Monday, July 28, 2008

Mendidik Anak Cara Nabi Ibrahim

Oleh: Kodar Slamet, SPd

Kawinilah wanita yang kamu cintai lagi subur (banyak melahirkan) karena aku akan bangga dengan banyaknya kamu terhadap umat lainnya. [HR. Al-Hakim]

Begitulah anjuran Rasulullah saw kepada umatnya untuk memiliki anak keturunan.
Sehingga lahirnya anak bukan saja penantian kedua orang tuanya, tetapi suatu hal yang dinanti oleh Rasulullah saw. Dan tentu saja anak yang dinanti adalah anak yang akan menjadi umatnya Muhammad saw. Berarti, ada satu amanah yang dipikul oleh kedua orang tua, yaitu bagaimana menjadikan atau mentarbiyah anak—yang titipan Allah itu—menjadi bagian dari umat Muhammad saw.

Untuk menjadi bagian dari umat Muhammad saw. harus memiliki karakteristik yang disebutkan oleh Allah swt.:
Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. kamu lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya Maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin).

Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar. [QS. Al-Fath, 48: 29]

Jadi karakteristik umat Muhammad saw adalah:
[1] keras terhadap orang Kafir, keras dalam prinsip,
[2] berkasih sayang terhadap sesama umat Muhammad,
[3] mendirikan shalat,
[4] terdapat dampak positif dari aktivitas shalatnya, sehingga orang-orang yang lurus, yang hanif menyukainya dan tentu saja orang-orang yang turut serta mentarbiyahnya.

Untuk mentarbiyah anak yang akan menjadi bagian dari Umat Muhammad saw. bisa kita mengambil dari caranya Nabi Ibrahim, yang Allah ceritakan dari isi doanya Nabi Ibrahim dalam surat Ibrahim berikut ini:
Ya Tuhan kami, Sesungguhnya Aku Telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, Ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, Maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezkilah mereka dari buah-buahan, Mudah-mudahan mereka bersyukur.

Ya Tuhan kami, Sesungguhnya Engkau mengetahui apa yang kami sembunyikan dan apa yang kami lahirkan; dan tidak ada sesuatupun yang tersembunyi bagi Allah, baik yang ada di bumi maupun yang ada di langit.

Segala puji bagi Allah yang Telah menganugerahkan kepadaku di hari tua (ku) Ismail dan Ishaq. Sesungguhnya Tuhanku, benar-benar Maha mendengar (memperkenankan) doa.
Ya Tuhanku, jadikanlah Aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat, Ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku.

Ya Tuhan kami, beri ampunlah Aku dan kedua ibu bapaku dan sekalian orang-orang mukmin pada hari terjadinya hisab (hari kiamat)”. [Ibrahim: 37-41]

Dari doanya itu kita bisa melihat bagaimana cara Nabi Ibrahim mendidik anak, keluarga dan keturunannya yang hasilnya sudah bisa kita ketahui, kedua anaknya—Ismail dan Ishaq—menjadi manusia pilihan Allah:

Cara pertama mentarbiyah anak adalah mencari, membentuk biah yang shalihah. Representasi biah, lingkungan yang shalihah bagi Nabi Ibrahim Baitullah [rumah Allah], dan kalau kita adalah masjid [rumah Allah]. Maka, kita bertempat tinggal dekat dengan masjid atau anak-anak kita lebih sering ke masjid, mereka mencintai masjid. Bukankah salah satu golongan yang mendapat naungan Allah di saat tidak ada lagi naungan adalah pemuda yang hatinya cenderung kepada masjid.
Kendala yang mungkin kita akan temukan adalah teladan—padahal belajar yang paling mudah itu adalah meniru—dari ayah yang berangkat kerjanya ba’da subuh yang mungkin tidak sempat ke masjid dan pulangnya sampai rumah ba’da Isya, praktis anak tidak melihat contoh shalat di masjid dari orang tuanya. Selain itu, kendala yang sering kita hadapi adalah mencari masjid yang ramah anak, para pengurus masjid dan jamaahnya terlihat kurang suka melihat anak dan khawatir terganggu kekhusu’annya, dan ini dipengaruhi oleh pengalamannya selama ini bahwa anak-anak sulit untuk tertib di masjid.

Cara kedua adalah mentarbiyah anak agar mendirikan shalat. Mendirikan shalat ini merupakan karakter umat Muhammad saw sebagaimana yang uraian di atas. Nabi Ibrahim bahkan lebih khusus di ayat yang ke-40 dari surat Ibrahim berdoa agar anak keturunannya tetap mendirikan shalat. Shalat merupakan salah satu pembeda antara umat Muhammad saw dengan selainnya.

Shalat merupakan sesuatu yang sangat penting, mengingat Rasulullah saw memberikan arahan tentang keharusan pembelajaran shalat kepada anak: suruhlah anak shalat pada usia 7 tahun, dan pukullah bila tidak shalat pada usia 10 tahun. Rasulullah saw membolehkan memukul anak di usia 10 tahun kalau dia tidak melakukan shalat dari pertama kali disuruh di usia 7 tahun. Ini artinya ada masa 3 tahun, orang tua untuk mendidik anak-anaknya untuk shalat. Dan waktu yang cukup untuk melakukan pendidikan shalat.

