Thursday, August 21, 2008

Misteri Sholat Shubuh

SHALAT SUBUH SEBUAH UJIAN
Sesungguhnya shalat yang paling berat bagi orang munafik adalah shalat Isya’ dan shalat Subuh. Sekiranya mereka mengetahui apa yang terkandung di dalamnya, niscaya mereka akan mendatangi keduanya sekalipun dengan merangkak.

Memang betapa mudahnya lidah mengatakan kalimat “Islam”, namun alangkah sulitnya menancapkan “iman” di dalm hati manusia.

Kebanyakan ungkapan lidah tidak sesuai dengan keyakinan hati. Begitu juga, beribu ungkapan lisan tidak sesuai dengan amal perbuatan. Mukmin yang benar dan jujur adalah yang sesuai antara perkataan dengan perbuatannya. Perkataannya seiring dengan apa yang ada di hatinya. Sedangkan orang munafik, secara lahiriah kelihatan bagus dan bersih, namun hatinya keras bagaikan batu atau bahkan lebih keras lagi.

Allah mengetahui apa-apa yang ada di dalam hati. Mengetahui mata yang tidak jujur dan segala yang tersembunyi dalam dada. Mengetahui yang munafik dari yang mukmin, serta mengetahui yang dusta dari yang jujur.

Manusia diberi ujian, akan tetapi sebagian gagal dalm ujian tersebut. Lebih dari pada itu, melalui ujian, Allah ingin membersihkan barisan orang-orang mukmin dari orang-orang munafik, sebagai rahmat dari Allah bagi orang-orang mukmin. Karena, bercampurnya orang mukmin dengan orang munafik akan melemahkan barisan, menyebabkan kegoncangan, dan mengakibatkan kekalahan serta kehancuran.

Allah berfirman perihal orang-orang munafik : “Jika mereka berangkat bersama kamu, niscaya mereka tidak menambah kamu selain dari kerusakan belaka. Tentu mereka bergegas-gegas maju ke muka dari celah-celah barisanmu, untuk mengadakan kekacauan diantaramu; Sedang di antara kamu ada yang amat suka mendengarkan perkataan mereka. Dan Allah mengetahui orang-orang yang zalim”. (At-Taubah : 47)

Jadi rahmat Allah Swt. yang dikaruniakan kepada orang mukmin mengharuskan adanya ujian. Ujian ini untuk membedakan antara mukmin dan munafik, antara yang jujur dan yang dusta.
Ujian merupakan sunah ilahiyah yang berlaku sejak zaman dahulu. Allah Swt. menjadikan ujian sebagai standar bagi semua manusia tanpa kecuali, semenjak diciptakan Adam as hingga hari kiamat kelak.


Karakteristik Ujian
Ujian memiliki ciri-ciri khusus.

Pertama, ujian haruslah sulit. Sebab, kalau ujian tidak sulit, atau bahkan sangat mudah, maka semuanya akan lulus, baik mukmin ataupun munafik. Akhirnya ujian tidak bisa membedakan antara mukmin dan munafik.

Kedua, ujian tersebut bukanlah sesuatu yang mustahil. Sebab, kalau ujian tersebut mustahil dilakukan, maka kedua-duanya akan gagal, baik mukmin maupun munafik.

Ketiga, ujian ini harus seimbang. Artinya, sulit bagi munafik untuk lulus dalam ujian itu. Namun bukan berarti pula mustahil dilakukan. Sehingga, terbuka kesempatan bagi mukmin untuk lulus dalam ujian tersebut.

Ujian Allah Swt. untuk hamba-Nya tidak sedikit jumlahnya, dan berlaku terus-menerus sejak manusia mendapat beban syariat, sampai datangnya kematian. Jihad di jalan Allah merupakan ujian, bahkan merupakan ujian yang sangat berat, namun bukan mustahil dilakukan. Infak di jalan Allah adalah ujian. Ujian ini sulit, tetapi bukan sesuatu yang mustahil. Orang mukmin mampu melaksanakannya, sedangkan orang munafik, tidak akan mampu. Begitu pula bersikap baik terhadap sesama manusia, menahan amarah, ridha dengan hukum Allah, berbuat baik terhadap orang tua merupakan ujian. Demikian seterusnya hingga seluruh aspek kehidupan menurut sudut pandang ini adalah ujian.

