Tuesday, January 18, 2011

Bencana Ini Hanya Musibah atau Azab?

Jika bencana ini sebagai teguran, kenapa yang sering terkena bencana justru tempat-tempat yang tidak terlalu banyak kemaksiatan?

Oleh: A. Wafi Muhaimin


Bancana datang beriringan datang silih berganti. Tabrakan kereta, bencana Wasior, Gunung Merapi hingga tsunami di Mentawai. Sebelum-sebelum ini, berbagai bencara juga telah menghampiri negeri kita.

Bencana ini tidaklah serta-merta datang tanpa sebuah penyebab. Ada sebuah proses yang dilakukan manusia sehingga bencana ini datang. Demikianlah sunnatullah.

Sebelum risalah Muhammad (Islam) datang, biasanya bencana-bencana tersebut datang dengan bentuk adzab yang ditimpakan Allah kepada hambanya yang ingkar, namun semenjak di utusnya nabi Muhammad, adzab ini ditarik sampai hari kiamat sehingga tidak ada lagi bencana yang berupa adzab pada masa sekarang ini. Adapun bencana yang terjadi selama ini (pada umat Muhammad) lebih kepada ujian ataupun peringatan. Inilah salah-satu kelebihan yang diberikan Allah kepada ummat ini.

Bencana sebagai ujian

Ciri-ciri bahwa bencana tersebut merupakan bentuk ujian, yaitu apabila bencana tersebut ditimpakan kepada orang-orang yang beriman kepada Allah. Bencana tersebut sebenarnya merupakan wujud dari kecintaan Allah yang tertuang dalam sebuah ujian. Sebagaimana sabda baginda rasul, ”Idza ahabba allahu ‘abdan ibtalahu.” (jika Allah mencintai seorang hamba, maka dia akan mengujinya). Tentunya karena bencana ini berupa ujian, maka bencana ini semata-mata datangnya dari Allah tanpa campur tangan manusia. Adapun berbentuk ujian Allah disesuaikan dengan kemampuan para hambanya. “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya… “ (al-Baqarah: 2/286).

Logika gampangnya, seperti halnya ujian yang dilaksanakan di sekolah-sekolah untuk kenaikan kelas. Ujian biasanya berlaku untuk siswa yang layak mengikutinya dan bentuk ujiannya disesuaikan dengan kemampuannya. Hal ini dilakukan untuk mengetahui sejauh mana kemampuan siswanya, dan supaya siswa tersebut sadar akan kemampuannya. Demikian juga ujian Allah yang diberikan kepada hambanya, Allah akan menguji sejauh mana ketaatan hamba padanya, apakah hamba tersebut bisa lulus dengan ujian tersebut apakah tidak, disinilah kemudian jika hamba tersebut lulus maka Allah akan mengangkat derajatnya.

Bencana sebagai teguran

Bencana yang berbentuk teguran yang terjadi di muka bumi ini tidak bisa dipungkiri bahwa itu adalah disebabkan ulah manusia itu sendiri, sebagaimana firman Allah: “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia….” (ar-Ruum: 30/41).

Namun bentuk ulah manusia yang bagaimana sehingga bisa menimbulkan kerusakan? Disinilah kemudian kita perlu runut mejelaskan tahapan-tahapan ulah manusia yang menyebabkan terjadinya kerusakan dan bencana.

Ada dua kemungkinan yang bisa menjadi penyebab kerusakan alam ini yaitu pertama disebabkan manusianya yang tidak patuh dengan fungsinya sebagai ‘abid (hamba) atau, yang ke dua adalah karena tidak bertanggung jawab dengan statusnya sebagai kholifah (yang ditugasi untuk menjaga, merawat, dan mengurus bumi Allah).

Kesholehan sebagai ‘abid (hamba) yang patuh terhadap segala perintah dan menjauhi segala larangan Allah adalah tujuan awal dari diciptakannya manusia. Kepatuhan hamba kepada sang pencipta sangat berpengaruh kepada kesholehan manusia yang juga mengemban misi kekhalifahan. Bagaimana mungkin hamba yang tidak bisa mengurusi dirinya sendiri di hadapan Allah bisa mengurusi benda lain yang dititipkan Allah padanya berupa tumbuh-tumbuhan dan kekayaan alam ini?

Kalau boleh jujur kita sebenarnya masih belajar menjadi hamba yang sholeh, berusaha melakukan segala perintah Allah dan menjauhi larangannya. Namun hal ini masih belum teraplikasi pada wilayah horizontal dan masih jarang kita temukan ummat yang sudah masuk pada wilayah kesholehan sosial. Padahal, segala kewajiban yang diperintahkan Allah sebenarnya ada pesan untuk menjadi manusia yang sholeh, baik antara hubungannya yang bersifat vertikal maupun yang bersifat horizontal (hablun minallah wa hablun minannas).