Proses tarbiyah anak dalam melakukan shalat, sering mengalami gangguan dari berbagai kalangan dan lingkungan. Dari pendisiplinan formal di sekolah dan di rumah, kadang membuat kegiatan [baca: pendidikan] shalat menjadi kurang mulus dan bahkan fatal, terutama cara membangun citra shalat dalam pandangan anak.

Baru-baru ini, ada seorang suami yang diadukan oleh istrinya tidak pernah shalat kepada ustadzahnya, ketika ditanya penyebabnya, ternyata dia trauma dengan perintah shalat. Setiap mendengar perintah shalat maka terbayang mesti tidur di luar rumah, karena ketika kecil bila tidak shalat harus keluar rumah. Sehingga kesan yang terbentuk di kepala anak kegiatan shalat itu tidak enak, tidak menyenangkan, dan bahkan menyebalkan. Kalau hal ini terbentuk bertahun-tahun tanpa ada koreksi, maka sudah bisa dibayangkan hasilnya, terbentuknya seorang anak [muslim] yang tidak shalat.

Cara ketiga adalah mentarbiyah anak agar disenangi banyak orang. Orang senang bergaul dengan anak kita, seperti yang diperintahkan oleh Rasulullah saw: “Berinteraksilah dengan manusia dengan akhlaq yang baik.” [HR. Bukhari]. Anak kita diberikan cerita tentang Rasulullah saw, supaya muncul kebanggaan dan kekaguman kepada nabinya, yang pada gilirannya menjadi Rasulullah menjadi teladannya. Kalau anak kita dapat meneladani Rasulullah saw berarti mereka sudah memiliki akhlaq yang baik karena—sebagaimana kita ketahui—Rasulullah memiliki akhlaq yang baik seperti pujian Allah di dalam al-Quran: “Sesungguhnya engkau [Muhammad] berakhlaq yang agung.” [Al-Qalam, 68: 4]

Cara keempat adalah mentarbiyah anak agar dapat menjemput rezki yang Allah telah siapkan bagi setiap orang. Anak ditarbiyah untuk memiliki life skill [keterampilan hidup] dan skill to life [keterampilan untuk hidup]. Rezki yang telah Allah siapkan Setelah itu anak diajarkan untuk bersyukur.

Cara kelima adalah mentarbiyah anak dengan mempertebal terus keimanan, sampai harus merasakan kebersamaan dan pengawasan Allah kepada mereka.

Cara keenam adalah mentarbiyah anak agar tetap memperhatikan orang-orang yang berjasa—sekalipun sekadar doa—dan peduli terhadap orang-orang yang beriman yang ada di sekitarnya baik yang ada sekarang maupun yang telah mendahuluinya.

http://www.dakwatuna.com/2007/mendidik-anak-cara-nabi-ibrahim/

Sunday, July 20, 2008

Shalawat dan Salam

Bismillahirrahmaanirrahiim.Allahumma shalli alaa sayyidina Muhammadinil fatihi lima ughiwa wal khatimi lima sabaqa wanasiril haqqa bil haqqi wal haadi ilaa siratikal mustakiim wa shalallahu allaihi wa alaa aalihi wa shahbihi haqqa qadrihi wa miqdarihil adziim.(http://www.SyaikhAchmadSyaechudin.org)

SHALAWAT & SALAM teruntuk NABI SAW . S

ebagai Muslim kita diperintahkan oleh Allah SWT agar menyebut nama Rasulullah SAW disertai dengan rasa ta’zhim dan dengan sebutan yang baik, sopan, menghormatinya serta memuliakannya, begitu pun juga waktu kita menuliskan nama atau sebutan atau panggilan buat beliau Nabi SAW.

Allah SWT berfirman : “Janganlah kamu jadikan panggilan Rasul diantara kamu seperti panggilan sebagian kamu kepada sebagian (yang lain)”. (QS.An-Nur:63). “Maka orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya, dan mengikut cahaya yang terang benderang yang diturunkan kepadanya (Al-Quran). Mereka itulah orang-orang yang beruntung”. (QS.Al-A’raf:157).

Serta sebagai Muslim kita juga diperintahkan oleh Allah SWT agar senantiasa membaca Shalawat dan Salam untuk Nabi Muhammad SAW. Allah SWT berfirman : “Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya”. (QS.Al-Ahzab:56).Kata “shalawat” merupakan bentuk jamak dari kata “shalat”, yang artinya doa atau seruan kepada Allah SWT. Sedangkan kata “salam” artinya sejahtera, damai, aman sentosa, dan selamat.

Membaca shalawat dan mengucapkan salam untuk Nabi Muhammad SAW memiliki maksud mendoakan dan memohonkan berkah kepada Allah SWT untuk Nabi Muhammad SAW, dengan harapan semoga Nabi SAW senantiasa sejahtera, damai, aman sentosa, dan selalu mendapatkan keselamatan.Al-Arif ash-Shawi menyatakan shalawat Allah SWT untuk mahluknya selain Nabi SAW adalah rahmat-Nya, sedangkan shalawat Allah SWT untuk Nabi SAW adalah rahmat-Nya yang disertai ta’zhim. Ayat tersebut menyiratkan satu dalil yang sangat besar, bahwa Rasulullah SAW adalah tempat curahan rahmat dan mahluk yang paling utama secara mutlak.