Ujian memiliki variasi tingkat kesulitan. Seseorang mungkin harus lulus dalam semua ujian itu untuk membuktikan kebenaran imannya, dan untuk menyelesaikan antara lisan dan hatinya.

Ujian yang berat
Inilah ujian yanga sesungguhnya. Ujian yang sulit, namun bukan satu
Hal yang mustahil. Nilai tertinggi dalam ujian ini bagi seorang laki-laki adalah shalat subuh secara berjamaah di masjid. Sedangkan bagi perempuan, shalat subuh tepat pada waktunya di rumah. Manusia dianggap gagal dalam ujian pentign ini, manakala mereka tidak shalat tepat waktu, sesuai yang ditetapkan Allah Swt. yagn terbaik adalah mengerjakan di masjid pada awal waktu. Apabila Rasulullah meragukan keimanan seseorang, beliau akan menelitinya pada saat shalat subuh.

Orang munafik tidak tahu kebaikan yang terkandung dalam shalat subuh berjamaah di masjid. Sekiranya mereka mengetahui kebikan yagn ada di dalamnya, niscaya mereka akan pergi ke masjid, bagaimanapun kondisinya, sebagaimana sabda Rasulullah Saw : “ Maka mereka akan mendatanginya, sekalipun dengan merangkak.”

BATAS WAKTU SHALAT SUBUH

Shalat subuh memnga shalat wajib yagn paling sedikit jumlah rakaatnya, hanya dua rakaat saja. Namun, ia menjadi standar keimanan seseorang dan ujian terhadap kejujuran, karena waktunya sangat sempit.

Waktu shalat subuh dari terbit fajar sampai matahari terbit saja. Waktunya sangat terbatas, sempit dan sulit. Oleh sebab itu, shalat subuh merupakan ujian.
Waktu shalat merupakn persoalan yang sifatnya tauqifiyyah (baku). Artinya, ketentuan mengenai kapan waktu shalat bukanlah ijtihad manusia, tetapi telah ditentukan dengan jelas dan detail dalam hadits Rasulullah hadits Rasulullah Saw. “Waktu shalat subuh dari terbit fajar sampai terbenamnya matahari.” (HR Muslim).

Dengan demikian, tidak ada lagi keraguan mengenai kapan batas waktu shalat subuh. Rasulullah Saw. telah menegaskan pengertian ini dalam sebuah hadits dari Abu Hurairah ketika beliau bersabda : “Barangsiapa yang mendapatkan satu rakaat shalat subuh sebelum terbit matahari, maka ia telah melaksanakan shalat subuh.” (HR At-Tirmidzi).

Maknanya, barangsiapa telah mengerjakan satu rakaat shalat subuh secara sempurna, sebelum terbit matahari, maka ia dianggap telah melaksanakan shalat subuh pada waktunya. Sedangkan orang yang belum melaksanakannya dengan batasan satu rakaat, maka wajib baginya untuk meng-qadha (mengganti/mengulang) shalat subuh. Hal ini tidak diragukan lagi merupakan permasalahan yang sangat penting.

Namun yang tak kalah penting, ujian shalat subuh berfungsi untuk membedakan antara orang munafik dan orang beriman, antara orang yang jujur dan orang yang dusta. Jadi, bukan sekedar mengerjakan shalat sebelum terbit matahari. Mereka yang sukses dalam ujian ini adalah mereka yang shalat subuh berjamaah di masjid, bagi laki-laki. Sedangkan bagi perempuan, walau shalat di masjid diperbolehkan, shalat di rumah adalah lebih baik dan lebih banyak pahalanya.
Besarnya pahala shalat di rumah merupakan rahmat Allah Swt. bagi kaum wanita sekaligus bagi masyarakat.

