Tuesday, June 20, 2006

Mengapa di Tanahku Banyak Terjadi Bencana?

Penulis : Nurlaila KotaSantri.com :

Mengapa di tanahku banyak terjadi bencana
Apakah Tuhan mulai bosan melihat tingkah kitaYang selalu bangga dengan dosa-dosa
Ataukah alam mulai engganBersahabat dengan kita
Begitulah kira-kira isi syair dari lagu yang dipopulerkan oleh Ebiet G. Ade.

Saya percaya dan yakin kalau Tuhan itu tidak pernah dan tidak akan pernah bosan kepada makhluk ciptaanNya sendiri, (malah ciptaanNya itu yang tidak sabaran dan cenderung pembosan). Dia, Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang kepada semua makhluk-makhlukNya adalah satu-satunya zat yang mengerti akan kondisi dan keadaan dalam diri tiap hamba-hambaNya, tinggal bagaimana dari kita sendiri selaku makhluk yang diberikan kelebihan berupa akal dan pikiran bisa mencoba menarik hikmah dari semua peristiwa yang menimpa negeri ini.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu, katanya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Artinya : Tidak akan datang Kiamat sehingga banyak terjadi gempa bumi." (Shahih Bukhari, Kitab Al-Fitan 13 : 81-82). Dan diriwayatkan dari Salamah bin Nufail As-Sukuni, Ia berkata : Kami sedang duduk-duduk di sisi Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam lalu beliau menyebutkan suatu hadits yang antara lain isinya : "Artinya : Sebelum terjadinya hari Kiamat, akan terdapat kematian-kematian yang mengerikan, dan sesudahnya akan terjadi tahun-tahun gempa bumi." (Musnad Imam Ahmad 4 : 104 dengan catatan pinggir Muntakhab Al-Kanz.

Al-Haitsami berkata, "Diriwayatkan oleh Ahmad, Thabrani, Al-Bazaar, dan Abu Ya'ala dan perawi-perawinya adalah perawi-perawi kepercayaan." Majmu'uz Zawa'id 7 : 306). Ibnu Hajar berkata, "Telah banyak terjadi gempa bumi di negara-negara bagian utara, timur, dan barat, tetapi yang dimaksud oleh hadits ini ialah gempa bumi secara merata dan terus menerus." (Fathul Bari 13 : 87).

Hal ini diperhatikan dengan riwayat Abdullah bin Hawalah Radhiyallahu 'anhu, ia berkata, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam pernah meletakkan tangan beliau di kepala saya, lalu beliau bersabda, "Artinya : Wahai putra Hawalah, jika engkau melihat perselisihan telah terjadi di tanah suci, maka telah dekat terjadinya gempa-gempa bumi, bala bencana, dan perkara-perkara yang besar, dan hari Kiamat pada waktu itu lebih dekat kepada manusia dari pada kedua tanganku ini terhadap kepalamu." (Musnad Ahmad, 5 : 188 dengan catatan pinggir Muntakhab Kanzul 'Ummal, 'Aunul Ma'bud Syarah Sunan Abu Daud, Kitab Al-Jihad, Bab Fi-Ar-Rajuli Taghzuu wa yaltamisu Al-Ajra wa Al-Ghanimah 7 : 209-210, Mustadrak Al-Hakim 4 : 425, dan beliau berkata, "Ini adalah hadits yang shahih isnadnya, hanya saja Bukhari dan Muslim tidak meriwayatkannya." Perkataan Al-Hakim ini disetujui oleh Adz-Dzahabi. Dan Al-Albani menshahihkan hadits ini dalam shahih Al-Jami'ush Shagir 6 : 263, hadits nomor 7715).Jadi, dari hadits-hadits yang disebutkan diatas, gempa bumi bisa jadi merupakan sebagian atau salah satu tanda 'kecil' dari keseluruhan tanda?tanda akan datangnya hari besar tersebut (kiamat).

Atau apakah hal ini adalah 'teguran' dari Allah SWT untuk bangsa ini. Wallahu 'alam. Terlepas dari sebab musabab kejadian gempa tersebut, alangkah baiknya jika bangsa ini bisa belajar dari setiap kejadian pahit yang terjadi di negeri ini, seperti Tsunami (Aceh), gempa di Nias, Banjir Wedeng (Surabaya), dan yang terkini yang sedang hangat dibicarakan adalah peristiwa Gempa di Jogja.

Akan lebih bijaksana jika dalam kondisi ini kita tidak saling menyalahkan pihak lain, tidak perlu pula bertanya-tanya mengapa peristiwa ini dan itu menimpa saya, karena Allah SWT telah berfirman, "Katakanlah : Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan oleh Allah bagi kami. Dia-lah pelindung kami, dan hanya kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakal." (QS. At-Taubah (9) : 51).

Kita diperintahkan untuk tetap bersyukur, tidak boleh terlalu larut dalam kesedihan atau terlena dalam kebahagian, "Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuz) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikanNya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri." (QS. 57 : 22-23).

Mungkin di tengah 'badai' air mata, sulit buat kita mengucapkan "Innalillaahi wa inna ilaihi raaji'uun" dengan segala keikhlasan hati saat mengucapkannya, dan terucap bukan hanya sekedar di bibir tetapi dengan kesadaran penuh dan dengan segenap kerelaan hati?Syukuri segala kehilangan itu, karena pasti ada hikmahnya. Dan tak perlu bertanya-tanya dulu apa hikmahnya, karena Insya Allah, hikmah akan hadir setelah kita bisa merasakan hadirnya rasa syukur itu.

Sudahkah kita lakukan sepenuh jiwa untuk menyerahkan diri kita secara total kepada Allah? Siapkah kita ketika orang-orang terdekat yang kita cintai di ambil kembali olehNya? Relakah kita saat harta yang kita miliki musnah dalam sekejap?"Ya, Allah Engkaulah yang Memberi dan Engkau pulalah yang Mengambil?"

No comments:

Post a Comment