain, maka ia telah merusak mereka." (Riwayat Abu Daud)

Ghibah (Mengumpat)

Keenam: Kita dilarang ghibah (mengumpat). Seperti firman Allah:
"Dan jangan sebagian kamu mengumpat sebagiannya." (al-Hujurat: 12)

Rasulullah s.a.w. berkehendak akan mempertajam pengertian ayat tersebut kepada sahabat-sahabatnya yang dimulai dengan cara tanya-jawab, sebagaimana tersebut di bawah ini:
"Bertanyalah Nabi kepada mereka: Tahukah kamu apakah yang disebut ghibah itu? Mereka menjawab: Allah dan RasulNya yang lebih tahu. Maka jawab Nabi, yaitu: Kamu membicarakan saudaramu tentang sesuatu yang ia tidak menyukainya. Kemudian Nabi ditanya: Bagaimana jika pada saudaraku itu terdapat apa yang saya katakan tadi? Rasulullah s.a.w. menjawab: Jika padanya terdapat apa yang kamu bicarakan itu, maka berarti kamu mengumpat dia, dan jika tidak seperti apa yang kamu bicarakan itu, maka berarti kamu telah menuduh dia." (Riwayat Muslim, Abu Daud, Tarmizi dan Nasa'i)

Manusia tidak suka kalau bentuknya, perangainya, nasabnya dan ciri-cirinya itu dibicarakan. Seperti tersebut dalam hadis berikut ini:
"Dari Aisyah ia berkata: saya pernah berkata kepada Nabi: kiranya engkau cukup (puas) dengan Shafiyah begini dan begini, yakni dia itu pendek, maka jawab Nabi: Sungguh engkau telah berkata suatu perkataan yang andaikata engkau campur dengan air laut niscaya akan bercampur." (Riwayat Abu Daud, Tarmizi dan Baihaqi)

Ghibah adalah keinginan untuk menghancurkan orang, suatu keinginan untuk menodai harga diri, kemuliaan dan kehormatan orang lain, sedang mereka itu tidak ada di hadapannya. Ini menunjukkan kelicikannya, sebab sama dengan menusuk dari belakang. Sikap semacam ini salah satu bentuk daripada penghancuran. Sebab pengumpatan ini berarti melawan orang yang tidak berdaya.

Ghibah disebut juga suatu ajakan merusak, sebab sedikit sekali orang yang lidahnya dapat selamat dari cela dan cerca.
Oleh karena itu tidak mengherankan, apabila al-Quran melukiskannya dalam bentuk tersendiri yang cukup dapat menggetarkan hati dan menumbuhkan perasaan.
Firman Allah:
"Dan jangan sebagian kamu mengumpat sebagiannya; apakah salah seorang di antara kamu suka makan daging bangkai saudaranya padahal mereka tidak menyukainya?!" (al-Hujurat: 12)
Setiap manusia pasti tidak suka makan daging manusia.
Maka bagaimana lagi kalau daging saudaranya? Dan bagaimana lagi kalau daging itu telah menjadi bangkai?

Nabi memperoleh pelukisan al-Quran ini ke dalam fikiran dan mendasar di dalam hati setiap ada kesempatan untuk itu.
Ibnu Mas'ud pernah berkata:
"Kami pernah berada di tempat Nabi s.a.w., tiba-tiba ada seorang laki-laki berdiri meninggalkan majlis, kemudian ada seorang laki-laki lain mengumpatnya sesudah dia tidak ada, maka kata Nabi kepada laki-laki ini: Berselilitlah kamu! Orang tersebut bertanya: Mengapa saya harus berselilit sedangkan saya tidak makan daging? Maka kata Nabi: Sesungguhnya engkau telah makan daging saudaramu." (Riwayat Thabarani dan rawi-rawinya rawi-rawi Bukhari)