Tujuannya untuk menghindari fitnah (kerusakan), lebih menjaga wanita, dan lebih melindunginya. Selain itu, juga untuk menjaga anak-anak di rumah, para lanjut usia, serta manfaat lainnya. Maha Suci Allah yang telah menurunkan syariat yang penuh hikmah ini !
Berkaitan dengan persoalan yang tengah kita bicarakan, maka yang membedakan antara wanita munafik dan wanita mukminah adalah shalat pada permulaan waktu. Wanita mukminah yang lulus ujian adalah mereka yang mengerjakan shalat subuh pada saat para pria sedang shalat di masjid.sedangkan wanita yang belum kokoh keimanannya, ia baru mengerjakan shalat subuh sesaat menjelang terbit matahari.

Selanjutnya, marilah bersama kita renungi, bagaimana Rasulullah Saw. mendahulukan shalat pada waktunya, daripada berbuat baik kepada orang tua yang begitu besar pahalanya. Dan, bagaimana beliau lebih mendahulukannya atas jihad fi sabilillah yang merupakan puncaknya Islam.

SHALAT SUBUH MUSTAHILKAH ?

Adalah mustahil bila ada orany yang mengatakan “Mustahil bagi saya untuk shalat subuh”. Sesungguhnya permasalahan kembali pada kemauan. Anda mau atau tidak?
Allah Swt. Maha Pengampun lagi Maha Penyayang, mengampuni dosa siapa yang memohon ampunan kepada-Nya. Akan tetapi, kata-kata saja tidak cukup. Kesungguhan memohon ampun harus dibuktikan dengan amal. Cobalah anda renungi firman Allah Swt. di bawah ini :
“Dan sesungguhnya Aku Maha Pengampun bagi orang yang bertaubat, beriman, beramal shalih, kemudian di jalan yang benar” (Thaha : 82).

Tidak semua manusia mendapat ampunan dari Allah Swt. syaratnya ia harus bertaubat secara sungguh-sungguh, keimanan yang benar, amal shalih, dan mengikuti petunjuk Allah Swt.
Ungkapan “kemustahilan” pada kehidupan seseorang untuk melaksanakan shalat subuh pada waktunya, sebenarnya masih bisa kita diskusikan .

Meragukan adanya “kemustahilan’ untuk bangun di pagi hari guna menunaikan shalat subuh, kita bisa bersama-sama merenungkan beberapa hal di bawah ini.
1. Allah Swt. tidak membebani hamba-nya kecuali kadar kemampuannya.
(Sesuai dengan firman Allah dalam surat Al-Baqarah : 286).

2. Fenomena orang-orang Amerika.
Kemampuan fisik manusia mempunyai potensi untuk bangun pagi,
namun potensi kekuatan hati tidak mampu mendorongnya untuk bangun pagi dengan alasan yang begitu memprihatinkan.

3. Kita tinggalkan orang-orang Amerika, mari tengok diri kita.
Waspadalah akan hari dimana anda menyukai pergi ke masjid, namun anda tidak mampu untuk pergi. Baik karena sudah lemah, karena sakit atau karena mati. Ingatlah selalu hadits Rasul kita yang mulia Saw. yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas ra, Rasulullah Saw. bersabda :
“ Gunakan yang lima sebelum datang yang lima : masa mudamu sebelum dating masa tuamu, masa sehatmu sebelum datang masa sakitmu, masa kayamu sebelum datang masa miskinmu, masa kosongmu sebelum datang masa sibukmu, dan masa hidupmu sebelum datang kematianmu.” (HR Al-Hakim, sanadnya sahih).

MENAKAR NILAI SHALAT SUBUH
“Dua rakaat fajar (shalat subuh) lebih baik dari dunia dan seisinya.” (HR Muslim). Lalu..... apa yang menghalangi kita shalat subuh? Bukankah ia menjadi bagian yang begitu besar dibanding dunia?

Rasulullah telah mengkhususkan shalat mulia ini (shalat subuh) dengan keistimewaan tunggal dan sifat-sifat tertentu yang tidak terulang pada shalat lainnya. Beberapa karakteristik ini akan mendorong seorang mukmin yang jujur untuk konsekuen melaksanakan shalat ini secara berjamaah dengan sekuat tenaga.