Hikmat shalawat malaikat dan kaum muslimin itu adalah untuk memuliakan mereka dengan shalawat itu, sebab mereka telah mengikuti perintah Allah SWT untuk menampakkan kebesaran Nabi Muhammad SAW dan untuk memenuhi sebagian hak-hak Nabi SAW.Syaikh Ahmad bin Muhammad ash-Shawi menjelaskan bahwa Allah SWT menghormati dan menurunkan rahmat-Nya atas Nabi SAW, para malaikat juga menghormati dan memohonkan rahmat untuk Nabi SAW. Dan Allah SWT memerintahkan kepada semua orang beriman agar menghormati, memuliakan Nabi Muhammad SAW, dan memohonkan rahmat-Nya untuk Nabi SAW.

Hal ini suatu bukti bahwa Nabi Muhammad SAW adalah manusia yang paling mulia dibandingkan dengan yang lainnya, yang mendapat kemuliaan dari Allah SWT.Imam Al-Bukhari rahimahullah menjelaskan bahwa menurut Abu al-Aliyah maksud dari shalawat dari Allah SWT untuk Nabi SAW itu adalah sanjungan Allah SWT terhadap Nabi SAW dihadapan para malaikat-Nya, sedangkan shalawat malaikat itu adalah doa.

Al-Hafizh as-Shakhawi menjelaskan bahwa Allah SWT melalui ayat tersebut memberitahukan kepada hamba-hamba-Nya tentang kedudukan Nabi-Nya disisi-Nya kepada alam ‘ulluwwi –alam malaikat- dan kemudian para malaikat pun kemudian menyanjung serta mendoakan Nabi-Nya. Allah SWT melalui ayat tersebut memerintahkan kepada alam sufla –alam manusia- agar memberikan shalawat dan salam kepada Nabi-Nya, supaya dari kedua alam tersebut terkumpul sanjungan dan pujian kepada Nabi SAW. Ayat tersebut memakai sighat mudhari menunjukkan sesuatu yang berkesinambungan dan terus-menerus bahwa Allah SWT dan seluruh malaikat-Nya selalu dan selamanya ber-shalawat kepada Nabi SAW.“Jika seseorang diantara kalian memberikan salam kepadaku ketika berada di sisi kuburku, maka Allah akan mengembalikan ruhku kepadaku untuk menjawab salamnya itu”. (HR. Abu Dawud).

Imam Al-Ghazali mengatakan bahwa sesungguhnya berlipat gandanya pahala shalawat atas Nabi SAW adalah karena shalawat itu bukan hanya mengandung banyak kebaikan, didalamnya juga tercakup : Pembaharuan iman kepada Allah SWT, Pembaharuan iman kepada Rasul SAW, Pengagungan terhadap Rasul SAW, Dengan inayah Allah SWT memohon kemulian bagi Nabi SAW, Pembaharuan iman kepada Hari Akhir dan berbagai kemuliaan, Dzikrullah, Menyebut orang-orang yang salih, Menampakkan kasih sayang kepada mereka, Bersungguh-sungguh dan tadharru dalam berdoa, Pengakuan bahwa seluruh urusan itu berada dalam kekuasaan Allah SWT.

Annas bin Malik berkata, Nabi SAW bersabda : “Barangsiapa membaca shalawat untukku satu kali, maka Allah memberikan kepadanya sepuluh shalawat, dan dihapus daripadanya sepuluh kesalahan (perbuatan dosa), serta diangkat pula dia pada sepuluh derajat”.Abu Umamah Al-Bahili ra berkata, bahwa Rasulullah SAW bersabda : “Sesungguhnya Allah Ta’ala menjanjikan kepadaku, bahwa apabila aku telah meninggal dunia, maka Dia menjadikan aku dapat mendengar shalawat yang dibacakan oleh orang untukku, sedangkan aku di kota Madinah dan umatku didunia timur dan barat. Lalu beliau berkata : ‘Wahai Abu Umamah, sesungguhnya Allah Ta’ala telah menjadikan seluruh dunia ini dan semua mahluk yang diciptakan oleh Allah ada dalam kuburku. Aku bisa mendengar dan bisa melihatnya. Barangsiapa membaca shalawat untukku satu kali, maka Allah Ta’ala bershalawat untuknya sepuluh kali. Dan barangsiapa membaca shalawat untukku sepuluh kali, maka Allah bershalawat untuknya seratus kali”.