Dan diriwayatkan pula oleh Jabir, ia berkata:
"Kami pernah di tempat Nabi s.a.w. kemudian menghembuslah angin berbau busuk. Lalu bertanyalah Nabi: Tahukah kamu angin apa ini? Ini adalah angin (bau) nya orang-orang yang mengumpat arang-orang mu'min." (Riwayat Ahmad dan rawi-rawinya kepercayaan)

Puasa dengan Itqan dan Ihsan

By Mohamad Joban


Setiap tahun kita melaksanakan puasa, dan kita mengetahui serta menyadari akan hikmat dan tujuan berpuasa, yaitu untuk membina manusia muslim yang bertaqwa, dan bebudi luhur. Namun sayang secara realita nampaknya hanya sedikit yang berhasil mencapai tujuan puasa diatas. Kira-kira apa sebabnya?

Sebabnya adalah karena banyak diantara kita -ummat Islam- yang kurang memahami apa yang diinginkan oleh Allah ketika kita melakukan suatu ibadah atau amal-amal soleh? Padalah itu merupakan suatu kunci dari bernilai atau tidaknya suatu ibadah atau amal disisi Allah. Dengan kata lain memahami apa yang diinginkan oleh Allah itu adalah merupakan kunci sukses suatu ibadah atau amal.

Apa yang Allah inginkan?
Yang Allah inginkan dalam kita beribadah dan beramal adalah ibdah dan amal itu dilakukan dengan Itqan dan Ihsan



APA ITU ITQAN DAN IHSAN?


Kata-kata Itqan ini sulit untuk diterjemahkan kedalam bahasa kita (Indonesia) atau bahasa apa saja. Untuk memahaminya, mari kita lihat penggunaanya dalam Al-Qur'an.


"Dan kamu lihat gunung-gunung itu, kamu sangka dia tetap ditempatnya, padahal ia berjalan sebagai jalannya awan. (Begitulah) perbuatan Allah yang membuat dengan "Itqan" (kokoh, sempurna, arsitektur, indah dsb) tiap-tiap sesuatu; sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan." (27:88)


"Yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan dengan sebaik-baiknya (ahsanu)…" (32:7)


"Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalanya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pangampun." (67:2)


Jadi kata Itqan dan Ihsan sesuai dengan beberapa ayat diatas adalah suatu pekerjaan yang dilakukan dengan perencanaan yang baik, disiplin, akurat, seimbang, kokoh, tepat pada waktunya, dan indah.


Adapun Ihsan (baik, bagus) adalah-seperti dalam Hadiht- "Usaha untuk menghadirkan Allah ketika beribadah, atau kalau belum mampu, meyakin dalam diri bahwa Allah sedang mengawasi".

Jadi mengapa kita belum bisa mencicipi buahnya ibadah puasa adalah karena kebanyakan kita tidak malaksanakan ibadah tersebut dengan Itqan dan Ihsan tadi. Kebanyakan kita puasa hanya untuk menunaikan kewajiban (seperti buruh atau kuli saja yang bekerja karena mengharapkan gaji atau upah). Oleh karena itu puasanya biasanya asal-asalan. Atau hanya puasa badani (menahan lapar dan dahaga). Padahal nilai puasa tidak diukur oleh seberapa tinggi yang berpuasa itu menderita lapar dan haus, sebab orang yang lupa makan sampai kenyang ketika puasa, pahalanya tidak dikurangi. Malah itu merupakan rizqi dari Allah SWT. Jadi nilainya ditentukan dengan bagaimana kita melaksanakannya, apakah puasa itu dilaksanakan dengan itqan dan ihsan atau tidak?

Kita dituntut untuk Itqan dan Ihsan bukan dalam puasa saja, malah dalam semua amal ibadah kita, dan dalam pekerjaan kita sehari-hari. Disinilah kenapa nenek moyang kita dulu menjadi contoh dan mandapatkan pujian dari non-muslim, adalah karena budi pekerti mereka yang luhur dan hasil karya meraka yang dikerjakan dengan itqan dan ihsan.


