Saturday, November 14, 2009

Keutamaan 10 Hari Pertama Bulan Dzulhijjah dan Amalan yang di Syariatkan

Keutamaan 10 Hari Pertama Bulan Dzulhijjah dan Amalan yang di Syariatkan

Bismillahir rahmaanir raahiim.

Segala puji bagi Alloh s.w.t semata, shalawat dan salam semoga tercurah kepada Rasululloh, Nabi Muhammad s.a.w, beserta keluarga, para sahabatnya & pengikutnya yang selalu setia dengan ajarannya hingga akhir jaman.

Diriwayatkan bahwa Alloh swt. telah memilih tiga bulan dari bulan2 yang ada pada satu tahun, dimana pada tiap bulan tsb terdapat sepuluh hari yang istimewa, hari tsb ialah:
1. Sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan, disana ada Lailatul Qadar.2. Sepuluh hari pertama pada bulan Dzulhijah karena disana ada hari Tarwiyah, Hari Arofah dan ada hari Idhul Qurban.3. Sepuluh hari pertama pada bulan Muharam karena disana ada barokahnya Asyuro.

Sesungguhnya merupakan karunia Alloh subhanahu wa ta’ala, dijadikan-Nya bagi hamba-hamba- Nya yang shalih, musim-musim untuk memperbanyak amal shaleh. Diantara musim-musim tersebut adalah sepuluh hari (pertama) bulan Dzul Hijjah yang keutamaannya dinyatakan oleh dalil-dalil dalam kitab dan Sunnah:
Firman Alloh Subhanahu wa ta’ala: ’Demi fajar, dan malam yang sepuluh’ (Al Fajr 1-2) Ibnu Katsir berkata: “ Yang dimaksud adalah sepuluh hari (pertama) bulan Dzul Hijjah

Sebuah Hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu abbas.ra. bahwasanya Rosululloh s.a.w. bersabda:

Hari pertama bulan Dzulhijah adalah hari dimana Alloh.swt. mengampuni dosanya Nabi Adam.as. maka barang siapa berpuasa pada hari tsb maka Alloh swt. akan mengampuni segala dosanya.
Hari kedua bulan Dzulhijah adalah hari dimana Alloh swt. mengabulkan do’a Nabi Yunus dengan mengeluarkannya dari perut ikan, barang siapa berpuasa pada hari itu seolah olah telah beribadah selama satu tahun penuh tanpa berbuat maksiat sekejapun.
Hari ketiga bulan Dzulhijah adah hari dimana Alloh.swt.mengabulk an do’anya Nabi Zakaria, barang siapa berpuasa pada hari itu maka Alloh swt.akan mengabulkan segala do’anya.
Hari keempat bulan Dzulhijah dalah hari dimana Nabi Isa a.s. dilahirkan, barang siapa berpuasa pada hari itu akan terhindar dari kesengsaraan dan kemiskinan.
Hari kelima bulan Dzulhijah adalah hari dimana Nabi Musa a.s dilahirkan, barang siapa berpuasa pada hari itu akan bebas dari kemunafikan dan azab kubur.
Hari keenam bulan Dzulhijah adalah hari dimana Alloh swt.membuka pintu kebajikan untuk nabiNya, barang siapa berpuasa pada hari itu akan dipandang oleh Alloh dengan penuh rahmat dan tdk akan diadzab.
Hari ketujuh adalah hari ditutupnya pintu Jahannam dan tidak akan dibuka sebelum hari kesepuluh lewat, barang siapa berpuasa pada hari itu Alloh swt akan menutup tiga puluh pintu kemelaratan dan kesukaran serta akan membuka tigapuluh pintu kesenangan dan kemudahan.
Hari kedelapan adalah hari Tarwiyah barang siapa berpuasa pada hari itu akan memperoleh pahala yang tidak diketahui besarnya kecuali oleh Alloh swt.
Hari kesembilan adalah hari Arofah barang siapa berpuasa pada hari itu puasanya menjadi tebusan dosanya setahun yg lalu dan setahun yang akan datang.
Hari kesepuluh adalah hari raya Iedul Qurban barang siapa menyembelih Qurban maka pada tetesan pertama darah Qurban diampunkan dosa dosanya dan dosa anak anak dan istrinya.

Keutamaan 10 hari yang Pertama Bulan Dzul Hijjah.

Diriwayatkan oleh Al-Bukhari, Rahimahullah, dari Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu ‘Anhuma bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
“Artinya : Tidak ada hari dimana amal shalih pada saat itu lebih dicintai oleh Allah daripada hari-hari ini, yaitu : Sepuluh hari dari bulan Dzul Hijjah. Mereka bertanya : Ya Rasulullah, tidak juga jihad fi sabilillah ?. Beliau menjawab : Tidak juga jihad fi sabilillah, kecuali orang yang keluar (berjihad) dengan jiwa dan hartanya, kemudian tidak kembali dengan sesuatu apapun”.

