Tuesday, January 18, 2011

Biar Miskin Materi Asal Kaya Iman

Sumber: Email dan website

Kisah penyiksaan fisik dan mental demi mempertahankan aqidah yang berujung dengan meninggalnya Mutmainah, sepupu perempuan saya, kadang masih melintas di bayangan. Sedih hati ini jika mengingatnya, namun saya hanya mampu berkhusnudzon bahwa dibalik tragedi itu ada hikmah di belakangnya, yaitu beberapa keluarga kami di Kaiwani, Distrik Ossu, Viqueque Timorleste akhirnya memeluk Islam.
22 tahun sebelum kejadian itu, paman saya pergi mengikuti TNI ke Makassar. Sekembalinya dari sana ia telah menganut Islam dan berganti nama menjadi Muhammad Miol. Keislaman paman saya ini lalu diikuti paman saya yang lainnya yaitu Umar Azis. Saya yang saat itu masih menginjak kelas 3 SD Katholik seringkali terheran-heran melihat ritual yang dilakukan Umar Azis yang di kemudian hari saya tahu itu adalah gerakan sholat.

Saat melihat Umar Azis sholat itulah, timbul dalam batin saya rasa ketertarikan dan ingin mengikutinya. Barangkali inilah jalan hidayah itu. Melihat saya yang diam-diam memperhatikannya, Umar Azis lalu mengajak saya berbincang-bincang mengenai Islam hingga bulatlah keinginan saya untuk juga menjadi seorang muslim dan belajar lebih banyak tentang agama ini.

Kesempatan itu terbuka lebar ketika Umar Azis hendak ke Dili. Dengan bermodalkan baju putih dan celana pendek warna biru, saya beranikan diri mengikutinya ke Dili. Meski ibu saya berusaha menghalangi niat saya dengan mencegat di jalan, namun saya berhasil lolos dan bersama Umar Azis sampai di Dili, tepatnya di masjid An Nur.
Lalu dengan dibimbing Ustadz H. Abdullah Saryawan saya baca dua kalimat Syahadat sebagai ikrar keislaman saya. Menandai keislaman itu, nama sayapun diganti dari Clementino Hornai menjadi Husein Muhammad Zahri. Meskipun lega hati ini namun saya tahu perjalanan berat baru akan dimulai.

Selepas ikrar syahadat itu saya lalu masuk ke Ponpes Ali Yakin Quluhum. Saat di Ali Yakin itulah timbul rasa kangen yang menggebu-gebu kepada keluarga, terutama ibu. Saya benar-benar tidak betah dan selalu ingin pulang, namun kalau kembali ke orang tua syaratnya pasti saya harus Katholik lagi, maka saya pendam keinginan itu dan terus menuntut ilmu di Ali Yakin.
Kabar keislaman saya ternyata terdengar di kalangan keluarga besar saya hingga menggerakkan pula saudara-saudara saya yang lain untuk mengikuti langkah saya. Dengan menumpang truk yang melewati kampung saya, dua saudara perempuan saya menyusul ke Dili untuk menyatakan keislamannya.

Namun ternyata ada harga mahal yang harus dibayar dengan keislaman mereka. Sepulangnya mereka ke kampung halaman, cobaan keras telah menantinya. Kakak perempuan saya dipaksa makan sepiring makanan yang telah diguyur kuah masakan daging babi. Bahkan itu yang melakukan justru Ibu saya sendiri. Siksaanpun tak berakhir di situ. Sepupu saya yang bernama Mutmainah bahkan mendapat cobaan lebih keras. Ia mendapat siksaan dari orangtuanya yang berujung pada tewasnya sepupu saya tersebut. Mohon doanya agar ia tenang di sisiNya sebagai syahidah…
Namun cobaan itu tak menyurutkan mereka untuk masuk Islam. Alhamdulillah, akhirnya hidayah turun juga kepada kedua orang tua saya, paman dan bibi-bibi saya serta sepupu-sepupu saya.