Fadhilah membaca shalawat dan salam untuk Nabi SAW itu banyak sekali, diantaranya adalah Syafaat beliau Nabi SAW pada hari Kiamat kelak. “Barangsiapa membaca : ‘Ya Allah, limpahkanlah shalawat kepada Muhammad, dan tempatkanlah dia pada kedudukan yang dekat disisi-Mu pada Hari Kiamat’ , maka pasti dia mendapat syafaatku”. (HR. Zaid bin Khabbab).“

Apabila kamu mendengar mu’azzin, maka ucapkanlah seperti yang diucapkannya. Lalu bershalawatlah kamu kepadaku. Sebenarnya barangsiapa bershalawat kepadaku dengan satu shlawat, niscaya Allah bershalawat kepadanya dengan sepuluh shalawat. Kemudian sesuadah itu, mohonlah kepada Allah wasilah untukku, karena wasilah itu merupakan kedudukan yang paling tinggi dalam surga. Dia tidak dapat diperoleh, kecuali oleh seorang saja dari hamba-hamba Allah. Aku berharap, semoga akulah yang mendapatkan kedudukan itu. Karena itu, barangsiapa memohonkan wasilah untukku, wajiblah baginya syafaatku”. (HR.Muslim)

.Sayyidina Umar bin Khaththab berkata, bahwa Rasulullah SAW bersabda : “Pada hari Jum’at, datang dikuburanku seribu malaikat menengokku. Selesai menengok, mereka berjalan didunia timur dan barat. Tiap-tiap orang yang mereka dengar membaca shalawat untukku, maka dibawanya shalawat itu untuk diletakkannya dibawah ‘Arasy. Setelah itu, mereka berkata :’Wahai Tuhan kami, ini adalah shalawat fulan bin fulan’. Allah Ta’ala lalu berfirman :’Sesungguhnya Aku bershalawat untuknya sebanyak itu pula. Bawalah shalawat itu kepada Jibril, supaya dia meletakkannya, hingga shalawat itu akan datang kepada pembacanya pada Hari Kiamat. Dan akan Aku letakkan shalawat itu ditimbangan orang yang membacanya. Kelak, shalawat itu datang kepada yang membacanya, sehingga timbangannya pun menjadi berat dan pembacanya terus menuju kedalam surga”.

Anas bin Malik berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda : “Hiasilah tempat-tempat pertemuanmu dengan membaca shalawat untukku. Karena sesungguhnya shalawatmu itu menjadi sinar pada Hari Kiamat”.“Nabi SAW bersabda : ‘Perbanyak olehmu membaca shalawat kepadaku, karena shalawatmu untukku itu akan menjadi cahaya bagimu pada Hari Kiamat”. (HR.Thabrani dan Abu Dawud).

Ibnu Mas’ud ra mengatakan bahwa ketika Nabi SAW berada dikelompok para sahabatnya, beliau bersabda : “Sesungguhnya umatku kelak akan terbagi kedalam beberapa kelompok. Lalu Allah akan memanggil mereka pada Hari Kiamat : ‘Hai para hamba-KU, masuklah kalian kedalam surga’. Maka mereka kebingungan di padang yang luas pada Hari Kiamat itu, hingga Allah memberi petunjuk kepada mereka jalan ke surga. Para sahabat bertanya : ‘Siapakah mereka itu ya Rasulullah ?’. Rasul menjawab : ‘Mereka adalah orang-orang yang tidak membaca shalawat untukku, ketika namaku disebut dihadapannya karena lupa atau lalai”. Kemudian Nabi SAW bersabda lagi : “Barangsiapa lupa membaca shalawat untukku, maka dia akan lupa jalan menuju surga”.“Apabila telah datang Hari Kiamat, maka saya adalah pemimpin dari seluruh dari seluruh nabi. Saya juru bicara mereka, dan saya pemberi syafaat diantara mereka. (ini saya kemukakan) bukanlah karena kesombongan”. (HR. Abu Dawud).“Barangsiapa bershalawat kepadaku diwaktu pagi sepuluh kali dan waktu petang sepuluh kali, maka ia akan mendapatkan syafaatku di Hari Kiamat”. (HR.Ath-Thabari).“Saya adalah penghulu anak Adam pada Hari Kiamat, orang yang pertama bangkit dari kubur, orang yang pertama memberi syafaat, dan orang yang pertama dibenarkan memberi syafaat”. (HR. Muslim yang dirawikan oleh Abu Dawud).