Nabi (SAW) bersabda " Sesungguhnya Allah menyukai apabila seseorang diantara kamu mengerjakan sesuatu, dikerjakannya dengan itqan (sungguh-sungguh dan sempurna)."



BAGAIMANA PUASA DANGAN ITQAN DAN IHSAN ITU?



Jawabannya adalah kita harus puasa badani dan ruhani.

Puasa badani adalah dengan menjaga beberapa anggota badan kita, yang antara lain

1. Mata
Mata adalah merupakan nikmat yang luar biasa yang diberikan oleh Allah. Kita tidak akan tahu nikmatnya mata kalau kita belum buta, atau terkena sakit mata. Namun demikian kalau kita tidak hati-hati matapun bisa bisa menjadi sumber dari segala dosa dan kejahatan. Orang yang berzina, mencuri, minum minuman keras dsb adalah dimulai dengan mata. Oleh karena itu dalam Al-Qur'an tidak ada kata-kata yang langsung mengharamkan berzina, tapi misalanya: "Jangan mendekati zina". Pintu yang mendekatkan kepada zina yang pertama adalah mata, lalu senyum, (kalaua lawan jenisnya itu senyum berarti green light, maka tahap berikutnya adalah ) menyapa, lalu berjanji, setelah itu baru berzina (nauzubillah).


Oleh karena itu kita harus berjihad sekuat mungkin untuk menjaga mata kita-paling tidak-selama kita berpuasa. Mata kita harus bisa misalnya berpuasa dari menonoton TV, DVD dan tontonan lainya. Katakan kepada TV :"Wahai TV! Cukup sudah engkau telah menghabiskan waktuku selama 11 bulan, aku akan puasa dari kamu selama sebulan ini".

Gunakanlah mata kita untuk membaca Al-Qur'an, memandang keindahan alam, ka'bah, dsb.


2. Telinga
Telinga juga merupakan nikmat yang besar yang harus kita syukuri. Dengan telinga kita bisa mebedakan berbagai macam suara, dan menikmati berbagai macam lagu yang indah.
Namun demikian, telinga juga bisa merupakan sumber dosa, dan kejahatan. Oleh karena itu Allah memuji hambanya yang suka mendengarkan kata-kata yang paling baik.

"yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik (ahsan) diantaranya. Mereka itulah orang-orang yang diberi Allah petunjuk dan mereka itulah orang yang mempuanyai akal." (39:18)
Oleh karena itu selama kita berpuasa-paling tidak-usahakan untuk mejauhkan telinga kita dari mendengarkan suara orang ghibah (menggunjing), obrolan yang tidak ada gunanya, atau lagu-lagu dan musik.
Gunakanlah telinga itu untuk mendengarkan Al-Qur'an, ceramah agama, dsb.


3. Lidah
Lidah adalah anggota badan yang paling sulit untuk dikendalikan, karena ia tidak bertulang, dan lebih tajam dari pedang. Oleh karena itu didalam Al-Qur'an ada yang disebut dengan puasa dari ngomong, seperti puasanya Siti Maryam dan Nabi Zakaria (AS). Nabi (S) pernah berkata kepada Muaz bin Jabal :" Wahai Muaz! Kalau kamu bisa menjaga dua anggota badan ini (lidah dan kehormatanmu), engkau dijamin akan masuk surga". Muaz berkata: "O baginda Rasul! Apakah akan ada orang yang masuk Neraka karena mulutnya? Nabi (S) menjawab: "Ya, malah kebanyakannya…"
Jadi dibulan puasa-paling tidak-kita harus mampu menahan lidah kita dari ngomong kotor, ngomongin orang, menfitnah, menyakiti, menggosip dsb.
Sebaliknya gunakan lidah kita ini untuk membaca Al-Qur'an, zikir, salawat, talim dan do'a ramadan yang disuruh oleh Nabi untuk mebacanya banyak-banyak:

