Friday, June 13, 2008

Sifat dan Hakekat Tobat

Dikutip dari email Imsis
Semoga bermanfaat

Tafsir QS An-Nisaa 17-18

Tafsir Fi Zhilalil Qur'an, Sayyid Qutb, jilid 2

Islam tidak menutup pintu bagi laki-laki dan wanita berdosa, dan tidak mengusir mereka dari masyarakat jika mereka ingin kembali kepada keadaan yang bersih dan bertobat.Islam justru merentangkan jalan bagi mereka dan mendorong mereka untuk menempuh jalan itu. Bahkan, demikian semangatnya dorongan islam, sampai-sampai Allah menjadikan penerimaan tobat mereka, kalau mereka benar tulus, sebagai keharusan bagi-Nya untuk ditetapkan-Nya dengan firman-Nya yang mulia. Rasanya tidak ada keutamaan dibelakangnya yang melebihinya.

" Sesungguhnya taubat di sisi Allah hanyalah taubat bagi orang-orang yang mengerjakan kejahatan lantaran kejahilan, yang kemudian mereka bertaubat dengan segera, maka mereka itulah yang diterima Allah taubatnya; dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.Dan tidaklah taubat itu diterima Allah dari orang-orang yang mengerjakan kejahatan (yang) hingga apabila datang ajal kepada seseorang di antara mereka, (barulah) ia mengatakan : "Sesungguhnya saya bertaubat sekarang". Dan tidak (pula diterima taubat) orang-orang yang mati sedang mereka di dalam kekafiran. Bagi orang-orang itu telah Kami sediakan siksa yang pedih." (QS An-Nisaa 17-18)

Sesungguhnya tobat yang diterima ALlah dan memiliki keutamaan sehingga Allah memastikan bahwa diri-Nya menerimanya ialah tobat yang lahir dari dalam lubuk hati yang menunjukkan bahwa telah terjadi perubahan dalam hati tsb. Hati yang telah digoncang oleh penyesalan yang amat dalam dan digoyangnya dengan goyangan yang keras sehingga ia bangkit, lalu melompat dan sadar, dalam usia yang masih lapang, dan di tengah semaraknya keinginan dan cita-cita. Lalu timbullah keinginannya yang sungguh-sungguh dan niat yang serius untuk menempuh jalan baru.

Orang -orang yang mengerjakan kejahatan lantaran kejahilan, mereka itulah yang mengerjakan dosa. Di sana ada semacam ijma bahwa yang dimaksud dengan jahalah 'kejahilan' di sini adalah tersesat dari petujuk, jauh maupun dekat, sebelum ruh sampai di kerongkongan. Orang -orang yang bertobat dengan segera ialah mereka yang kembali bertobat kepada Allah sebelum meninggal dunia dan memasuki sakaratul maut, dan mereka merasa sudah di pintu gerbang kematian.

Tobat ini adalah tobat yang penuh penyesalan, ingin lepas dari dosa, dan berniat unutk melakukan amal saleh dan menghapuskan dosa-dosanya itu. Kalau demikian, ini merupakan suatu pembaharuan di dalam jiwanya, suatu kesadaran di dalam hati nuraninya, ".. maka mereka itulah yang diterma Allah tobatnya. Allah Maha mengetahui lagi maha bijaksana", yang bertindak dengan ilmu dan kebijaksanaannya. Dia memberikan kepada hamba-hamba-Nya yang lemah kesempatan untuk kembali keapda barisan yang suci , dan tidak melempar mereka ke luar pagar sedang mereka benar-benar ingin perlindungan yang aman, dan naungan yang penuh kasih sayang.

Allah tidak menolak hambanya yang lemah dan tidak mengusir mereka manakala mereka bertobat dan kembali keapda-Nya. Dia tidak membutuhkan mereka dan tobat mereka pun tidak memberi manfaat kepada-Nya. Sesungguhnya manfaat tobat itu kembali kepada diri mereka sendiri dan memperbaiki kehidupannya dan kehidupan masyarakat tempat mereka hidup. Oleh karena itu, Allah memberikan kelapangan kepada mereka untuk kembali kepada barisan dengan bertobat dan menyucikan diri.

Dalam QS An-nisaa: 18, tobat semacam ini adalah tobat yang terpaksa, yang masih berketetapan hati untuk melanggar dan bergelut dengan dosa-dosa. ini adalah tobat yang bertobat hanya karena sudah tidak ada lagi kesempatan baginya untuk mengerjakan dosa-dosa.Tobat semacam ini tidak diterima Allah SWT, karena tidak berdampak pada kesalehan dalam hati dan kehidupan, dan tidak menujukkan adanya kemauan yang serius dan keingingan untuk mengubah arah kehidupan.

Sesungguhnya diterimanya tobat itu adalah karena ia pintu terbuka dimasukinya oleh orang-orang yang berlari menuju ke tempat perlindugan yang aman. Maka, mereka kembalikan diri mereka dari padang kesesatan dan mereka kembalikan kemanusiaan mereka dari komunitas kesesatan di bawah panji-panji setan. Mereka kembali untuk mengerjakan amalan saleh-jika Allah menakdirkan umur panjang setelah bertobat atau minimal untuk mengutamakan hidayah daripada kesesatan-, jika ajal ajal sedang menantikan mereka sedang mereka tidak merasa bahwa mereka sudah berada di altar kematian. "...Dan tidak (pula diterima taubat) orang-orang yang mati sedang mereka di dalam kekafiran. Bagi orang-orang itu telah Kami sediakan siksa yang pedih."

Karena mereka telah memutuskan tali penghubung antara mereka tobat, dan mereka telah menyia-nyiakan kesempatan untuk mendapatkan pengampunan.

" Bagi orang-orang itu telah Kami sediakan siksa yang pedih." Telah Kami sediakan, telah Kami siapkan. Azab itu sudah ada, sudah dinantikan tidak lagi memerlukan persiapan dan dihadirkan, karena sudah hadir dan sudah disiapkan!.

Demikianlah ketatnya manhaj(metode)rabbani dalam masalah hukuman, tetapi pada waktu yang sama ia membuka pintu lebar-lebar untuk tobat. Sehingga, terdapatlah keseimbangan dalam manhaj rabbani yang unik ini, dan menimbulkan dampak-dampaknya dalam kehidupan, suatu manhaj yang tidak dapat dilakukan oleh manhaj lain baik konvensional maupun modern.


Wassalam
Subdept Dakwah Imsis

No comments:

Post a Comment