“Pada Hari Kiamat, saya adalah imam pemimpin para nabi, juru bicaranya, dan pemberi syafaat untuk mereka, bukan untuk membanggakan diri”. (HR.Tirmidzi).Ibnu Umar ra berkata bahwa Nabi SAW bersabda : “Sesungguhnya matahari itu akan dekat pada Hari Kiamat. Sehingga karena panasnya, lalu keringat mahluk saat itu akan sampai di separuh telinganya. Diwaktu mereka dalam keadaan demikian, mereka pun meminta tolong kepada Adam. Lalu Nabi Adam berkata : ‘Saya tidak dapat mengerjakan itu (tidak dapat memberikan pertolongan apa-apa)’. Selanjutnya mereka minta tolong kepada Musa. Namun, ia pun berkata seperti Adam. Akhirnya mereka meminta tolong kepada Nabi Muhammad SAW. Beliau lalu memberikan syafaatnya, yaitu agar segera diadakan keputusan antara seluruh mahluk. Nabi SAW berjalan sambil memegang lingkaran pintu surga. Dikala itulah Allah SWT mengaruniakan untuknya maqam mahmud (kedudukan yang terpuji) yang mendapat pujian dari seluruh mahluk”.Ubay bin Ka’ab ra berkata : “Pada Hari Kiamat Nabi Adam AS melihat salah seorang umat Nabi Muhammad SAW digiring ke neraka. Lalu Nabi Adam AS memanggil Nabi Muhammad SAW :’Ya Muhammad’, beliau menjawab :’Hai Abul Basyar’. Nabi Adam pun meneruskan pembicaraannya :’Sungguh ada seorang dari umatmu yang digiring ke neraka’, lalu Nabi Muhammad SAW berlari menuju orang itu dan berdiri dibelakngnya, kemudian berkata : ‘Hai para malaikat, berhentilah’. Para malaikat menjawab : ’Ya Muhammad bukankah engkau telah membaca Firman Allah SWT yang berbunyi : “Mereka (para malaikat) itu tidak mendurhakai segala perintah Allah, dan mengerjakan perintah-Nya. Maka mereka mengerjakan apa yang diperintahkan kepadanya (para malaikat)”. Lalu Allah SWT berfirman : “Wahai segenap malaikat, taatlah kamu sekalian kepada Muhammad, kembalikan dia ke timbangan (mizan), untuk ditimbang ulang”.

Akhirnya para malaikat pun mengembalikan orang itu ke mizan. Lalu amalnya ditimbang kembali. Ternyata amal buruknya lebih berat daripada amal baiknya. Selanjutnya, nabi SAW mengeluarkan secarik kertas catatan dari sakunya dan meletakkannya pada bejana timbangan amal baik orang itu. Tiba-tiba amal baiknya menjadi lebih berat ketimbang amal buruknya. Orang itu pun merasa gembira sekali, lalu berjata : ‘Demi ayah dan ibuku, sebenarnya siapakah engkau ini ?’. Rasulullah SAW menjawab : ‘Aku adalah Muhammad, Nabimu’. Mendengar jawaban itu, orang tersebut segera mencium kaki Nabi SAW, seraya berkata lagi : ‘Wahai Rasulullah, catatan apakah yang tertulis dalam kertas itu ?’, beliau menjawab : ‘Itu adalah catatan shalawat yang pernah engkau baca ketika masih berada didunia, aku menyimpannya untukmu’. Akhirnya orang itu pun masuk ke dalam surga”.

Tentulah kita semua mahfum bahwa syafaat itu adalah atas Izin-Nya, sesuai dengan Firman Allah SWT : “ Siapakah yang dapat memberi syafaat di sisi Allah tanpa izin-Nya”. (QS.Al-Baqarah:255). Serta tentulah diberikan kepada orang-orang yang mendapatkan Ridho-Nya, sesuai dengan Firman Allah SWT : “Dan mereka tidak dapat memberikan syafaat, melainkan kepada orang-orang yang diridhai Allah”. (QS.Al-Anbiya:28).Dalam tafsir Fakhr ar-Razi disebutkan bahwa Shalawat atas Nabi SAW, itu bukan karena beliau membutuhkan, bahkan shalawat para malaikat pun tidak tidak dibutuhkannya setelah adanya shalawat dari Allah SWT kepadanya itu. Namun, semua itu adalah untuk menampakkan kebesaran Nabi SAW, sebagaimana Allah SWT telah mewajibkan atas kita berzikir menyebut nama-Nya, padahal pasti Dia tidak membutuhkan semua itu. Namun, semua itu adalah untuk menampakkan kebesaran-Nya, dan sebagai belas kasihan kepada kita supaya dengan adanya zikir itu, Dia memberi pahala kepada kita. Perintah bershalawat juga dimaksudkan agar umat mengetahui bahwa Allah SWT tidak akan menerima amal perbuatan seseorang kecuali dengan ber-tawassul dengan membaca shalawat untuk Rasulullah SAW.

“Sesungguhnya doa itu berhenti antara langit dan bumi, tidak beranjak naik sedikitpun, hingga engkau bershalawat kepada Nabimu”. (HR.Tirmidzi).Dari Anas bin Malik, bahwa Nabi SAW bersabda : “Tiada suatu doa, kecuali antara doa dengan langit terdapat sebuah hijab, sampai (didalam doa itu) dibacakan shalawat untuk Nabi SAW. Apabila telah dibacakan shalawat, terbukalah hijab, dan masuklah doa itu. Namun jika tidak dilakukan demikian, maka kembalilah doa itu”.Sayyidina Ali ra meriwayatkan bahwa Nabi SAW bersabda : “Tiada suatu doa, kecuali antara doa dengan Allah Ta’ala terdapat suatu hijab. Sampai, yang berdoa itu membaca shalawat untuk Nabi Muhammad SAW. Kalau hal itu dilakukan, maka tersingkaplah hijab itu, dan dikabulkanlah doa baginya”.