Imam Ahmad, Rahimahullah, meriwayatkan dari Umar Radhiyallahu ‘Anhuma, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
“Artinya : Tidak ada hari yang paling agung dan amat dicintai Alloh untuk berbuat kebajikan di dalamnya daripada sepuluh hari (Dzul Hijjah) ini. Maka perbanyaklah pada saat itu tahlil, takbir dan tahmid “.

Macam-macam Amalan yang Disyariatkan

1. Melaksanakan Ibadah Haji dan Umrah
Amal ini adalah amal yang paling utama, berdasarkan berbagai hadits shahih yang menunjukkan keutamaannya, antara lain : sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:
“Artinya : Dari umrah ke umrah adalah tebusan (dosa-dosa yang dikerjakan) di antara keduanya, dan haji yang mabrur balasannya tiada lain adalah Surga”.
2. Berpuasa selama hari-hari tersebut, atau pada sebagiannya, terutama pada hari Arafah.
Tidak disangsikan lagi bahwa puasa adalah jenis amalan yang paling utama, dan yang dipilih Allah untuk diri-Nya. Disebutkan dalam hadist Qudsi :
“Artinya : Puasa ini adalah untuk-Ku, dan Aku lah yang akan membalasnya. Sungguh dia telah meninggalkan syahwat, makanan dan minumannya semata-mata karena Aku”.
Diriwayatkan dari Abu Said Al-Khudri, Radhiyallahu ‘Anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
“Artinya : Tidaklah seorang hamba berpuasa sehari di jalan Alloh melainkan Alloh pasti menjauhkan dirinya dengan puasanya itu dari api neraka selama tujuh puluh tahun”. [Hadits Muttafaq 'Alaih].
Diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abu Qatadah Rahimahullah bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Artinya : Berpuasa pada hari Arafah karena mengharap pahala dari Alloh melebur dosa-dosa setahun sebelum dan sesudahnya”.
3. Takbir dan Dzikir pada Hari-hari Tersebut.
Sebagaimana firman Allah Ta’ala. “Artinya : …. dan supaya mereka menyebut nama Alloh pada hari-hari yang telah ditentukan ..”. [Al-Hajj : 28].
Para ahli tafsir menafsirkannya dengan sepuluh hari dari bulan Dzul Hijjah. Karena itu, para ulama menganjurkan untuk memperbanyak dzikir pada hari-hari tersebut, berdasarkan hadits dari Ibnu Umar Radhiyallahu ‘Anhuma.
“Artinya : Maka perbanyaklah pada hari-hari itu tahlil, takbir dan tahmid “. [Hadits Riwayat Ahmad].
Imam Bukhari Rahimahullah menuturkan bahwa Ibnu Umar dan Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhum keluar ke pasar pada sepuluh hari tersebut seraya mengumandangkan takbir lalu orang-orangpun mengikuti takbirnya. Dan Ishaq, Rahimahullah, meriwayatkan dari fuqaha’, tabiin bahwa pada hari-hari ini mengucapkan :
“Allohu Akbar, Allohu Akbar, Laa Ilaha Ilallah, wa-Allohu Akbar, Allohu Akbar wa Lillahil Hamdu”
“Artinya : Alloh Maha Besar, Alloh Maha Besar, Tidak ada Ilah (Sembahan) Yang Haq selain Alloh. Dan Alloh Maha Besar, Alloh Maha Besar, segala puji hanya bagi Alloh”.
Dianjurkan untuk mengeraskan suara dalam bertakbir ketika berada di pasar, rumah, jalan, masjid dan lain-lainnya. Sebagaimana firman Alloh.
“Artinya : Dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu ..”. [Al-Baqarah : 185].
Tidak dibolehkan mengumandangkan takbir bersama-sama, yaitu dengan berkumpul pada suatu majlis dan mengucapkannya dengan satu suara (koor). Hal ini tidak pernah dilakukan oleh para Salaf. Yang menurut sunnah adalah masing-masing orang bertakbir sendiri-sendiri. Ini berlaku pada semua dzikir dan do’a, kecuali karena tidak mengerti sehingga ia harus belajar dengan mengikuti orang lain.
Dan diperbolehkan berdzikir dengan yang mudah-mudah. Seperti : takbir, tasbih dan do’a-do’a lainnya yang disyariatkan.
4. Taubat serta Meninggalkan Segala Maksiat dan Dosa.
Sehingga akan mendapatkan ampunan dan rahmat. Maksiat adalah penyebab terjauhkan dan terusirnya hamba dari Alloh, dan keta’atan adalah penyebab dekat dan cinta kasih Alloh kepadanya.
