Thursday, October 19, 2006

Bercinta karena Allah

Dikutip oleh Winy H

Bercinta karena Allah Salah satu nikmat sebagai muslim adalah berbagai ibadah dan amalan yang teratur dan berulang kali, yang menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Salat 5 waktu, bertasbih dan berbagai zikir yang penyebutannya diulang-ulang, Ramadan yang setiap tahun, jilbab yang selalu dikenakan saat keluar – seorang Muslim yang berusaha menjalani Din-nya seolah-olah dikondisikan agar selalu dalam suasana spiritual dan selalu diingatkan akan keterikatannya dengan sang Rabb.

Iman di dalam hati direfleksikan pada tindakan dan sebaliknya tindakan tersebut menguatkan kembali iman dalam hati, insya Allah. Bahaya yang perlu diwaspadai dalam pelaksanaan berbagai amalan ini adalah jatuhnya amalan tersebut dalam lingkaran rutinitas tanpa kehadiran hati. Syahadat, yang merupakan pintu gerbang masuknya seseorang dalam Islam, tidak terhindar dari bahaya ini dan dapat menjadi ucapan rutin dalam salat tanpa makna. Padahal ia merupakan suatu pernyataan agung dan suci, dan lebih jauh lagi merupakan suatu pernyataan cinta.

“Seseorang yang beriman sejak memproklamirkan bahwa tiada ilah selain Allah dan sepenuh daya akan proklamasi diri ini, maka Allah telah ditempatkan dan menempati tiang tertinggi cintanya.” (1) "Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah, mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman AMAT SANGAT CINTANYA kepada Allah." ( Al Baqarah: 165)
Dengan demikian kita dapat mengukur keadaan iman sendiri pada saat mengucapkan syahadat – apakah perasaan yang ditimbulkan sudah selayaknya sebagaimana suatu pernyataan iman dan cinta.

Lebih jauh lagi, urutan cinta seorang Muslim sejati, setelah mahabbatullah (cinta kepada Allah), dan mahabbaturrasul (cinta kepada rasul) adalah mahabbah kepada orang-orang yang beriman. Rasa cinta yang Rasulullah dalam sabdanya melukiskan; "Perumpamaan kaum mu'minin dalam cinta-kasih dan rakhmat hati, mereka bagaikan satu badan. Apabila satu anggota menderita, maka menjalarlah penderitaan itu ke seluruh badan hingga tidak dapat tidur dan panas" (H.R Bukhari dan Muslim)

Rasulullah juga bersabda bahwa, “Ikatan iman yang paling kuat ialah berwala’ karena Allah, bermusuhan karena Allah, mencintai karena Allah, dan membenci karena Allah SWT.” [Hakim & Tabarani]Rasa cinta yang demikian besar, yang muncul atas nikmat Allah (Ali Imran: 103), karena Allah lah yang telah mempersatukan hati orang-orang yang beriman, yang tanpaNya niscaya meski dengan semua kekayaan yang ada di bumi tak akan dapat dipersatukan hati-hati itu (Al Anfal:63).
Ayat-ayat ini menunjukkan betapa mulianya mencintai dengan tiada alasan lain selain Allah. Mencintai seseorang karena Allah ini pun menjadi perpanjangan dari penghayatan ucapan syahadat kita.

Langkah mempertahankan cinta
Sebagaimana halnya dalam hubungan pribadi dengan orang-orang tersayang, maka rasa cinta pada orang-orang beriman ini pun perlu dipupuk dan pertahankan.