“Tiap-tiap urusan penting dan berharga yang tidak dimulai dengan hamdalah dan shalawat, maka urusan itu akan kehilangan berkahnya”. (HR.Ar-Rahman).“Jika ada dua orang hamba yang saling menyayangi karena Allah, lalu ketika berjumpa keduanya saling berjabat tangan dan bershalawat untuk Nabi SAW, maka sebelum mereka berpisah Allah mengampuni dosanya, baik yang lalu maupun yang akan datang”. (HR.Ibnu Sunny).Anas bin malik berkata, Rasulullah SAW bersabda : “Jika ada dua orang Muslim yang berjumpa lalu berjabat tangan sambil membaca shalawat untukku, maka keduanya tidak akan berpisah hingga Allah mengampuni dosa mereka yang terdahulu maupun yang akan datang, karena kemuliaan-Nya”.

“Jika suatu kaum berkumpul dalam sebuah majelis dalam waktu yang sangat lama, kemudian mereka bubar tapi tidak menyebut nama Allah dan tidak bershalawat kepada Nabi, niscaya mereka menghadapi kekurangan dari Allah. Jika Allah menghendaki, maka Allah akan mengazab mereka, dan jika Allah menhendaki, Dia akan memberi ampunan kepada mereka”. (HR.Tirmidzi).Jelas sekali bahwa orang yang telah mendapatkan jaminan ganjaran yang sedemikian besar dari Allah SWT itu, tentu tidak membutuhkan tambahan shalawat dan hadiah amal dari umat pengikutnya.


Perintah Allah SWT kepada hamba-Nya agar membaca shalawat kepada Nabi-Nya adalah untuk memberitahukan bahwa betapa tinggi derajat Nabi Muhammad SAW disisi Allah SWT, Nabi SAW adalah satu-satunya manusia pilihan yang paling utama diantara seluruh mahluk-Nya.“Tidak dikatakan beriman seseorang diantara kamu sebelum ia mencintai aku lebih daripada mencintai anaknya, ayahnya, dan manusia semua”. (HR. Bukhari, Muslim dan Ahmad).Siti Aisyah berkata bahwa : “Barangsiapa cinta kepada Allah Ta’ala, maka dia banyak menyebutnya. Dan buahnya ialah Allah akan mengingat dia, juga memberi rahmat dan ampunan kepadanya, serta memasukkannya ke surga bersama para nabi dan para wali, dan Allah memberi kehormatan pula kepadanya dengan melihat keindahan-Nya. Dan barangsiapa cinta kepada Nabi SAW, maka hendaklah ia banyak membaca shalawat untuk nabi SAW, dan buahnya ialah ia akan mendapat syafaat dan akan bersama beliau di surga”.

Diantara karunia Allah SWT yang diberikan kepada Nabi-Nya adalah menggabungkan zikir kepada-Nya dengan zikir kepada Nabi-Nya didalam dua kalimat Syahadat. Menjadikan ketaatan kepada Nabi-Nya sebagai ketaatan kepada-Nya, kecintaan kepada Nabi-Nya sebagai kecintaan kepada-Nya. Mengaitkan Mengaitkan pahala shalawat atas Nabi-Nya dengan pahala Dzikrullah.Sayyid Abdul Wahhab asy-Sya’rani, menuturkan : “Aku bermimpi bertemu penghulu alam semesta, Rasulullah SAW, lalu aku bertanya : ‘Ya Rasulullah, shalawat Allah sepuluh kali yang diberikan kepada orang yang bershalawat atas diri Nabi SAW satu kali itu, apakah bagi mereka yang hatinya hadir ?’. Beliau Nabi SAW menjawab : ‘Tidak, ganjaran itu diberikan kepada setiap orang yang mengucapkan shalawat atasku walaupun ia lalai, dan Allah mengutus kepadanya malaikat sebanyak jumlah gunung yang mendoakan dan memohonkan ampunan baginya. Sedangkan kalu ia membacanya dengan hati yang hadir, maka tidak ada yang mengetahui pahalanya kecuali Allah SWT”.

Sebagai bentuk kepatuhan kita atas perintah Allah SWT untuk bershalawat untuk Nabi SAW, serta sebagai bentuk kecintaan kita kepada Rasulullah SAW, maka diantaranya adalah melalui memperbanyak membaca shalawat pada setiap waktu, keadaan, dan kesempatan. Semoga Allah SWT memberikan pertolongan dan kekuatan kepada kita untuk menjalankannya, untuk menggapai Rahmat-Nya dan Ridho-Nya. Amin Ya Robbal

‘Alamin.Wallahualambishawab.Dikutip dari :Shalawat Pilihan, Al-Ustadz Mahmud Samiy, Pustaka hidayah.Samudera Shalawat, Abdul Manan bin H.Muhammad Sobari, Pustaka Hidayah. http://www.SyaikhAchmadSyaechudin.org

Detik terakhir sakratul maut Rasulullah saw

AIRMATA RASULULLAH SAW...

Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seorang yang berseru mengucapkan salam. "Bolehkah saya masuk?" tanyanya. Tapi Fatimah tidak mengizinkannya masuk, "Maafkanlah, ayahku sedang demam", kata Fatimah yang membalikkan badan dan menutup pintu.

Kemudian ia kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah membuka mata dan bertanya pada Fatimah, "Siapakah itu wahai anakku?" "Tak tahulah ayahku, orang sepertinya baru sekali ini aku melihatnya," tutur Fatimah lembut.