Seorang mukmin akan memberikan semangat tinggi untuk berkorban segala sesuatu yang dia miliki, agar tidak hilang darinya walau hanya satu kewajiban, bagaimanapun kondisinya atau apapun rintangannya.
Keistimewaan-keistimewaan shalat subuh :
Pahala Tanpa Batas
Dia mendapatakan pahala seperti orang-orang yang shalat berjamaah pada umumnya, yaitu 25 / 27 derajat pahala. Diberikan padanya kebaikan yang banyak, dihapus kejelekanya, ditinggikan beberapa derajat kedudukannya. Malaikat berdoa baginya, dan beberapa balasan lain yang didapatkan orang yang berjamaah pada umumnya.

Namun shalat subuh memiliki kelebihan khusus yang tidak ada pada shalat lain. Diantaranya adalah :
1. Pahala shalat malam satu malam penuh.
2. Sumber cahaya di hari kiamat.
3. Surga yang dujanjikan.

Melihat Allah
Inilah keistimewaan tertinggi diantara keistimewaan-keistimewaan sebelumnya. Rasulullah Saw. telah menggambarkan kepada kita dengan jawabannya, disana ada yang lebih tinggi dari sekadar surga, yaitu melihat Allah di surga. Pemberian yang sangat besar, hadiah yang begitu agung, dan pahala yang berlipat ganda bersama dengan pahala yang lain.
Siapakah yang mendapat kesempatan agung ini ? Merekalah orang-orang yang menjaga dua shalat, yaitu shalat subuh dan ashar.

Siksa Pedih bagi yang Meninggalkannya
Secara umum, meninggalkan shalat merupakan dosa yang besar dan musibah yang tiada tara. Shalat menjadi amalan manusia pertama yang dihisab pada hari kiamat. Jika shalatnya baik, maka baik pula seluruh amalnya; dan kalau jelek, maka jeleklah seluruh amalnya.

Shalat Sunah yang Lebih Mulia daripada Dunia Seisinya
Shalat fajar yaitu shalat sunnah sebelum subuh, merupakan shalat sunnah yang paling banyak pahalanya dibandingkan shalat sunah lainnya. Rasulullah Saw. mengistimewakannya dengan pahala yang begitu besar, dengan gambaran yang benar-benar menarik perhatian. Di antaranya, Rasulullah Saw. bersabda yang diriwayatkan dari Aisyah :
“Dua rakaat fajar ( shalat sunnah sebelum subuh ) lebih baik dari dunia dan seisinya.” ( HR Muslim ).

Perlakuan Khusus terhadap Shalat Subuh
Rasulullah Saw menjadikan shalat ini sesuatu yang begitu istimewa dan berbeda dengan shalat-shalat yang lain. Pada dasarnya semua shalat sangat penting, dan shalat mempunyai pahala besar. Namun ketika dicermati dengan seksama perbedaan shalat ini disbanding shalat lainya, nampak sekali bila shalat ini memiliki keutamaan khusus yang besar.
Dibawah ini adalah beberapa keutamaan itu :

Pertama : Shalat subuh merupakan salah satu shalat yang pertama kali diwajibkan atas kaum muslimin, disamping shalat ashar.
Kedua : Adzan subuh berbeda dengan adzan pada shalat yang lain.
Ketiga : Rasulullah Saw memberikan doa khusus setelah shalat subuh, yang berbeda dengan shalat lain.
Keempat : Rasulullah Saw menyuruh kaum muslimin untuk memendekkan bacaan waktu shalat, kecuali sibuk.
Kelima : Bacaan khusus Rasulullah Saw dihari Jum’at pada waktu subuh.
Keenam : Salat subuh tidak bisa diqashar dan dijama’.

Waktu yang Menjadi Saksi
Allah mengagungkan waktu subuh didalam Al Qur’an, Ia tidak pernah bersumpah dalam kitab-Nya dengan waktu ahalat kecuali shalat subuh dan ashar.Allah Swt berfirman : ”Demi fajar, dan malam yang sepuluh”. (Al-Fajr : 1-2).Waktu ini adalah waktu yang menjadi saksi.Waktu yang disaksikan hamba Allah yang mulia, yaitu para malaikat! Semua malaikat yang ada di langit turun ke bumi untuk menyaksikan shalat subuh!