Keadaan tersebut tentu membuat warga desa menjadi amat marah. Berbagai cara dilakukan untuk menghambat laju perkembangan Islam. Awalnya mereka membuat perjanjian dimana dalam salah satu isinya menyebutkan bahwa umat Islam tidak boleh menerima warga Katolik yang akan pindah ke Islam. Selain itu kami juga dipersulit dalam pengurusan KTP. Setiap warga yang akan membuat KTP yang berganti agama maka harus ijin Pastur setempat. Inipun kami tolak. Dan puncak kekesalan ini terjadi pada akhir tahun 1996 lalu dimana mushala Al-Istiqomah milik para muallaf di desa Kaiwati dibakar. Mereka juga menganiaya umat Islam yang ada di sana.
Tak cukup hanya sampai di situ, mereka kemudian juga turun ke jalan dan menghadang sejumlah kendaraan yang lewat dan melakukan razia KTP. Merasa tak aman, sejumlah muallaf lalu mengungsi ke Pos TNI Batalyon Teritorial 410 Ossu, Viqueque. Sungguh situasi yang amat menegangkan bagi ummat Islam di sana.
Suatu saat, atas permintaan sebuah yayasan di Jombang yang membuka program pendidikan untuk kader pendakwah di Timor Timur saya terpilih mengikuti program tersebut bersama 9 teman saya lainnya. Saya tinggal di yayasan tersebut beberapa waktu. Namun saat krisis melanda Indonesia, yayasan tersebut akan dijadikan pondok. Ada dua pilihan yang ditawarkan pada kami saat itu, akan mondok namun tidak meneruskan sekolah umum atau keluar. Berhubung saya ingin mempertahankan sekolah saya yang hampir tamat MI (Madrasah Ibtidaiyah) maka saya memilih yang kedua.

Kebingungan langsung menghantui saya. Kalau keluar trus saya akan menghidupi diri dari mana, begitu pikir saya saat itu. Alhamdulillah atas kebaikan kepala sekolah MI saya akhirnya dikenalkan dengan seseorang yang akhirnya mengangkat saya sebagai anak angkatnya. Orang tua angkat saya sebenarnya baik namun berhubung saya orangnya sungkan-an saya tidak begitu kerasan tinggal di rumahnya. Setelah dari Jombang saya tinggal di Panti Asuhan (PA) Muhammadiyah Kedung Asem.
Demi memenuhi kehausan saya mempelajari agama Islam, saya lalu pindah ke Pesantren Sabilillah di Lamongan. Dalam kondisi tak memiliki apa-apa saya harus berjuang menghidupi diri. Sebelum subuh saya cuci pakaian, lalu belajar diniyah di pesantren hingga subuh. Selepas subuh saya ke pasar belanja buah dan nasi bungkus untuk dijual pada teman-teman di Aliyah. Hasil penjualan itu saya gunakan untuk biaya sekolah dan hidup sehari-hari.

Setelah lulus Aliyah, tahun 2003 saya kembali ke PA Muhammadiyah Kedung Asem-Surabaya. Di sana saya mulai menyebarkan lamaran untuk bekerja di berbagai kantor demi mendapatkan biaya hidup dan biaya kuliah. Penolakan menjadi sesuatu yang amat biasa bagi saya. Namun saya tak menyerah begitu saya. Saya pernah menjadi penjaga sepeda, pernah juga menjadi satpam dan guru agama di sebuah sekolah. Saat ini sayapun kadang diundang mengisi majlis-majlis taklim.
Alhamdulillah, meskipun kadang terasa berat namun saya bersyukur kepada Alloh atas nikmat Islam ini. Perjalanan hidup yang berat telah mengajarkan pada diri saya bahwa meskipun kita miskin materi, yang penting hati kita memiliki kekayaan yang membuat kita besar, yaitu kekayaan Iman. Itulah yang akan membuat kita hidup jauh lebih bahagia…

1 comment:

  1. ya Alloh
    ya Tuhan ku
    jadikan Q seorang yg kaya akan iman

    ReplyDelete