Lalu, Rasulullah menatap puterinya itu dengan pandangan yang menggetarkan. Seolah-olah bahagian demi bahagian wajah anaknya itu hendak dikenang. "Ketahuilah, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di dunia. Dialah malaikatul maut," kata Rasulullah, Fatimah pun menahan ledakkan tangisnya.

Malaikat maut datang menghampiri, tapi Rasulullah menanyakan kenapa Jibril tidak ikut sama menyertainya. Kemudian dipanggilah Jibril yang sebelumnya sudah bersiap di atas langit dunia menyambut ruh kekasih Allah dan penghulu dunia ini. "Jibril, jelaskan apa hakku nanti di hadapan Allah?", tanya Rasululllah dengan suara yang amat lemah. "Pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikat telah menanti ruhmu. "Semua syurga terbuka lebar menanti kedatanganmu," kata Jibril.

Tapi itu ternyata tidak membuatkan Rasulullah lega, matanya masih penuh kecemasan. "Engkau tidak senang mendengar khabar ini?", tanya Jibril lagi. "Khabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?" "Jangan khawatir, wahai Rasul Allah, aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku: "Kuharamkan syurga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada di dalamnya," kata Jibril.

Detik-detik semakin dekat, saatnya Izrail melakukan tugas. Perlahan ruh Rasulullah ditarik. Nampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh, urat-urat lehernya menegang. "Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini." Perlahan Rasulullah mengaduh. Fatimah terpejam, Ali yang disampingnya menunduk semakin dalam dan Jibril memalingkan muka. "Jijikkah kau melihatku, hingga kau palingkan wajahmu Jibril?" Tanya Rasulullah pada Malaikat pengantar wahyu itu. "Siapakah yang sanggup, melihat kekasih Allah direnggut ajal," kata Jibril.

Sebentar kemudian terdengar Rasulullah mengaduh, karena sakit yang tidak tertahankan lagi. "Ya Allah, dahsyat nian maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan pada umatku." Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tidak bergerak lagi. Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu, ! Ali segera mendekatkan telinganya. "Uushiikum bis shalati, wa maa malakat aimanuku" "peliharalah shalat dan peliharalah orang-orang lemah di antaramu." Diluar pintu tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan.

Fatimah menutupkan tangan di wajahnya, dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan. "Ummatii,ummatii, mmatiii?" - "Umatku, umatku, umatku" Dan, berakhirlah hidup manusia mulia yang memberi sinaran itu. Kini, mampukah kita mencintai sepertinya? Allahumma sholli 'ala Muhammad wa baarik wa salim 'alaihi Betapa cintanya Rasulullah kepada kita.

Sumber: Email teman..

Keluarga adalah harta yang paling berharga

Pengajian I Muslimah
Hari/Tanggal : Sabtu / 19 Juli 2008
Pembicara : Bpk. Suryamah M. Sastra
Seorang psikolog dan pendiri Bimbingan Belajar Nurul Fikri.
Moderator : Bpk. Barokah Widodo
Tempat : Kediaman Ibu Perry Warjiyo
========================================================
Assalamu `Alaikum Warahmatullahi Wa Barakatuh.

Silaturahmi dapat memperpanjang umur dan membukakan pintu rezki dan barokah, asal kita ikhlas melakukannya.
Seperti yang dijanjikan oleh Rasulullah saw, motif utama dari Silaturahmi adalah membawa berkah, karena dalam Silaturahmi seperti pengajian I Muslimah ini yang hadir bukan saja orang2 yang datang, tetapi juga para malaikat yang senantiasa mendoakan kita.

Topik Utama : Surat An Nisa ayat 9

Tentang peringatan Allah kepada kita

“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.”

Bagaimana Allah memperlihatkan ayat ini:
- Istilah cemas/khawatir diulang sampai 2 kali dalam awal ayat.

Allah ingin memperlihatkan kepada kita bahwa urusan anak/keturunan bukan urusan yang sepele/kecil.
- Harta yang paling berharga adalah keluarga.

Tidak memandang agama, kedudukan, pekerjaan dan apapun yang dilakukan di dunia ini, hal yang paling penting adalah KELUARGA.
- Keluarga adalah bagian investasi kita di Akhirat.
- Al Islam adalah Fitrah manusia dan yang sering di ulang2 dibahas adalah bagaimana kita menjaga agar generasi/keturunan bukan generasi yang lemah.

Pada ayat ini juga dijelaskan solusinya untuk mengekspresikan rasa kekhawatiran
o Bertakwa kepada Allah dan
o Berdialog dengan komunikasi yang baik.

Ayat lain dalam Al Quran dikatakan bahwa Keluarga dapat menjadi ujian bagi kita, yaitu ujian yang berupa kelemahan dan kelebihan.

Contoh:
Jika anak males disuruh sholat, atau membantah perintah orang tua. Biasanya yang pertama dipersalahkan adalah lingkungan/pergaulan.
Padahal yang paling utama dipertanyakan apakah kita sudah menjalankan 2 rumusan Allah dalam surat an Nisa ayat 9. yaitu Bertakwa dan Berdialog.