اشـْهَـدُ الاّاِلَهَ الاالله ، اَسْتـغْفِرُ الله ،
نـَسْـأَلُكَ الْجَنـَّـةَ وَنـَعُوْذُ بِكَ مِـنَ النّـَار
اللَّهُـمَّ اِنـَّكَ عَفُوٌّ تُحِـبُّ الْعَفْـوَ فـَاعْفُ عَـنَّا يَا كـَِريْمْ

"Ashhadu ala ilaha ilallah Astaghfirullah
Nas alukal Jannata, wa nauzubika minanaar
Allahumma inaka afuwun tuhibul afwa fa'fuana
Ya Karim"



Artinya:
"Aku bersaksi tidak ada tuhan kecuali Allah.
O Allah aku mohon ampunan-MU
Aku memohon syurga-Mu
Dan aku berlindung dari Neraka-Mu


O Allah Engkau adalah Maha Pengampun
Suka untuk mengampuni

Maka ampunilah kami
O Allah yang Maha Pemurah



4. Perut
Menjaga perut adalah sangat penting untuk diterimanya suatu ibadah, dan suatu do'a. Oleh jangan sampai kita berpuasa, lalu buka dengan makanan yang haram. Atau dari income yang haram, atau dari hasil korupsi, menipu, dsb.
Ketika ada orang pakai ihram diwaktu haji berdo'a: "Labaik Allahumma labaik" Nabi (S) yang berada dekat dengan orang itu berkata: (la labaik) "Hajimu tidak diterima" . Shahabat yang lain berkata: "O Rasullah! Kenapa sampai tidak diterima haji orang itu? Nabi (S) menjawab: " Orang itu naik haji dengan bekal yang haram, makanan yang haram, minuman yang haram, bagaimana Allah SWT akan menerima do'anya (hajinya) ? "


Abu Bakar (S) pernah sampai memuntahkan makanan yang sudah masuk keperutnya setelah tahu bahwa makanan itu tidak halal. Ketika salah seorang shahabat menegurnya bahwa Allah SWT memaafkan suatu dosa yang dikerjakan dengan tidak disengaja. Abubakar (RA) menjawab: "Demi Allah kalau tidak ada jalan lain yang bisa mengeluarkan makanan itu kecuali aku harus mati, aku bersedia untuk mati. Karena aku masih ingat apa yang dikatakan oleh baginda Nabi (S) " Apabila suatu tubuh (badan) tumbuh dari barang (makanan) yang haram, maka tidak ada tempat yang layak bagi tubuh itu kecuali api neraka."
Bukan saja kita dituntut untuk manjaga perut kita dari makanan yang haram, tapi juga kita dituntut selama puasa jangan terlalu banyak makan ketika berbuka, karena akan membuat berat dan malas untuk beribadah.




5. Tangan
Demikian juga kita harus bisa menjaga tangan kita-paling tidak-selama kita puasa dari menjamah sesuatu yang haram, atau memukul anak kita, pembantu kita. Atau digunakan untuk mencuri, dan membantu perbuatan ma'siat.



6. Kaki
Selama puasa-paling tidak-kita usahakan untuk tidak pergi ketempat-tempat ma'siat, hiburan. Malah juga kepasarpun, kalau tidak perlu sebaiknya jangan pergi. Ingat bahwa dalam Al-Qur'an kedua tangan kita dan kaki kita akan menjadi saksi hari Qiamat kalau kita tidak berhati-hati dalam menjaganya " Pada hari ini Kami tutup mulut mereka; dan berkatalah kepada Kami tangan mereka dan memberi kesaksianlah kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka usahakan. (Yaseen:36: 65)