Berbagai langkah mempertahankan cinta yang diajarkan oleh Rasullullah antara lain:
a. menyatakan cinta -- [Related by Al-Miqdaam bin Ma;di Karib that the Prophet said, “If any of you loves his brother then he should inform him’ (Tirmizi)]
Anas Radhiallaahu anhu meriwayatkan, “Ada seorang laki-laki di sisi Nabi Shalallaahu alaihi wasalam. Tiba-tiba ada sahabat lain yang berlalu. Laki-laki tersebut lalu berkata, “Ya Rasulullah, sungguh saya mencintai orang itu (karena Allah)”. Maka Nabi Shalallaahu alaihi wasalam bertanya “Apakah engkau telah memberitahukan kepadanya?” “Belum”, jawab laki-laki itu. Nabi bersabda, “Maka bangkit dan beritahukanlah padanya, niscaya akan mengokohkan kasih sayang di antara kalian.” Lalu ia bangkit dan memberitahukan, “Sungguh saya mencintai anda karena Allah.” Maka orang ini berkata, “Semoga Allah mencintaimu, yang engkau mencintaiku karena-Nya.” (HR. Ahmad, dihasankan oleh Al-Albani).

b. saling memberi hadiah -- ["Saling memberi hadiahlah kalian niscaya kalian akan saling cinta mencintai."(Bukhari)]

c. saling berkunjung

d. memberi harta

e. meninggalkan dosa
“Seorang mukmin itu tidak punya siasat untuk kejahatan dan selalu (berakhlak) mulia, sedang orang yang fajir (tukang maksiat) adalah orang yang bersiasat untuk kejahatan dan buruk akhlaknya.” (HR. HR. Tirmidzi, Al-Albani berkata “hasan”)“Jauhilah oleh kalian berburuk sangka, karena buruk sangka adalah pembicaraan yang paling dusta” (HR.Bukhari dan Muslim). Yang dimaksud dengan berburuk sangka di sini adalah dugaan yang tanpa dasar.

Buah Cinta karena Allah

a. Kemuliaan dari Allah Dari Mu’adz bin Jabalzia berkata, “Aku mendengar Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam bersabda, Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman, “Wajib untuk mendapatkan kecintaan-Ku orang-orang yang saling mencintai karena Aku dan yang saling berkunjung karena Aku dan yang saling berkorban karena Aku.” (HR. Ahmad).

“Dahulu ada seorang laki-laki yang berkunjung kepada saudara (temannya) di desa lain. Lalu ditanyakan kepadanya, ‘Ke mana anda hendak pergi? Saya akan mengunjungi teman saya di desa ini’, jawabnya, ‘Adakah suatu kenikmatan yang anda harap darinya?’ ‘Tidak ada, selain bahwa saya mencintainya karena Allah Azza wa Jalla’, jawabnya. Maka orang yang bertanya ini mengaku, “Sesungguhnya saya ini adalah utusan Allah kepadamu (untuk menyampaikan) bahwasanya Allah telah mencintaimu sebagaimana engkau telah mencintai temanmu karena Dia.” (Muslim)

b. Mendapat naungan di bawah Arsy Allah “Sesungguhnya Allah pada Hari Kiamat berseru, ‘Di mana orang-orang yang saling mencintai karena keagungan-Ku? Pada hari ini akan Aku lindungi mereka dalam lindungan-Ku, pada hari yang tidak ada perlindungan, kecuali per-lindungan-Ku.” (HR. Muslim)

c. Hilangnya rasa sedih dan takut

d. Kesempurnaan iman “Barangsiapa mencintai karena Allah, marah karena Allah, memberi karena Allah, menahan pemberian karena Allah, maka dia termasuk orang yang sempurna imannya.” [Abu Dawud]

e. merasakan kelezatan iman
"Ada tiga perkara, barangsiapa terdapat dalam dirinya ketiga perkara itu, dia pasti merasakan manisnya iman, yaitu Allah dan Rasul-Nya lebih dicintainya daripada yang lain; mencintai seseorang tiada lain hanya karena Allah; dan tidak mau kembali kepada kekafiran setelah diselamatkan Allah darinya sebagaimana dia tidak mau kalau dicampakkan ke dalam api."

---------
Dari berbagai sumber:
Keutamaan Amalan Hati Ke Atas Amalan Badan - (Fiqh al-Awlawiyyat, Dr. Yusuf al-Qaradhawi)
Ahlul Bait, Materi Tarbiyah ISNET – Abu Zahra
Pertemanan Dalam Islam ( Alsofwah.or.id)

No comments:

Post a Comment