Sebuah cerita tentang Umar Bin Khattab
Beliau mempunyai peliharaan binatang ternak, suatu hari binatang peliharaannya sangat sulit diatur. Hal utama yang dilakukah Khalifa Umar Bin Khatab adalah berintospeksi diri, apakah kurang kadar ketakwaannya kepada Allah swt.

Tentang Berdialog dengan perkataan yang baik, para ulama berpendapat, yaitu setiap tindakan yang:
- Tidak mengandung kebathilan
- Mengandung perkataan yang efektif, pas/tepat

Cara/praktek untuk mendidik anak yang benar
- Memberikan contoh atau teladan kepada anak
Sholat tepat waktu, kebersihan sebagian dari Iman
- Memberikan arahan/penjelasan atas apa yang dilakukan.
- Membentuk suatu lingkungan yang sholeh yaitu yang mengikuti aturan Allah swt dan membuat lingkungan yang baik/apik. Dalam hal ini bukan hanya bergaul dengan sesama muslim saja, tetapi lingkungan yang memenuhi 2 hal tersebut.
- Menghukum jika ada yang menyimpang.

Pertanyaan:

1. Bagaimana menghadapi anak yg membantah perintah ortu dan protes untuk diikuti keinginannya.
o Diajak diskusi untuk segala sesuatu. Anak dilibatkan.
o Sebaiknya orangtua mampunyai target mempersiapkan anak di masa mendatang
o Kembalikan kepercayaan anak kepada orang tua dengan memberikan pengertian bahwa berdiskusi/berdialog memberikan manfaat yang besar.
o Orang tua (ibu dan bapak) harus sepakat dan kompak.

2. Pada usia berapa, anak dapat dipisah dari orang tua, karena urusan pendidikan? Misalnya anak dimasukkan pesantren?
Jika tidak ada keperluan mendesak untuk dipisahkan dari orang tua, paling cepat setelah SD, karena kita perlu membentuk dasar2 dari keluarga.
Contoh untuk urusan anak yatim saja, Islam mengaturnya sedemikian rupa, agar mendapat keluarga utuh seperti
o Menganjurkan agar anak yatim tinggal di keluarga yang utuh atau
o Sedapat mungkin menyantuni anak yatim
Apalagi dengan anak sendiri, akan lebih baik dasar2 keluarga ditanamkan sebelum dipisahkan dari keluarga.
Intinya pendidikan keluarga dan sekolah harus seimbang.

Hadaanallahu Wa Iyyakum Ajma`in, Wallahu A`lam Bish-shawab,Wassalamu `Alaikum Warahmatullahi Wa Barakatuh.

Thursday, July 03, 2008

Seputar sholat jamaah

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ustadz, saya ingin mengajukan pertanyaan seputar sholat jamaah :
1. Apabila kita berjamaah, terutama di sholat yang tidak mengeraskan suara seperti Dhuhur dan Ashar, bagaimana kalo bacaan kita belum selesai (belum selesai membaca Al Fatihah) tapi Imam sudah melakukan gerakan selanjutnya? Haruskan langsung mengikuti gerakan Imam atau memyelesaikan bacaan kita dahulu??

Sebaiknya langsung saja mengikuti gerakan Imam (ruku). Nabi SAW berkata bahwa Imam dalam shalat dijadikan untuk diikuti, kalau dia ruku maka rukulah kamu sekalian, dst.

2. Apabila kita berjamaah ternyata Imam gerakan sholatnya cepat sekali, gerakannya seperti tidak ada tumaninah, bagaimanakah baiknya untuk selanjutnya? Bolehkah kita memintanya lagi menjadi Imam???

Ikuti saja selama masih dalam sahnya solat. Misalanya dia hanya membaca zikir ruku dan sujud sekali. Setelah selesai shalat hendaknya Imam itu diperingati.

3. Bagaimana adabnya sholat berjamaah yang Imam tidak mengeraskan suara, setelah membaca Al Fatihah, bolehkah makmum membaca surat pendek yang lain, yang mungkin berbeda dengan bacaan Imam, karena kan nggak ketahuan Imammnya baca surat apa.

Boleh membaca surat apa saja.

4. Bagaimana adabnya menjadi makmum masbuk? Misalkan kita tertinggal 1 rakaat atau lebih, maka setelah salam dan melanjutkan sholat kembali, bagaimana dengan bacaannya, misalkan rakaat yang tertinggal 1 dan 2, berarti bacaan sholatnya setelah Al Fatihah dilanjutkan dengan surat pendek atau tidak? Kemudian saat tahiyat, yang dibaca tahiyat awal saja atau tahiyat akhir, karena akan salam lagi.

Kalau ketinggalannya dari rak’at ke 1 dan ke 2 sebaiknya baca surah setelah Al-Fatihah, tapi kalau ketinggalannya hanya dalam rak’at ke 3 atau ke 4 maka tidak perlu membaca Surah setelah Al-Fatihah, keculai dalam sholat subuh.

Jazakillah khoir atas waktu dan jawabannya.

wassalamu'alikum
Sumber: Email Imsis-Jawaban Ustadz M. Joban