Sunday, July 16, 2006

Tahapan Perkembangan Perkawinan

Tahapan Perkembangan Perkawinan

*/_Oleh: Sawitri Supardi Sadarjoen psikolog _/**

"Bahwa bila kita pada saat-saat tertentu berada dalam situasi tidak tersentuh perasaan kasih sayang terhadap pasangan kita, tidaklah berarti kita sama sekali tidak memiliki perasaan kasih sayang tersebut terhadap pasangan kita," demikian Marshall Yung (1990).

*Pada saat kehidupan perkawinan berlangsung, perasaan kasih kita akan berada dalam kondisi perubahan yang konstan. Tetapi, justru dengan melalui tahapan perkembangan perkawinan alami itulah yang membuat relasi dalam perkawinan kita sukses di kemudian hari.Perubahan dari tahap demi tahap terjadi secara evolutif sehingga tidak akan tampak sebagai perubahan yang eksklusif. Tahapan tersebut adalah sebagai berikut.

_*Pertama,*_ tahap penuh pesona, saat mana hubungan dilimpahi cinta kasih menggebu. Cinta kasih yang berbunga-bunga satu sama lain membuat pasangan merasa memiliki otonomi mantap yang terkait dengan perasaan penuh pengertian satu sama lain dan memiliki keinginan saling menyenangkan pasangan. Kedua pasangan seolah mendapat kebebasan bersikap kekanakan, ingin bermain bersama, menjadi sahabat terbaik, dan melakukan berbagai kegiatan bersama, seperti bersepeda, naik gunung, main kartu, berenang sambil bercengkerama di kolam renang, di pantai, dan sebagainya. Dalam tahapan ini pasangan berharap masa depan mereka akan selalu dipenuhi kasih menggebu dan membahagiakan keduanya. Mereka merasakan kehangatan, merasa dipahami, dan keintiman penuh kasih sayang.'

*_Kedua_*, setelah beberapa bulan masuklah kedua pasangan ke tahapan yang terasa tidak memesona lagi karena secara alami pada keduanya terjadi penurunan kadar romantisme dalam relasi. Masing-masing pasangan mulai menunjukkan perilaku, perasaan, dan sikap aslinya. Kehidupan nyata kembali menyeruak, seperti masalah keuangan, anak, karier, ipar, dan kenyataan masing-masing memiliki perbedaan prinsip dan falsafah hidup.Dalam tahap ini pasangan harus mulai menyadari, ternyata cinta lebih dari sekadar perasaan romantisme. Pasangan belajar menghadapi kenyataan hubungan cinta kasih adalah sesuatu yang konkret dan suatu keyakinan yang tidak hanya dilandasi perasaan saja, tetapi seyogianya mampu menempatkan relasinya sebagai sesuatu yang harus dihargai secara obyektif dan realistis. Bila mampu menyikapi kondisi ini secara tepat, maka justru sikap yang tepat akan lebih menguatkan ikatan kasih yang sudah terjalin di antara keduanya. Memang untuk itu diawali rasa kecewa, sedih, marah, kesal, jengkel, sebal, tetapi justru perasaan negatif tersebut akan mengantar pasangan pada tahapan berikutnya.

*_Ketiga_*, tahap negosiasi, yaitu tahapan saat mana pasangan merasa secara alami terjerumus dalam ikatan perkawinan. Bahkan pasangan perkawinan yang sedianya sangat saling mencintai tidak akan luput dari tahap negosiasi. Dalam tahapan inilah perkawinan seakan diuji, apakah akan berlanjut atau berhenti. Dalam tahap ini kedua pasangan merasa menghadapi tantangan yang tersulit dan butuh kerja keras untuk membangun relasi yang lebih berkualitas.Pasangan merasa keduanya membutuhkan ungkapan kasih satu sama lain. Namun, karena dalam suasana emosi negatif justru membuat kebutuhan tersebut sulit diungkapkan. Agar tahapan ini terlalui dengan sukses, kedua pasangan harus belajar masuk ke dalam diskusi matang, dalam artian keduanya dituntut bersikap fleksibel, memberi peluang bebas bagi pasangannya bersikap dan berpendapat beda. Solusi yang diambil pasangan dalam perbedaan itu hendaknya menyertakan pertimbangan kepuasan yang cukup bagi keduanya. Dalam pada itu, pasangan hendaknya menghargai perbedaan pendapat dengan penuh respek sehingga mampu mendiskusikan permasalahan dan berbagi ide secara suportif dan matang.

*_Keempat,_* tahap integrasi, saat mana perbedaan antarpasangan terjalin penuh harmoni serta tercipta kehidupan rutin yang damai dalam ikatan perkawinan. Dalam tahap ini kedua pasangan dapat menunjukkan perhatian satu sama lain, saling membutuhkan dan menunjukkan penghargaan satu sama lain atas dasar saling percaya, serta mengembangkan kebersamaan yang nyaman dan tenteram.

*_Kelima,_* tahap peningkatan kualitas kasih sayang. Dalam tahap ini waktu dirancang untuk saling memberikan perhatian satu sama lain. Pasangan menghayati bahwa relasi dalam perkawinan amat sangat berbeda dan terpisah dari relasi sosial umumnya. Pasangan menjadi teman terbaik, tempat berbagi ide, berdiskusi tentang rencana ke depan, dan saling belajar satu sama lain. Selama tahap ini hubungan kasih semakin berkembang.

*_Keenam,_* melalui hubungan perkawinan, masing-masing pasangan menghayati cinta kasih pasangannya sebagai realitas menetap. Tidak berarti keduanya terhindar sama sekali dari konflik, namun sehebat apa pun konflik keseimbangan yang baik di antara perasaan otonomi keduanya telah terbangun dalam "kekamian" (integrasi optimal dari dua individu pasangan dalam ikatan perkawinan) yang mantap, sehingga kebersamaan dan keutuhan akan kembali dalam sekejap saja.Nah, sampai tahap manakah perkawinan yang sedang kita jalani saat ini dan apa yang sudah kita lakukan agar perjalanan menuju tahap enam dengan mulus dapat kita raih di kemudian hari? ***

No comments:

Post a Comment