Disebutkan dalam hadits dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.
“Artinya : Sesungguhnya Alloh itu cemburu, dan kecemburuan Alloh itu manakala seorang hamba melakukan apa yang diharamkan Alloh terhadapnya” [Hadits Muttafaq 'Alaihi].
5. Banyak Beramal Shalih.
Berupa ibadah sunat seperti : shalat, sedekah, jihad, membaca Al-Qur’an, amar ma’ruf nahi munkar dan lain sebagainya. Sebab amalan-amalan tersebut pada hari itu dilipat gandakan pahalanya. Bahkan amal ibadah yang tidak utama bila dilakukan pada hari itu akan menjadi lebih utama dan dicintai Alloh daripada amal ibadah pada hari lainnya meskipun merupakan amal ibadah yang utama, sekalipun jihad yang merupakan amal ibadah yang amat utama, kecuali jihad orang yang tidak kembali dengan harta dan jiwanya.
6. Disyariatkan pada Hari-hari itu Takbir Muthlaq
Yaitu pada setiap saat, siang ataupun malam sampai shalat Ied. Dan disyariatkan pula takbir muqayyad, yaitu yang dilakukan setiap selesai shalat fardhu yang dilaksanakan dengan berjama’ah ; bagi selain jama’ah haji dimulai dari sejak Zhuhur hari raya Qurban terus berlangsung hingga shalat Ashar pada hari Tasyriq.
7. Berkurban pada Hari Raya Qurban dan Hari-hari Tasyriq.
Hal ini adalah sunnah Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam, yakni ketika Alloh Ta’ala menebus putranya dengan sembelihan yang agung. Diriwayatkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
“Artinya : Berkurban dengan menyembelih dua ekor domba jantan berwarna putih dan bertanduk. Beliau sendiri yang menyembelihnya dengan menyebut nama Allah dan bertakbir, serta meletakkan kaki beliau di sisi tubuh domba itu”. [Muttafaq 'Alaihi]
8. Dilarang Mencabut atau Memotong Rambut dan Kuku bagi orang yang hendak Berkurban.
Diriwayatkan oleh Muslim dan lainnya, dari Ummu Salamah Radhiyallhu ‘Anha bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.
“Artinya : Jika kamu melihat hilal bulan Dzul Hijjah dan salah seorang di antara kamu ingin berkurban, maka hendaklah ia menahan diri dari (memotong) rambut dan kukunya”.
Dalam riwayat lain : “Maka janganlah ia mengambil sesuatu dari rambut atau kukunya sehingga ia berkurban”.
Hal ini, mungkin, untuk menyerupai orang yang menunaikan ibadah haji yang menuntun hewan kurbannya. Firman Alloh.
“Artinya : ….. dan jangan kamu mencukur (rambut) kepalamu, sebelum kurban sampai di tempat penyembelihan…”. [Al-Baqarah : 196].
Larangan ini, menurut zhahirnya, hanya dikhususkan bagi orang yang berkurban saja, tidak termasuk istri dan anak-anaknya, kecuali jika masing-masing dari mereka berkurban. Dan diperbolehkan membasahi rambut serta menggosoknya, meskipun terdapat beberapa rambutnya yang rontok.
9. Melaksanakan Shalat Iedul Adha dan mengdengarkan Khutbahnya.
Setiap muslim hendaknya memahami hikmah disyariatkannya hari raya ini. Hari ini adalah hari bersyukur dan beramal kebajikan. Maka janganlah dijadikan sebagai hari keangkuhan dan kesombongan ; janganlah dijadikan kesempatan bermaksiat dan bergelimang dalam kemungkaran seperti ; nyanyi-nyanyian, main judi, mabuk-mabukan dan sejenisnya. Hal mana akan menyebabkan terhapusnya amal kebajikan yang dilakukan selama sepuluh hari.
10. Selain hal-hal yang telah disebutkan diatas.
Hendaknya setiap muslim dan muslimah mengisi hari-hari ini dengan melakukan ketaatan, dzikir dan syukur kepada Alloh, melaksanakan segala kewajiban dan menjauhi segala larangan ; memanfaatkan kesempatan ini dan berusaha memperoleh kemurahan Alloh agar mendapat ridha-Nya.

Semoga Alloh melimpahkan taufik-Nya dan menunjuki kita kepada jalan yang lurus.

Wallohu'alam bishawab

Dikutip oleh Ismi Juswantini (email)

Sumber :
-Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Al Jibrin.
boemi-islam. com
-anakshalih.wodrpres s.com

No comments:

Post a Comment