Berada di Bawah Lindungan Allah
Rasulullah Saw memberi janji, bahwa bila shalat subuh anda kerjakan, maka Allah akan melindungi anda seharian penuh. Diriwayatkan dari Jundab bin Sufyan ra bahwa Rasulullah Saw bersabda : ”Barang siapa yang menunaikan shalat subuh maka ia berada dalam jaminan Allah. Maka jangan coba-coba membuat Allah membuktikan janji-Nya. Barang siapa membunuh orang yang menunaikan shalat subuh, Allah akan menuntutnya, sehingga Ia akan membenamkan mukanya ke dalam neraka”(HR Muslim, At-Tirmidzi, dan Ibnu Majah). Jaminan Allah, artinya : Dalam perlindungan Allah. Inilah perlindungan Rabbani, bagi orang yang melaksanakan shalat subuh.

Muara Ilmu dan Iman
Rasulullah Saw menjadikan shalat subuh sebagai kesempatan mengajarkan kebaikan kepada para sahabatnya. Beliau sering menyampaikan pelajaran dan penjelasan tentang berbagai hal setelah shalat subuh.
Shalat subuh menjadi salah satu sarana penting dalam tarbiyah, karena salat subuh merupakan saat-saat ketika hati dan pikiran sedang jernih.Bahkan malaikat juga turut menjadi saksi bagi orang-orang yang berada dalam rumah Allah dan membicarakan kalam Ilahi.

Latihan Harian bagi Ruhani
Rasulullah Saw selalu menganjurkan untuk tetap tinggal di dalam masjid setelah shalat subuh, hingga waktu terbit matahari. Waktu pagi, ibarat acara pelatihan peningkatan keimanan yang sangat agung, sebagai permulaan menapaki hari-hari bagi seorang mukmin.

Menghapus Dosa Setengah Usia
Rasulullah Saw menjelaskan, shalat merupakan penghapus dosa yang dilakukan antara shalat ini dan shalat sebelumnya.Riwayat Ussman bin Affan ra,bahwa ia mendengar Rasulullah Saw bersabda : ”Seorang muslim pun yang apabila datang waktu shalat wajib, menyempurnakan wudhu, kekhusukan dan rukuknya, maka perbuatannnya tersebut menjadi penghapus dosa-dosa yang telah lalu, selama ia tidak melakukan dosa besar,dan itu sepanjang masa .”(HR Muslim)

Coba perhatikan, masa antara shalat isya’ dan shalat subuh adalah waktu terlama dibanding antara shalat-shalat yang lain, yaitu malam secara keseluruhan.Dengan shalat subuh menjadi penghapus dosa setengah hari, dan shalat-shalat yang lain menjadi penghapus separuh harinya lagi.Itu berarti shalat subuh menjadi penghapus setengah umur bagi yang selalu mengerjakannya, dan shalat-shalat yang lain menghapus separuh umurnya lagi.

Berkah di Tiap Langkah
Rasululah Saw menarik perhatian para sahabat dan perhatian kita, dengan pernyataannya bahwa keberkahan itu ada di waktu pagi. Jam-jam pertama dipagi hari (setelah shalat subuh ) merupakan waktu yang paling barakah dalam satu hari penuh.

Berkah Allah ada dalam segala hal. Mulai dari pekerjaan, perdagangan, bercocok tanam, membaca, musafir, dan berjihad di jalan Allah. Rasulullah Saw sebagaimana yang diriwayatkan Shakhr Al-Ghamidi ra selalu mengatur pasukannya di pagi hari. Rasulullah bersabda “Bahwa pada waktu matahari terbit , tertiuplah angin kemenangan, dan orang-orang mukmin berdoa dalam shalat memohon kemenangan bagi tentara mereka.”

Sumber : Buku Misteri Shalat SubuhPenulis : DR. RAGHIB AS – SIRJANI
Dikirim via email oleh teman

No comments:

Post a Comment