Puasa ruhani


Yaitu dengan menjaga dan membersihkan hati dan jiwa kita dari segala panyakitnya: seperti benci, dengki, dendam, sombong, buruk sangka dsb.
Nabi (S) bersabda: " Taqwa itu disini (sambil menunjuk kepada hatinya)".
Tidak mungkin kita bisa merasakan nikmatnya berpuasa, membaca Al-Qur'an, salat tarawih, salat tahajud, kalau hati kita penuh dengan penyakit-penyakit hati seperti diatas. Hati adalah sumber pemandangan Allah: " Sesungguhnya Allah tidak memandang kepada bentuk badanmu dan penampilanmu, tapi Allah hanya memandang kepada hatimu dan amalmu." Maka hati yang kotor adalah seperti asep atau embun, sehingga menutupi masuknya cahaya matahri. Maka cahaya Allahpun demikian tidak akan masuk kedalam hati yang masih kotor.


Orang yang hatinya kotor, umumnya banyak memutuskan hubungan silaturahmi dengan keluarga dan kerabatnya, atau sesama muslim. Dan biasanya pendek umurnya. Kerena hidupnya tidak ceria. Selalu dalama keadaan gelisah dan marah. Bagi orang yang mempunyai hati yang kotor, tolong coba tanya kepada dirinya: apa manfaatnya menyimpan rasa dengki, hasud, dan buruk sangka dsb?
Didunia dia akan rugi, karena selalu tidak merasa gembira, malah sering marah dan gelisah. Umurnya kalau tidak berkurang, paling tidak, tidak bertambah.
Sebab dalam Hadith, Nabi (S) bersabda: "Barangsiapa yang ingin diluaskan rizqinya, dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah dia selalu menghubungkan tali silaturahmi.


Disamping itu dalam Hadith shahih juga dikatakan orang yang memutskan hubungan silaturrahmi tidak akan mendapatkan Malam Lailatul Qadar. Dan amalnya akan menggantung antara langit dan bumi.
Kadang nafsu dan setan suka membisik: "Tapi diakan yang duluan memusuhi saya! Dia sudah terlalu banyak menyakiti saya." Jangan ikuti bisikan itu, itu bisikan yang akan menjerumuskan kita . Katakan " Tidak ada "tapi", yang ada adalah aku ingin menikmati indahnya puasa, dan mendapatkan ampunan dari Allah.


Yang kedua diakherat nanti rugi, karena Allah berfirman: "Hanya yang punya Qulbun Salim (hati yang bersih) yang akan bertemu dengan Allah."
Sedangkan dalam Hadith dikatakan: "Kedengkian (hasud) itu akan menghabiskan pahala, seperti api menghabiskan kayu yang kering ."


Dalam cerita yang masyhur dikatakan bahwa Nabi (S) telah menjamin seseorang akan masuk surga adalah karena orang itu tidak pernah meyimpan rasa dengki atau sakit hati apapun dalam hatinya terhadap siapapun. Kalau mau tidur dia mengangkatkan tanganya sambil berkata: " O Allah aku maafkan semua orang yang dengki, orang yang mengumpat dan orang yang iri padaku.."
Bisakah kita berdoa seperti orang itu ketika ada orang yang men-jelek jelekan kita? Kalau bisa, insha Allah kita termasuk dari orang yang mendapat jaminan serperti orang itu.


Ketika Ramadan nanti datang coba kita bermunajat dan berjanji dengan Allah:
"Ya Allah! aku tidak tahu, mungkin ini Ramadan yang terakhir bagiku. Ramadan-ramadan yang lalu, aku tidak mengerjakan puasa dan ibadah dengan itqan dan ihsan. Ya Allah! aku tahu betapa banyak dosaku, dan dengan kemurahan-Mu, Engkau jadikan bulan ini bulan ampunan, dan kebebasan dari api neraka.
Oleh karena itu ya Allah! aku tidak akan sia-siakan ramadan kali ini. Pertama aku akan membersihkan hatiku dari semua penyakit hati yang selama ini mangganggu kekhusuan ibadahku pada-Mu.
Ya Allah berilah aku kekuatan, ketabahan dan kesabaran dalam menunaikan perintahmu ini.
Amin..


Wallahu 'alam
Mohamad Joban