Friday, September 19, 2008

Bertadarrus Al-Qur'an di bulan Ramadhan

http://www.pesantrenvirtual.com

Oleh: Dewan Asatidz
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh Manakah yang lebih utama (besar pahalanya) membaca Al-Quran atau memahami Al-Quran?. Karena kalau saya amati umat islam di Indonesia dalam berbagai acara, seperti mengisi acara ramadhan, mereka memperbanyak "tadarus", jadi lebih mengutamakan membaca dari pada memahami. Menurut hemat saya sangat sedikit sekali orang yang mau memahami Al-Quran dan lama kelamaan Al-Quran itu hanya tinggal bunyinya saja tapi nur (cahayanya)akan padam.
Dasun


--------- Jawab ---------
Assalamu'alaikum wr. wb.
Sdr. Dasun, Memahami al-Qur'an, membacanya dan bahkan mendengarkannya semua mendapatkan pahala. Itulah salah satu kelebihan al-Qur'an, meskipun hanya dengan membaca dan mendengarkannya dengan tanpa memahami ma'nanya tetap mendapatkan pahala. Membaca al-Qur'an juga termasuk zikir qauli, yaitu zikir menggunakan mulut kita. Dalam sebuah hadist Rasulullah s.a.w. bersabda "Perumpamaan seorang mu'min yang membaca al-Qur'an seperti buah "utrujah", baunya harum dan rasanya manis. Perumpamaan seorang mu'min yang tidak membaca al-Qur'an adalah seperti buah kurma, tidak mempunyai aroma namun rasanya manis. Perumpamaan seorang munafiq yang membaca al-Qur'an adalah buah "raihanah" aromanya harum namun rasanya pahit dan perumpamaan orang munafik yang tidak membaca al-Qur'an adalah buah "handlalah" tidak mempunyai aroma dan rasanya pahit" (H.R. Buhkari Muslim). Kita juga dianjurkan membaca al-Qur'an hingga khatam (dari awal sampai akhir).


Ibnu Umar pernah bertanya kepada Rasulullah s.a.w. "Berapa kali saya harus menghatamkan al-Qur'an?" Rasulullah menjawab "Khatamkanlah dalam satu bulan". "Saya bisa lebih cepat dari itu" kata Ibnu Umar. "Kalau begitu setiap dua puluh hari", jawab Rasulullah. "Saya masih bisa lebih cepat dari itu", tambah Ibnu Umar. "Kalau begitu dalam lima belas hari" lalu "Sepuluh hari". "Saya masih lebih cepat dari itu", kata Ibnu Umar. "Kalau begitu lima hari", lalu Rasulullah tidak melanjutkan lagi. (H.R. Tirmidzi).

Rasullah juga gemar mendengarkan al-Qur'an dan sering matanya berlinang ketika mendengarkan lantunan ayat-ayat al-Qur'an. Ibnu Umar bercerita suatu hari Rasulullah memintaku membaca al-Qur'an untuk beliau "Ibnu Umar bacalah sesuatu dari al-Qur'an untukku", lalu aku baca surah al-Nisa hingga ayat (41, artinya) "Maka bagaimanakah apabila Kami datangkan seorang saksi dari tiap-tiap umat dan Kami datangkan kamu (Muhammad) sebagai saksi atas mereka atas mereka itu sebagai umatmu". Aku melihat kedua mata beliau basah meneteskan air mata. (H.R. Bukhari).

Demikian juga Rasulullah sering membaca al-Qur'an dengan mentafakkuri dan memahami arti dan makna kandungannya. Di sini Rasulullah dalam sebuah hadist mengisyaratkan bahwa mereka yang membaca al-Qur'an hingga khatam selama kurang dari tiga hari termasuk orang yang kurang faqih" (H.R. ABu Dawud dll). Ini merupakan anjuran bahwa dalam membaca al-Qur'an selayaknya tidak terlalu cepat dan lebih menekankan kepada tadabbur dan tafakkur pada isi dan makna ayat-ayatnya.

Bertadarus al-Qur'an selama bulan Ramadhan termasuk kebisaan yang dilakukan Rasulullah s.a.w. Riwayat Ibnu Abbas menjelaskan bahwa "Rasullah adalah orang yang paling dermawan, kedermawaan beliau meningkat pada bulan Ramadhan, yaitu ketika didatangi Jibril setiap malam Ramadhan, ia bertadarus al-Qur'an dengan Rasulullah. (H.R. Bukhari Muslim).

Jadi kesimpulannya, baik membaca, mendengarkan dan memahami al-Qur'an pada bulan Ramadhan sangat dianjurkan. Yang lebih utama tentu membaca sambil memahami maknanya. Namun membaca atau mendengarkan al-Qur'an dengan tanpa memahami maknanya pun tetap merupakan ibadah yang mendapatkan pahala. Cahaya yang dibawa al-Qur'an akan senantiasa menerangi hati kita manakala kita rajin membacanya, mendengarnya dan ditambah lagi mau mempelajari kandungannya.
Wallahu a'lam bissowab Wassalam

Muhammad Niam

No comments:

Post a Comment