Ketika Allah memerintahkan shalat, maka implikasi dari shalat tersebut adalah untuk memperbaiki jati diri sebagai manusia itu sendiri.

“Sesungguhnya sholat mencegah ke-kejian dan kemungkaran.” (al-ankabuut:29/45).

Dengan kesholehan manusia tersebut, stabilitas dan eksistensi alam ini akan tetap terjaga. Demikian juga dengan kewajiban-kewajiban yang lainya seperti puasa, zakat, haji dan lain sebagainya, semuanya berimplikasi pada kesholehan sosial. Oleh karena itu, pencemaran lingkungan seperti buang sampah sembarangan, asap rokok dan lain sebagainya yang bisa meningkatkan polusi dan menyebabkan terjadinya global worming adalah bukti bahwa masyarakat kita masih belum menjadi sosok hamba dan kholifah yang sholeh. Kita seringkali hanya menjadi hamba yang melakukan ibadah sekedar rutinitas keseharian tanpa memahami makna sebuah ibadah, dan juga kurang memperhatikan kebersihan lingkungan di sekitar kita. Disinilah kemudian ketika salah satu fungsinya sebagai hamba atau kholifah tidak dilaksanakan, maka Allah akan menurunkan bencana berupa teguran.

Tentunya teguran atau peringatan tidaklah sedahsyat sanksi/adzab. Namun dengan teguran yang berupa bencana ini, kita bisa membayangkan bagaimana dahsyatnya bentuk adzab Allah jika tegurannya sudah seperti ini .

Bencana negeri ini termasuk yang mana?

Ujian sebagaimana yang telah disebutkan di atas lebih kepada kasih sayang Allah kepada hambanya untuk mengangkat derajat hamba tersebut. Tentunya bencana itu bisa dikategorikan sebagai ujian apabila masyarakat Indonesia patuh kepada ketentuan Allah, di mana masyarakatnya ahli ibadah dan peduli pada alam.

Di sisi lain, bencana tersebut akan dikatakan sebagai sebuah teguran atau peringatan ketika masyarakatnya sudah jauh dari hukum Allah dan kurang peduli terhadap lingkungan. Sekarang mari kita koreksi bangsa kita ini, apakah bencana yang selama ini datang silih berganti merupakan bentuk ujian atau jangan-jangan ini sudah merupakan bentuk teguran?

Kalau bencana yang selama ini terjadi adalah sebagai bentuk ujian, apa benar tempat-tempat yang terkena bencana tersebut dihuni oleh orang-orang yang ibadahnya sudah bagus dan peka terhadap lingkungan?

Namun, jika bencana ini mau dikategorikan sebagai teguran, kenapa yang sering terkena bencana adalah tempat-tempat yang kalau kita lihat sekilas adalah tempat-tempat yang tidak terlalu banyak kemaksiatan? Sedangkan tempat yang sering kita lihat dengan kemungkarannya kok tenang-tenang saja. Atau jangan-jangan selama ini di tempat terjadinya bencana juga terjadi kemungkaran tapi tertutupi, atau walaupun masyarakatnya ahli ibadah tapi kesholehan sosialnya kurang. Atau jangan-jangan tempat-tempat kemaksiatan yang selama ini masih tenang-tenang saja hanya tinggal menunggu gilirannya?

Masih banyak pertanyaan yang perlu disodorkan perihal bencana yang menimpa bangsa ini. Di sini penulis lebih cenderung mengatakan bahwa bencana yang terjadi selama ini sudah merupakan bentuk teguran dari Allah atas kelalaian kita, baik statusnya sebagai hamba maupun sebagai kholifahnya.

Penulis berharap bahwa anggapan ini salah. Penulis yakin, pembaca bisa menyimpulkan sendiri perihal bencana yang terjadi di negeri kita tercinta, negeri Indonesia. Wallahu a’lam

Penulis Kandidat Master Of Islam Revealed Khowledge And Heritage (Fiqh And Usul Fiqh) International Islamic University Malaysia dan pengurus FUSSI (Forum Ukhuwah Sarjana Studi Islam)

1 comment:

  1. Yang menarik musibah di Aceh tahun 2009, akhirnya GAM menyerah. Apakah kebetulan saja atau karena ikut dibenahi oleh Finlandia saat itu? Dengan korban jiwa yang begitu besar, saya mempertanyakan pernyataan Anda bahwa musibah sebagai azab sudah ditarik setelah Allah SWT mengutus Nabi Muhammad saw, karena musibah Tornado dan banjir bandang di Amerika, Eropa,Cina, Jepang, Filipina, Gaza dan perang saudara di Suriyah, semua secara menyeluruh banyak menelan korban jiwa? Bukankah jumlah korban jiwa yang besar itu jelas azab Tuhan? Seperti pada zaman Nabi Saleh dan Nabi Luth?

    ReplyDelete